
Menjelang tengah hari, Anna dan Kim kembali ke rumah. Wanita paruh baya itu menghampiri bi Sri yang sedang menyiapkan makan siang.
"Mana Rachel bi, kenapa bibi sendirian yang menyiapkan semua makanan ini?".
Wanita tua itu membungkuk hormat,
"Maaf nyonya besar, saya tidak melihat ibu sejak tadi pagi. Saya tidak tahu dimana beliau sekarang".
Anna melipat tangan ke dadanya, wanita itu memutar bola matanya.
"Dasar wanita tak tahu diri, pasti dia sedang bermalas-malasan sekarang. Awas saja dia, akan ku beri pelajaran. Mentang-mentang sudah jadi istri orang kaya, sudah merasa hebat dia sekarang".
Anna membuka dengan kasar kamar tidur pasangan itu. Ia mencari keberadaan gadis itu, namun tak menemukannya. Ia membuka kamar mandi, gadis itu juga tak di sana.
Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya, ia memencet nomor Ayud.
"Ay, lihatlah kelakuan istrimu".
Laki-laki itu mendesah, pekerjaan di kantornya hari ini benar-benar banyak. Belum lagi, pikirannya terus tertuju kepada sang istri di rumah.
"Ada apa lagi ma, memangnya istri Ay kenapa?".
Anna berkata sambil setengah membentak,
"Dia tidak ada dirumah, pasti dia pergi bersama laki-laki selingkuhan nya. Benar-benar wanita tak tahu diri. Makanya dari awal, mama tak setuju dengan pernikahan kalian".
Ayud mengernyitkan dahinya, ia benar-benar merasa lelah sekarang.
"Coba cari lagi ma, siapa tahu Rachel sedang pergi ke warung atau ke rumah temannya. Jangan dulu berpikir yang tidak-tidak".
Anna jengah, ia mengetuk pelan meja di depannya.
"Kamu pulang saja dulu, lihat apa yang terjadi. Setelah itu, baru kamu putuskan mama ini bohong atau sedang mengatakan kebenaran".
Ayud mendengus kesal, laki-laki itu benar-benar merasa frustasi.
"Ay lagi benar-benar sibuk ma, banyak sekali pekerjaan di kantor hari ini. Tolong lah ma, cari saja dulu. Sudahlah, Ay tutup dulu nanti kita lanjutkan lagi di rumah".
Laki-laki itu segera menutup telepon nya dan mendesah frustasi. Kemudian, ia segera menghubungi sang istri, namun nomor wanita itu tak bisa di hubungi.
Laki-laki itu mencoba berkosentrasi dengan pekerjaannya, meskipun pikirannya benar-benar tak karuan. Beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam.
Sorenya, begitu Ayud tiba di rumah. Kedua orangtuanya menyambut dia dengan tatapan datar. Laki-laki itu melepaskan sepatunya, dan duduk di samping sang mama.
"Ada apa ma, Rachel sudah pulang?".
Kim menatap anaknya tajam,
"Sejak awal papa sudah katakan padamu, jangan menikah dengan wanita yang memiliki akhlak minus seperti itu. tapi, kau tak mau mendengarkan perkataan kami".
__ADS_1
Kim memperlihatkan rekaman kamera pengintai kepada laki-laki itu,
"Kamu lihat kan, apa yang dia lakukan?. Dia memilih pergi diam-diam, dan membawa semua barang-barangnya. Wanita baik-baik, tidak akan melakukan hal seperti ini".
Ayud gusar, ia memutar berkali-kali rekaman kamera pengintai itu seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu mendesah frustasi,
"Ma, pa, mungkin kali ini benar-benar murni kesalahan Ay. Tadi pagi, Ay tak sengaja menamparnya ma, pa. Mungkin, itu yang menyebabkan dia pergi dari rumah. Ay akan mencarinya".
Baru saja laki-laki itu ingin beranjak, Anna menghentikannya.
"Sudahlah Ay, tak guna kau mencari perempuan seperti itu. Dia sendiri yang memilih pergi dari rumah, pasti dia sudah siap dengan segala konsekuensinya".
Anna menghela nafas,
"Kamu ini adalah orang berpengaruh, orang terpandang. Kamu harus memiliki prinsip, jadi laki-laki harus tegas. Dia yang memilih pergi, biarkan dia pulang sendiri".
Anna tersenyum, di belainya dengan lembut rambut sang putra tunggalnya.
"Kalaupun dia tak kembali, itu tidak apa-apa sayang. Mama memiliki calon pengganti untuk mu, orang yang bahkan jauh lebih baik dari istrimu itu. Anak orang kaya, terpelajar".
Laki-laki itu menatap kaget kepada sang ibu,
"Ma, apa yang mama katakan ini. Ay sudah beristri ma, dan Ay memiliki tanggung jawab. Sekalipun dia meninggalkan rumah, itu murni kesalahan Ay. Biarkan Ay yang memperbaiki semuanya".
Laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Kim menepuk pelan pundak sang istri,
Kedua suami istri itu tersenyum penuh kemenangan. Seolah, semua yang mereka rencanakan, benar-benar berjalan dengan sangat sempurna.
Sementara itu..
Ayud mengendarai mobilnya pelan, matanya mencari sosok keberadaan sang istri. Laki-laki itu berhenti di pinggir taman, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kemana lagi aku harus mencari mu sayang, aku benar-benar sudah putus asa. Tolong, jangan lakukan ini padaku".
Cukup lama laki-laki itu melamun disana, ia merasa sangat frustasi. Semenjak menikah, sang manager tak diizinkan nya mengikutinya 24 jam seperti dulu. Sang manager hanya akan datang, ketika di panggil.
Laki-laki itu menghubungi manager Huang,
"Huang, tolong cari keberadaan istriku. Dia pergi dari rumah hari ini, aku benar-benar bingung tak tahu lagi harus mencari nya kemana".
Manager Huang mengangguk dan menjawab,
"Baik tuan".
Laki-laki muda itu terus menghubungi nomor sang istri, namun lagi-lagi panggilan itu tak tersambung.
Di tempat lain..
Rachel memilih menginap di hotel untuk sementara. Gadis itu butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Tiba-tiba, HP miliknya berdering dan menampilkan nama Albert disana.
__ADS_1
"Halo Ra, lagi apa?".
Gadis itu mendesah, ia tersenyum datar.
"Kamu punya Indra ke enam ya Al?, selalu saja tahu ketika aku mengalami kesulitan".
Albert mengerutkan keningnya,
"Kamu kenapa Ra, ada kesulitan apa?".
Gadis itu mendesah, ia tersenyum mengejek.
"Berhenti sebentar untuk bertanya kenapa bisa kan Al?.
Gadis itu diam sejenak,
"Kalau boleh, aku ingin kembali bekerja di perusahaan mu. Itu juga, kalau masih ada lowongan".
Albert tersenyum,
"Selalu ada lowongan untuk kamu Ra. Tapi, maaf aku benar-benar tak bisa menerimamu. Kamu pasti bertengkar dengan suamimu kan, makanya kamu ingin bekerja lagi padaku?".
Albert menyunggingkan senyumnya,
"Ini bukan jalan penyelesaian yang baik Ra. Dengan bekerja kembali di kantor ku, berarti kamu menambah masalah baru buat kita berdua. Saran ku, lebih baik selesaikan dulu masalah mu baik-baik".
Gadis itu menggigit bibirnya,
"Maaf Al, secara tak sadar aku melibatkan mu dalam masalah ku. Tapi, aku benar-benar harus bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Aku benar-benar butuh pekerjaan".
Laki-laki itu mendesah,
"Baiklah, kalau kamu memang benar-benar membutuhkan pekerjaan. Aku memiliki seorang teman yang pasti akan menerima mu. Bisakah kita bertemu sebentar untuk membicarakan nya Ra?".
Gadis itu mengangguk,
"Kalau begitu baiklah, mari kita bertemu di tempat biasa".
Albert mengiyakan dan segera menyudahi percakapan mereka. Tak lama setelahnya, gadis itu bergegas memesan taksi online dan menuju tempat janjian mereka.
Sementara itu..
Ayud gusar, dan memerintahkan Manager Huang untuk mencari di semua tempat. Ia ingin sesegera mungkin menemukan keberadaan gadis itu.
❤️❤️❤️❤️
Selamat menunaikan ibadah puasa ya guys😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏
__ADS_1