Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LV -Perdebatan -


__ADS_3

"Ma, pa, bisa kita bicarakan lagi soal rencana kalian?. Ay tidak setuju dengan semua ini, Ay tak mau menjadi seorang suami pengecut. Ay harus mencari Rachel dan memperbaiki hubungan kami".


Laki-laki itu membuka suara sesaat setelah mereka memasuki mobil. Anna mendelik manja lalu menepuk pelan paha anaknya.


"Ay, kamu lihat tadi kan bagaimana sukanya gadis itu padamu?. Menikah dengannya sama sekali tak akan membuatmu rugi apapun sayang. Malah, kamu akan sangat beruntung".


Kim yang duduk di kursi depan juga ikut menimpali, ia melirik laki-laki muda itu dari kaca spion mobil.


"Iya Ay, keluarga pak Elia itu pemilik perusahaan terbesar kedua setelah kakek mu. Papa bisa memastikan, semua harta mereka akan jatuh ke tangan kita setelah kamu menikah dengan gadis itu".


Kim tersenyum, wajah laki-laki paruh baya itu terlihat sangat bahagia.


"Gadis itu sangat tergila-gila padamu, papa dan mama bisa melihat itu. Makanya, cobalah bersikap baik padanya Ay. Ini semua demi keluarga kita, demi kebahagiaan kamu juga".


Ayud memalingkan wajahnya dan menatap jalanan yang lengang malam itu dengan nanar. Dadanya terasa sesak,


"Kalian tidak akan pernah mengerti apa yang sesungguhnya menjadi kebahagiaan ku. Sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah mengerti apa itu cinta sejati, pikiran kalian hanya dipenuhi harta".


Anna tertawa kecil, wanita paruh baya itu menatap lembut anaknya.


"Sayang, apalah arti bahagia tanpa memiliki banyak uang?. Dengan uang, semua hal bisa dibeli. Termasuk, kebahagiaan yang sangat kau impikan itu. Uang membuat segala sesuatu menjadi mungkin sayang, camkan itu".


Laki-laki itu ingin menjawab, namun Kim menyela.


"Jangan jadi b*doh Ay gara-gara cinta tak berbalas mu itu. Sudahlah, jangan pikirkan lagi tentang gadis tak tahu diri itu. Lupakan saja dia, hapus semua hal tentang dia dari pikiran mu. Hapus sampai ke akar-akarnya".


Laki-laki muda itu terdiam, ia merasa terlalu lelah untuk berdebat saat ini. Dari tadi, pikirannya dipenuhi oleh bayangan sang istri. Ia merasa sangat merindukan gadis itu.


Namun, kenyataan bahwa gadis itu telah meninggalkannya makin memperparah rasa sesak yang kini sedang mendera laki-laki muda itu. Tak henti-hentinya ia menarik nafas dengan berat.


...Ayud POV...


Aku benar-benar malas untuk berdebat tentang apapun saat ini. Aku terlalu lelah untuk melakukan hal sia-sia seperti itu. Mama terus ngoceh tentang gadis tadi, aku memilih diam Sampai kami tiba di rumah.


Setiap kali aku membuka mulutku, aku pasti salah lagi dan lagi. Jadi, lebih baik aku diam saja dan biarkan kedua orangtuaku berdebat. Ah, lagi-lagi tentang harta s*alan itu. Aku mendesah dan menarik nafas dalam-dalam.


Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan Rachel. Aku rindu semua hal tentang dia, semuanya. Dimanakah dia sekarang dan apa yang dilakukannya?.


Bagiku, hanya dia satu-satunya wanita yang berhasil membuatku percaya akan cinta. Aku bahkan mati-matian berjuang untuk menghilangkan kebiasaan lamaku, semua demi dirinya.


Meskipun saat ini, hubungan kami tak bisa di bilang baik-baik saja. Setidaknya, aku masih sangat percaya semua ini masih bisa diperbaiki. Aku berjanji akan memaafkan kesalahannya padaku, aku berjanji.


Aku benar-benar tak memiliki pikiran ingin mencari penggantinya. Tak pernah sekalipun hal itu terlintas dipikiran ku. Meski aku tahu dengan pasti, kedua orangtuaku memaksaku untuk menikah lagi, aku tak bisa melakukan itu.


Ku tatap dengan sendu foto pernikahan kami di dalam HP ku. Wanita bertubuh mungil itu, kelihatan sangat cantik sekali. Senyumannya sangat manis, ah aku sangat merindukannya.


Aku sangat ingin memeluk tubuhnya, seperti yang biasa kulakukan. Tapi, itu tak mungkin. Dia tak disini sekarang, dan kenyataan itu membuat airmata ku jatuh. Sakit sekali rasanya, merindukan orang yang tak bisa dimiliki.

__ADS_1


Ku rebahkan tubuh lelahku di kasur dingin ini, sambil menatap foto istriku. Andai saja dia tahu, saat ini aku sedang teramat sangat merindukannya. Andai saja dia menyadari, betapa besar cintaku untuknya.


Lamunanku buyar sesaat setelah ponselku berdering. Aku langsung meraih benda mungil itu, dan melihat nomor tak dikenal disana. Mungkin kah ini istriku, batinku berharap.


Aku menempelkan benda mungil itu di telingaku, berharap suara di seberang sana adalah seseorang yang kukenal.


"Halo, selamat malam kakak ganteng. Resti rindu sekali, boleh kan Resti telepon?".


Aku jengah, ternyata bukan istriku. Wanita ini rasanya benar-benar tak tahu diri, ingin sekali aku memakinya dengan kasar. Entah darimana dia mendapatkan kontak ku.


"Ada apa?",


Aku bertanya dengan suara se datar mungkin. Dengan sikapku ini, aku ingin dia menyadari bahwa aku sama sekali tak tertarik dengannya.


"Kak, Resti sudah minta ke papa mama supaya mempercepat pernikahan kita. Resti benar-benar tak sabar, Resti ingin menikah dengan kakak".


Apa, menikah katanya?. Aduh, aku muak sekali mendengar celotehan kosong gadis ini. Apakah dia ini benar-benar seorang wanita?. Betapa tak tahu malunya dia. Aku menghela nafas, kesal sekali rasanya.


"Siapa yang mengatakan aku ingin menikah denganmu?. Bukankah sudah kukatakan dengan jelas, kamu sama sekali bukanlah seleraku. Lebih baik, kamu cari orang yang sebaya denganmu. Aku benar-benar tak tertarik padamu".


Wanita itu tertawa kecil, suaranya terdengar sangat nakal. Kalau aku belum berubah, sangat bisa dipastikan wanita ini tidak akan selamat. Sebab sesuai sifat asliku, aku jarang membiarkan wanita seperti ini menganggur.


"Ah kakak, tidak usah sok jual mahal begitulah. Papa mama bilang, mereka akan menginvestasikan dana ke perusahaan kakak secara besar-besaran, kalau kakak menikah dengan Resti".


Wanita itu melanjutkan kata-katanya, suaranya mendesah. Alangkah muak nya aku dengan wanita satu ini. Mungkin, dia tak sadar sedang bermain-main dengan buaya. Hanya saja, buaya ini sudah berobat. Beruntung sekali dia.


Aku mengusap wajahku dengan kasar, percakapan ini terasa benar-benar membuang waktuku. Wanita ini, benar-benar terlihat sedang terang-terangan memancing ku. Aku mendesah frustasi,


"Sudahlah, aku mau tidur. Selamat malam dan jangan hubungi aku lagi. Aku tak akan bisa memastikan kau akan tetap baik-baik saja, jika terus melakukan hal seperti ini".


Aku menutup sambungan telepon itu dan membuang begitu saja HP milik ku ke atas meja. Benar-benar hari yang melelahkan.


...Ayud POV End...


Resti mendengus kesal, ia menghampiri kedua orangtuanya yang sedang menonton televisi. Gadis itu merengek manja pada sang mama.


"Ma, kak Ayud sepertinya tidak menyukai Resti. Resti benar-benar kesal dengan sikapnya. Resti mau dia jadi milik Resti ma, pokoknya harus".


Bu Rini membelai lembut rambut anak gadisnya itu,


"Iya sayang, tidak lama lagi dia pasti akan jadi milikmu. Mereka juga sedang mengalami kesusahan sekarang bukan?. Jeng Anna itu mata duitan, dia pasti akan segera menikahkan kalian".


Gadis itu tersenyum, ia merebahkan kepalanya di paha wanita paruh baya itu.


"Terimakasih ma, Resti sayang mama".


Bu Rini memeluk anak semata wayangnya itu sambil terus fokus melihat televisi.

__ADS_1


Sementara itu..


Anna mengetuk pintu kamar Ayud seraya memanggil-manggil nama laki-laki itu. Ayud yang sedang melamun tersentak kaget, ia berjalan untuk membuka pintu.


"Iya ma, ada apa?.


Anna tersenyum, ia menatap lembut pada sang putra.


"Boleh mama masuk Ay?, ada yang harus mama sampaikan padamu".


Laki-laki itu mengangguk, dan menjawab pelan.


"Iya ma, masuk saja".


Anna berjalan dengan anggun dan duduk sambil selonjor kaki di atas tempat tidur laki-laki itu.


"Ay, duduk sini di samping mama".


Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk pelan kasur di sampingnya. Laki-laki itu mendesah, lalu duduk di sampingnya sang mama.


"Ada apa mama, Ay mau istirahat".


Anna mengelus pelan tangan Ayud,


"Ay, kamu sayang mama kan?. Ay mau mama bahagia kan?".


Ayud menatap wanita itu,


"Tentu saja ma, memangnya ada apa?".


Anna mendesah,


"Mama sangat berterimakasih kamu mengizinkan mama dan papa tinggal disini sayang. Mama juga berterimakasih kamu sudah memaafkan semua kesalahan kami di masa lalu".


Wanita paruh baya itu membuat wajahnya terlihat sedih.


"Tapi sayang, kamu tahu sekarang kami tidak memiliki apa-apa. Semua harta kakek sudah atas namamu. Terlebih lagi, sekarang perusahaan kakek mu itu sedang dalam masalah keuangan kan?. Menikah lah dengan Resti sayang".


Ayud mendesah, ia ingin membantah. Namun, Anna mulai menangis terisak.


"Ay, mama tahu berat untuk Ay melakukan ini. Tapi, ini semua demi mendiang kakek mu, demi kelangsungan hidup kita sayang. Tolong Ay pikirkan lagi ya sayang".


Anna membelai lembut pipi anaknya, lalu meninggalkan laki-laki itu sendiri disana. Ayud merebahkan dirinya dengan kasar dan mengusap wajahnya. Laki-laki itu terlihat sangat frustasi.


❤️❤️❤️❤️


Hy guys... sekali lagi terimakasih banyak untuk kalian semua yang sudah menyempatkan waktu membaca novel ini😊😊

__ADS_1


Author doakan, kalian semua selalu sukses dalam segala hal😘😘


__ADS_2