Istri Pilihan Kakek

Istri Pilihan Kakek
IPK BAB LXIV - Pernikahan Suamiku -


__ADS_3

"Iya, saya bersedia",


Laki-laki itu tengah mengucapkan janji setia pernikahan dan menjawab iya setiap pertanyaan dari pastor. Tampaknya, tak ada sedikitpun keraguan di dalam kata-kata nya. Hari itu, Ayud resmi menikah dengan Resti.


Disudut bangku gereja paling belakang, tampak Rachel dengan mata berkaca-kaca menyaksikan pernikahan suaminya dengan seorang wanita asing. Dadanya bergemuruh menahan rasa kesal dan sedih.


Anna dan Kim tampak sangat bahagia menyaksikan pernikahan sang putra demikian pula Pak Elia dan bu Rini. banyak sekali ucapan selamat yang mereka dapatkan dari kerabat dan rekan bisnis.


Setelah janji setia itu di buat, Ayud mencium bibir istrinya sesuai instruksi dari pastor. Ayud memegang tangan wanita itu dengan lembut dan menciumnya. Hadirin bertepuk tangan dan bersorak bahagia menyaksikan momen itu.


Sesaat setelah acara selesai, Rachel bergegas meninggalkan tempat tersebut. Hatinya terasa remuk dan hancur. Gadis itu berlari dan memesan taksi online menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, ia segera menuju wastafel karena rasa mual dan pusing yang amat sangat. Wajah gadis itu kelihatan pucat dan tubuhnya kurus. Sisa-sisa airmata masih tampak membasahi wajah cantiknya.


Sesaat setelah memuntahkan semua yang dia makan, ia bergegas menuju tempat tidur nya untuk beristirahat. Gadis itu meraih ponselnya lalu membuka-buka sosmed. Di beranda suaminya, penuh dengan foto pernikahan.


Foto-foto kemesraan laki-laki itu bersama istri barunya, kebahagiaan keluarga besar suaminya dan berjibun nya ucapan selamat dari keluarga dan kerabat mereka. Seolah, Rachel tak pernah hadir dalam keluarga itu.


Airmata lagi-lagi membasahi wajah cantiknya.


Di Kantor Albert..


Laki-laki itu membuka sosmed nya dan kaget menyaksikan pernikahan Ayud dengan wanita lain. Ia pun bergegas menghubungi gadis itu.


"Ra,


"Iya Al".


Terdengar suara serak wanita di seberang sana, sepertinya dia baru habis menangis. Albert memaklumi hal itu, dan tak memburu gadis itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan menambah kesedihannya.


"Lagi apa Ra?".


Albert mencoba menciptakan suasana santai, dan berusaha tersenyum.


"Biasalah, lagi istirahat. Kamu dimana Al, tumben nih nelpon, ada apa?".


Albert tertawa kecil, wanita ini sangat pintar menyimpan rasa sedihnya seorang diri. Diam-diam, Albert merasa kagum pada bekas sekertaris nya itu.

__ADS_1


"Ini lagi di kantor, tapi agak bosan karena lagi-lagi kamu tidak ada disini. Apa kamu ada waktu luang Ra?, saya mau mengajakmu makan siang".


Gadis itu mendesah, saat ini dia memang benar-benar membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Perasaan sesak yang dia rasakan saat ini, mungkin akan sedikit membaik setelah berbagi cerita dengan seseorang.


"Ah, apalah kesibukan seorang ibu rumah tangga seperti aku ini Al. Semua sudah dikerjakan oleh bi Sri, aku hanya tinggal makan tidur saja bukan?".


Makan tidur sambil makan hati, gumamnya dalam hati. Gadis itu tertawa kecil menyadari apa yang baru saja dia pikirkan. Walaupun terasa sangat berat, ia harus tetap kuat demi janin yang saat ini sedang tumbuh di dalam rahim nya.


"Baiklah, saya jemput ya Ra?".


Rachel menggeleng pelan, ia tak mau menciptakan salah paham lagi antara dia dan keluarga besar Ayud. Ia merasa lelah dengan persoalan yang tak kunjung habis ini. Mau bernafas lega saja, rasanya sangat sulit.


"Tidak, biar aku saja yang mendatangi mu. Aku bisa memesan taksi online bukan. Katakan saja dimana tempat janjian kita, aku akan kesana sekarang".


Albert mengangguk dan mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Lalu memberitahukan tempat janjian mereka, dan segera menyudahi pembicaraan.


30 menit kemudian, mereka tampak memasuki restoran besar langganan Albert. Sesaat setelah mereka duduk, Albert menatap wajah Rachel.


"Ada apa Al?".


Gadis itu merasa tak nyaman di perhatikan seperti itu oleh Albert.


Laki-laki itu bertanya dengan hati-hati.


"Well, aku baik-baik saja. Memangnya ada apa Al?".


Laki-laki itu mendesah pelan,


"Saya melihat sosmed tadi, dan saya melihat foto pernikahan suamimu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi Ra?".


Albert merasa sangat ingin memeluk tubuh gadis di depannya ini. Andai saja pelukan yang akan diberikannya tak menimbulkan salah paham, sudah pasti dari tadi ia melakukannya. Gadis itu diam beberapa saat,


"Iya Al, aku bahkan baru kembali dari pesta pernikahan mereka".


Gadis itu menatap Albert, matanya berkaca-kaca.


"Al, mengapa semua ini terjadi padaku?. Aku, aku sangat capek dengan semua yang terjadi di hidupku. Apakah dari awal, seharusnya pernikahan kami tak pernah terjadi?. Tega sekali dia melakukan ini padaku".

__ADS_1


Albert memegang tangan gadis itu, sebagai seorang sahabat ia ingin menghibur sang gadis. Meskipun, ia sendiri tak tahu bagaimana cara melakukannya.


"Ra, hey dengar. Saya tahu pasti berat sekali rasanya berada di posisi mu. Tapi, kamu sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini, itu sudah sangat hebat Ra. Tak ada orang yang bisa melakukan nya sekuat kamu".


Laki-laki itu menyunggingkan senyum, meskipun hatinya ikut merasa sakit atas apa yang di alami gadis itu.


"Percayalah Ra, apa yang sudah di takdir kan menjadi milikmu selamanya akan tetap menjadi milikmu. Tak peduli bagaimanapun caranya, dia akan tetap menjadi milikmu. Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, saya selalu siap".


Gadis itu menyunggingkan senyum, ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat sebaik Albert. Dalam hati kecilnya, wanita itu memanjatkan doa agar sahabat nya ini dipertemukan dengan seorang wanita yang baik.


"Aku merasa tak sanggup Al harus kembali ke rumah menyaksikan kemesraan mereka. Menyaksikan suamiku tidur bersama wanita lain. Aku tak menyangka, suamiku tega melakukan ini padaku".


Lagi-lagi, airmata yang ia tahan sekuat tenaga jatuh lagi. Kali ini, ia merasa gagal menjadi wanita kuat di depan Albert. Wanita itu bergumam lirih,


"Maaf Al, kamu harus menyaksikan aku selemah ini".


Saat itu, pelayan datang mengantarkan makanan yang sebelumnya telah di pesan Albert. Pelayan itu melirik sekilas ke arah Rachel, dan tersenyum. Pikirnya, itu hanya pertengkaran biasa antar sepasang kekasih. Albert melirik Rachel,


"Ra, sepertinya di mata pelayan tadi aku adalah laki-laki jahat yang sudah membuat kekasih nya menangis".


Sontak gadis itu tertawa mendengar lelucon yang di lontarkan Albert. Laki-laki itu selalu sukses membuatnya tertawa dalam situasi apapun. Gadis itu menyeka air matanya,


"Terimakasih ya Al, kamu adalah sahabatku yang paling baik sedunia. Disaat semua orang menjauh, hanya kamu yang selalu setia menemani ku. Aku doakan, semoga kamu segera menemukan belahan jiwamu".


Gadis itu tersenyum lebar,


"Seorang gadis baik yang bisa menerima dan menyayangi mu. Pokoknya harus gadis yang memiliki kriteria itu. Kalau tidak, aku orang pertama yang akan menentang hubungan kalian".


Albert tertawa mendengar kata-kata gadis itu. Ia mengelus kepala wanita itu pelan.


"Kamu juga harus terus bahagia Rachel. Kalau kamu bahagia, saya akan merasa sangat senang. Saya tak ingin melihat air mata mu, apalagi ingus mu yang meleleh kemana-mana itu".


Rachel secara refleks memegang hidungnya, memastikan tak ada kotoran di sana. Laki-laki itu tertawa melihat reaksi gadis di depannya.


"Sudah, ayo kita makan dulu. Habis ini, kamu harus cepat-cepat pulang kan Ra?. Saya tak ingin terjadi salah paham lagi antara kita".


Gadis itu mengangguk dan segera memakan makanan yang ada di depannya. Jauh disana, telah menanti masalah yang sangat besar baginya. Masalah yang mau tak mau harus di hadapinya, sendirian.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2