
Gadis itu berjalan bolak-balik sambil sesekali mendesah. Natan suaminya, memperhatikan dia dengan tatapan heran.
"S*al. Bagaimana bisa dia mengetahui semua ini?. Kalau sampai wartawan-wartawan br*ngsek itu tahu, kita akan tamat Nat".
Gadis itu bergumam sambil terus bolak-balik di depan Natan. Laki-laki itu menghampiri sang istri dan memegang tangannya dengan lembut,
"Apa apa Ane?. Bolehkah aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan?".
Carene mendesah, wajahnya tampak frustasi.
"Ayud mengetahui semuanya Nat, dia tahu semuanya. Bagaimana ini?. Kalau sampai publik tahu skandal ini, kita bisa selesai".
Wajah laki-laki itu berubah tegang,
"Mereka tahu sampai sebatas mana?".
Carene menjatuhkan dirinya di atas kasur sambil memegangi kepalanya dengan gusar.
"Dia tahu semuanya, kecuali aku yang pernah ab*rsi anak mu".
Wajah laki-laki itu pucat, ia memandangi wajah Carene.
"Aku pikir sesuai kesepakatan kita, semua akan aman-aman saja. Papa mu kan yang menjamin semua itu?. Lalu, kenapa ada masalah seperti ini sekarang?. Kalau sampai mereka tahu tentang keluarga ku, karir ku bakal tamat Ane".
Natan mengacak rambutnya, wajahnya benar-benar terlihat cemas.
"Aku baru saja akan memulai karirku, dan semua sudah jadi kacau begini?. Sebenarnya, ada kesalahan apa yang telah keluarga mu lakukan pada pak Ayud?. Mengapa dia sampai mengancam kita begini?".
Carene menatap wajah laki-laki di depannya itu dengan geram,
"Ini semua terjadi karena kesalahan keluargamu. Kalau kau tak memiliki keluarga yang b*brok, ini semua tidak akan terjadi".
Natan mengancingkan giginya, wajah laki-laki itu seketika berubah.
"Dari kemarin, kamu terus menyalahkan keluarga ku. Aku tegaskan, ini bukan kesalahan mereka. Kalau dari awal, kamu bukan perempuan m*rahan, ini semua tak akan terjadi. Kau yang menjebak ku dalam masalah ini".
Plakk!!
Tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi laki-laki muda itu. Ia terkesiap, lalu menatap Carene dengan tajam.
"Kamu pikir, aku tak tahu bagaimana kelakuan mu yang sebenarnya?. Sebelum dengan ku, sudah banyak bukan laki-laki yang telah men*duri mu?. Anak yang kau ab*rsi itu juga, aku tak yakin dia anakku".
Carene gusar, ia membentak suaminya dengan geram.
"Jaga ya ucapan mu. Kalau bukan karena keluarga ku, kamu tidak akan bisa membayar semua uang kuliahmu itu. Jangan merasa hebat, baru juga jadi dokter rendahan.
Gadis itu terlihat gemetar, nafasnya memburu. Ia benar-benar, sedang dikuasai amarah.
"Apa yang bisa di banggakan dari dirimu?. Bahkan gelar s*alan mu itu, kau dapat dari keluarga ku hasil menukar dirimu. Apalagi keluarga b*brok mu itu, pecandu n*rkoba. Ah, benar-benar bikin kesal".
__ADS_1
Carene menatap sang suami dengan penuh kebencian,
"Kalau di pikir-pikir, kau itu lebih rendah dariku. Harga dirimu, hanya setara beberapa lembar uang. Ah, kalau bukan gara-gara kehamilan s*alan ini, aku tak akan menikah dengan mu. Br*ngsek".
Natan menjadi murka seketika, ia menendang pinggiran tempat tidur dengan kuat.
"Kalau begitu, mengapa tak kau ab*rsi saja lagi anak itu?. Bukankah, kau sangat ahli melakukan nya?. Dasar, wanita pemb*nuh".
Carene berteriak gusar,
"Hentikan omong kosong mu itu s*alan. Hentikan, sebelum kesabaran ku habis".
Pertengkaran keduanya mengundang perhatian Darwin dan Jeny, yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga. Darwin melirik istrinya,
"Ma, coba lihat apa yang terjadi. Baru juga menikah sudah bertengkar saja. Apa-apaan mereka itu".
Jeny menghela nafas,
"Ah, dasar. Benar-benar menyusahkan".
Wanita paruh baya itu melangkah dengan cepat ke arah kamar Carene dan Natan. Begitu membuka pintu kamar pasangan itu, ia terkesiap. Natan sedang mengambil ancang-ancang untuk menampar putri semata wayangnya.
"Kurang ajar kamu. Berani sekali main tangan pada anak saya, dasar laki-laki miskin".
Dengan serta merta, laki-laki itu di tolaknya. Akibatnya, laki-laki itu jatuh terjengkang dan mengaduh. Jeny memegang pipi sang putri, dengan cemas.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?".
"Kamu apakan anak saya?. Berani sekali kamu, dasar laki-laki miskin. Beruntung kami mau menanggung biaya hidup keluarga mu dan pendidikan mu. Bukannya bersyukur, kamu malah banyak tingkah".
Wajah Natan merah padam, di lepaskan nya dengan kasar tangan Jeny dari kerah bajunya. Laki-laki itu menatap tajam kepada mertuanya.
"Kalau bukan karena putri anda, saya tidak akan berada dalam posisi menyulitkan seperti ini. Kalian memanfaatkan ku, demi kepentingan pribadi kalian. Aku yakin, cepat atau lambat kebenaran akan terungkap".
Jeny tersenyum sinis,
"Coba kau lihat dirimu itu, kau itu hanya laki-laki miskin yang ku beli untuk menikah dengan anak ku. Kalau bukan karena aku, sudah lama orang tua s*alan mu itu masuk penjara".
Wanita paruh baya itu menatap muak menantunya itu,
"Laki-laki yang sudah ku beli, berani-beraninya banyak tingkah. Bukankah kau sekarang sudah menjadi dokter terkenal, apalagi yang kau inginkan?. Menikah dengan putriku, memberimu banyak kenyamanan bukan?".
Jeny mendesah, ia mengecilkan volume suaranya. Ia sadar, tak ada gunanya berdebat dengan laki-laki ini. Kalau Natan sampai buka suara, keluarga nya benar-benar akan kesulitan membereskan semuanya.
"Bukankah dari awal kita sudah sepakat, untuk sama-sama setuju akan hal ini. Mengapa kalian mengungkit nya lagi?. Aku sudah membayarmu mahal untuk semua ini kan?".
Natan menatap Carene, laki-laki itu terdiam sejenak.
"Sebenarnya, ada masalah apa kalian dengan pak Ayud?. Mengapa dia sampai mengancam akan menyebarkan berita kehamilan Carene ke publik?. Aku tak mau terlibat dalam persoalan rumit ini, apalagi sampai mengancam karirku".
__ADS_1
Laki-laki itu menelan saliva nya,
"Mama tentu tahu, karir adalah segalanya buatku. Jadi, tolong selesaikan masalah ini baik-baik dan jangan rusak karirku. Kalau sampai itu terjadi, aku tak akan segan untuk membuka mulutku. Aku permisi".
Laki-laki itu meninggalkan istri dan mertua nya, lalu bergabung dengan Darwin di ruang tamu.
Jeny membelai lembut tangan sang putri,
"Ane, ada apa sayang?. Bukankah kita sudah sepakat untuk tak mempermasalahkan hal ini lagi?".
Gadis itu mengepalkan tangannya,
"Ini semua gara-gara laki-laki br*ngsek itu ma, dia tahu semuanya. Keluarga Natan, kehamilan ku, kecuali soal aku yang melakukan ab*rsi. Aku yakin, papa selalu bisa aku andalkan. Tapi, masalah Natan, aku tak yakin ma".
Jeny tersenyum, membelai lembut rambut ikal sang putri.
"Sayang, dengar. Selama ada mama sama papa, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Mama akan buat perhitungan dengan laki-laki tak tahu diri itu. Sudah, jangan sedih lagi ya sayang".
Carene mendesah frustasi,
"Aku tak bisa menyembunyikan rasa khawatir ku ma, sekalipun papa bisa membereskannya. Tapi, masalah ab*rsi, n*rkoba, bagiamana aku bisa lolos dari itu semua?. Apalagi, laki-laki s*alan itu cukup berpengaruh di Negara ini".
Wanita paruh baya itu terdiam,
"Mama, kenapa diam?. Coba jawab dulu pertanyaan ku. Apa aku bisa bebas dari semua ini?. Sekarang, laki-laki itu benar-benar berbeda ma. Dia CEO perusahaan besar".
Jeny menarik nafas berat,
"Tentu ada yang dia inginkan bukan?. Coba katakan, dia memintamu melakukan apa?".
Gadis itu meninggikan suaranya,
"Dia meminta kita untuk minta maaf kepada gadis miskin itu, anak angkat yang papa mama besarkan. Masa kita harus minta maaf ke dia ma?. Dimana harga diri kita?".
Jeny terbelalak tak percaya,
"Apa?. Berani sekali dia. Sampai kapanpun, mama tidak akan melakukan hal sia-sia seperti itu".
Carene merengek manja,
"Tapi ma, aku tak mau sampai berurusan dengan polisi gara-gara masalah ini. Mau di taruh dimana harga diriku?".
Wanita paruh baya itu memeluk tubuh sang putri,
"Sudah, percayakan saja semua sama mama. Untuk saat ini, kamu fokus saja sama keluarga baru mu ya sayang. Pastikan laki-laki miskin itu tidak berulah lagi".
Carene mengangguk lalu menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan sang ibu. Gadis itu tersenyum kecil, semua masalahnya selalu bisa selesai tanpa hambatan. Ia yakin, kali inipun akan seperti itu.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Hy guys, terimakasih sudah membaca novel ini 😊😊
Dimana pun kalian berada, semoga sehat selalu 😊😊