
Albert berjalan dengan lesu ke kantor nya. Tangannya memegang map, laki-laki itu terlihat gemetar. Semua karyawan menatapnya dengan tatapan heran, namun tak berani bertanya. Mereka membungkuk hormat.
Albert menatap sekilas ke arah Rachel yang sedang asyik dengan komputer nya itu. Ia mengetuk pelan meja sang karyawan,
"Tolong siapkan semua yang di perlukan, Rachel. Siang ini, saya akan mengadakan rapat dadakan".
Rachel mengangguk,
"Baik pak".
Gadis itu sempat heran dengan tingkah sang majikan. Tak seperti biasanya, laki-laki itu terlihat begitu lesu. "Semoga saja bukan masalah besar", batinnya.
Siang itu, Albert mengumpulkan semua karyawan nya dan melakukan rapat dadakan. Para karyawan saling menatap heran, tapi tak tahu apa yang sedang terjadi. Albert masuk ke ruangan rapat dan memulai percakapan.
"Terimakasih semua karyawan setia Mayora Enterprise, atas loyalitas kalian selama ini. Sejujurnya, berat buat saya untuk memutuskan hal ini, namun ini semua saya lakukan demi kebaikan kita bersama.
Laki-laki itu menghela nafas. Terlalu sulit rasanya melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Tadi pagi, saya menerima email dari perusahaan Liam's Group. Mereka meminta kita menyerahkan pegawai teladan kita, saudari Rachel untuk bekerja kepada mereka. Kalau tidak, mereka mengancam akan menutup perusahaan kita ini".
Laki-laki itu menatap satu persatu wajah semua karyawan nya,
"Saya mengumpulkan kalian semua hari ini, untuk meminta pendapat kalian tentang apa yang harus saya lakukan".
Mereka yang ada di ruangan itu saling berpandangan terutama Rachel. Ia sangat kaget dengan apa yang terjadi,
"Maaf pak, tapi mengapa mereka meminta memperkerjakan saya?. Saya memiliki hak untuk bekerja dimana saja yang saya sukai. Itu adalah hak asasi saya sebagai manusia".
Albert menghela nafas,
"Itu benar. Namun, pemegang perusahaan Liam's Group memiliki kuasa untuk melakukan semua itu. Perusahaan itu, menguasai hampir seluruh aset milik perusahaan kita. Hanya masalah waktu saja mereka bisa menutup perusahaan kita".
Salah seorang karyawan menyela,
"Tapi pak, kalau saudari Rachel tidak bekerja disini bukankah kita akan sangat kesulitan?. Mengingat selama ini, semua data perusahaan di atur dan di tangani oleh Rachel. Tentu perusahaan kita akan mengalami kerugian".
Karyawan itu menatap wajah semua rekan-rekan nya,
"Lagipula, sekarang kita banyak menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain. Itu membutuhkan detail rinci, yang hanya dikuasai oleh saudari Rachel. Selama ini dia sudah sangat bekerja keras untuk itu".
Albert lagi-lagi menarik nafas berat nya. Ia benar-benar sulit untuk membuat keputusan. Ini menyangkut nasib semua karyawan-karyawan nya, yang telah lama bekerja di perusahaan ini.
__ADS_1
"Pak, saya rasa kalau cuma dia yang di pindahkan untuk bekerja disana itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa kepada perusahaan ini. Masih banyak orang-orang berbakat lainnya, yang bisa menduduki posisi saudari Rachel".
Seorang karyawan yang terkenal suka membuat masalah itu membuka suaranya. Pak Mus yang dari tadi diam membuka suaranya,
"Saudara tahu apa tentang data perusahaan?. Saudara saja bekerja karena terpaksa bukan?. Banyak sekali pekerjaan saudara yang tidak beres, dan selalu saudari Rachel yang membereskan semuanya".
Mendengar perkataan pak Mus, laki-laki yang tadi membuka suaranya itu terdiam. Ia ingin protes, namun sepertinya orang-orang di ruangan ini semuanya memihak kepada wanita itu. Ia hanya mengepalkan tangannya menahan amarah.
Albert meletakkan tangan nya di atas meja dan menatap karyawan nya satu persatu,
"Baiklah, nanti saya akan mencoba untuk berbicara kembali dengan CEO Liam's Group. Doakan saja, semoga beliau memberi keringanan kepada kita semua".
Rapat kemudian di bubarkan dan masing-masing karyawan meneruskan kembali pekerjaan mereka yang tertunda. Rachel termenung di meja kerjanya, dadanya bergemuruh menahan amarah. Ia begitu kesal dengan perlakuan Ayud padanya.
Gadis itu kemudian pergi ke ruangan Albert. Ia mengetuk ruangan sang majikan dengan hati-hati.
"Al maaf ya ini semua gara-gara aku. Kalau bukan karena aku, perusahaan mu tidak akan mengalami hal seperti ini. Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ku perbuat. Maafkan aku, Al".
Albert menatap gadis itu sendu,
"Sejujurnya saya tidak mau kamu pergi dari perusahaan saya Ra. Kamu sudah seperti nyawa bagi perusahaan ini. Dari awal saya menjabat bahkan sampai sekarang, kamu sudah terlalu banyak membantu saya".
"Aku akan mencoba berbicara lagi dengan pemimpin perusahaan itu Al. Semoga saja, aku masih bisa memperbaiki semuanya. Lagipula, ada-ada saja permintaan mereka itu. Sangat tak masuk akal".
Albert tersenyum,
"Baiklah. Apapun hasilnya, kamu jangan kecewa ya Ra. Setidaknya, kamu sudah berusaha".
Rachel tersenyum dan meninggalkan pria itu sendirian di ruangannya.
Pertemuan mereka kali ini terjadi lebih cepat dari dugaan Ayud. Laki-laki itu tersenyum, membayangkan sebentar lagi dia akan melihat gadis itu setiap hari.
"Ada apa sekertaris Mayora Enterprise mendatangi saya?"
Ayud melipat tangannya ke dada dengan angkuh. Rachel berdiri di depan laki-laki itu,
"Apa maksud anda mengancam perusahaan kami?. Apa masih ada dendam lama yang belum tuntas di hati anda?. Apa tidak cukup semua yang sudah anda lakukan kepada saya, dan seluruh kehidupan saya selama ini?".
Gadis itu membesarkan volume suaranya, nafasnya kelihatan memburu.
"Saya punya hak untuk bekerja dimana pun saya mau. Bapak tidak berhak memaksa saya untuk melakukan semua yang bapak mau. Ingat, kita sudah bukan siapa-siapa lagi. Dan selamanya tidak akan pernah menjadi siapa-siapa".
__ADS_1
Ayud bangkit dari tempat duduknya,
"Kamu begitu berani mendatangi kantor ku, bahkan memarahi aku pemiliknya. Tidak kah kamu pikir, sikap mu ini agak keterlaluan sekertaris Rachel?".
Gadis itu semakin geram,
"Anda juga keterlaluan pak. Anda memaksa saya bekerja di perusahaan anda, memang nya apa hak anda?. Lagipula, disana saya sudah menguasai bidang pekerjaan saya. Pikir kan lagi keputusan anda pak".
Ayud terkekeh geli,
"Sampai akhir ternyata kamu memang tak mau mengalah ya?. Argumen mu terdengar masuk akal, tapi aku memiliki kuasa untuk melakukan apa yang aku inginkan".
Ia menatap gadis itu serius. Gadis itu terlihat salah tingkah,
"Dengar, aku tak pernah mengizinkan orang lain memiliki apa yang aku miliki. Dan kamu adalah milikku. Aku tak akan mengizinkan Albert memilikinya. Memang nya aku tidak tahu seperti apa hubungan mu dengan majikan mu itu?".
Ia mengalihkan pandangannya dari gadis itu dan mendengus,
"Sudahlah, dia tidak pantas untuk mu. Berhenti saja dari sana".
Rachel menatap laki-laki sombong itu dengan geram,
"Memangnya anda pantas?. Siapa yang memberi anda kepercayaan diri setinggi itu?".
Ayud terkesiap mendengar kata-kata yang keluar dengan begitu mulus dari mulut wanita itu. Ia mendekati wanita itu dan memojokkan nya ke dinding.
"Kalau aku tidak pantas, bos mu itu lebih tidak pantas lagi".
Ia memainkan anak rambut wanita itu
"Aku akan membuat mu memohon sendiri untuk datang padaku, lebih cepat dari perkiraan mu. Aku yang sekarang bukan laki-laki yang bisa di pandang sebelah mata seperti dulu, ingat itu".
Rachel menyeringai,
"Kalau begitu, mengapa anda masih menginginkan mainan yang tidak berguna seperti saya?. Apa anda merasa begitu senang mempermainkan hidup orang lain?".
Ayud marah mendengar kata-kata gadis itu, ia membanting vas bunga yang ada di mejanya lalu pergi begitu saja. Rachel membeku di tempatnya. Emosi laki-laki itu masih saja di luar kendali.
❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, reader ku yang paling keren sedunia 😘😘😘😘
__ADS_1