
Rachel memutar bola mata nya beberapa kali, ia tampak sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu. Beberapa kali ia tampak melamun. Dan lagi-lagi, mencoba untuk berkosentrasi dengan apa yang sedang dia kerjakan.
...Rachel POV...
Liam's Group? Bukankah itu perusahaan milik kakek Liam?. Ah kalau itu benar, apakah aku sanggup menemui beliau sekarang?. Mengingat sudah begitu lama aku meninggalkannya. Bagaimana kabar kakek sekarang?.
Apa beliau masing ingat padaku, apa kakek makan dengan baik?. Setelah kepergian ku sekitar 5 bulan yang lalu, sedikit pun aku tak pernah menghubungi beliau. Padahal aku sudah berjanji akan sering mengabarinya.
Aku bukan nya tak mau menghubungi kakek Liam, tapi aku benar-benar tak siap dengan pertanyaan yang akan beliau lontarkan padaku. Apalagi kondisi ku dalam 5 bulan terakhir benar-benar buruk, berjuang menghidupi diriku sendiri dengan susah payah.
Aku bersyukur bertemu dengan pak Albert, beliau banyak membantu ku. Namun, dengan minim nya pengetahuan ku tentang dunia perkantoran. Aku harus belajar lebih giat dari yang lain, tanpa kenal lelah. Siang, dan malam.
Banyak yang mengira, aku melakukan semua itu demi merayu pak Albert yang masih single. Ah, terserah lah. Omongan orang tak akan memberi ku makan apalagi memenuhi semua kebutuhan ku.
Siang itu, kami berangkat untuk melakukan meeting dengan Liam's Group. Sepanjang perjalanan aku begitu berdebar, tak sabar rasanya ingin bertemu kakek Liam dan menatap matanya yang penuh kasih sayang itu.
Aku rindu dengan kakek Liam. Setiap malam, aku selalu memikirkan laki-laki tua itu. Bagaimana keadaan nya, bagaimana kabar nya. Tapi, semua itu hanya bisa ku lakukan dalam diam. Aku tak berani menghubungi nya duluan.
Aku bahkan mengganti nomor HP ku dan benar-benar menghilang. Aku ingin jadi pribadi yang lebih baik, ketika suatu saat takdir mempertemukan ku dengan keluarga itu lagi.
Masih ku yang ingat dengan jelas, tatapan matanya yang begitu sedih ketika aku pergi meninggalkan nya dulu. Aku sangat merindukan semua itu, apakah aku egois karena telah meninggalkan kakek?
Bukan, aku bukan meninggalkan kakek, tapi laki-laki itu. Aku tak bisa lagi menahan sikap dan perlakuan nya padaku. Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri. Aku lelah mendapati diriku menangis setiap hari.
Ah, semoga saja kakek masih mau memaafkan ku, dan tetap menganggap ku cucu nya. Meskipun, aku bukan siapa-siapa lagi di keluarga itu. Aku hanya berharap kakek tak membenciku, sakit rasanya jika hal itu terjadi.
"Ra kita sudah sampai. Bengong terus kamu, kenapa?"
Sebuah tepukan di pundak berhasil membuyarkan lamunanku. Aku tersentak kaget,
"Aduh maaf pak Albert, saya benar-benar tidak sengaja".
Albert menyunggingkan senyum, gigi-gigi kelinci miliknya menambah pesonanya.
"Iya tidak apa-apa, cuma saya kuatir takutnya karyawan saya sedang jatuh cinta".
__ADS_1
Lagi-lagi pak Albert mengerjai ku. Ku pukul pundaknya pelan lalu keluar dari mobil,
"Pak ini cuma kita berdua ya yang datang mewakili Mayora enterprise?. Saya tak melihat karyawan yang lain, dimana mereka?".
Aku bertanya karena tak melihat siapa pun selain kami berdua,
"Iya, cuma kita berdua saja yang akan meeting kali ini. Ayo, kita ke atas. Orang-orang Liam's Group pasti sudah menunggu kita".
Aku mengangguk dan menunjukkan rasa hormat ku pada beliau,
"Baik pak".
Aku tahu, pak Albert suka padaku. Dia telah beberapa kali menunjukkan hal itu secara terang-terangan. Namun, aku tak bisa memberikan harapan apapun padanya.
Membuka hati untuk hubungan baru rasanya sangat sulit, mengingat bagaimana hubungan terakhir ku terjadi. Rasa trauma itu masih sering menghantui mimpi-mimpi ku.
Aku sadar, tak adil rasanya menyalahkan semua laki-laki hanya karena aku pernah gagal dalam sebuah hubungan. Aku tahu pak Albert berbeda dia laki-laki yang sangat baik.
Sampai detik ini, aku masih belum mampu menghilangkan rasa trauma akibat perlakuan laki-laki. Bahkan mengingat bagaimana aku hampir m*ti karena laki-laki itu, menyisakan trauma yang sangat dalam di hatiku.
...Rachel POV End...
Kedatangan Albert dan Rachel di sambut dengan hangat oleh semua staf kantor. Mereka membungkuk dengan hormat. Rachel bisa merasakan tatapan nakal wanita-wanita itu ketika melihat wajah tampan majikannya.
Albert memiliki wajah yang sangat ganteng. tubuhnya tinggi dan tegap, membuat wanita seperti tak berkedip ketika melihat nya. Beberapa karyawan wanita bahkan ada yang sampai berkali-kali menelan air liur.
Rachel melangkah dengan cepat menyusul pak Albert sambil memegang beberapa dokumen di dadanya. Menjadi pusat perhatian ternyata tak begitu menyenangkan. Mereka menatapnya dengan tatapan ingin menelan hidup-hidup.
Begitu mereka memasuki ruangan rapat, tampak seorang laki-laki maskulin duduk dengan santai. Rachel sempat terkesiap menyadari siapa laki-laki itu. Namun demi sikap profesional, Rachel menguasai diri dengan cepat.
Selama rapat berlangsung, Rachel terlihat sedikit gelisah sementara laki-laki tampak sangat tenang. Siang itu, rapat berjalan dengan sukses dan resmi lah sudah perusahaan Liam's Group bekerjasama dengan perusahaan Albert.
Setelah rapat berakhir, Albert mengajak Rachel untuk makan siang sebelum mereka kembali ke kantor. Namun, gadis itu menolak.
"Maaf pak, sepertinya saya sedang tidak enak badan. Saya izin pulang lebih dulu ya?".
__ADS_1
Albert mengerutkan keningnya, heran.
"Masa kegantengan pak Ayud sampai berhasil membuat mu tak enak badan, sekertaris ku?. Benar-benar luar biasa sekali ya".
Lagi-lagi Albert menggodanya,
"Ah pak, saya sedang tidak berminat untuk bercanda sekarang. Saya benar-benar merasa tak enak badan. Tolong izinkan saya pulang sekarang, pak".
Laki-laki itu menepuk pundak Rachel pelan,
"Baiklah. Kalau begitu, nanti kamu tidak usah datang ke kantor. Habis ini saya antar kamu langsung pulang saja ya, istirahat dan minum obat. Jangan sakit lama-lama, kantor sepi tanpa kamu".
Rachel tersenyum, Albert memang selalu sukses membuatnya tertawa meski perasaan gadis itu sedang tak enak. Ia kemudian menggeleng pelan,
"Terimakasih pak, tapi saya bisa pulang sendiri. Bapak kan masih ada banyak urusan, saya tidak mau mengganggu bapak. Lagipula, saya tak enak sama teman-teman yang lain. Mari pak, saya duluan".
Albert tersenyum sambil melambaikan tangannya. Gadis itu masih saja sangat sungkan padanya, selalu memanggil nya bapak meski mereka hanya berdua. Albert bergumam pelan,
"Mungkin, gadis itu benar-benar tak ingin terlibat hubungan apapun denganku. Ia hanya menginginkan hubungan sebatas bos dan karyawan".
Albert mendesah, lalu kembali menemui rekan bisnis barunya. Mereka terlihat membicarakan perihal perkembangan bisnis masing-masing.
sementara itu, Rachel melangkah keluar dari perusahaan Liam's Group dan menyetop taksi. Dari kantor miliknya, Ayud memperhatikan gadis itu. Ia tersenyum, ternyata gadis itu hidup dengan baik dan tampak semakin dewasa.
Ke depannya, akan ada begitu banyak kesempatan untuk dia dan gadis itu bertemu. Ia tak perlu terburu-buru, biarlah takdir mempertemukan mereka kembali sebagai mana seharusnya.
Semesta seolah sengaja menciptakan garis takdir yang begitu indah untuknya dan gadis itu. Pertemuan mereka kali ini terjadi tanpa rencana. Semoga pertemuan kali ini akan berbuah manis, batin laki-laki itu.
Tak terasa, dua tetes air mata jatuh begitu saja dari pipi laki-laki itu, ia memilih membiarkan nya. Andai saja kakek Liam ada disini, ia pasti akan sangat bahagia melihat cucu menantu kesayangan nya itu.
❤️❤️❤️❤️
Bagaimana kabar kalian guys?
Ditengah Pandemi ini, tetap jaga kesehatan ya😘😘😀
__ADS_1