
"Sedang melukis apa?" Tanya Bintang seraya menghampiri Vaia yang sejak tadi hanya duduk di tepi pantai dan berkutat dengan kanvas serta cat airnya.
"Belum selesai!" Vaia mendekap media lukis tadi dan berusaha menyembunyikannya dari Bintang.
"Aku lihat dulu!" Ujar Bintang sambil berusaha merebut lukisan Vaia.
"Jangan! Belum selesai!" Vaia kekeuh tidak mau menunjukkannya pada Bintang. Namun Bintang juga kekeuh memaksa.
"Ngintip saja kalau begitu!" Bintang mencengkeram lengan Vaia dan tetap memaksa gadis di depannya tersebut agar menunjukkan hasil lukisannya.
"Please!" Mohon Bintang lagi.
"Ck! Dasar pemaksa!" Vaia akhirnya menunjukkan sedikit hasil lukisannya yang masih setengah jadi pada Bintang.
"Sudah!" Ucap Vaia cepat seraya menutup kembali lukisannya. Bintang bahkan belum tahu itu tadi lukisan apa, saking cepatnya Vaia menunjukkan dan mungkin hanya hitungan detik.
"Apa itu tadi, Va? Aku belum lihat!" Protes Bintang yang kembali berusaha merebut lukisan Vaia.
"Nanti saja kalau sudah jadi, lukisannya untukmu," ujar Vaia berjanji pada Bintang.
"Janji?" Bintang mengulurkan kelingkingnya pada Vaia pertanda pemuda itu sedang mengajak Vaia untuk membuat janji kelingking.
"Janji!" Vaia menautkan kelingkingnya ke kelingking Bintang saat kemudian tangan Vaia malah ditarik oleh Bintang.
"Bintang!" Pekik Vaia bersamaan denagn kecupan Bintang yang tiba-tiba sudah mendarat di pipi Vaia.
"Ck! Apa, sih?" Vaia tersipu malu dan mengusap pipinya sendiri yang tadi dikecup Bintang.
"Abang Bintang!" Panggil Gavin membuyarkan adegan mesra di antara Bintang dan Vaia.
"Ya!" Jawab Bintang yang masih menatap lekat wajah Vaia yang masih tersipu. Ya ampun!
"Ayo lanjut main selancarnya dan jangan pacaran terus!" Ajak Gavin seraya mencipratkan air laut ke arah Vaia dan Bintang.
"Kak!"
Vaia tersentak dan lamunannya tentang Bintang seketika menjadi buyar karena air laut yang tiba-tiba dicipratkan oleh Gavin.
"Kakak melamun apa, sih?" Tanya Gavin yang sudah mendaratkan bokongnya di samping Vaia. Adik Vaia itu lalu bersiul saat melihat lukisan Vaia.
"Bagusnya! Kapan Gavin bisa melukis seperti itu!" Puji Gavin seraya bertanya pada ombak yang datang dan pergi.
__ADS_1
"Bisa, kok! Asal kamu mau serius dan ikut kursus," jawab Vaia seraya melempar tatapannya pada ombak yang bergulung-gulung, yang selalu datang menerpa kakinya lalu pergi lagi dan kembali ke lautan lepas. Pikiran Vaia kembali melayang pada Bintang yang hingga detik ini belum diketahui keberadaannya. Vaia rindu ada kekasihnya itu!
"Dor!" gertakan Gavin kembali membuat Vaia kaget dan tersentak.
"Melamun terus!" cibir Bintang pada sang kakak.
"Mana ada!" sanggah Vaia cepat.
"Baiklah! Ayo tinggalkan perkakas melukis kakak ini dan kita mandi bersama ombak!" Gavin tiba-tiba sudah menggendong Vaia dan memanggul kakak perempuan kesayangannya tersebut di bahu sebelah kanan.
"Gavin! Turunkan aku!" Vaia meronta-ronta sembari memukul-mukul punggung Gavin.
"Gavin!" teriak Vaia sekali lagi pada Gavin, saat adik bungsunya itu tiba-tiba membawa Vaia ke tengah laut, lalu menurunkannya. Dan Vaia seketika langsung basah kuyup terkena terjangan ombak.
Dasar Gavin!!
****
Bintang menatap antusias pada seorang bocah kisaran umur tujuh tahun yang tangannya begitu lihai menari-nari di atas kanvas. seolah sedang mengalami dejavu, Bintang seoolah diingatkan pada gadis kecil yang pernah Bintang lihat di mimpinya. Tapi siapa gadis kecil itu?
"Bintang, kau sudah selesai melihat-lihat lukisannya?" tanya Syiela yang sontak langsung menyentak launan Bintang. Saat ini, Bintang dan Syiela memang tengah berada di atrium sebuah mall.
"Tunggu sampai dia menyelesaikan lukisannya! Aku penasaran dengan hasil akhirnya," tukas Bintang seraya menunjuk ke pelukis keil yang sejak tadi ia perhatiakan.
"Aku baru tahu, kalau kau menyukaii karya seni berbentuk lukisan," ujar Syiela seraya bersedekapp.
"Aku juga tidak tahu! Tapi saat melihat semua lukisan ini, aku seolah ingat pada sesuatu dari masalaluku. Mungkin dulu aku memang ppenggemar lukisan sebelum aku amnesia," Bintang menerka dan menebak-nebak sendiri tentang dirinya di masalalu.
"Jika kau bertanya tentang masa lalumu sebelum amnesia, maka aku juga tidak tahu!" Syiela terkekeh.
"Karena aku tahunya Bintang Mahardika adalahtuan direktur sekaligus ewaris tunggal di Mahardika's Comppany," sambung Syiela lagi. Bintang ikut tertawa dengan jawaban Syiela tersebut.
Lukisan gadis kecil tadi akhirnya selesai, dan Bintang memilih untuk langsung membelinya saja. Lukisan itu menggambarkan sebuah pemandangan pantai dengan pohon kelapanya yang melengkung indah, lalu ombak yang bergulung-gulung dan jangan lupakan pemandangan sunset-nya yang luar biasa!
Yeah!
Dimana Bintang bisa melihat pantai seindah itu?
"Kau akan memajangnya dimana?" tanya Syiela setelah Bintang duduk di belakang pintu kemudi. Butuh waktu lumayan lama untuk Bintang meletakkan lukisan pantai tadi di bagian belakang mobil. Bintang selah takut jika lukisannya rusak atau koyak.
"Di kamar," jawab Bintang cepat.
__ADS_1
"Kamarmu?" tanya Syiela lagi.
"Ya! Kamarku untuk saat ini dan kamar kita berdua untuk beberapa hari lagi," jawab Bintang akhirnya blak-blakan. Namun jawaban Bintag sukses membuat Syiela tertawa renyah.
"Aku belum pernah melihatnya," gumam Syiela sedikit tersipu. Bintang sontak menatap serius pada Syiela yang jga langsung dengan cepat membalas tatapannya.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Syiela tak megerti.
Bintang berdecak,
"Apa pertanyaanmu barusan adalah pertanyaan memancing?" tanya Bintang penuh selidik.
"Memancing apa, maksudmu?" Tanya Syiela pura-pura tak paham.
"Aku benar-benar penasaran dengan kamarmu!" sergah Syiela seraya menahan tawa.
"Mau mampir untuk melihatnya?" tanya Bintang memberikan tawaran menggiurkan pada Syiela.
"Mampir dan melihat saja? Tidak melakukan hal lain, kan?" tanya Syiela yang sepertinya memang niat sekali memancing dan menggoda Bintang.
"Melakukan hal lain?" Bintang mengernyit pada Syiela.
"Kau bisa membantuku memasang lukisan itu di kamarku." Bintang menunjuk ke lukisan yang berada di bagian belakang mobil.
"Bukankah itu juga hal lain? Apa maksudmu tadi hal itu?" tanya Bintang selanjutnya pada Syiela yang langsung berdecak.
"Baiklah! sebaiknya kita sudahi perdebatan ini," tukas Syiela yang wajahnya terlihat kesal. Namun bukannya menghibur, Bintang malah justru menertawakan gadis itu.
"Nanti kau jadi mampir untuk membantuku memasang lukisan, kan?" tanya Bintang mengingatkan Syiela.
"Iya, iya! Seperti tak ada maid di rumahmu saja!" omel Syiela bersamaan dengan mobil Bintang yang akhirnya melaju meninggalkan parkiran mall.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lulupa a like biar othornya bahagia.
__ADS_1