Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
MALAM INI


__ADS_3

Bintang meraih tangan Vaia, lalu menggenggamnya dengan erat sambil sesekali memciumi tangan tersebut. Saat ini, dua sejoli tersebut sedang duduk di tepi pantai seraya menatap pada bola matahari yang mulai menuruni garis cakrawala, meninggalkan sinarnya yang berwarna jingga kemerahan.


"Kau mau konsep pernikahan yang bagaimana nanti, Va?" Tanya Bintang seraya tangannya terulur untuk merapikan rambut Vaia yang berserakan karena tertiup angin pantai yang berhembus kencang.


"Yang sederhana saja!" Jawab Vaia seraya menatap pada Bintang.


"Sederhana? Tidak mau yang glamour dan mewah?" Tanya Bintang lagi yang kini sudah ganti menangkup wajah Vaia.


"Tidak! Aku ingin yang sederhana saja. Di tepi pantai dan hanya keluarga serta teman-teman dekat yang datang!" Vaia tersenyum sembari menatap ke laut lepas.


"Lihat! Ada Orca!" Celetuk Vaia seraya menunjuk ke laut lepas, dan Bintang langsung menunjuk ke arah yang ditunjuk oleh Vaia.


"Bagaimana kalau kita nanti menikah di atas kapan, agar Orca bisa hadir?" Bintang mencetuskan sebuah ide dan Vaia langsung mengangguk dengan mata yang berbinar.


"Ya! Aku mau!" Jawab Vaia seraya mengalungkan kedua lengannya di leher Vaia.


Pun dengan Bintang yang sudah menarik Vaia agar mendekat ke arahnya. Bintang meraih dagu Vaia, lalu memagut bibir Vaia untuk beberapa saat.


"I love you, Vaia!"


"I love you too!" Jawab Vaia yang kembali memagut bibir Bintang hingga matahari terbenam sepenuhnya dan langit berubah hitam.


****


"Bintang!" Vaia langsung memeluk Bintang seraya menangis tergugu di pelukan pria yang sudah hampir enam bulan tidak ada kabar tersebut.


"Vaia!" Gumam Bintang bersamaan dengn seluruh memori dalam hidupnya yang mendadak kembali. Seperti puzzle yang awalnya terhambur dan berceceran, lalu kini semuanya kembali tersusun dengan rapi dan menampakkan gambar yang seharusnya.


"Kamu kemana saja selama enam bulan ini?" Tanya Vaia yang kini sudah menangkup wajah Bintang, seolah sedang memeriksa setiap jengkal dari wajah kekasihnya tersebut.


"Aku-"


"Aku..."


"Pak, awas!!"


Braaaak!


Bayangan saat tubuhnya sendiri tertabrak oleh sebuah mobil tanpa lampu, lalu terpental beberapa meter jauhnya hingga kepala Bintang berbenturan dengan pembatas beton di sisi tempat parkir kembali berkelebat di benak Bintang. Bahkan rasa sakitnya masih bisa Bintang rasakan sekarang.


"Aaaakhhhhh!" Bintang meringis seraya memegangi kepalanya sendiri.


"Bintang, kau kenapa?" Tanya Vaia yang wajahnya langsung berubah khawatir.


"Aaaaarrrrrrgh!" Bintang menggeram dan pria itu sudah bersimpuh di lantai sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan saat bayangan demi bayangan dari semua hql.yqng sudah ia alami selama dua puluh sembilan tahun berkelebat berulang-ulang di benak Bintang.


"Aku anakmu, Pa!"


"Siapa namamu?"


"Bintang,"


"Bintang mau tinggal di panti asuhan saja mulai sekarang, Tante!" Ucap Bintang pada Tante Ayunda yang sebenarnya begitu perhatian dan sayang pada Bintang namun sayangnya, tatapan kebencian dari om Ben yang pernah Bintang tuduh sebagai papanya, membuat Bintang tak tahan lagi tinggal di rumah Opa Theo.


"Mau jadi pacarku?"


"Hah?"


"Jadi pacarku, ya! Mulai sekarang! Aku serius!"


"Kau tahu, sebenarnya aku sudah lama jatuh cinta padamu, Vaia!"


"Sejak kapan tepatnya?"


"Sejak kita pertama bertemu."


"Aku harus berhemat, agar aku bisa segera melamarmu dan menikahimu. Aku ingin membuatkan pesta pernikahan yang megah untukmu."


"Melamar dan menikahimu!"

__ADS_1


"Menikahimu!"


"Aku pasti pulang untuk menikahimu, Vaia!" Seru Bintang seraya terlonjak dari tidurnya. Pria itu menatap ke sekeliling dan saat itulah, pandangannya langsung tertumbuk pada seoarng gadis yang duduk di sampingnya seraya memegang kipas di tangannya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Vaia seraya menangkup wajah Bintang, lalu mengambil tisu untuk menyeka peluh yang membentuk titik-titik di dahi Bintang.


"Aku tadi kenapa?" Tanya Bintang bingung. Seingat Bintang, dirinya tadi masih di dekat toko milik Ayah Arga. Lalu kenapa sekarang Bintang sudah berada du dalam rumah kedua orang tua Vaia?


"Kau pingsan tadi di depan toko."


"Lalu yang menbawaku kemari?" Tanya Bintang lagi.


"Kebetulan tadi truk yang membawa barang di toko datang. Jadi ada yang membantuku untuk membawamu kemari," cerita Vaia seraya meraih gelas berisi air minum di atas meja.


"Minumlah dulu!" Vaia membimbing Bintang untuk minum perlahan.


"Ponselmu tadi juga berdering beberapa kali." Ujar Vaia selanjutnya memberitahu Bintang.


Bergegas Bintang memeriksa ponselnya dan benar saja, ada beberapa pesan masuk dari Syiela dan Elang. Namun Bintang memilih untuk mengabaikan dan prianitu malah men-silent ponselnya.


Bintang menatap pada Vaia yang wajahnya sendu.


"Va!" Bintang menggeser duduknya, lalu segeralah meraup Vaia ke dalam pelukan. Gadis itu kembali menangis tergugu di pelukan Bintang.


"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, Bintang!"


"Aku pikir-" Vaia sesenggukan di pelukan Bintang.


"Aku pikir sesuatu yang buruk sudah terjadi padamu!" Lanjut Vaia tetap sesenggukan.


"Kenapa tiba-tiba kau menghilang tanpa kabar?"


"Kenapa?" Tanya Vaia yangvtak algi bisa bersuara.


"Maaf!" Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Bintang. Entah permintaan maaf karena Bintang yang lama tak ada kabar, atau permintaan maaf karena Bintang yang gegabah menerima cinta Syiela padahal ingatan Bintang masih abu-abu.


"I love you, Syiela!"


"I love you too, Bintang!"


Bintang memejamkan matanya masih sambil memeluk Vaia. Pria itu tak berhenti merutuki kebodohannya sendiri.


"Bodoh!" Gumam Bintang pada dirinya sendiri.


"Siapa yang bodoh?" Tanya Vaia seraya melepaskan pelukan Bintang. Rupanya Vaia mendengar gumaman Bintang barusan.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Bintang cepat seraya kembali meraup Vaia ke dalam pelukannya. Bintang menciumi puncak kepala Vaia berulang-ulang, seolah sedang meluapkan penyesalan serta kerinduan di dalam hatinya. Entahlah, Bintang bingung!


****


Bintang menatap pada daun kelapa yang melambai-lambai tepat di atasnya. Sesekali Bintang akan mengayunkan tubuhnya yang kini terbaring di atas hammock yang terikat di antara dua pohon kelapa di tepi pantai.


"Hai!" Sapa Vaia seraya ikut naik ke atas hammock, lalu berbaring bersama Bintang dan memakai lengan Bintang sebagai bantal. Bintang mengecup kening Vaia dan kembali menatap pada daun kelapa di atas mereka saat ini.


"Aku sudah siap mendengar ceritamu!" Ucap Vaia sambil sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Bintang yang tetap pada posisi semula.


"Aku mengalami kecelakaan." Bintang memulai ceritanya.


"Di rest area, ada sebuah mobil yang tiba-tiba hilang kendali dan hendak hendak menabrak seorang pria tua. Jadi aku berusaha menyelamatkan, dan aku lupa pada keselamatan diriku sendiri."


"Jadi?" Vaia berganti posisi menjadi setengah bangun, dan gadis itu menatap tak percaya pada Bintang.


"Masih ada bekas luka operasinya," Bintang meraih tangan Vaia, lalu membawanya ke belakang kepala, dimana ada bekas luka operasi di sana.


"Ini?" Vaia menatap penuh tanya pada Bintang.


"Luka bekas operasi, karena saat aku tertabrak mobil, tubuhku terpental dan kepala bagian belakang terbentur beton pinggiran jalan." Cerita Bintang seraya kembali membawa Syiela ke dalam dekapannya.


"Lalu setelah itu? Apa tak ada yang mengenali identitasmu-" Vaia tak jadi melanjutkan kalimatnya karena Vaia ingat pada tas Bintang yang diberikan oleh rekan Bintang sesama supir.

__ADS_1


"Aku tak bawa identitas sama sekali saat itu!" Ucap Bintang memberitahu Vaia.


"Ya! Tas dan barangmu yang lain masih aku simpan di kamar," ujar Vaia yang balik memberitahu Bintang.


"Bagaimana bisa?" Tanya Bintang bingung.


"Rekanmu yang membawa dan memberikannya padaku." Vaia menyamankan posisinya di dalam dekapan Bintang.


"Lalu setelah kecelakaan, kau tinggal di mana?" Tanya Vaia selanjutnya pada Bintang.


"Aku tinggal di rumah pria tua yang hampir tertabrak mobil itu. Dia yang sudah membiayai pengobatanku, lalu menampung aku yang amnesia di rumahnya-"


"Jadi itu yang membuatmu tak kunjung pulang? Kau tidak mengingat semua tentang kita?" Tanya Vaia menyela.


"Ya, andai aku tak kehilangan ingatanku, aku pasti sudah pulang dan menikahimu." Bintang menatap lekat wajah Vaia yang sudah tersipu.


"Lalu kenapa mendadak kau datang ke kota ini?" Tanya Vaia selanjutnya pada Bintang.


"Pak Frans, orang yang menolongku," jelas Bintang dan Vaia langsung mengangguk.


"Beliau ada pekerjaan disini dan menyuruhku ikut," jelas Bintang pada Vaia.


"Kau bekerja di kantor Pak Frans?" Tanya Vaia lagi.


"Ya! Di bagian pemeliharaan gedung dan kadang jadi supir dadakan seperti sekarang ini!" Jawab Bintang berdusta.


Bintang tak mau mengatakan pada Vaia kalau sebenarnya ia sudah bertemu papa kandungnya dan sebenarnya ia adalah pewaris di Mahardika's Company. Bintang tak mau Vaia salah paham lalu menjauhinya karena merasa insecure!


Tidak!


Biarlah Bintang tetap menjadi Bintang yang sederhana di depan Vaia dan seluruh keluarga Diba. Perihal asal-usul Bintang yang sebenarnya, cukuplah Papa Frans yang tahu.


"Lalu berapa lama kau akan tinggal disini?" Tanya Vaia lagi seraya menatap wajah Bintang.


"Aku belum tahu," Bintang memainkan bibir Vaia lalu tersenyum sendiri.


"Bintang!" Vaia kembali tersipu.


Bintang tiba-tiba sudah mengajak Vaia berguling, hingga akhirnya ia dan Vaia jatuh dari atas hammock dan dua sejoli itu malah tertawa bersama.


"Berapa kali kau bermimpi tentang aku, selama aku tak ada kabar?" Tanya Bintang yang kini sudah menindih tubuh Vaia.


"Berkali-kali dan hampir setiap hari," jawab Vaia.


"Aku selalu menunggu kau pulang untuk memenuhi janjimu," ucap Vaia lagi.


"Janjiku untuk menikahimu saat aku pulang?" Tanya Bintang dan Vaia hanya mengangguk samar.


"Tapi aku belum bisa mewujudkan pernikahan impianmu, Vaia!" Bintang menyingkirkan rambut Vaia yang berserak di wajah gadis itu.


"Bukankah yang terpenting adalah sah?"


"Atau kau bisa menyingkir dulu dari atasku sekarang, dan aku akan menunggu sampai kau siap menjadikan hubungan kita sah," Vaia berusaha mendorong tubuh Bintang yang masih menindihnya. Namun Bintang hanya bergeming.


"Bintang!" Vaia menatap tegas pada Bintang.


"Aku akan menjadikan hubungan kita sah!" Ucap Bintang yang balas menatap penuh kesungguhan pada Vaia.


"Malam ini!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2