
"Vaia, aku minta maaf-"
"Pergi dari sini!"
"Aku tak mau lagi melihatmu!"
"Vaia, pernikahanku dan Syiela-"
"Kau berselingkuh di belakang Vaia, hah? Dasar keparat!"
"Vaia, aku minta maaf-"
"Pergi kau dari hadapanku!"
"Aku tak menyangka kalau kau tega membohongi aku selama ini-'
"Pernikahan itu bukan keinginanku!"
"Aku akan menceraikan Syiela-"
"Maaf, Nona! Kafe akan tutup lima belas menit lagi," ucapan seorang pelayan kafe menyentak lamunan Syiela. Wanita itu melihat ke arlojinya yang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Syiela lalu memandangi tiga cangkir kopi yang sudah kosong.
Syiela sudah duduk di kafe ini sejak sore, atau tepatnya setelah Syiela tiba di kota S. Syiela awalnya kesini untuk menemui salah satu kliennya, namun setelah klien Syiela pulang, wanita itu masih lanjut duduk disini hingga hari beranjak malam.
"Aku akan menceraikan Syiela!"
Kalimat Bintang saat di rumah sakit kembali terngiang di kepala Syiela.
Tadi Syiela memang membuntuti Bastian dan Sava yang pergi ke rumah sakit tempat Vaia dirawat. Lalu Syiela juga menguping perdebatan Bintang dan keluarga Vaia di dalam kamar perawatan.
"Pernikahan itu bukan keinginanku!"
"Kau berselingkuh di belakang Vaia, hah? Dasar keparat!"
"Aku akan menceraikan Syiela!"
Syiela mendengus lalu menyugar rambutnya sendiri dengan kasar. Pelayan kafe kembali menghampiri Syiela dan wanita itu memilih untuk segera bangkit berdiri sebelum ada teguran lagi.
Syiela mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas, lalu meletakkannya diatas meja. Syiela lanjut keluar dari kafe dan menatap ke jalanan yang tetap padat oleh kuda-kuda besi.
Syiela memanggil taksi, lalu segera naik begitu taksi berhenti di depannya.
"Ke gedung apartemen." Syiela menyebutkan sebuah gedung apartemen pada supir taksi yang langsung mengangguk. Taksi yang ditumpangi Syiela segera melaju membelah jalanan kota dan berbaur bersama kuda besi lainnya.
****
__ADS_1
Hari masih pagi, saat Bintang menjejakkan kakinya kembali di bandara kota S. Pria itu langsung memanggil taksi seraya menyalakan ponselnya yang memang mati sepanjang penerbangan tadi. Bintang kembali mencoba menghubungi ponsel Vaia setelah ia naik ke dalam taksi. Namun ponsel Syiela tetap tak aktif seperti sebelumnya.
Sudah sejak kemarin Bintang mencoba menghubungi istrinya itu, namun selalu saja operator yang menjawab dan mengatakan kalau ponsel Syiela sedang tidak aktif.
Bintang sendiri tak langsung pulang ke kota S kemarin setelah ia diusir dari rumah sakit oleh Om Ben. Bintang tinggal di hotel lagi di kota N sembari menunggu lebam-lebam di wajahnya sedikit pudar. Dan baru pagi ini Bintang kembali ke kota S, meskipun sebagian lebam di wajahnya masih terlihat.
Tak masalah! Bintang akan menutupinya nanti saat bertemu Syiela atau Papa Frans.
"Syiela kemana? Dia jadi pulang kemarin pagi, kan?" Gumam Bintang bertanya pada dirinya sendiri.
Bintang ganti menghubungi Elang, namun setali tiga uang, ponsel Elang juga ternyata tak aktif.
Tumben!
Bintang akhirnya memutuskan untuk pulang dulu ke rumah dan memeriksa apa Syiela sudah pulang ke rumah kemarin.
****
"Nona Syiela belum pulang, Pak! Bukannya kemarin Nona Syiela pergi bersama Pak Bintang?" Tanya maid yang tadi Bintng tanyai mengenai keberadaan Syiela.
"Iya, tapi dia pulang duluan." Jelas Bintang seraya berpikir.
Mungkinkah Syiela pulang ke rumah kedua orang tuanya?
"Mungkin Nona Syiela pulang ke-"
Tapi bukankah seharusnya Syiela memang berada di sana sekarang?
Butuh waktu dua puluh menit untuk Bintang sampai di kediaman Goentara yang terlihat sepi. Pria itu segera turun dari mobil dan langsung menuju ke teras, dimana ada Mami Wenny yang sedang membaca majalah.
"Pagi, Mi!" Sapa Bintang pada sang mami mertua.
"Pagi, Bintang! Tumben kesini pagi-pagi. Syiela mana? Tidak ikut?" Cecaran pertanyaan dari Mami Wenny seolah menjawab pertanyaan Bintang apa Syiela ada di rumah kedua orang tuanya atau tidak.
Ternyata tidak!
Syiela tidak ada di rumah Papa Frans maupun di rumah Papi Dana. Lalu Syiela pergi kemana?
Di butiknya?
"Bintang!" Teguran Mami Wenny menyentak lamunan Bintang.
"Eeeee, Syiela ke butik pagi-pagi tadi, Mi!" Jawab Bintang beralasan.
"Dan Syiela meminta Bintang kemari untuk mengambilkan gaunnya yang ada di kamar," tukas Bintang selanjutnya sedikit mengarang.
__ADS_1
"Gaun yang mana? Biar mami ambilkan," Mami Wenny sudah bangkit berdiri dan masuk ke rumah. Bintang terpaksa mengekori sang mami mertua sembari mengingat-ingat gaun yang sekiranya ada di lemari Syiela.
"Gaunnya warna hitam, Mi! Yang model tanpa lengan." Bintang menggaruk kepalanya yang tak gatal dan berusaha mengingat-ingat.
"Yang mana? Syiela tak memberikan foto?" Tanya Mami Wenny lagi yang sudah membuka lemari besar di kamar Syiela. Ternyata ada banyak sekali gaun Syiela yang warna hitam.
Sial! Seharusnya Bintang tadi menyebut warna hijau atau merah saja!
"Yang...."
"Ini!" Bintang mengambil satu gaun model cocktail dress dari dalam lemari.
"Benar yang ini? Biar mami lipatkan." Mami Wenny mengambil alih gaun tadi dari tangan Bintang lalu melipatnya dengan rapi, sebelum kemudian memasukkannya ke sebuah paperbag.
"Sebenarnya Syiela minta Bintang yang memilih sendiri gaun untuknya, Mi!" Cerita Bintang kembali mengarang dan Mami Wenny hanya tersenyum simpul.
"Sudah siap." Mami Wenny menyodorkan paperbag tadi pada Bintang.
"Kau tadi sudah sarapan, Bintang?" Tanya Mami Wenny selanjutnya pada Bintang yang langsung mengangguk. Padahal sebelumnya Bintang sama sekali belum sarapan. Tapi siapa peduli! Saat ini pikiran Bintang sedang kacau dan Bintang butuh bertemu Syiela untuk membicarakan kelangsungan hubungan mereka.
Apa nanti Bintang akan sampai hati mengatakan kalau ia ingin berpisah daei Syiela? Lalu bagaimana hati dan perasaan Syiela nanti? Wanita itu pasti akan merasa sangat sedih!
Ya ampun!
Bintang benar-benar dilema sekarang dan Bintang masih tak sampai hati untuk menceraikan Syiela. Tapi Bintang juga tidak mau berpisah dari Vaia! Bintang sangat mencintai Vaia!
"Bintang, apa kau baru saja berkelahi?" Mami Wenny hendak memeriksa wajah Bintang saat kemudian Bisa dengan cepat menghindar.
"Eeee, Bintang hanya habis terbentur meja, Mi! Makanya ini pipi Bintang sedikit memar," ujar Bintang beralasan dengan cepat.
"Ck! Lain kali lebih hati-hati! Kau baru pulih dari terlilir dan ini sudah ganti terbentur meja!"
"Kau sudah periksa mata? Barangkali memang kau ada minus, hingga sering menabrak sesuatu," Cerocos Mami Wenny yang diakhiri dengan saran bijak.
"Nanti Bintang akan memeriksakan mata Bintang, Ma!" Jawab Bintang sekadarnya sebelum kemudian pria itu pamit dari kediaman Goentara. Bintang mungkin akan ke butik untuk memastikan qpa Syiela ada di butik atau tidak.
.
.
.
Ini yang sambungan Syiela pergi ke apartemen Elang tengah malam itu, ya!
"Selingkuhan Nona Muda" bab 21
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.