
"Iya, aku pasti datang! Acaranya lusa, kan?"
Bintang baru keluar dari ruang terapi, saat pria itu mendengar Syiela yang tengah bicara dengan seseorang di telepon.
"Iya, aku akan datang bersama suamiku tentu saja! Salahmu sendiri waktu itu tak datang di hari pernikahanku!"
Bintang sudah duduk di samping Syiela dan masih mendengarkan obrolan Syiela yang sepertinya dengan sahabat lamanya. Istri Bintang itu saja sampai tergelak dan tertawa renyah.
"Pelukisnya datang juga nanti? Yang hasil karyanya kamu jadikan story kemarin itu, kan?"
Kalimat Syiela sedikit membuyarkan konsentrasi Bintang.
Pelukis?
Bintang jadi ingat pada Vaia yang hobi melukis juga. Tapi sepertinya pelukis yang dimaksud oleh sahabat Syiela disini adalah pelukis lain. Bintang yakin itu!
"Baiklah! Lusa aku akan kesana bersama suamiku! Aku akan meluangkan waktu seharian untuk menjadi bridesmaid-mu! Kau senang, kan?
"Oke, bye!" Syiela mengakhiri teleponnya dan wanita itu ganti menoleh pada Bintang, seolah Syiela baru menyadari kehadiran Bintang di sampingnya.
"Sudah selesai yang terapi?" Tanya Syiela seraya memeriksa kaki Bintang yang tak lagi diperban. Sudah satu pekan berlalu sejak kejadian kaki Bintang terkilir tempo hari dan Bintang sudah bisa nerjalan tanpa tongkat. Jadi lusa seharusnya Bintang sudah bisa diajak pergi ke acara pernikahan sahabat baik Syukurlah.
"Ya!"
"Meskipun jalanku masih sedikit aneh," Bintang mempraktekkan cara jalannya di depan Syiela yang kemudian hanya mengangguk.
"Mungkin dengan banyak latihan di rumah, kau akan bisa berjalan normal lagi!" Ujar Syiela seraya menepuk punggung Bintang.
"Ngomong-ngomong kau tadi telepon siapa?" Tanya Bintang penasaran.
"Sahabatku. Namanya Syifa! Nama kami hanya beda satu huruf." Syiela tertawa kecil.
"Syifa akan menikah lusa, jadi dia memintaku untuk datang menjadi bridesmaid-nya," ujar Syiela lagi melanjutkan ceritanya.
Bintang langsung mengangguk mengerti.
"Nanti kita datang ke pernikahan Syifa, ya!" Ujar Syiela lagi seraya menggamit lengan Bintang.
"Tentu saja!"
****
Bintang baru pulang dari kantor, saat Syiela sudah menyeret keluar koper kecil dari kamarnya.
"Hai, Sayang! Aku senang kau pulang tepat waktu," sambut Syiela yang langsing mengecup bibir Bintang
"Kau mau kemana?" Tanya Bintang bingung.
"Ke kota N! Syifa menikah di kota N karena keluarga besarnya tinggal di sana," jelas Syiela yang langsung membuat Bintang mematung kaget.
Kota N?
Kotanya Opa Theo dan Om Ben!
"Mau kemana?"
"Ke rumah Opa! Ada acara keluarga."
Vaia ke kota N juga satu pekan yang lalu. Bagaimana kalau nanti Bintang bertemu Vaia atau keluarga besar Rainer di kota N saat Bintang sedang menggandeng Syiela?
"Sayang, kok kamu bengong!" Tegur Syiela yang langsung menyentak lamunan Bintang.
"Eh, iya, Sayang!" Jawab Bintang tergagap.
"Acara pernikahan Syifa kapan memangnya? Kenapa kota ke kota N-nya harus sekarang?" Tanya Bintang salah tingkah.
"Pernikahannya besok sore! Tapi paginya aku harus ikut sesi foto dan rangkaian acara sebelum acara utama, karena Syifa sahabat baik aku dan aku juga sudah setuju menjadi bridesmaid-nya." Cerocos Syiela menjelaskan pada Bintang.
"Kamu kenapa, sih? Kok kayak orang linglung gitu?" Tanya Syiela selanjutnya merasa bingung dengan gelagat Bintang
"Tidak kenapa-kenapa! Tapi aku kan belum berkemas-"
"Semua baju dan keperluanmu sudah aku masukkan ke dalam koper!"
"Kita juga tak akan lama di kota N! Lusa kita sudah pulang," jelas Syiela lagi yang malah membuat Bintang semakin bingung atau mungkin kalang kabut.
"Sudah pesan hotel juga di kota N?" Tanya Bintang seolah sedang mengulur waktu.
Biar ketinggalan pesawat juga kalau perlu!
"Sudah semua! Ayo berangkat!" Ajak Syiela memaksa dan Bintang benar-benar tak bisa berkutik lagi. Sial!
Bintang dan Syiela akhirnya berangkat ke airport sore itu juga dan keduanya langsung terbang ke kota N, dimana keluarga besar Rainer tinggal.
__ADS_1
Semoga Bintang tak bertemu keluarga Rainer maupun keluarga Halley! Dan semoga Vaia juga sudah pulang ke kota Z!
****
Bintang yang baru selesai mandi, berpura-pura menguap di depan Syiela agar istrinya itu mengira kalau ia sudah lelad dan mengantuk.
"Hoaaaam!"
"Aku kok malah ngantuk, ya, Sayang!" Keluh Bintang seraya mulai memakai baju yang tadi sudah disiapkan oleh Syiela.
"Habis mandi ngantuk?" Syiela bertanya heran. Lagi-lagi wajah istri Bintang itu terlihat kesal.
Tadi setelah tiba di hotel, Syiela memang sudah mengatakan pada Bintang kalau ia ingin jalan-jalan sebentar di kota N sekalian mencari makan malam. Tapi sekarang Bintang malah beralasan mengantuk dan enggan pergi. Jadilah Syiela terlihat kesal.
"Trus bagaimana? Kita delivery order saja makanannya," usul Bintang yang semakin membuat Syiela merengut.
"Kamu tahan ngantuk kamu sebentar bisa, kan? Atau perlu aku belikan kopi hitam pahit agar ngantukmu hilang?" Cecar Syiela yangvterlihat sangat kesal.
"Kita jarang memiliki waktu berdua seperti ini, Bintang! Dan sekarang, saat kita ada di kota lain dimana kita bisa jalan-jalan berdua, kau malah beralasan ngantuk dan seperti enggan pergi bersamaku!"
"Apa kau merasa malu pergi jalan berdua bersamaku?" Cecar Syielaeluapkan segala uneg-unegnya pada Bintang.
"Baiklah, aku minta maaf, Syiela-"
"Aku akan pergi sendiri kalau memang kau mengantuk dan tak mau pergi!" Putus Syukurlah akhirnya seraya menyambar tasnya.
"Syiela, Sayang!" Bintang bergegas menakai bajunya lalu menyisir rambutnya secara kilat sebelum lanjut menyusul Syiela yang sudah hampir masuk ke dalam lift.
"Syiela!" Panggil Bintang yang tak bisa lagi mengejar Syiela karena pintu lift yang sydah tertutup dan Syiela yang sama sekali tak berusaha untuk menahan. Lidlft sudah turun meninggalkan Bintang yang hanya bisa mendengus frustasi.
****
Lima belas menit Syiela menunggu di lobi hotel, saat akhirnya Bintang keliar namun dengan kostum yang sedikit nyleneh. Suami Syiela itu mengenakan hoodie dan sebuah masker.
"Kenapa berkostum seperti itu?" Syiela memicing curiga.
"Uhuk uhuk!"
"Uhuuuk uhuuuk!" Bintang terbatuk-batuk dengan lebay seolah sedang memberitahu Syiela kalau dirinya batuk dan tak mau menulari orang-orang di sekitarnya. Makanya Bintang mengenakan masker.
"Tadi masih baik-baik saja padahal," gumam Syiela tetap merasa heran.
"Ayo, jadi jalan-jalan, kan!" Ajak Bicara yang sudah merangkul Syiela. Namun sial seribu sial, tepat di pintu keluar hotel, Bintang malah berpapasan dengan Om Ben yang tak lain dan tak bukan adalah adik dari Bunda Vale atau om dari Vaia. Bintang segera bersikap biasa saja agar tak menarik perhatian. Dan beruntungnya, ternyata Om Ben sama sekali tak mengenali Bintang. Sepertinya karena oria paruh baya itu sibuk berbincang dengan seorang pria yang datang bersamanya ke hotel.
Bukan kafe milik keluarga Rainer ataupun keluarga Halley!
Jadi pasti Bintang aman!
****
"Ini tempatnya, Kak?" Tanya Sebastian yang sore ini kebagian tugas mengantar Vaia ke lokasi acara pernikahan salah satu customer Vaia. Sebastiqn adalah sepupu Vaia sekaligus putra Om Ben.
"Iya sepertinya," jawab Vaia ragu. Wanita itu mengeluarkan undangan dari dalam tas untuk memastikan nama pengantinnya sama dengan nama yang tertera di depan tempat acara.
"Oh, iya. Benar!" Ucap Vaia seraya mengangguk.
"Yakin?" Tanya Bastian memastikan.
"Iya!" Vaia melepaskan sabuk pengamannya.
"Nanti telepon Bastian saja kalau sudah mau pulang, ya! Bastian jemput nanti," pesan Bastian yang langsung membuat Vaia mengangguk.
"Tidak mau ikut masuk?" Goda Vaia yang langsung membuat Bastian berdecak.
"Ada acara sama teman-teman!" Bastian beralasan.
"Palingan nongkrong!" Tebak Vaia sok tahu.
"Nonton dan mabar, Kak! Nanti kalau menang Bastian traktir," janji Bastian yang langsung membuat Vaia terkekeh.
"Baiklah, aku turun dulu, ya! Makasih udah antar!" Vaia turun dari mobil sang sepupu, lalu melambaikan tangannya pada pemuda dua puluh tahun tersebut.
Vaia lanjut masuk ke lokasi acara setelah mobil Bastian pergi. Tak lupa Vaia juga menunjukkan undangan yang diberikan oleh sang tuan rumah serta mengisi buku tamu. Pandangan Vaia langsung tertuju pada lukisan besar di pintu masuk yang merupakan lukisan hasil tangan Vaia.
"Seharusnya kau datang kesini dan menemaniku, Bintang," gumam Vaia saat ia melihat pasangan suami istri yang bergamitan memasuki lokasi acara.
Vaia baru saja mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat acara, saat seseorang memanggil namanya.
"Valeria!"
Vaia segera menoleh dan rupanya yang memanggil Vaia adalah mempelai perempuan yang malam ini begitu cantik mengenakan gaun pengantin.
"Hai, Syifa! selamat atas pernikahanmu," ucap Vaia yang langsung cipika-cipiki bersama Syifa, sang mempelai perempuan.
__ADS_1
"Terima kasih, Valeria! Dan terima kasih juga karena sudah datang malam ini."
"Kau sendiri?" Tanya Syifa berbasa-basi.
"Suamiku ada di luar kota. Jadi, ya. Aku sendiri," jawab Vaia seraya tersenyum.
"Kau tahu, lukisanmu di depan mendapat banyak pujian," ujar Syifa memberitahu Vaia.
"Benarkah?"
"Ya! Bahkan sahabat baikku juga ingin kau lukis nanti bersama suaminya. Kau keberatan?" Tanya Syifa memastikan.
"Sama sekali tidak," jawab Vaia seraya tersenyum. Vaia senang karena karyanya mendapat apresiasi.
"Sebentar aku kebalkan pada sahabatku..." Syifa terlihat celingukan sebelum kemudian wanita itu memanggil seorang wanita bergaun lilac.
"Syiela! Kemarilah!"
Wanita bergaun lilac tadi langsung menghampiri Syifa dan juga Vaia.
"Ada apa?" Tanyanya dengan senyum ramah.
"Kenalkan, ini Valeria! Dia pelukis yang membuat lukisanku di depan," Syifa memperkenalkan Vaia pada Syiela.
"Oh, benarkah?"
"Hai, Aku Syiela! Sahabatnya Syifa!" Ujar Syiela yang langsung mengajak Vaia untuk berjabat tangan.
"Jadi, Valeria-'
"Vaia saja! Itu nama panggilanku," sela Vaia yang langsung dengan cepat mengoreksi.
"Oh, baiklah! Jadi Vaia, apa kau bisa melukis aku dan suamiku juga?" Tanya Syiela antusias.
"Iya, bisa! Kita tinggal mengatur waktu saja," jawab Vaia menjelaskan.
"Ngomong-ngomong, kau tinggal di kota ini?" Tanya Syiela selanjutnya pada Vaia.
"Aku tinggal di kota Z! Disini aku sebenarnya hanya sedang berkunjung ke rumah Opaku," cerita Vaia yang langsung membuat Syiela berdecak kagum.
"Kota Z, ya? Sudah lama sekali aku ingin pergi ke kita pesisir itu!"
"Benarkah? Lalu kenapa tidak kesana? Ada banyak resort dan ada kepulauan wisata dekat sana juga," ujar Vaia memamerkan keindahan kota tempat tinggalnya.
"Atau mungkin kau bisa mengajak Bintang honeymoon lagi ke kota Z, nanti sekalian kau mampir ke studio seni Vaia di sana untuk dilukis," cetus Syifa tiba-tiba yang sedikit membuat Vaia terhenyak.
Apa Syifa baru saja menyebut nama Bintang?
"Ide bagus!" Sahut Syiela yang langsung setuju.
"Bintang?" Vaia sedikit tergagap menyebut nama Bintang.
"Itu nama suamiku. Sebentar aku kenalkan!" Ujar Syiela yang kembali membuat hati Vaia menjadi tak karuan.
Ah, tapi nama Bintang bukan hanya satu orang. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan!
Vaia masih berusaha menepis kekhawatiran di hatinya, saat Syiela memanggil seorang pria di kejauhan.
"Bintang!"
"Kemarilah, Sayang!" Syiela melambaikan tangan ke atah seorang pria bertubuh tegap, mengenakan setelan jas mewah seperti yang dijenakan oleh tamu lain malam ini.
Pria itu...
Dari kejauhan Vaia sudah bisa melihatnya.
Vaia benar-benar tak ingin berprasangka, namun nyatanya ini bukan sebuah prasangka melainkan kenyataan. Pria yang dipanggil Bintang oleh Syiela tadi. Pria yang kini berjalan ke arah Syiela dan Vaia. Pria yang setiap malam selalu Vaia rindukan kehadirannya.
Sesak, pedih, rasa panas di dalam dada, semuanya bergumul menjadi satu menimbulkan satu perasaan yang entah apa namanya. Yang jelas rasanya sakit. Benar-benar sangat sakit.
"Perkenalkan, Vaia. Ini Bintang, suamiku." Satu kalimat yang diucapkan Syiela langsung membuat dunia Vaia terasa runtuh saat itu juga...
Detik itu juga...
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1