
Bintang masih berbincang dengan salah satu tamu yang kebetulan Bintang kenal karena pernah menjadi partner Mahardika's Company. Saat itulah, terdengar panggilan Syiela padanya.
"Bintang!"
Bintang menoleh ke arah istrinya yang sepertinya sedang berbincang dengan Syifa dan seorang wanita satu lagi. Entah siapa.
"Kemarilah, Sayang!" Panggil Syiela lagi bersamaan dengan rekan Bintang radi yang pamit ingin mengambil makanan. Bintang akhirnya berjalan ke arah Syiela dan hendak menghampiri istrinya tersebut. Namun kemudian wanita asing yang tadi berbincang bersama Syiela dan Syifa membuat kedua mata Bintang membelalak.
Terlambat untuk menghindar, karena jarak Bintang dan ketiga wanita itu sudah dekat, dan Syiela yang juga sudah menghampiri Bintang, lalu menggamit tangan suaminya tersebut.
"Perkenalkan, Vaia! Ini adalah Bintang, suamiku," ucap Syiela dengan nada bangga saat memperkenalkan Bintang pada Vaia.
Pada Vaia!
Ya, wanita yang berdiri di depan Bintang dan Syiela saat ini adalah Vaia.
Bintang mendadak ingat pada celetukan Syiela sebelum mereka masuk ke lokasi pesta tadi. Inisial nama pelukis di lukisan Syifa dan suaminya yang dipuji-puji oleh Syiela tadi...
Inisial VA!
Valeria Adiba!
Bagaimana Bintang bisa tak peka?
Dasar bodoh!
Bintang menatap pada Vaia yang kefua matanya sudah berkaca-kaca. Bintang tahu kalau Vaia pasti sedang sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak pecah.
Bodoh kamu, Bintang!
"Aku permisi dulu!" Pamit Vaia tiba-tiba pada Syiela dan Syifa. Wanita itu langsung berlari entah kemana.
Bintang hendak mengejar Vaia, namun gamitan Syiela begitu erat di tangannya.
Sial!
Bintang mendadak jadi bimbang sekarang!
"Vaia kenapa, Syifa?" Tanya Syiela sedikit heran dengan Vaia yang tiba-tiba langsung pergi setelah Syiela mengenalkannya pada Bintang. Dan tadi sekilas Syiela juga melihat mata Vaia yang berkaca-kaca.
"Aku juga tidak tahu! Mungkin dia ingat pada suaminya yang ada di luar kota," jawab Syifa menduga-duga. Sahabat Syiela itu lalu undur diri karena dipanggil.oleh suaminya dan dipinta menemui tamu lain.
Syiela ganti menatap pada Bintang yang terlihat mematung.
"Kau sudah kenal dengan Vaia sebelumnya, Bintang?" Tanya Syiela penuh selidik pada Bintang yang tatapan matamya terlihat kosong.
"Bintang!" Syiela sedikit menyentak tangan Bintang, hingga kemudian suaminya itu kaget.
"Apa?" Tanya Bintang tergagap.
"Kau kenal dengan Vaia sebelumnya? Doa seorang pelukis! Dia tadi yang melukis gambar Syifa dan suaminya," cerocosan Syiela mengulangi pertanyaannya sekaligus menjelaskan pada Bintang siapa itu Vaia.
"A-aku t-tidak tahu!" Jawab Bintang tergagap. Tentu saja jawaban Bintang tersebut malah menimbulkan kecurigaan di hati Syiela.
"Aku akan mengambil minum," pamit Syiela seraya melepaskan gamitannya pada lengan Bintang.
"Aku akan ke toilet!" Bintang ikut-ikutan pamit pada Syiela dan Syiela langsung pura-pura mengangguk. Syiela juga pura-pura pergi ke meja minuman, namun kedua mata wanita itu tetap awas melihat ke arah Bintang yang memamg berjalan ke arah toilet.
Namun Syiela yang masih penasaran tak jadi mengambil minum dan malah membuntuti Bintang.
Dan seperti dugaan Syiela, kalau Bintang tak benar-benar pergi ke toilet melainkan ke pintu keluar gedung.
__ADS_1
Bintang juga terlihat celingukan seperti mencari seseorang. Hingga kemudian gadis bergaun peach yang hendak naik taksi menjadi objek yang diperhatikan oleh Bintang dan langsung dikejar pria itu.
"Vaia!"
Ya, itu adalah Vaia, dan Bintang sedang mengejar taksi Vaia sekarang.
"Vaia! Aku bisa menjelaskannya!" Seru Bintang pada taksi Vaia yang sudah melaju pergi.
Syiela mematung di tempatnya saat ia mendengar teriakan Bintang pada taksi Vaia.
Menjelaskan?
Menjelaskan apa?
Bukankah tadi Bintang mengatakan kalau ia tak kenal Valeria Adiba?
Lalu....
Valeria Adiba!
Itu adalah nama panjang Vaia.
Kenapa namanya mirip dengan....
"Ada telepon dari Diba, Bintang!"
"Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Diba."
"Kenapa kau me-reject telepon dari Diba?"
"Aku sedang malas bicara dengannya. Dia selalu membahas hak tak penting saat menelepon!"
Ingatan Syiela seketika melayang pada kontak bernama Diba di ponsel Bintang. Jangan-jangan Diba adalah Valeria Adiba!
Syiela kembali masuk ke dalam gedung menyusul Bintang yang juga sudah kembali ke dalam gedung. Namun Syiela beryekad untuk menyelidiki hubungan sebenarnya Bintang dan Vaia!
****
Vaia turun dari taksi dan segera berlari masuk ke dalam rumah Opa Theo dengan airmata yang sudah memenuhi wajahnya.
"Perkenalkan, Vaia! Ini adalah Bintang, suamiku."
"Bintang suamiku."
"Suamiku."
Kata-kata Syiela terus saja berputar-putar di kepala Vaia dan membiat airmata wanita itu menganak sungai.
"Vaia, kau sudah pulang?" Tegur Oma Airin pada Vaia yang hendak naik tangga. Vaia tak berani membalas sapaan dari sang oma dan wanita itu langsung berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya di rumah Opa Theo di lantai dua.
"Vaia, jangan lari-lari! Kau sedang hamil!" Seru Oma Airin mengingatkan Vaia yang sepertinya tak peduli.
"Ada apa? Siapa yang lari-lari?" Tanya Opa Theo yang rupanya juga mendengar seruan Oma Airin.
"Vaia. Dia baru pulang dan langsung lari ke kamarnya di atas," lapor Oma Airin.
Opa Theo bergegas naik tangga untuk menyusul Vaia dan Oma Airin turut mengikuti langkah sang suami.
"Vaia!" Opa Theo mengetuk pintu kamar Vaia yang dikunci dari dalam. Namun tak ada jawaban.
"Vaia, buka pintunya!" Ketuk Opa Theo sekali lagi.
__ADS_1
"Vaia, kau sudah tidur?" Sekarang gantian Oma Airin yang mengetuk, namun tetap tak ada jawaban dari Vaia.
"Vaia!" Opa Theo mengetuk lebih keras.
"Mungkin sudah tidur, Mas!" Ujar Oma Airin seraya menghentikan Opa Theo yang hampir menggedor kamar Vaia.
"Besok pagi saja kita bicara dengannya," usul Oma Airin selanjutnya yang hanya diiyakan oleh Papa Theo.
Sementara di dalam kamar, Vaia membenamkan wajahnya dibawah bantal dan menangis tergugu mendapati kenyataan tentang Bintang yang ternyata sudah memiliki istri lain selain dirinya.
"Ini Bintang, suamiku."
"Suamiku."
"Suamiku."
Kata-kata Syiela yang memperkenalkan Bintang sebagai suaminya terus saja berputar-putar di kepala Vaia dan membuat hati Vaia hancur berkeping-keping sekarang.
"Kamu jahat, Bintang!"
"Kamu jahat!"
****
"Kami bertemu di Rainer's Resto kemarin, dan kata Vaia, Rainer's Resto itu milik opanya."
"Kau punya nomor kontak Vaia?"
"Ya. Akan aku kirimkan ke ponselmu."
"Syiela!" Teguran Bintang membuyarkan lamunan Syiela tentang obrolannya bersama Syifa tadi.
"Ya!" Jawab Syiela datar. Kedua mata Syiela fokus pada tangan Bintang yang terlihat mengutak-atik ponselnya dan seperti sedang menelepon seseorang.
"Bintang, ponsel aku mati dan aku perlu menelepon Mami. Apa aku bisa meminjam ponselmu?" Tanya Syiela akhirnya yang sudah sangat penasaran dengan hubungan di antara Vaia dan Bintang.
"Silahkan!" Bintang memberikan ponselnya pada Syiela namun pria itu terus saja memperhatikan saat Syiela hebdak memasukkan nomor Vaia yang tadi diberikan oleh Syifa pada Syiela ke ponsel Bintang.
Sekarang bagaimana Syiela akan mengecek jika Bintang terus saja memperhatikan Syiela.
"Nomor Mami aku simpan di kontak bernama Mami Wenny," ujar Bintang memberitahu Syiela.
"Ya! Aku hafal nomornya!" Sergah Syiela yang langsung mengetikkan nomor Mami Wenny ke layar ponsel Bintang. Dan benar saja, nama kontaknya adalah Mami Wenny.
Bintang masih memperhatikan layar ponselnya di tangan Syiela. Membuat Syiela sedikit salah tingkah sekaligus bingung harus bicara apa pada Mami Wenny.
"Kenapa ragu-ragu begitu?" Tanya Bintang heran karena Syiela yang tak kunjung men-tap tombol hijau bergambar telepon.
"Besok saja teleponnya. Aku mendadak lupa mau bicara apa pada Mami!" Syiela dengan cepat mengembalikan ponsel Bintang lalu wanita itu merutuk dalam hati.
Sepertinya Syiela harus mencari cara lain untuk menyelidiki siaoa sebenarnya Vaia dan ada hubungan apa diantara mereka berdua.
Mencurigakan sekali!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia