
"Diamlah atau gambar ini tak akan selesai!" Omel Vaia pada Bintang yang tiba-tiba minta dilukis malam ini. Vaia sedang malas sebenarnya, namun rayuan demi rayuan yang dilontarkan Bintang akhirnya membuat Vaia mau menggoreskan pensil ke atas sketchbook-nya.
"Aku mendadak ingin gaya lain!" Ucap Bintang yang sudah mengubah posisinya.
"Ya ampun, Bintang!" Geram Vaia pada Bintang yang langsung terkekeh.
"Kau sudah ganti gaya sebanyak tiga kali!" Ucap Vaia lagi masih geram.
"Ini yang terakhir!" Rayu Bintang sekali lagi yang kini sudah ganti posisi menjadi tengkurap di atas tempat tidur.
Posisi apa itu? Pangeran duyung?
"Sudahlah! Aku tidak mau menggambarmu lagi!" Vaia meletakkan sketchbook-nya, lalu wanita itu bersedekap dan merengut.
"Sayang!" Rayu Bintang seraya mendekat pada Vaia, lalu memeluk istrinya tersebut.
"Tidak usah merayuku lagi, oke! Aku mau tidur!" Ketus Vaia seraya berusaha melepaskan dekapan Bintang pada tubuhnya.
"Tidur bersamaku," Bintang masih keukeuh mendekap Vaia.
"Aku mau tidur di sofa," jawab Vaia denagb nada malas.
"Aku ikut tidur di sofa kalau begitu."
"Mana muat?" Protes Vaia cepat yang langsung membuat Bintang tergelak.
"Aku dibawah kamu di atas, pasti muat-"
"Auuuw!" Ringis Vaia saat Bintang merem*s dadanya.
"Kenapa?" Tanya Bintang bingung.
Kemarin-kemarin saat Bintang melakukannya, Vaia tak sampai berekspresi kesakitan begini.
"Aku tidak tahu! Belakangan ini sedikit sensitif," jawab Vaia seraya berlali meninggalkan Bintang.
"Mau aku periksa?" Tawar Bintang seraya mengerling nakal pada Vaia.
"Tidak usah! Nanti ujung-ujungnya itu!" Jawab Vaia malas.
"Ujung-ujungnya itu apa? Namanya juga pengantin baru!" Bintang sudah kembali mendekap Vaia.
"Ngomong-ngomong, apa disini berlaku jam malam?" Tanya Vaia tiba-tiba pada Bintang.
"Maksudnya jam malam? Kota ini tak pernah tidur, Sayang! Kau mau kekuar tengah malam juga lalu lintas masih padat."
"Kenapa?" Bintang sudah ganti menyusup di ceruk leher Vaia.
"Ayo jalan-jalan!" Vaia memutar tubuhnya lalu merangkulkan kedua lengannya di leher Bintang.
"Mau jalan-jalan kemana?" Tanya Bintang seraya menyatukan keningnya dan kening Vaia.
"Beli martabak manis!" Jawab Vaia dengan nada dan senyum merayu.
"Itu saja?"
Vaia mengangguk.
"Baiklah! Ganti bajumu!" Bintang menunjuk pada baju yang dikenakan Vaia malam ini. Hanya sebuah tanktop dan hotpants.
Vaia tergelak dan segera mengganti bajunya dengan dress selutut, lalu melengkapinya dengan cardigan.
Tak berselang lama, Vaia dan Bintabg sydah keluar dari kamar hotel, dan keduanya berjalan kaki ke sekitar hotel untuk mencari pedagang kaki lima yang menjual martabak manis.
__ADS_1
****
"Sayang!" Vaia mengguncang tubuh Bintang yang masih tidur nyenyak.
"Hmmmm!"
"Kau tidak bangun? Kau kerja jam berapa?" Tanya Vaia yang langsung membuat Bintang membuka mata.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Bintang dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Masih jam lima," jawab Vaia seraya terkekeh.
"Tapi bukankah katamu, kau selalu berangkat kerja pagi jam enam?" Tulas Vaia lagi mengingatkan Bintang.
Padahal Bintang saja lupa kalau ia pernah mengatakan itu pada Vaia.
"Iya, benar!" Bintang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yaudah, cepat mandi dan siap-siap!" Titah Vaia pada Bintang. Vaia mengambil tank top-nya yang tersampir di kepala ranjang. Tapi sepertinya Vaia juga harus memakai celana, jika hanya memakai tank top. Vaia akhir mengambil kaus Bintang saja, lalu memakainya. Semalam Bintang memang menelanj*ngi Vaia sebelum tidur.
Bukan Bintang namanya jika tidak minta jatah sebelum tidur!
Entah apa kabar nanti jika mereka LDR.
"Kau sudah mandi?" Bintang mulai mengerling nakal pada Vaia.
"Aku capek, Sayang! Pangkal pahaku nyeri dan payud*raku juga sakit!" Ujar Vaia beralasan.
"Hanya mandi! Tidak melakukan hal lain!" Bujuk Bintang pada Vaia.
"Mumpung ada bathtube," ujar Bintang lagi.
"Ck! Airnya dingin!" Vaia kembali beralasan.
"Kata siapa! Kita bisa pakai air hangat," tukas Bintang memberikan solusi.
****
Bintang masuk ke dalam mobil yang sengaja ia parkirkan di gedung di samping hotel. Bintang masih tidak mau Vaia tahu tentang jati diri Bintang yang sesungguhnya. Bintang maunya, Vaia tetap mengenal Bintang sebagai pria sederhana yang bekerja di bagian pemeliharaan gedung dan bukan sebagai tuan direktur.
Bintang menyalakan ponsel yang sejak semalam ia matikan. Bintang memang memilih cara aman tersebut saat seeang bersama Vaia, karena jika ponsel Bintang menyala, akan kerap ada pesan serta panggilan masuk dari Syiela. Jika nanti Vaia melihat, semuanya akan jadi kacau.
Bintang juga belum punya penjelasan untuk Vaia maupun Syiela atas hubungan rumit ini. Bintang tahu, kalau ia tak bisa menjalani dua pernikahan sekaligus seperti ini! Tapi Bintang juga bimbang.
Bintang tak bisa melepaskan Syiela karena ia tak punya alasan masuk akal yang sekiranya tak menyakiti wanita itu. Apalagi hubungan Syiela dan Bintang juga baik-baik saja, jadi akan sangat lucu jika tiba-tiba Bintang mengajak Syiela berpisah. Belum lagi Papa Frans yang pasti akan langsung mencecar Bintang habis-habisan jika ia berpisah dari Syiela secara tiba-tiba!
Tidak, Bintang belum siap menjawab semua cecaran Papa Frans.
Lalu Vaia?
Bintang sangat mencintai Vaia dan sebuah hal mustahil jika Bintang harus meninggalkan Vaia.
Vaia adalah cinta pertama Bintang dan hingga detik ini, cinta Bintang pada Vaia semakin bertumbuh saja.
Bintang benar-benar bingung!
[Sayang, aku merindukanmu] -Syiela-
Bintang membaca pesan dari Syiela yang dikirim tadi malam. Dikirim di waktu hampir tengah malam, saat Bintang sedang sibuk mencumbu Vaia.
[Aku juga merindukanmu] -Bintang-
Terkirim!
__ADS_1
Bintang menatap sejenak ke sekitar sembari menunggu pesan balasan dari Syiela.
[Kau kemana semalam? Kenapa ponselmu mati?] -Syiela-
Bintang baru saja akan mengetik pesan balasan, saat telepon dari Syiela sudah masuk. Bukan telepon, tapi video call.
"Hai," sapa Bintang setelah mengangkat video call Syiela.
"Kau sedang dimana?" Tanya Syiela yang sepertinya baru bangun. Istri Bintang itu masih mengenakan piyama.
"Di dalam mobil!" Jawab Bintang seraya menunjukkan kondisi sekitarnya pada Syiela.
"Itu gedung dekat hotel Grand Orchid. Kau sedang apa di sana pagi-pagi?"
"Disana masih pagi, kan?" Tanya Syiela memastikan.
"Ya, hampir jam enam," jawab Bintang setelah melihat arlojinya.
"Disini tengah malam!" Ucap Syiela seraya terkekeh.
"Jadi, kau sedang apa di gedung itu?" Tanya Syiela sekali lagi pada Bintang.
"Tadi aku baru mengantar klien kembali ke hotel setelah semalam kami mengobrol di kelab dekat sini sampai pagi." Bintang pura-pura menguap demi meyakinkan Syiela.
"Jadi, kau belum tidur dari semalam?" Tebak Syiela.
"Secara teknis begitu," jawab Bintang yang kembali menguap. Kali ini benar-benar menguap dan tidak dibuat-buat.
"Ck! Kau akan memberiku pemandangan kerongkongan sepanjang video call jika kau tak lekas pulang dan tidur!" Omel Syiela yang langsung membuat Bintang tergelak.
"Jadi, aku boleh pulang sekarang, Istriku tersayang?" Tanya Bintang sedikit merayu.
"Ya! Tapi sebaiknya kau naik taksi dan tak mengemudi!" Saran Syiela tegas.
"Baiklah!" Bintang mengangguk menurut.
"Sebentar! Aku mau tanya kenapa ponselmu selalu mati setiap malam?" Tanya Syiela memicing curiga.
"Baterei habis," jawab Bintang cepat.
"Setiap malam? Lucu sekali!" Syiela merasa sangsi.
"Aku hanya men-charger ponselku setiap pagi. Jadi kadang kalau malam batereinya sudah habis," Bintang kembali beralasan.
"Memang tak ada yang mencarimu saat malam, Pak direktur?" Tanya Syiela heran.
"Sejauh ini hanya kau yang mencariku setiap malam," jawab Bintang seraya terkekeh.
"Ck! Katanya tadi mau pulang?" Syiela mengingatkan Bintang.
"Iya,kau terus saja mengajak mengobrol. Bagaimana aku mau pulang?" Jawab Bintang beralasan.
"Baiklah, tutup saja teleponnya! Aku juga mau tidur, Bye!"
"Bye!" Pungkas Bintang seraya menyimpan kembali ponselnya. Bintang lalu segera memacu mobilnya ke rumah sang papa. Bintang akan pulang dulu untuk ganti baju dan sarapan sebelum lanjut ke kantor.
.
.
.
Lanjut ke sebelah bab 13
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.