
"Kau demam?" Vaia kembali meletakkan punggung tangannya di kening Bintang yang kini matanya setengah terpejam.
"Kepalaku hanya sedikit sakit dan seperti berdentum berulang-ulang," guma Bintang mencoba menjelaskann kondisinya pada Vaia yang langsung berdecak.
"Pasti karena tadi kau kesini hujan-hujanan!" Gerutu Vaia yang hendak bangkit berdiri, namun Bintang dengan cepat mencegah.
"Mau kemana,Va?"
"Mengambil kompres dan obat!" Jawab Vaia tegas.
"Aku hanya butuh tanganmu sebagai kompres dan suaramu sebagai obat-"
"Gombal sekali!" Kekeh Vaia yang akhirnya tetap beranjak dan meninggalkan Bintang sejenak. Tak berselang lama,Vaia sudah kembali lagi seraya membawa baskom berisi air dingin, serta segelas teh hangat untuk Bintang.
"Minum dulu teh hangatnya, lalu kau bisa berbaring di sofa dan aku akan mengompresmu," ujar Vaia seraya membantu Bintang untuk minum.
"Aku boleh berbaring saja di pangkuanmu? Aku ingin menatap wajahmu sampai nanti aku terlelap," tanya Bintang melakukan negosiasi.
"Ck! Sudah sakit tapi masih bisa bergombal!" Decak Vaia yang akhirnya duduk di sofa, lalu membimbing Bintang agar merebahkan kepalanya di pangkuan Vaia. Tangan Vaia juga sudah dengan cekatan meraih washlap untuk mengompres kening Bintang.
"Kau akan seterusnya merawatku begini jika aku sakit, kan?" Tanya Bintang yang masih menatap lekat wajah Vaia.
"Tergantung," Vaia menjawab sembari tertawa kecil.
"Tergantung apa?"
"Iya tergantung apa ke depannya aku akan jadi istrimu atau malah jadi istri orang-"
"Hei!"
"Kau hanya boleh menjadi istriku, Valeria Adiba!" Ucap Bintang tegas yang tiba-tiba sudah bangun dan duduk.
"Kau sudah sembuh? Kenapa sudah bisa bangun secepat itu?" Vaia yang terheran-heran segera meletakkan lagi punggung tangannya ke kening Bintang.
Masih demam!
"Tidak! Aku masih demam!"
"Kompres aku lagi!" Rengek Bintang dengan nada manja. Pria itu sudah merebahkan kepalanya lagi di pangkuan Vaia yang tentu saja hal itu langsung membuat Vaia berdecak.
"Dasar!"
"Vaia."
Teguran dari Bunda Vale membuyarkan lamunan Vaia yang sejak tadi masih menatap keluar jendela. Bintang masih berdiri di tempatnya dan belum ada tanda-tanda hujan akan reda.
"Kau mau makan lagi?" Tanya Bunda Vale yang langsung dijawab Vaia dengan gelengan kepala.
"Apa Ezra masih di rumah, Bund?" Tanya Vaia tiba-tiba pada Bunda Vale.
"Ya. Dia sedang di dapur," jawab Bunda Vale yang langsung membuat Vaia beranjak dan pergi ke dapur untuk menemui Ezra.
"Ezra, bisa kau keluar sebentar dan memberikan payung pada Bintang-"
"Tidak usah lagi mempedulikan pria baj*ngan itu, Kak!" Ucap Ezra lantang memotong kalimat Vaia.
"Tapi hujannya lebat sekali dan Bintang sudah basah kuyup, Ezra," wajah Vaia sudah berubah sendu.
"Biarkan saja, Kak!"
"Ezra!" Gantian Bunda Vale yang menegur Ezra.
"Ck!" Ezra akhirnya bangkit dari duduknya meskipun pemuda itu sedikit menggerutu.
"Hanya memberikan payung dan tidak mengajaknya masuk!" Ezra menatap tegas pada Vaia.
"Suruh dia ke teras dan mengganti bajunya yang basah," Vaia mengajukan permintaan lain pada Ezra.
"Apa Kak Vaia sedang memberikan harapan pada pria baj*ngan itu?" Ezra menatap tak percaya pada sang kakak perempuan.
"Ini bukan keinginanku!" Jawab Vaia seraya mengusap perutnya. Wanita itu lalu berbalik dan kembali masuk ke kamarnya.
Ezra ganti menatap pada Bunda Vale yang sejak tadi hanya diam.
"Jangan bilang kalau ini berhubungan dengan ikatan ayah dan anak!" Ezra berkata dengan sedikit ragu.
"Lakukan saja permintaan Vaia, lalu segera masuk ke rumah!" Titah Bunda Vale yang sekali lagi membuat Ezra harus berdecak. Pria itu akhirnya keluar seraya membawa baju ganti dan payung untuk Bintang.
"Ezra, apa Vaia berubah pikiran?" Tanya Bintang yang buru-buru menghampiri Ezra.
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Ezra tegas. Ezra lalu meletakkan baju ganti untuk Bintang di kursi teras.
"Kak Vaia memberikan baju ganti itu hanya atas dasar kemanusiaan dan bukan karena Kak Vaia masih peduli pada Abang Bintang!"
"Kak Vaia sudah benci pada Abang Bintang!" Ucap Ezra tegas sebelum kemudian pemuda itu kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Bintang menghela nafas frustasi, lalu pria itu naik ke teras. Bintang meraih handuk yang tadi dibawakan oleh Ezra, dan mulai mengganti bajunya. Sesekali Bintang akan mengarahkan pandangannya ke jendela kamar Vaia, berharap Vaia masih berdiri di sana dan melihat Bintang.
Bintang tiba-tiba tersenyum sendiri, saat pria itu menatap ke jendela kamar Vaia.
"Vaia!" Bintang yang sudah menghampiri jendela kamar Vaia dan mengetuk kaca di depannya tersebut. Bintang juga mengintip ke dalam, namun tak nampak apapun karena ada tirai yang menghalangi.
"Vaia!" Bintang masih mengetuk jendela kamar Vaia.
"Vaia, bicaralah padaku!"
"Aku minta maaf!"
"Vaia, aku minta maaf!" Bintang tak berhenti mengetuk dan memohon. Namun Vaia masih tetap rak terlihat apalagi menjawab kata-kata Bintang.
"Aku harus melakukan apa agar kau memaafkanku, Vaia?"
"Aku harus melakukan apa?" Bintang sudah duduk bersimpuh, lalu pria itu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kamar Vaia. Bintang memejamkan kedua matanya, karena kepalanya mulai berdebum sakit.
Sepertinya efek dari Bintang berdiri di bawah hujan tadi. Belum lagi perut Bintang yang mulai terasa perih sekarang. Bintang bahkan sudah lupa,kapan terakhir kali ia mengisi perutnya.
"Kau sedang apa disini?" Samar-samar Bintang mendengar gertakan Ayah Arga yang sepertinya baru saja pulang. Pria paruh baya itu juga mencengkeram baju Bintang, lalu memaksa pria itu untuk berdiri.
"Ayah, Bintang ingin bertemu Vaia." Bintang memohon pada ayah Arga.
"Bintang tidak mau berpisah dari Vaia. Bintang mencintai Vaia!" Mohon Bintang sekali lagi yang hanya ditanggapi Ayah Arga dengan delikan tajam. Pria paruh baya itu lalu melanjutkan langkahnya dan hendak masuk ke rumah, saat tiba-tiba Bintang meraih tangannya.
"Ayah!"
"Vaia tidak ingin bertemu denganmu lagi!" Ucap Ayah Arga tegas, seraya menyentak tangan Bintang dengan kasar.
"Tapi Ayah-"
Braaaak!
Ayah Arga sudah masuk dan meninggalkan Bintang yang langsung tertunduk lesu. Bintang lalu kembali ke teras dan duduk di sana. Sesekali pria itu akan mengarahkan pandangannya ke pintu utama kediaman Diba atau ke jendela kamar Vaia. Namun hingga langit beribah hitam, Vaia maupun anggota keluarga Diba yang lain tidak ada yang keluar untuk menemui Bintang.
"Pagi, Bund!" Sapa Vaia pada Bunda Vale yang sedang memanggang roti untuk sarapan.
"Pagi, Vaia!"
"Yang lain belum bangun?" Tanya Vaia selanjutnya seraya mengambil gelas dari dalam kitchen set, lalu mengisinya dengan beberapa sendok susu bubuk. Setelah menuangkan air hangat, wanita itu lalu mengaduk susu sembari melemparkan pandangannya ke luar jendela. Udara pagi tampak berkabut, mungkin karena semalam hujan tak berhenti mengguyur bumi.
"Tadi ayahmu sudah bangun, tapi masih duduk manis di kamar-"
"Kata siapa ayah di kamar?" Ayah Arga tiba-tiba sudah berada di dapur dan memeluk bunda Vale dari belakang. Terang saja, tingkah bucin ayah Arga tersebut langsung membuat Vaia mengulas senyum di bibirnya.
"Pergi sana!"
"Ngapain juga tidur lesehan disini?"
Suara Gavin dari teras rumah langsung membuat Vaia, Ayah Arga, dan Bunda Vale saling melempar pandang. Vaia yang terlebih dulu beranjak dan menuju ke teras untuk melihat apa yang terjadi.
"Pergi sana, Bang!" Suara Gavin yang seperti sedang mengusir seseorang kembali terdengar, bersamaan dengan Vaia yang sudah membuka pintu depan.
Gavin langsung menoleh ke arah pintu.
"Lihat ini, Kak!" Adu Gavin seraya menunjuk ke arah Bintang yang berbaring meringkuk di lantai teras rumah.
"Disuruh pergi, tapi malah diam seperti patung!" Lapor Gavin lagi.
Vaia tak berucap sepatah katapun dan langsung menghampiri Bintang yang masih meringkuk. Wajah pria itu juga terlihat pucat.
"Bintang," Vaia mengusap wajah pucat Bintang, namun kemudian wanita itu mengangkat lagi tangannya dengan cepat.
"Dia demam, Vin! Kamu papah dan ajak masuk-"
"Vaia!" Ayah Arga menyela perintah Vaia pada Gavin.
"Bintang sakit, Ayah! Bisakah kita sedikit berperikemanusiaan?" Vaia menatap memohon pada sang ayah.
"Kita bawa ke klinik saja," usul Bunda Vale menengahi.
"Benar!" Sahut Ayaah Arga cepat seraya menghampiri Bintang. Pria paruh baya itu juga meminta bantuan Gavin untuk membantu memapah Bintang ke dalam mobil. Vaia bergegas menyusul dan hendak ikut masuk ke mobil saat kemudian wanita itu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Vaia...." panggil Bintang lirih seraya menatap sayu pada Vaia.
Vaia membalas tatapan sayu Bintang, namun hanya sebentar. Wanita itu berpaling dengan cepat, lalu mengurungkan niatnya untuk masuk kd mobil.
"Gavin, kau temani Ayah!" Vaia sedikit mendorong Gavin agar menggantikannya masuk ke mobil.
"Gavin tidak mau, Kak!"
"Gavin!" Bunda Vale akhirnya buka suara dan Gavin hanya berdecak kesal.
"Kenapa tidak menyuruh-nyuruh Abang Ezra saja?" Seru Gavin kesal.
"Ezra sudah ke resto pagi-pagi buta tadi!" Sahut Ayah Arga yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Rajin sekali," Gumam Gavin seraya garuk-garuk kepala. Gavin akhirnya masuk ke mobil sesuai perintah Vaia dan Bunda Vale.
Namun baru saja Ayah Arga akan menginjak pedal gas, saat tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mobil Ayah Arga.
"Sinting, woy!" Seru Gavin pada mobil asing tersebut.
Tak berselang lama, seorang pria paruh baya turun dari mobil, diikuti oleh beberapa pria bertubuh tegap yang berpakaian serba hitam. Mereka langsung menghampiri mobil Ayah Arga.
"Maaf-"
"Buka pintu dan turunkan putraku sekarang!" Gertak pria paruh baya itu pada Ayah Arga.
"Putra?" Ayah Arga sontak mengernyit. Pun dengan Gavin yang ikut berpikir keras.
"Bintang tidak mau ikut papa!" Ronta Bintang dari jok belakang. Rupanya anak buah dari pria paruh baya yang mengaku sebagai ayah Bintang tadi sudah membuka pintu belakang dan memaksa Bontang untuk turun.
Jadi, apa itu Frans Mahardika? Ayah kandung Bintang?
"Minggur kaloan semua!' Bintang berusaha untuk melawan, namun pria itu sama sekali tak punya tenaga. Sedangkan Gavin dan Ayah Arga hanya diam dan seperti tak ada niat untuk membantu pemberontakan Bintang.
"Ayo pulang, Bintang!" Ucap Papa Frans tegas.
"Bintang tidak mau!" Tolak Bintang dengan nada galak.
"Jangan keras kepala!"
"Bawa dia cepat!" Perintah Papa Frans pada anak buahnya, yang sydah membopong Bintang keluar dari mobil Ayah Arga. Bintang terlohat meronta-ronta, saat ia dipindahkan ke mobil Papa Frans.
"Tuan Frans!" Vaia sudah menghampiri Papa Frans yang kini menatapnya dengan sinis.
"Bintang sedang demam dan sakit-"
"Aku tahu kondisi putraku dan harus melakukan apa!" Potong Papa Frans sebelum kemudian pria itu menyusul masuk ke dalam mobil.
Tak berselang lama, mobil Papa Frans sudah melaju meninggalkan kediaman Diba.
"Ayo masuk!" Ajak Bunda Vale yang sudah menghampiri Vaia tang sejak tadi menatap pada mobil Papa Frans hingga mobil itu menghilang di ujung jalan.
"Vaia akan jalan-jalan sebentar, Bund," izin Vaia seraya mengusap perutnya sendiri.
"Mau Bunda temani?" Tawar Bunda Vale.
"Hoayam goreng! Akhirnya bisa tidur!" Suara keras Gavin membuat Vaia menoleh ke arah adik laki-lakinya tersebut, lalu wanita itu tertawa kecil.
"Vaia, mau bunda temani jalan-jalan?" Bunda Vale mengulangi pertanyaannya.
"Bunda tidak capek?" Tanya Vaia ragu.
"Mau kemana?" Sela Ayah Arga ikut menghampiri istri serta putrinya tersebut.
"Vaia mah jalan-jalan pagi," jawab Bunda Vale.
"Bersama Ayah?" Tawar Ayah Arga yang langsung membuat Vaia mengangguk dan tersenyum. Vaia lalu menggamit lengan pria paruh baya tersebut dan menyandarkan kepalanya di pundak Ayah Arga.
"Baiklah!"
"Selamat jalan-jalan pagi!" Ucap Bunda Vale seraya mengusap kepala Vaia. Wanita paruh baya itu lalu berbalik ke arah rumah, menyusul Gavin yang tadi sudah masuk duluan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1