
Beep! Beep!
Gavin menyalakan klakson motornya ke arah Bintang yang hanya bergeming di bawah pohon sembari menatap ke rumah keluarga Diba.
"Pergi sana!"
"Mau aku tabrak, hah?" Usir Gavin seraya mencibir-cibir pada Bintang yang hanya membisu.
"Gavin! Kenapa belum pergi? Katanya ada janji dengan wisatawan?" Tanya Ayah Arga yang sudah keluar dari rumah.
"Ayah! Apa Bintang boleh bicara pada Vaia?" Tanya Bintang yang masih saja keras kepala ingin menemui Vaia, meskipun semua keluarga Diba sudah mengusirnya sejak kemarin. Namun pria itu tetap tak mau pergi dan malah tidur di halaman rumah, sambil terus menunggu Vaia menemuinya.
Ayah Arga tak menjawab pertanyaan Bintang dan langsung berlalu menuju ke toko milik keluarga Diba di seberang jalan. Sementara Gavin kembali mencibir Bintang, sebelum pemuda itu tancap gas menuju ke resort dimana Gavin bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata di sana.
Bintang kembali menatap ke rumah keluarga Diba, tepatnya ke jendela kamar Vaia. Pandangan mata Bintang langsung tertumbuk pada Vaia yang rupanya juga tengah menatapnya dari jendela kamar. Namun Vaia cepat-cepat berpaling saat Bintang balik menatapnya. Wanita itu bahkan menutup tirai jendela kamar, dan Bintang kembali harus menghela nafas kecewa.
Tak berselang lama, Ezra keluar dari rumah seraya membawa sebungkus roti dan sebotol air minum, lalu menyodorkannya pada Bintang.
"Dari Kak Vaia!" Ucap Ezra tanpa sedikitpun menatap pada Bintang yang matanya sudah berbinar tak percaya.
"Dan, Kak Vaia menyuruh Abang Bintang untuk pergi dari sini!" Sambung Ezra lagi sebelum adik ipar Bintang itu berlalu ke arah toko menyusul Ayah Arga yang tadi sudah duluan pergi.
Bintang tak jadi bernafas lega dan pria itu hanya menatap nanar pada roti serta botol minum di tangannya. Bintang kembali menatap pada jendela kamar Vaia, saat tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan rumah Ayah Arga, lalu seseorang yang baru turun dari mobil memanggil nama Bintang.
"Pak Bintang!"
Bintang menoleh dan sudah mendapati mandor proyek yang dulu keral mengajaknya berkeliling di kota Z saat Bintang masih amnesia.
"Pak Bintang! Tuan Frans mencari anda dan meminta anda untuk pulang-"
"Aku tidak akan pulang!" Sergah Bintang keras kepala.
"Aku masih ada urusan disini yang harus aku selesaikan!" Ucap Bintang lagi dengan nada tegas.
"Tapi Pak Bintang, anda terluka dan sebaiknya ke rumah sakit-"
"Aku baik-baik saja!" Sergah Bintang lagi dengan nada galak. Sang mandor hanya diam dan tak berani membantah lagi.
"Saya akan mengatakan kondisi anda pada Tuan Frans," putus mandor akhirnya seraya mengambil foto Bintang yang langsung nenatapnya dengan tajam.
"Tidak usah melaporkan keadaanku pada siapapun!" Bintang merebut pons Pak Mandor lalu membantingnya ke tanah dengan penuh emosi hingga ponsel hancur. Pak Mandor terlihat shock.
"Pak Bintang-"
__ADS_1
"Bilang saja pada Papa kalau kau tak tahu apa-apa soal aku!" Ucap Bintang dengan penuh emosi san Pak Mandor langsung beringsut mundur.
"I-iya, Pak!"
Sejenak suasana hening.
"Anda yakin tidak mau ke rumah sakit, Pak Bintang?" Tanya Mandor sekali lagi dan sedikit berbasa-basi.
"Tidak!" Jawab Bintang tegas.
"Apa jawabanku masih kurang jelas?"
"Pergi, kau!" Usir Bintang selanjutnya pada Sang mandor yang langsung kembali ke mobil dan meninggalkan Bintang yang terap berdiri di halaman rumah Ayah Arga.
****
"Aku mau semuanya diurus secepatnya!" Ucap Syiela pada sang pengacara.
"Tidak semudah itu mengurus sebuah perceraian, Syiela! Ada beberapa proses yang harus dilakukan-"
"Aku tidak mau ada proses mediasi atau apapun itu!"
"Kalau perlu, aku mau surat ceraiku langsung turun!"
"Aku sudah muak pada pria bernama Bintang itu!" Ucap Syiela berapi-api pada sang pengacara.
****
Vaia menyibak sedikit tirai yang menutupi jendela rumah untuk memastikan apa Bintang kembali lagi ke halaman rumah Ayah Arga hari ini. Ternyata pria itu sudah berdiri di bawah pohon seperti biasa, entah sejak jam berapa.
Vaia buru-buru menutup kembali tira jendela, lalu duduk di sofa dan mengusap perutnya sendiri yang sedikit terasa kram.
"Ada apa? Kontraksi?" Tanya Bunda Vale khawatir karena melihat Vaia yang sepertinya terlihat meringis. Wanita paruh baya itu mengusao perut Vaia dengan lembut.
"Kenapa Bintang terus saja kembali kesini, Bund?" Tanya Vaia tanpa menjawab pertanyaan Bunda Vale perihal kehamilannya.
"Bunda juga tidak tahu." Jawab Bunda Vale lirih.
Vaia menghela nafas, lalu mengalihkan tatapannya ke layar televisi yang kebetulan sedang menyala. Ada iklan susu untuk ibu hamil, dimana ada adegan sang suami yang membuatkan susu untuk sang istri yang sedang hamil, lalu mengusap perut buncit istrinya.
Airmata Vaia tiba-tiba berlinang, saat tangannya mengusap perutnya sendiri yang belum terlalu berbentuk.
"Vaia-"
__ADS_1
"Vaia baik-baik saja, Bund!" Vaia menyeka airmatanya dengan cepat.
"Vaia ke kamar dulu," pamit Vaia selanjutnya seraya berlalu dari ruang keluarga dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Vaia kenapa?" Tanya Ayah Arga yang baru keluar dari dapur. Bunda Vale hanya menggeleng dan rak menjawab pertanyaan sang suami. Namun raut wajah Bunda Vale seolah sudah menjelaskan semuanya.
"Aku akan mengusir pria baj*ngan itu!" Geram Ayah Arga selanjutnya seraya meletakkan cangkir kopinya dengan kasar.
"Arga-"
"Sudah cukup dia selalu membuat Vaia sedih dan menangis dua pekan ini, Vale!"
"Ayah, jangan mengusirnya!" Pinta Vaia seraya membuka pintu kamar san taut wajahnya memohon pada sang ayah."
"Vaia, kau tidak perlu memaafkan pria baj*ng itu!"
"Tapi dia juga ayah dari bayi yang Vaia kandung, Ayah!" Vaua sudah menangis tergugu.
"Arga, sudah cukup!" Gertak Bunda Vale pada sang suami. Bunda Vale langsung menghampiri Vaia yang kini menangis tergugu dan memeluk wanita itu.
"Vaia bimgung, Bund!" Cicit Vaia di pelukan Bunda Vale.
"Bunda tahu."
"Vaia membencinya di satu sisi. Tapi Vaia juga selalu ingin melihat wajahnya," isak Vaia semakin sesenggukan.
"Sudah, Vaia! Jangan menangis terus seperti ini! Nanti bayimu ikut sedih jika kau terus-terusan menangis begini," nasehat Bunda Vale seraya menyeka airmata Vaia yang terus saja menganak sungai.
"Ayah akan ke toko!" Pamit Ayah Arga akhirnya seraya kembali meraih cangkir kopinya. Ayah Arga selalu memilih untuk menghindar saat Vaia mulai mennagis dan bersedih seperti ini. Bunda Vale paham betul, kalau sebenarnya hati ayah Arga ikut tercabik melihat kesedihan Vaia.
Tapi Ayah Arga kuga tak bisa berbuat banyak. Ayah Arga ingin sekali menyeret Bintang agar pergi dari halaman rumahnya sejak dua pekan lalu. Namun sepertinya ikatan batin antara bayi di dalam kandungan Vaia dan Bintang sudah mulai terbentuk. Terbukti dari sikap Vaia yang selalu ingin melihat wajah Bintang, sekalipun wanita itu selalu mengatakan kalau ia marah dan benci pada Bintang.
Ya, semua itu adalah bawaan dari kehamilan Vaia!
Karena bagaimanapun, anak yang kini dikandung Vaia adalah anak kandung Bintang. Darah daging Bintang. Jadi sekuat apapun kebencian keluarga Diba pada Bintang, ikatan antara Bintang dan bayi di dalam kandungan Vaia tetap saja tak bisa dielakkan.
"Ayah," panggil Bintang melas saat Ayah Arga baru turun dari teras rumah. Namun seperti biasa, Ayah Arga sama sekali tak menggubris dan pria paruh baya itu terus mengayunkan langkahnya ke toko di seberang jalan. Bintang hanya mampu menghela nafas kecewa sekali lagi. Bintang kembali menatap ke jendela kamar Vaia sambil terus berharap kalau Vaia akan segera keluar untuk menemuinya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.