Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
BINTANG?


__ADS_3

Vaia masih duduk di dalam craft studio miliknya sembari menyelesaikan beberapa pesanan dari customer, saat sepasang tangan tiba-tiba sudah menutup kedua matanya dari belakang dengan usil.


"Hah!" Vaia yang kaget tak sengaja menyenggol botol cat minyak di depannya..


"Bintang!" Geram Vaia karena pemuda itu sudah membuat Vaia kaget dan menumpahkan cat.


"Kok tahu, sih?" Tanya Bintang yang sudah langsung menyusupkan kepalanya di pundak Vaia. Bintang juga mengecup pipi Vaia dan seperti biasa, Vaia langsung mengusao bekas ciuman Bintang.


"Aroma parfummu itu! Dari dulu tidak berubah!" Ujar Vaia seraya membersihkan tumpahan cat di atas meja kerjanya. Beruntung, media lukis yang tadi sedang Vaia kerjakan tidak ikut ketumpahan. Bisa mengomel panjang lebar Vaia, kalau karya yang sudah setengah jadi itu ketumpahan cat.


"Kau yang dulu memilihkannya!" Sergah Bintang yang sudah menarik satu kursi untuk duduk di samping Vaia.


"Sedang mengerjakan apa itu?" Tanya Bintang selanjutnya merasa kepo.


"Hadiah dari seseorang untuk seseorang," jawab Vaia seraya memeriksa lagi lukisannya.


"Pasti untuk pacar yang order!" Celetuk Bintang sok tahu.


"Ya! Tak seperti kamu yang tak pernah memberiku hadiah!" Cibir Vaia seraya kembali meletakkan lukisannya.


"Kata siapa?" Bintang mengeluarkan sebuah kalung dan menggoyang-goyangkannya di depan Vaia.


"Apa ini?" Kedua mata Vaia sudah berbinar senang.


"Apa hayo?" Bintang sedikit menggoda Vaia dan tak langsung memberikan kalung tadi pada sang kekasih.


"Kalung! Untukku, kan?" Tanya Vaia seraya menatap pada Bintang.


"Bukan! Ini untuk Bunda!" Jawab Bintang usil.


"Aaaaa! Bintang!" Vaia sudah bangkit berdiri dan berusaha meraih kalung tadi dari tangan Bintang. Namun Bintang sudah membuat gerakan cepat dan memakaikan kalung tadi ke leher Vaia.


"Bintang!" Vaia langsung tersipu dan melihat kalung pemberian Bintang di kaca yang memang ada di dalam craft studio miliknya tersebut.


"Cantik!" Puji Vaia yang masih tersenyum bahagia.


"Cantik, seperti kamu!" Bintang melingkarkan lengannya di pinggang Vaia.


"Kok tumben kamu udah pulang?" Tanya Vaia lagi.


"Kenapa memang? Tidak suka kalau aku cutinya lebih cepat?"


"Bukan begitu!"


"Tapi kemarin pas telepon kamu bilangnya baru pulang minggu depan," tukas Vaia sedikit bingung.


"Iya, kebetulan dapat cuti lebih cepat. Meskipun hanya tiga hari," ujar Bintang seraya terkekeh.


"Tapi minggu depan dapat cuti lagi, kan?" Vaia sudah memutar tubuhnya dan mengalungkan lengan ke leher Bintang.


"Tidak!" Jawab Bintang yakin


"Yah!" Vaia terlihat kecewa.


"Nanti kalau sering cuti, tabungan aku tidak cepat terkumpul, Va!"


"Trus aku nggak bisa segera nikahin kamu," ujar Bintang beralasan.


"Iya!"


"Vaia!"


Guncangan serta suara lembut Bindq Vale membuat semua mimpi Vaia menjadi buyar. Vaia membuka matanya yang terasa basah, lalu dengan cepat gadis itu menyeka airmata yang sudah menggenang di kedua matanya.


"Iya, Bund!" Jawab Vaia seraya tergagap. Vaia buru-buru bangun, lalu duduk di tepi ranjang.


"Kamu menangis? Mimpi sedih?" Tebak Bunda Vale yang sudah membantu untuk menyeka airmata Vaia.


"Enggak, kok, Bund! Cuma mendadak Bintang datang di mimpi Vaia," jawab Vaia jujur.


"Vaia rindu sekali pada Bintang," dlsambung Vaia lagi seraya menahan tangis.


"Bunda tahu, Vaia!" Bunda Vale langsung dengan cepat meraup Vaia ke dalam pelukan.


"Kamu yang sabar, ya!"


"Iya, Bund!" Vaia masih sesenggukan.


"Tadi Bunda ke kamar Vaia kenapa?" Tanya Vaia selanjutnya seraya kembali menyeka airmatanya.


"Oh, ya! Ayah kamu mendadak sakit, mungkin kecapekan habis perjalanan kemarin."

__ADS_1


"Dan ini hari Sabtu, nanti ada barang yang datang di toko-"


"Nanti biar Vaia urus semuanya, Bund!" Sergah Vaia cepat yang sepertinya sudah paham maksud Bunda Vale.


"Kau sedang banyak pesanan?" Tanya Bunda Vale khawatir.


"Bisa Vaia cicil sembari menjaga toko, Bund!" Vaia menenangkan sang bunda sambung.


"Ezra sudah kembali ke kafe, ya?" Tanya Vaia lagi


"Iya, tadi pagi-pagi. Katanya mumpung weekend mau buka pagi-pagi," tukas Bunda Vale.


"Kafe terus yang diurus!" Vaia sedikit mencairkan suasana.


"Iya makanya besok mau Bunda carikan istri saja biar nggak ngurusin kafe terus!"


"Perasaan sejak lulus kuliah itu anak juga tidak pernah punya pacar," ujar Bunda Vale lagi.


"Mencurigakan!" Timpal Vaia yang sudah bisa tertawa kecil.


"Yaudah, kamu mandi dulu, lalu sarapan juga sebelum membuka toko, ya! Bunda mau melihat ayah dulu," pungkas Bunda Vale akhirnya seraya mengusap punggung Vaia.


"Oke, Bund!" Vaia mengulas senyum tipis, lalu menarik nafas panjang dan memainkan kalung pemberian Bintang yang masih ia kenakan hingga detik ini.


"Kamu dimana, Bintang! Cepatlah pulang!"


****


Bintang mengerjapkan matanya, saat merasakan sinap matahari pagi yang sudah menyusup masuk ke jendela kamar yang kini ia tempati.


Pria itu meraih arlojinya di atas nakas untuk melihat sekarang jam berapa.


"Astaga! Sudah jam tujuh!" Gumam Bintang yang bergegas bangun, lalu mencabut colokan charger di ponselnya. Semalam setelah kembali dari pantai, Bintang memang langsung tidur dan tak ingat apa-apa lagi. Ponselnyq juga masih dalam keadaan mati semalaman karena kehabisan baterei saat Bintang video call bersama Syiela.


Ah, iya!


Bintang ingat kalau dia belum menelepon Syiela lagi dan memastikan apa istrinya itu tidur di rumah kedua orangtuanya semalam atau malah tidur di kediaman Mahardika bersama Elang?


Meskipun Syiela dan Elang pastilah tidur di kamar yang berbeda, tapi tetap saja, ada sedikit rasa cemburu yang menggelitik hati Bintang.


Setelah ponselnya menyala, Bintang segera menelepon nomor Syiela. Namun ponsel istrinya itu malah tidak aktif sekarang!


Ck!


Kebiasaan sekali!


Bintang akhirnya memutuskan untuk mandi dulu saja dan bersiap melakukan pekerjaannya. Ia juga ada janji dengan beberapa investor yang nanti akan datang untuk meninjau lokasi pembanguan.Nanti Bintang akan mencoba menghubungi Syiela lagi.


****


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif!"


Bintang membuang kasar nafasnya setelah ia gagal menghubungi Syiela lagi.


Kemana istrinya itu?


Kenapa nomornya masih tidak aktif?


Bintang melihat ke arlojinya sebelum ia masuk ke dalam mobil. Bintang akan pergi ke salah satu resort di dekat pantai untuk bertemu beberapa investor. Semoga mereka jadi datang nanti.


Bintang memasang handsfree terlebih dahulu sebelum ia mulai mengemudi. Bintang akan menghubungi Elang dan bertanya perihal Syiela tidur dimana semalam pada saudara angkatnya tersebut, sekaligus bercerita beberapa hal yang Bintang rasakan di kota ini.


"Halo, Bintang! Ada apa?"


Telepon Bintang sudah langsung dijawab oleh Elang di dering pertama.


Ya, Elang memang selalu sigap!


"Kau ke kantor hari ini? Atau masih istirahat di rumah?" Bintang sedikit berbasa-basi pada Elang sebelum menanyakan perihal Syiela.


"Aku baru sampai di kantor. Dan aku sudah sehat, jadi aku ke kantor hari ini."


"Tidak ada! Aku baru saja akan menuju ke resort untuk menemui-"


"Ya ampun! Bahan bakar hampir habis!" Bintang segera menggerutu saat melihat indikator bahan bakar yang sudah mulai berkedip. Bintang kira kenarin mobil.ini sudah diisi bahan bakar fulltank sebelum diserahkan ke Bintang. Ternyata....


Mana SPBU jauh sekali dan berada di dekat klinik yang kemarin Bintang datangi. Bintang akan kehabisan bahan bakar kalau memaksa ke sana!


"Tidak ada SPBU di sana?" Tanya Elang yang sepertinya mendengar gerutuan Bintang. Namun nada bertanya Elang malah terdengar seperti sebuah ledekan.


Dasar Elang!

__ADS_1


"Ada! Tapi lumayan jauh dari lokasi pembangunan." Jawab Bintang seraya menghentikan mobilnya di persimpangan yang kemarin Bintang lalui.


"Lokasi disini lumayan sepi, tapi anehnya, aku seolah sudah hafal jalan-jalan disini, Elang!" Cerita Bintang lagi pada Elang sembari menimbang-nimbang apa ia akan tetal ke SPBU atau ia mencari pom terdekat saja di sekitar pemukiman penduduk. Pasti ada penjual bahan bakar di area pemukiman, kan?


"Benarkah?" Suara Elang di seberang telepon yang sedang menanggapi cerita Bintang membuyarkan lamunan sesaat Bintang.


"Iya!"


"Bahkan kemarin saat ke pantai, aku pergi sendiri dan langsung menemukan lokasinya. Saat pulang hari sidah gelap aku juga tak merasa bingung dan langsung bisa menemukan penginapanku!"


"Bukankah itu luar biasa?" Cerita Bintang lagi panjang lebar pada Elang yang tak terdengar lagi suaranya.


Bintang lanjut melajukan mobilnya ke arah pemukiman warga yang kemarin sempat ia lalui saat ia bertemu korban kecelakaan.


"Elang!" Panggil Bintang karena Elang masih tak bersuara.


"Ya! Itu luar biasa, Bintang!" Jawab Elang akhirnya meskipun suara pria itu sedikit tergagap.


Aneh!


Dari kejauhan, Bintang akhirnya melihat pom mini di depan sebuah toko yang lumayan besar. Kemarin sepertinya Bintang tidak melihat toko tersebut.


"Ah, aku sudah menemukan pom mini, Elang! Aku tutup dulu teleponnya!" Pungkas Bintang akhirnya pada Elang.


"Baiklah! Jaga kesehatan di sana dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!"


Namun sedetik sebelum telepon terputus, Bintang baru ingat dengan tujuannya menelepon Elang tadi. Bergegas Bintang kembali memanggil saudara angkatnya itu agar tak menutup telepon dulu.


"Elang, Elang!"


"Ya, ada apa lagi, Bintang?"


"Syiela tidur di rumah semalam? Atau dia pulang ke rumah Mami Papi?" Tanya Bintang to the point. Laju mobil Bintang sudah semakin dekat ke pom mini yang tadi ia lihat dari kejauhan.


"Dia pulang ke rumah mami dan papinya."


"Diantar sopir, kan?" Tanya Bintang lagi memastikan.


"Ya!"


"Tadinya dia ingin pulang sendiri, tapi aku memaksanya agar diantar sopir dan aku mengancam akan melapor kepadamu jika dia menyetir sendiri malam-malam."


"Baiklah, terima kasih informasimu! Aku bisa bernafas lega sekarang." Ucap Bintang yang memang benar-benar bernafas lega sekarang.


"Tolong kau jaga Syiela sampai aku pulang, ya!" Pesan Bintang selanjutnya pada Elang. Tak tahu juga kenapa Bintang malah berpesan hal konyol itu!


"Aku akan menyusul dan menggantikanmu-"


"Tidak usah!" Sergah Bintang cepat memotong kalimat Elang. Bintang benar-benar masih ingin healing di sini sekaligus memancing barangkali Syiela akan menyusulnya nanti kalau ia tak kunjung pulang.


"Aku menikmati pekerjaan sebagai pengawas lapangan di sini, ketimbang harus berpusing-pusing ria di belakang meja direktur itu!" Sambung Bintang lagi yang akhirnya berkata jujur pada Elang tentang alasannya yang tidak mau digantikan oleh Elang disini.


"Tapi kau memang direktur dan pewaris tunggal Mahardika's Company, Bintang!"


"Ya!" Bintang hanya menghela nafas mendengar kalimat Elang yang mengingatkan akan posisi Bintang di Mahardika's Company. Meskipun sebenarnya Bintang merasa tak cocok di posiso itu.


"Nanti aku telepon lagi! Aku tak akan jadi mengisi bahan bakar jika kita mengobrol terus." Pungkas Bintang akhirnya yang sudah tiba di depan pom mini tadi. Tapi tidak ada orang dan pom mini tersebut terlihat sepi.


Aneh.


Telepon dari Elang sudah terputus, dan Bintang segera turun dari mobil, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pom mini tersebut.


"Halo! Apa ada orang?" Panggil Bintang yang sesaat ia kembali merasa tak asing dengan pom mini ini, dan toko bercat merah di sebelahnya, lalu rumah panggung dengan pohon besar dan ayunan di seberang jalan.


Bintang terdiam untuk beberapa saat dan menatap pada rumah panggung di seberang jalan sambil mencoba mengingat-ingat. Di saat itulah juga, seorang gadis berkulit eksotis yang mengenakan celana jeans serta kaus warna baby pink keluar dari pintu samping toko untuk melayani Bintang.


"Ya! Mau membeli bahan bakar?" Seru gadis itu yang langsung membuat Bintang menoleh ke arah gadis berkaus baby pink tersebut.


Pandangan Bintang dan gadis itu langsung bertemu dan langkah si gadis seketika terhenti saat ia melihat ke arah Bintang. Kedua bola mata gadis itu membulat sempurna saat bibirnya menggumamkan sesuatu.


"Bintang!"


.


.


.


Jeng jeng jeng


Dahlah!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2