Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
KENAPA?


__ADS_3

"Ayah dan Bunda pulang jam berapa?" Tanya Gavin seraya membuka tas ranselnya, lalu memasukkan beberapa barang yang ia ambil dari toko ke dalam ransel.


"Aku belum menghitungnya, Vin! Keluarkan lagi semuanya!" Protes Vaia seraya mengeluarkan balik barang-barang yang tadi dimasukkan oleh Gavin ke dalam ransel.


"Ayolah, Kak! Gavin kan anaknya Ayah Bunda!" Rengek Gavin tak terima, saat Vaia mulai men-scan satu persatu barang yang diambil Gavin. Mulai dari sabun mandi, lotion anti nyamuk, beberapa minuman instant serta mie instan. Barang-barang itu memang biasa dibawa oleh Gavin saat pemuda itu hendak menyeberang ke pulau untuk melakoni pekerjaan part time-nya sebagai tour guide di sebuah resort.


"Bisnis tetap bisnis! Toko Ayah akan gulung tikar jika kau terus mengambil barang-barang di toko tanpa membayar!"


"Tirulah Ezra yang selalu membayar meskipun hanya mengambil sebotol air mineral!" cerocos Vaia yang mulai membandingkan Gavin dengan Ezra. Tak tahu kenapa dua adik Vaia itu bisa berbeda jauh sifatnya.


"Ck! Pelit!" Gumam Gavin seraya mengeluarkan dompetnya. Gavin akhirnya mrmbayar semua barang-barang yang ia ambil tadi dan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah pada Vaia.


"Oke, terima kasih!" Icap Vaia setelah menerima uang Gavin.


"Kembaliannya mana, Kak? Kan seharusnya masih ada kembalian lima puluh ribu?" Tagih Gavin seraya melihat subtotal belanjaannya di layar.


"Anggap saja sedang men-traktir calon keponakan!" Jawab Vaia enteng seraya mengusap perutnya.


Gavin langsung garuk-garuk kepala dan mengendikkan kedua bahunya.


"Nanti Kak Vaia bilangin ke Bunda kalau aku sudah pergi, ya! Takutnya Bunda nyariin trus nangis," pesan Gavin yang sukses membuat Vaia terkekeh.


"Lebay! Kayak kamu anak kesayangannya Bunda saja! Anak kesayangannya Bunda kan aku!" Jawab Vaia sombong.


"Diih! Mana ada? Yang bungsu yang paling disayang!" Sergah Gavin tak terima.


"Iya, iya! Pergi sana!" Usir Vaia selanjutnya pada Gavin yang sudah memakai ransel ke punggungnya.


"Bye, Kak Vaia manja dan bawel!" Pamit Gavin lebay yang langsung membuat Vaia berdecak. Vaia memilih untuk langsung ke gudang dan mengambil beberapa barang yang kosong di rak toko.


Baru saja Vaia keluar dari gudang, terdengar suara lonceng di atas pintu toko, yang menandakan kalau ada orang yang datang.


Vaia segera melongokkan kepalanya untuk memeriksa siapa yang masuk ke toko. Dan alangkah terkejutnya wanita itu saat melihat Bintang yang sudah masuk ke dalam toko dan kini sedang berjalan ke arah Vaia.


"Kau sedang-"


"Jangan mengangkat yang berat-berat!" Bintang menyela pertanyaan Vaia, dan pria itu sudah mengambil alih kardus berisi minuman yang tadi dibawa oleh Vaia.


"Sudah kubilang, kalau aku tak mau lagi bertemu denganmu!" Ucap Vaia lantang, setelah Bintang meletakkan kardus tadi di dekat rak minuman.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Vaia!" Ucap Bintang seraya menundukkan wajahnya.


"Aku mencintaimu, dan aku tidak mau kita berpisah!" Bintang tiba-tiba sudah meraih tangan Vaia. Dan saat itulah Vaia menyadari keberadaan "perban seadanya" yang membebat tangan kanan Bintang. Ada noda darah di perban yang dipasang asal-asalan tersebut.


Vaia menghela nafas, lalu melepaskan tangan Bintang yang menggenggam tangannya.


"Luka di tanganmu harus diobati," ucap Vaia seraya berbalik menuju ke pintu toko, lalu keluar. Bintang mengikuti langkah Vaia dan ikut menyeberang menuju ke rumah keluarga Diba. Namun pria itu hanya duduk di teras, menunggu Vaia yang sedang mengambil kotak obat di dalam rumah.


Tak berselang lama, Vaia sudah keluar, lalu duduk di depan Bintang dan mulai mengobati luka di punggung tangan Bintang.


"Kau suka sekali menyiksa dirimu sendiri belakangan ini," ucap Vaia sinis.


"Karena jika aku tak melakukannya, kau mungkin tak akan peduli padaku lagi," jawab Bintang jujur yang langsung membuat Vaia menatap ke wajah Bintang.


"Aku minta maaf, Vaia!" Ucap Bintang lagi penuh sesal.


"Kau tahu satu pepatah," Vaia menarik nafas dengan berat, lalu mengusapkan betadine ke atas luka Bintang dengan hati-hati.


"Jika seseorang terlalu sering minta maaf, maka permintaan maaf itu akan menjadi tak ada artinya." Vaia melanjutkan kalimatnya dan Bintang langsung terdiam.


"Sudah berapa ribu kata maaf yang kau ucapkan padaku dan pada Syiela?"


"Kenapa kau tidak jujur padaku sejak awal, Bintang?"


"Kenapa?" Tanya Vaia nyaris tanpa suara. Dan wanita itu kini sudah menangis sesenggukan.


"Vaia...." Bintang ikut berkaca-kaca dan kini pria itu sudah bersimpuh di hadapan Vaia.


"Aku pasti akan mundur, pergi, dan melupakanmu!"


"Lalu kau bisa hidup bahagia bersama Syiela-"


"Aku hanya mencintaimu, Vaia!"


"Aku hanya mencintaimu!" Bintang menggenggam erat tangan Vaia.


"Tapi kau menikah dengan Syiela! Bukankah itu artinya-"


"Aku hilang ingatan waktu itu dan aku benar-benar tidak ingat dengan hubungan kita," sela Bintang memotong tuduhan Vaia.

__ADS_1


"Tapi aku bersumpah kalau aku hanya mencintaimu sekarang, Vaia!"


"Aku hanya mencintaimu dan aku akan terus memperjuangkan pernikahan kita...." Bintang mencium kedua tangan Vaia dan pria itu masih bersimpuh di hadapan Vaia.


"Tolong jangan pergi, Vaia! Aku mencintaimu," mohon Bintang sekali lagi sebelum tangan pria itu disentak oleh Vaia yang sudah bangkit berdiri. Wanita hamil itu lalu meninggalkan Bintang dan masuk ke dalam rumah.


Bintang hendak menyusul Vaia, saat tiba-tiba terdengar suara Ayah Arga.


"Bintang!"


Bintang terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ayah kandung Vaia tersebut.


"Bintang harus bicara pada Vaia, Ayah," ucap Bintang pada ayah Arga dengan wajah memelas.


"Mau bicara apa lagi? Vaia sudah marah dan kecewa padamu!"


"Jadi pergilah agar aku tak perlu menyeretmu dari sini!" Perintah Ayah Arga lantang.


"Bintang tak akan pergi dari sini sebelum Vaia memaafkan Bintang!" Jawab Bintang keras kepala.


"Dasar keras kepala!" Decak Ayah Arga sebelum pria paruh baya itu masuk ke rumah, dan meninggalkan Bintang di teras.


****


"Pewaris tunggal yang sejak kecil papa telantarkan dan tak pernah mendapatkan kehidupan yang layak?"


"Papa bahkan tak pernah menampakkan diri saat Ibu berjuang melawan sakitnya sambil tetap bekerja hanya agar Bintang bisa makan!"


"Papa egois!"


Papa Frans menatap bayangan wajahnya di cermin dan pria paruh baya itu sedikit terhuyung.


Kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Bintang terus saja berputar-putar di kepalanya dan membuat pikiran Papa Frans menjadi kacau. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya berulang kali, dan hendak keluar dari kamar mandi, saat mendadak kepalanya terasa sakit sekali. Papa Frans berusaha berpegangan pada dinding, namun meleset. Tubuh tua itu terhuyung dengan cepat dan akhirnya jatuh terjerembab je atas lantai kamar mandi. Papa Frans seketika tak sadarkan diri.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2