Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
MUAL


__ADS_3

[Kau pulang ke hotel malam ini, Sayang? Jangan lupa memesankan tiket untukku besok] - Vaia-


Bintang baru makan malam bersama Papi Dana dan klien mereka, saat pesan dari Vaia masuk ke ponselnya.


[Aku tidak janji. Aku masih bertemu klien] -Bintang-


Tak berselang lama, balasan pesan dari Vaia masuk lagi ke ponsel Bintang.


[Klien? Klien apa maksudnya? Sejak kapan bagian pemeliharaan gedung bertemu klien?] -Vaia-


Bintang sontak membelalakkan matanya dan nyaris tersedak makanan yang baru saja ia lahap karena membaca pesan dari Vaia.


Ya ampun! Bintang lupa!


Bintang kira itu tadi pesan dari Syiela!


[Maksudnya aku sedang mengantar bos bertemu klien, Sayang] -Bintang-


[Oh,] -Vaia-


"Ehem! Bintang!" Tegur Papi Dana karena Bintang yang malah fokus ke ponselnya padahal mereka tengah makan malam bersama klien.


"Iya, Pi!" Bintang menatap bingung pada Papi Dana yang langsung memberikan kode pada Bintang agar menyimpan ponselnya.


Papi Dana lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bintang, sebelum kemudian berbisik,


"Papi tahu kau merindukan Syiela. Tapi tak perlu juga bertukar pesan saat kita sedang makan malam bersama klien!"


"Iya, Pi! Maaf," ucap Bintang yang langsung menyimpan ponselnya.


Bintang dan Papi Dana kembali fokus menikmati makan malam mereka bersama klien.


****


"Astaga!" Bintang meraih arlojinya di atas nakas untuk melihat sekarang jam berapa. Semalam Bintang sebenarnya ingin ke hotel untuk menemui Vaia, tapi setelah makan malam bersama klien, Papi Dana memaksa Bintang untuk mampir ke rumah, lalu mereka berbincang sembari main catur sampai malam. Dan akhirnya Bintang malah ketiduran di rumah Papi Dana atau lebih tepatnya di dalam kamar Syiela.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bintang meregangkan sedikit ototnya, sebelum kemudian pria itu memeriksa ponselnya. Ada belasan pesan yang masuk dari Vaia.


[Sayang, kau tidak jadi datang, ya? Qku sudah ngantuk dan mau tidur.] - Vaia-


[Besok aku sudah harus pulang ke kota Z. Semoga kau bisa sedikit meluangkan waktu besok untuk menemuiku. Oh, ya! Kau belum menesankan tiket untukku?] -Vaia-


"Ya ampun!" Gumam Bintang yang buru-buru memesan tiket ke kota Z untuk Vaia.


"Jam sebelas pagi!" Gumam Bintang setelah berdasarkan memesan tiket untuk Vaia. Bintang lalu bergegas mandi dan bersiap ke kantor. Bintang akan ke kantor dulu, sebelum nanti ia menjemput Vaia ke hotel, lalu mengantar istrinya itu ke bandara.


Namun baru saja Bintang menanggalkan bajunya, sudah ada telepon masuk dari Syiela.


Oh, ya ampun!


Rasanya Bintang mulai kewaalahan sekarang!

__ADS_1


"Sayang!" Sapa Syiela penuh semangat, begitu Bintang mengangkat telepon wanita itu.


"Iya, Sayang! Ada apa? Kau pulang hari ini?" Tanya Bintang to the point yang malah dijawab Syiela dengan gelak tawa.


"Tidak!"


"Sayang sekali! Aku sudah kangen berat padahal. Kapan kau akan kembali?" Cecar Bintang yang sepertinya tak mau buang-buang waktu. Bintang masuk ke kamar mandi masih sambil bicara di telepon bersama Syiela. Pria itu menyalakn keran air, lalu menuang pasta gigi ke atas sikat giginya.


"Aku seperti mendengar suara gemericik air!"


"Ya! Aku sedang di toilet." Jawab Bintang sebelum kemudian pria itu lanjut berkumur-kumur.


"Wow! Aku jadi penasaran!"


Tak berselang lama ada panggilan video call dari Syiela.


Bintang berdecak sejenak, sebelum akhirnya mengangkat video call Syiela. Pria itu kini sedang menggosok giginya.


"Pweeet! Aku melihat suamiku berada di kamar pribadiku!" Seloroh Syiela seraya bersiul.


"Aku menginap disini semalam karena aku rindu berat padamu!" Jawab Bintang beralasan.


"Benarkah? Lalu kenapa kau tak angkat kopermu, dan pergi kesinj menyusulku? Lalu kita bisa honeymoon jilid dua!" Cerocos Syiela dengan nada menggoda seperti biasa.


"Lalu pekerjaan kantor akan terbengkalai, dan aku harus lembur begitu kita pulang berlibur!" Timpal Bintang menanggapi cerocosan Syiela. Istri Bintang itu sontak tergelak mendengar jawaban Bintang.


"Kan ada Elang, Sayang!" Rayu Syiela lagi.


"Aku hanya memberikan saran!" Jawab Syiela menyanggah.


"Lagipula, Elang kelihatannya banyak menganggur belakangan ini!" Sambung Syiela lagi.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Bintang penasaran.


"Tahu apa?" Syiela balik bertanya bingung.


"Tentang Elang yang tak banyak pekerjaan! Kau sering menghubunginya?" Jelas Bintang antara curiga dan cemburu.


"Tentu saja! Kami sering bertukar pesan karena ponselmu jarang aktif!" Ungkap Syiela jujur yang langsung membuat raut wajah Bintang berubah.


"Jangan bilang kau cemburu lagi!" Syiela sudah terlihat bersedekap pada Bintang sekarang.


"Tidak!" Kilah Bintang cepat meskipun raut wajahnya menunjukkan sebaliknya.


"Aku dan Elang hanya bersahabat, Bintang! Hanya sahabat!" Syiela menegaskan sekali lagi.


"Iya! Aku paham! Tak perlu kau ulang-ulang begitu!"


"Memangnya yang menuduh kau selingkuh dengan Elang siapa?" Sergah Bintang dengan nada suara yang sudah meninggi.


Syiela tak menjawab, dan kini pasangan suami istri itu hanya saling diam.

__ADS_1


"Aku harus mandi dan ke kantor," Bintang yang akhirnya buka suara terlebih dahulu.


"Silahkan! Aku juga mau tidur! Tadi aku insomnia, makanya aku meneleponmu karena ponselmu aktif!"


"Tapi sekarang insomnia ku sudah sembuh." Jawab Syiela dengan nada ketus.


"Bye!" Pamit Bintang yang sama sekali tak dijawab oleh Syiela. Video call langsung putus begitu saja.


****


Bintang yang sudah selesai mandi, memeriksa ponselnya, dan mendapati dua panggilan tak terjawab dari Vaia namun saat Bintang hendak menelepon balik Vaia, ponselnya malah berdering karena Elang menelepon.


"Halo," sambut Bintang yang terpaksa mengangkat telepon dari Elang, karena biasanya telepon Elang selalu penting. Jarang sekali Elang menelepon hanya untuk berbasa-basi atau bicara hal tak penting.


"Bintang, kau ada meeting pagi!"


"Iya, aku baru saja akan berangkat."


"Baiklah! Langsung ke ruang meeting! Aku tunggu!"


"Ya!" Jawab Bintang tergesa, seraya menyambar tas kerjanya. Bintang tak membuang waktu lagi dan segera melesat ke kantor Mahardika's Company.


****


"Ck!"


Vaia berdecak sekali lagi, saat teleponnya pada Bintang tak diangkat. Sudah tiga kali Vaia mencoba menghubungi suaminya tersebut, namun tetap tak diangkat oleh Bintang. Mungkin Bintang masih bekerja.


"Hoek!" Vaia menutup mulutnya dengan telapak tangan, saat tiba-tiba wanita itu merasakan mual dj perutnya. Buru-buru Vaia berlari ke toilet saat rasa mual tadi berubah menjadi rasa ingin muntah yang mendesak di perutnya.


Vaia mencoba untuk muntah, namun tak ada yang keluar.


Vaia kenapa sekarang?


Masuk angin?


Vaia menarik nafas dalam-dalam dan bersandar pada dinding toilet, saat rasa mual kembali mendesak di perutnya. Vaia kembali muntah-muntah hingga perutnya sedikit kram.


Ya ampun!


Tepat saat Vaia keluar dari toilet, wanita itu mendengar ponselnya berdering. Bergegas Vaia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur, dan senyuman langsung merekah di bibir Vaia tatkala mendapati nama Bintang yang tertera di layar ponsel.


"Halo, Sayang!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2