
Bintang menatap pada deburan ombak yang berkejar-kejaran di depannya. Berbagai bayangan tentang satu gadis dan satu pemuda yang berlarian disepanjang pantai, lalu bermain ombak, dan berbagai hal.laon yang mereka lakukan mendadak berkrlebat di dalam kepala Bintang secara acak dan memusingkan.
Rangkaian adegan itu hanya seperti sebuah film pendek yang diputar secara berulang-ulang di dalam kepala Bintang.
"Aaaakhhh!" Bintang menggeram saat akhirnya semua adegan memusingkan itu pergi dari pikiran Bintang. Dering ponsel dari sakunya, membuat Bintang dengan cepat menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lagi dengan perlahan.
Bintang merogoh ponsel di dalam saku celananya dan sudah ada nama Syiela di layar ponsel.
"Halo, Sayang!" Sapa Bintang setelah mengangkat telepon.
"Bagaimana? Kau masih di pantai?"
"Ya!"
"Sebentar, aku nyalakan video call," tukas Bintang seraya mengalihkan yelepon Syiela menjadi panggilan video call.
"Lihat! Bagus sekali pantainya, Sayang!" Ucap Bintang seraya menunjukkan pantai indah dengan ombak bergulung-gulung di depannya pada Syiela.
"Ya ampun! Ternyata lebih indah dari foto yang kau kirimkan tadi!"
"Ya! Cantik sekali, bukan? Sama sepertimu!" Ujar Bintang lagi seraya bergombal pada Syiela.
"Gombal!"
"Tapi pantainya benar-benar cantik sekali! Aku jadi ingin ke sana." Suara Syiela terdengar manja, menbuat Bintang merasa gemas pada istrinya tersebut dan ingin meraup bibir Syiela yang selalu menggairahkan.
"Kau bisa menyusul kesini, Sayang! Lalu kita akan-" Bintang tak melanjutkan kalimatnya karena mendengar Syiela yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
Apa Syiela sedang bicara pada Elang? Karena tadi Syiela memang mengatakan kalau ia akan pulang ke kediaman Mahardika.
"Sayang, apa kau bicara pada Elang?" Tanya Bintang ragu.
"Yap!"
"Dan Elang sudah baikan, Sayang!" lapor Syiela seraya mengarahkan kameranya pada Elang yang masih duduk di sofa ruang tengah.
"Bintang sudah sampai di kota Z?"
Samar-samar Bintang mendengar pertanyaan Elang pada Syiela.
"Ya! Dia sudah pergi ke pantai dan lihatlah!" Syiela sepertinya sedang menunjukkan layar ponselnya pada Elang. Karena kini yang tampak di layar ponsel Bintang bukan lagi wajah Syiela melainkan sudah berganti menjadi wajah Elang.
"Hai, Bintang!" Ucap Elang yang langsung menyapa Bintang.
"Hai!"
"Sudah baikan?" Tanya Bintang berbasa-basi. Padahal tadi Syiela juga sudah memberitahu Bintang tentang kondisi Elang.
"Sudah!"
"Pantainya bagus!" Puji Elang selanjutnya.
"Ya!"
"Kau mau menyusul Bintang ke sana, Syiela?"
Bintang kembali mendengar obrolan Elang dan Syiela. Dan seperti biasa,obrolan keduanya selalu terdengar akrab!
"Jadwalku padat minggu ini! Aku saja baru kembali dari kantor tadi." Jawab Syiela menolak tawaran Elang untuk menyusul Bintang ke kota Z.
"Aku akan menyusul Bintang kalau begitu-"
"Tidak usah, Elang!" Sahut Bintang cepat saat mendengar rencana Elang yang ingin menyusulnya ke kota ini.
Kalau Elang kesini, otomatis Bintang haris pulang dan kembali duduk kursi direktur yang menjemukan itu.
Astaga!
Baru juga Bintang menyegarkan pikirannya dari pekerjaan menjemukan sebagai tuan direktur!
Lagipula, Bintang juga lebih menyukai pekerjaan lapangan seperti ini ketimbang harus melihat tulisan dan grafik setiap hari.
"Kau tetap disana saja, menangani semua urusan kantor, dan biar aku saja yang disini sampai semua urusan selesai," ujar Bintang lagi meyakinkan Elang.
"Jangan begitu, Bintang! Kau tidak kasihan pada Syiela?" Sergah Elang mengingatkan Bintang tentang dirinya yang baru saja menikah dengan Syiela.
Oh, ya!
Bagaimana Bintang bisa lupa kalau ia adalah pengantin baru?
Tapi tidak apa, mungkin keinginan Bintang untuk tetap berada di kota Z bisa menjadi alasan sekalian agar Syiela mau menyusul Bintang ke kota ini.
__ADS_1
"Ck! Itu hanya modusnya saja agar aku menyusul ke sana, Elang!" Sergah Syiela yang rupanya malah sudah bisa membaca rencana Bintang yang baru saja Bintang pikirkan tadi.
Bintang tentu saja langsung tergelak dengan tebakan Syiela yang tepat sasaran. Pria itu lalu lanjut menggoda dan merayu sang istri,
"Kau akan menyusul kesini, Sayang?"
"Kita lihat saja situasi dan kondisinya!" jawab Syiela seraya tersenyum pada Bintang.
Ck!
Masih belum pasti ternyata!
"Kesini saja, Syiela! Kita honeymoon lagi!" Rayu Bintang sekali lagi pantang menyerah.
"Aku banyak pekerjaan! Jadi aku tak jan-"
"Elang, kau mau kemana?" Jawaban Syiela terjeda karena wanita itu kembali berbicara pada Elang yang sepertinya hendak pergi.
"Ambil minum!" Jawaban Elang bisa didengar dengan jelas oleh Bintang.
"Ambilkan sekalian untukku!" Syiela terlihat mengangkat cangkir teh di layar ponsel Bintang, lalu wanita itu mengangsurkan cangkir teh tadi pada Elang yang hanya terlihat tangannya saja.
Syiela sudah kembali fokus ke layar ponsel.
"Jadi, kau akan menyusul ke sini lalu kita honeymoon lagi, kan?" Rayu Bintang sekali lagi pada Syiela.
"Tidak! Aku masih sibuk! Jadi cepatlah pulang saja dan biar Elang yang ganti kesana!" Ucap Syiela tegas yang langsung membuat Bintang mendes*h kecewa.
"Sayang!" Rayu Bintang manja.
"Tidak, Bintang!"
"Sayang!"
"Cepatlah pulang!" Syiela menatap tegas pada Bintang.
"Kita bisa menjelajahi pulau-pulau yang menawan di dekat sini!"
"Ck!" Syiela terlihat bimbang.
"Nanti aku kabari lagi! Aku mau mandi dan berendam!" Syiela mengipasi dirinya memakai tangan.
"Gerah!" Ucap Syiela lagi.
"Dasar mesum!" Wajah Syiela bersemu merah dan wanita itu sudah bangkit berdiri. Bintang baru saja bersorak saat tiba-tiba baterei ponselnya malah lowbat.
Sial!
"Bintang-"
Bintang belum sempat menjawab panggilan Syiela saat layar ponselnya sudah mati.
Ya ampun!
Sepertinya Bintang harus segera pulang sekarang untuk mengisi daya ponselnya. Langit juga sudah berubah gelap, menandakan kalau malam akan segera datang menjelang.
****
"Ish! Kok mati, sih?" Gerutu Syiela saat video call Bintang tiba-tiba terputus padahal Syiela sudah bersiap berendam sambil video call bersama suaminya tersebut.
"Ada apa, Syiela!" Tanya Elang yang sydah kembali dari dapur seraya membawa segelas air untuk Syiela.
"Ponsel Bintang tiba-tiba mati!" Jawab Syiela saat mencoba untuk menghubungi Bintang, namun malah operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor Bintang sedang tidak aktif.
"Mungkin batereinya habis," ujar Elang menerka-nerka.
"Ya, mungkin begitu!" Gumam Syiela membenarkan.
"Kau tidak pulang ke rumah orang tuamu?" Tanya Elang selanjutnya pada Syiela.
"Kau sedang mengusirku? Ini kan rumahku juga!" Sergah Syiela seraya bersedekap dan menatap tak senang pada Elang.
"Bukan begitu! Tapi Bintang kan sedang tidak ada dii rumah dan Papa Frans juga belum pulang. Jadi menurutku, lebih baik kau pulang saja ke rumah orang tuamu agar Bintang di sana juga tak berprasangka," tutur Elang yang langsung membuat Syiela tak jadi marah.
"Ck! Bintang bukan pria pencemburu, Elang! Jadi aku yakin dia tidak akan marah," jawab Syiela yakin.
"Aku akan mandi dulu!" Ujar Syiela seraya masuk ke kamarnya yang sekarang memang sudah pindah di lantai satu. Disaat bersamaan, ponsel Syiela berdering dan sang papi menelepon.
"Halo, Pi!" Sambut Syiela cepat.
"Kau masih di butik?"
__ADS_1
"Tidak! Syiela sudah di rumah Bintang!" Jawab Syiela cepat.
"Bukankah katamu Bintang sedang di luar kota?"
"Ya! Hanya ada Elang dan maid di rumah karena Papa juga belum pulang!" Ujar Syiela memberitahu sang papi.
"Pulanglah kesini kalau begitu! Mami sudah masak makanan kesukaanmu dan ada hal penting yang ingin papi bicarakan denganmu!"
"Begitu, ya! Baiklah, nanti Syiela akan pulang ke sana setelah mandi," tukas Syiela akhirnya.
"Cepatlah dan Papi tunggu!"
"Siap, Pi!" Pungkas Syiela seraya menutup telepon.
Syiela melempar ponselnya ke atas temoat tidur, lalu wanita itu segera masuk ke kamar mandi untuk berendam sekalian mandi.
****
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Syiela keluar dari kamar seraya menenteng tasnya.
"Mbak, Elang mana?" Tanya Syiela pada maid yang kebetulan melintas.
"Sudah ke kamarnya di atas, Nona!"
"Oh," Syiela bergegas naik tangga untuk menemui Elang sekalian berpamitan. Syiela juga akan memastikan kalau Elang memang sudah sehat dan tak demam lagi.
"Elang!" Syiela mengetuk pintu kamar Elang.
Tak butuh waktu lama dan pintu sudah dibuka oleh sang empunya kamar.
"Ada apa?" Tanya Elang seraya memindai penampilan Syiela.
"Kau mau pergi?" Tanya Elang lagi.
"Ya, tadi papi menelepon dan katanya mau bicara hal penting padaku. Jadi aku akan pulang ke rumah papi." Terang Syiela yang langsung membuat Elang mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kau sudah benar-benar sehat?" Tanya Syiela memastikan.
"Sudah! Aku sudah sehat!" Jawab Elang bersungguh-sungguh.
"Syukurlah kalau begitu!"
"Nanti malam jangan begadang dan istirahat yang cukup!" Pesan Syiela seraya menepuk pundak Elang.
"Ya! Terima kasih karena sudah merawatku hari ini," ucap Elang tulus.
"Sama-sama! Aku pulang dulu ke rumah papi!" Pamit Syiela selanjutnya pada Elang seraya berbalik. Namun saat Syiela baru akan menuruni tangga, Elang kembalu memanggilnya.
"Syiela!"
"Ya!"
"Kau pulang diantar supir, kan?" Tanya Elang memastikan.
"Tidak! Aku mengemudi sendiri-"
"Ini sudah malam!" Sergah Elang mengingatkan Syiela. Prianitu lalu menghampiri Syiela dan mengandung tangan Syiela, lalu keduanya menuruni tangga berdua
"Tidak baik wanita menyetir sendiri malam-malam!" Ujar Elang lagi pada Syiela.
"Lalu kau akan mengantarku?" Tanya Syiela sedikit menggoda Elang.
"Tidak! Supir yang akan mengantarmu!" Jawab Elang seraya memanggil supir yang akan mengantar Syiela pulang.
"Ck! Pemaksa sekali kau ini!" Decak Syiela seraya meninju pundak Elang.
"Silahkan masuk ke mobil!" Elang membukakan pintu mobil untuk Syiela yang hanya tertawa kecil.
"Pakai sabuk pengamanmu!" Titah Elang lagi bawel sekali.
"Iya!"
"Bye!" Syiela melambaikan tangan oada Elang, saat pria itu menutup pintu mobil.
Tak berselang lama, mobil Syiela sudah melaju meninggalkan kediaman Mahardika.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.