Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
KEMANA?


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, Bintang akhirnya diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan. Bintang juga masih harus memakai tongkat untuk membantunya berjalan.


Mungkin ini adalah tindakan Bintang yang paling konyol seumur hidup karena dirinya yang membuat kakinya sendiri cedera hanya demi membatalkan rencana liburan ke kota Z.


"Hati-hati!" Syiela membimbing Bintang untuk masuk ke dalam kamar mereka yang memang berada di lantai bawah.


"Kata dokter tak akan lama," ucap Bintang seraya menatap pada kakinya sendiri.


"Tapi kau tetap harus memakai tongkat kemana-mana agar kakimu lekas sembuh!" Ujar Syiela memperingatkan Bintang.


"Iya, Sayang!" Jawab Bintang yang sudah sok-sokan merayu Syiela lagi.


Syiela hanya berdecak, lalu wanita itu memeriksa isi tasnya dan seperti hendak pergi.


"Kau mau kemana?" Tanya Bintang pada sang istri.


"Ke butik. Aku ada janji dengan klien," jawab Syiela yang sudah ganti duduk di depan meja rias, lalu sedikit memberikan re-touch untuk riasannya.


"Kau tidak di rumah saja dan merawatku, Syiela?" Tanya Bintang manja.


Bintang mendadak ingat pada Vaia yang selalu telaten merawatnya saat ia sedang sakit. Tapi Vaia bukan wanita karier seperti Syiela, jadi wajar jika wanita itu punya lebih banyak waktu untuk merawat Bintang.


"Ada banyak maid di rumah ini dan jika lau butuh sesuatu kau bisa memanggil maid, Bintang! Tidak usah manja!" Tukas Syiela yang sepertinya masih kesal dengan batalnya liburan mereka ke kota Z.


"Kau masih marah padaku karena tak jadi ke kota Z?" Tebak Bintang yang langsung membuat Syiela mendengus.


"Tak usah lagi membahasnya! Aku sudah terlambat bertemu klien!" Jawab Syiela malas. Syiela berpamitan sebentar pada Bintang, sebelum kemudian wanita itu berangkat ke butik dan meninggalkan Bintang sendirian di dalam kamar.


Ya, setidaknya Bintang bisa bebas video call bersama Vaia setelah ini karena Syiela tak ada di rumah.


****


"Kau yakin, mau ikut ke rumah Opa, Vaia?" Tanya Bunda Vale sekali lagi pada Vaia yang sedang membereskan peralatan lukisnya.


"Vaia ada janji bertemu customer yang tinggal di kota N, Bunda," tukas Vaia beralasan.


"Masih mual?" Gantian ayah Arga yang bertanya pada Vaia.


"Sudah tidak terlalu sering," jawab Vaia yakin.


"Kalau begitu, kita naik pesawat saja, Vale! Agar Vaia tidak kelelahan," ujar Ayah Arga selanjutnya pada Bunda Vale.


"Nanti ayah mabuk!" Celetuk Vaia mengingatkan sang ayah.


"Enggak! Cuma satu jam, ayah akan tahan!" Jawab Ayah Arga bersungguh-sungguh.


"Nanti Bunda akan bawa banyak kantong muntah," tukas Bunda Vale yang langsung membuat semuanya tergelak.


Saat itulah, ponsel Vaia tiba-tiba berdering karena ada video call masuk dari Bintang.


"Vaia angkat telepon dulu, Bund!" Pamit Vaia yang bergegas masuk ke kamar, sebelum mengangkat telepon dari Bintang. Setelah dua hari kemarin Bintang sulit dihubungi, akhirnya sekarang Bintang menelepon Syiela juga.

__ADS_1


"Halo-"


"Hai, Sayang!" Sapa Bintang yang langsung membuat Vaia tersenyum bahagia.


"Kau kemana saja? Kenapa tak mengangkat teleponku dua hari kemarin?" Keluh Vaia to the point.


"Iya, maaf! Ponselku tertinggal di loker, jadi aku tak tahu kau menelepon." Ujar Bintang beralasan.


"Bagaimana ceritanya ponselmu bisa tertinggal? Sehari sebelumnya kau sempat me-reject teleponku juga!" Vaia kembali mengingatkan Bintang.


"Yang itu karena aku sedang bekerja dan ada atasan yang mengawasi." Bintang kembali beralasan dan Vaia memilih untuk mengangguk mengerti.


Mungkin memang sudah jadi resiko Bintang yang bekerja di divisi bawah. Bintang tak bisa bebas memegang ponsel seperti karyawan di divisi atas.


"Jadi bagaimana soal tempat tinggal yang tempo hari kita bicarakan? Kau sudah mencari kost yang mungkin bisa kita tempati agar aku bisa menyusulmu kesana?" Tanya Vaia selanjutnya menagih janji Bintang tempo hari yang katanya akan mengajak Vaia untuk tinggal di kota S dan mengakhiri hubungan LDR mereka.


"Aku belum ada waktu, Sayang! Maaf, ya!" Tukas Bintang beralasan seraya menampilkan raut bersalah di wajahnya.


"Baiklah tidak masalah! Sepertinya kau sedang banyak pekerjaan belakangan ini," Vaia tertawa kaku dannsekali lagi berisaha memahami kondisi Bintang.


Bukankah menikah itu memang untuk saling menerima dan memahami?


"Iya, sedang banyak pekerjaan. Terima kasih atas pengertianmu," Bintang tersenyum tulus pada Vaia.


Disaat bersamaan, terdengar suara Bunda Vale dari ambang pintu kamar Vaia.


"Vaia, pesawat berangkat jam sebelas! Kita ke airport satu jam lagi!"


"Mau kemana?" Tanya Bintang yang turut mendengar ucapan Bunda Vale tadi.


"Ke rumah Opa! Ada acara keluarga," jawab Vaia yang langsung membuat Bintang mengangguk.


"Maaf aku tak bisa ikut datang bersamamu, Sayang!" Ucap Bintang kembali merasa bersalah.


"Tidak apa, Bintang! Kau kan sedang kerja di sana." Sekali lagi, Vaia mencoba memaklumi kondisi Bintang.


"Sampaikan salamku untuk Opa Theo, Oma Airin, dan semua keluarga besarmu." Ucap Bintang lagi berpesan pada Vaia.


"Nanti aku sampaikan!"


"Tapi ngomong-ngomong, kau tidak masuk kerja hari ini?" Tanya Vaia selanjutnya karena melihat Bintang yang masih memakai baju rumahan.


"Aku masuk siang, nanti jam sepuluh," ujar Bintang beralasan sambil mengarang tentu saja.


"Oh."


"Aku harus berkemas, Bintang!" Ujar Vaia selanjutnya pada sang suami.


"Jangan matikan video callnya. Aku akan menemanimu berkemas, mumoung aku ada waktu luang."


"Baiklah!" Vaia tersenyum dan lanjut berkemas sambil mengobrol bersama Bintang via video call.

__ADS_1


****


Malam menjelang....


"Pelan-pelan!" Syiela membimbing Bintang untuk duduk di ruang makan. Wanita itu lalu duduk di samping Bintang setelah memastikan Bintang sudah duduk dengan benar.


"Ngomong-ngomong, Elang tidak ikut makan malam, Pa?" Tanya Syiela pada Papa Frans.


Bintang yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulut, berhenti sejenak dan mengingat-ingat kalau Elang memang tak terlihat di rumah sejak kemarin. Entah kemana perginya saudara angkat Bintang itu! Apa mungkin tertimbun berkas-berkas di kantor karena harus menggantikan pekerjaan Bintang selama beberapa hari terakhir?


"Elang sudah tak tinggal disini, Syiela! Dia sudah pindah ke apartemennya," jawab Papa Frans seraya menerawang.


"Anak angkatmu itu semakin tidak tahu diri, Frans!"


"Bisa-bisanya dia pergi bersama Syiela di saat Bintang sedang terbaring di rumah sakit! Apa memamg yang dia pikirkan?" Ungkap Papi Dana dengan emosi meluap-luap, saat papi kandung Syiela itu melaporkan kelakuan Elang pada Papa Frans.


"Elang dan Syiela kan bersahabat sejak dulu, Dana! Jadi mungkin mereka hanya tak sengaja bertemu tadi-"


"Bersahabat?" Sergah Papi Dana memotong kalimat Papa Frans.


"Apa kau masih belum paham dengan yang lukatakan tempo hari tentang Elang yang selalu menatap Syiela bukan dengan tatapan seorang sahabat! Melainkan tatapan penuh ketertarikan!" Tegas Papi Dana yang langsung membuat Papa Frans bungkam.


"Saat ini mungkin Elang masih menjadi sahabat Syiela! Tapi besok atau lusa! Jika kita terus memberikan celah Elang untuk dekat-dekat dengan Syiela, bukan tak mungkin akan terjadi hubungan terlarang di antara mereka!"


"Kau mau rumah tangga Bintang dan Syiela rusak karena kehadiran orang ketiga yang tak lain dan tak bukan adalah anak pungutmu itu sendiri?" Cecar Papi Dana berapi-api seolah pria paruh baya ini begitu benci pada Elang.


"Nanti aku akan bicara pada Elang," janji Papa Frans akhirnya.


"Jangan hanya bicara! Tapi lakukan tindakan tegas!"


"Jika Elang masih berkeliaran di rumahmu, Syiela tak usah tinggal lagi di rumahmu! Biarkan Syiela dan Elang pulang ke rumah kami!"


"Kenapa Elang pindah ke apartemen, Pa? Mendadak sekali?" Pertanyaan dari Bintang segera membuyarkan lamunan Papa Frans.


"Papa juga tidak tahu." Jawab Papa Frans seraya mengendikkan bahu.


"Elang hanya mengatakan kalau renovasi di apartemennya sudah selesai, itulah alasan di pindah ke apartemen," jelas Papa Frans yang langsung dimengerti oleh Bintang.


"Padahal lebih bagus tinggal disini agar suasana rumah juga lebih ramai," pendapat Syiela seraya menatap bergantian pada Papa Frans dan Bintang yang justru kini menatap aneh pada Syiela.


"Mungkin kau dan Bintang bisa mulai promil dan memberikan cucu untuk Papa agar rumah ini lebih ramai, Syiela!" Ujar Papa Frans akhirnya mencairkan suasana sekaligus memberikan saran untuk Syiela.


"Iya, Pa! Syiela akan membicarakannya dengan Bintang nanti."


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2