Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
VAIA SIAPA?


__ADS_3

Bintang tak berhenti menatap ke luar jendela, sejak mobil yang ia tumpangi meninggalkan bandara kota Z. Bintang seolah merasa tak asing dengan pemandangan dari tempat yang kini ia lalui.


Apa sebelumnya Bintang sudah pernah kesini?


"Pak, apa tempatnya masih jauh?" Tanya Bintang pada supir yang mengantarnya.


"Sebentar lagi sampai, Pak Bintang!" Jawab siupir sambil terus melajukan mobil melalui jalanan yang mulai berkelok.


Dari kejauhan, Bintang bisa melihat birunya laut.


Laut?


Pasti ada pantai di sana!


Namun tepat di persimpangan jalan, mobil yang mengantar Bintang justru berbelok dan menjauh dari laut yang tadi sudah terlihat semakin jelas.


Apa?


"Pak, bukankah lautnya di sebelah sana tadi?" Tanya Bintang lagi pada supir yang mengantarnya.


"Benar, Pak Bintang! Tapi untuk lpkasi proyeknya ada di dekat danau." Jelas supir.


"Bukan di dekat pantai, ya?" Bintang bergumam bingung.


"Lalu apa pantainya masih jauh lagi? Tadi sebelum persimpangan aku melihat lautnya sudah sangat jelas." Tanya Bintang lagi pada supir.


"Tidak terlalu jauh dari persimpangan tadi, Pak!"


"Tinggal ambil jalur yang paling kanan jika ingin ke pantai. Lalu lurus terus ikuti jalan sekitar lima menit sudah sampai di pantai. Ada dermaga juga di jalur yang sama,yang biasa menjadi persinggahan para turis yang akan ke pulau seberang," jelas pak supir panjang lebar.


"Jalurnya yang mana?"


"Lurus, Ayah!" Seru seorang gadis berponi berusia sekitar tujuh tahun. Gadis itu sedang duduk bersama bocah laki-laki kisaran umur sepuluh tahun serta seorang pria yang berada di belakang kemudi yang wajahnya hanya samar.


Tapi dari cara gadis itu memanggilnya, sangat jelas kalau pria yang mengemudi itu pastilah ayah dari si gadis kecil dan si bocah laki-laki.


"Bukankah lautnya di sebelah sana?" Celetuk si bocah laki-laki menunjuk ke arah kanan mobil.


"Iya, tapi rumahku di jalan yang lurus!"


"Tidak terlalu jauh, kok! Nanti kalau ke pantai juga tinggal ke persimpangan ini, lalu ambil jalur yang itu!" Jari si gadis kecil menunjuk ke arah jalur sebelah kanan. Mobil memang berhenti sejenak karena ada antrean kendaraan dari arah pantai ke arah danau.


"Lalu kalau belok kiri kemana?" Tanya si bocah laki-laki lagi.


"Ke danau." Jawab pria dewasa yang duduk di belakang kemudi. Raut wajahnya terlihat sendu.


"Dekat tempat tinggal Paman dan Bibi, ya, Ayah?" Tanya si gadis kecil yang langsung ingat.


"Paman dan Bibi sudah bahagia di surga, Vaia!"


"Vaia!"


"Va.....i....aaa."


"Va....i....aaa."

__ADS_1


"Pak Bintang, kita sudah sampai!" Ucapan dari supir langsung menyentak lamunan Bintang. Pria itu menatap linglung ke sekelilingnya saat nama si hadis kecil berponi tadi kembali berkelebat di benaknya.


Vaia?


Siapa Vaia?


Kenapa namanya terdengar tak asing?


"Pak Bintang, kita sudah sampai!" Ucap supir sekali lagi pada Bintang yang langsung memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Aaaaaaakkkhh!" Bintang sedikit mengerang, saat merasakan ribuan jarum yang seolah sedang menusuk kepalanya sekarang.


"Pak Bintang! Bapak sakit?" Tanya supir khawatir.


Bintang menggeleng dan berusaha menarik nafas panjang.


"Saya antar ke klinik, ya, Pak!" Tawar supir lagi tapi Bintang tetap menggeleng. Setelah berulang kali menarik nafas panjang, sakit di kepala Bintang berangsur mereda.


"Saya baik-baik saja, Pak!" Ucap Bintang akhirnya pada supir yang wajahnya sudah sangat khawatir.


"Syukurlah kalau begitu, Pak Bintang!" supir segera turun, lalu membukakan pintu mobil untuk Bintang.


"Silahkan, Pak! Lokasi proyeknya di sana!" Supir menunjuk ke lokasi proyek yang memang sudah di pagari oleh seng di sekelilingnya. Saat ini pembangunan baru di tahap awal. Nantinya akan ada hotel milik Mahardika's Company berdiri di tempat ini.


Bintang langsung diantar masuk ke dalam lokasi proyek oleh supir yang mengantarnya tadi. Bintang juga lanjut bertemu para pekerja serta penanggung jawab lapangan yang menjelaskan semua progress pembangunan secara detail pada Bintang, termasuk rencana tentang fasilitas apa saja yang akan ada di hotel yang baru dibangun ini. Bintang lalu diajak berkeliling untuk melihat proses pembangunan.


"Perhatikan keselamatan para pekerja!" Bintang menunjuk ke beberapa pekerja yang tak mengenakan helm keselamatan yang seharusnya mereka gunakan selama di dalam proyek.


"Baik, Pak!"


Aneh!


Apa Bintang pernah bekerja sebagai pekerja bangunan proyek juga sebelum amnesia?


Bintang berjongkok dan mengecek satu per satu kwalitas dari bahan bangunan, seolah ia paham. Tapi Bintang merasa kalau ia memanglah paham.


"Pak Bintang, nanti tangan anda kotor!" Ujar Mandor bangunan mengingatkan.


"Aku bisa cuci tangan," jawab Bintang santai.


"Lalu para pekerja disini warga lokal atau memang pendatang?" Tanya Bintang selanjutnya.


"Ada beberapa warga lokal, tapi sebagian besar berasal dari luar kota, Pak! Karena kami mencari yang benar-benar berpengalaman dan bukan sekedar tukang bangunan saja." Jelas mandor yang menemani Bintang berkeliling.


"Mereka tinggal di gedung itu?" Tanya Bintang selanjutnya menunjuk ke bangunan di sudut lokasi proyek."


"Benar sekali!"


"Nanti Pak Bintang juga bisa tinggal di sana. Ada satu bangunan VIP yang bisa Pak Bintang tempati-"


"Bintang! Kenapa kau ada di sini?" Sapa Papa Frans yang memang sudah terlebih dahulu datang sejak dua hari lalu. Hari ini Papa Frans akan pergi ke kota lain, jadi otu alasan beloau menyuruh Elang datang untuk menggantikannya.


"Elang sedang sakit, Pa! Jadi Bintang menggantikannya," jelas Bintang pada sang papa.


"Tumben! Jarang sekali Elang sakit." Papa Frans terlihat tak percaya.

__ADS_1


"Elang bukan robot, Pa! Jadi tentu saja di bisa sakit!" Sergah Bintang sedikit kesal pada Papa Frans yang seolah tak pengertian pada kondisi Elang.


"Iya, papa percaya!"


"Lalu Syiela ikut kesini? Kalian mau sekalian honeymoon kedua?" Tanya Papa Frans lagi.


"Syiela sedang banyak pekerjaan, jadi dia mungkin akan menyusul saja kalau sudah longgar," jelas Bintang beralasan


"Ck! Pengantin baru kenapa malah LDR?" Decak Papa Frans menyayangkan.


"Kami sama-sama sibuk, Pa! Jadi tak perlu dipermasalahkan hal seperti ini!" Ujar Bintang mencoba memberikan pengertian oada sang papa.


"Iya!"


"Kau sudah berkeliling tadi?" Tanya Papa Frans mengalihkan pembicaraan.


"Sudah!" Jawab Bintang cepat.


"Ada pantai di dekat sini, barangkali kau nanti merasa bosan dan ingin ke pantai," ujar Papa Frans selanjutnya memberitahu Bintang.


"Bintang tahu! Ada dermaga dan resort juga di jalur ke arah pantai, dan ada beberapa pulau indah tak jauh dari sini." Jelas Bintang panjang lebar yang Bintang sendiri tidak tahu kenapa ia bisa hafal sedetail itu.


"Kau malah sudah tahu semuanya!" Papa Frans tertawa kecil.


"Apa supir yang memberitahumu?"tanya Papa Frans lagi.


"Syiela yang memberitahu!" Jawab Bintang tergagap.


"Syiela? Dia pernah kesini?" Papa Frans mengernyit penuh tanda tanya.


"Sepertinya," Bintang mengendikkan kedua bahunya dan Papa Frans hanya manggut-manggut.


"Papa harus mengejar pesawat," ujar Papa Frans selanjutnya seraya melirik arlojinya.


"Ya!" Jawab Bintang seraya meraih tangan Papa Frans dan menciumnya.


"Hati-hati, Pa!" Pesan Bintang pada Papa Frans yang sudah berjalan keluar dari area proyek.


"Apa ada kendaraan yang bisa aku pakai mobilitas?" Tanya Bintang selanjutnya pada pak mandor yang sejak tadi masih berdiri di sampingnya.


"Ada satu mobil beserta supir-"


"Aku tidak akan memakai supir!" Sela Bintang cepat.


"Aku sudah hafal tempat-tempat di sini, lanjut Bintang lagi.


"Baiklah kalau begitu, Pak! Nanti supir akan memberikan kunci mobilnya pada Pak Bintang."


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2