Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
PULANGLAH!


__ADS_3

"Ini bayaranmu hari ini!"


Bintang menerima uang yang diangsurkan kepadanya, lalu memandangi uang yang jumlahnya tak seberapa tersebut.


Ya, Bintang memang menjadi pekerja lepas di pelabuhan yang tak jauh dari rumah Vaia, agar ia bisa tetap punya penghasilan. Bintang tak mau lagi memakai uang Papa Frans, sekalipun statusnya adalah anak kandung papa Frans dan sang pewaris tunggal.


Bintang tidak mau!


Biarlah Bintang kembali ke kehidupannya yang keras seperti dulu, asal ia tak lagi jauh dari Vaia.


Langit sudah hampir gelap, saat Bintang meninggalkan pelabuhan. Pria itu mampir ke sebuah warung makan untuk mengisi perut terlebih dahulu, sebelum lanjut pergi ke rumah Vaia. Bintang sengaja berjalan kaki ke rumah Vaia, sekali lagi untuk menghemat biaya. Masalah tempat untuk tidur setiap malam, biasa Bintang akan tidur di teras rumah Vaia atau di depan toko milik Ayah Arga.


Setelah berjalan kaki sekitar dua puluh menit, Bintang akhirnya sampai di rumah Ayah Arga. Ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Ayah Arga, namun Bintang tak terlalu menghubrisnya, dan pria itu langsung masuk ke halaman.


Tapi saat Bintang baru saja akan naik tangga teras, tiba-tiba ada suara tak asing yang memanggilnya.


"Bintang!"


Bintang refleks menoleh, dan Elang terlihat menutup pintu mobil yang tadi berhenti di depan rumah Ayah Arga.


Sedang apa pria itu disini?


Sedang melaksanakan perintah Papa Frans untuk menyeret Bintang pulang?


"Kau sedang apa disini? Papa menyuruhmu untuk membujuk aku pulang?" Tanya Bintang ketus seraya menatap tak senang pada Elang.


"Papa sedang terbaring di rumah sakit, Bintang!"


Bintang lumayan terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Elang. Benarkah itu?


Tapi bukankah waktu itu Papa masih baik-baik saja, saat ia menemui Bintang di rumah sakit?


Atau jangan-jangan ini hanya sebuah tipu muslihat?


"Dan papa terus memanggil namamu, jadi-"


"Aku tidak akan pulang!" Potong Bintang seraya menatap tegas pada Elang.


"Jangan egois, Bintang!" Sergah Elang yang wajahnya terlihat emosi.


"Kau putra kandung Papa Frans! Jadi bisakah kau peduli pada Papa Frans! Jangan jadi pria yang egois!" Sambung Elang lagi yang langsung membuat Bintang berdecih.


"Mungkin aku memang anak kandung Papa Frans! Tapi aku tak pernah mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan sebagai anak papa! Aku hanya pelampiasan ego papa!"


"Kau yang sejak dulu menjadi anak emas papa! Kau yang disekolahkan oleh papa, dianggap seperti anak papa! Jadi kenapa bukan kau saja yang mengurus pria itu Sekarang?" Ucap Bintang mengungkapkan semua uneg-uneg yang selama ini ia pendam.


Namun bukankah kenyataannya begitu?


Bintang hanya seperti orang bodoh saat ia duduk di kursi direktur Mahardika's Company!


Sangat wajar karena Bintang memang tak seperti Elang yang mungkin sejak kecil sudah diajari oleh Papa Frans bagaimana menjalankan sebuah perusahaan. Bintang hanya pria yang terbiasa bekerja keras di lapangan demi menyambung hidup.

__ADS_1


"Tapi papa mencarimu, Bintang! Papa terus memanggil-manggil namamu!"


"Pulanglah sebentar saja untuk menemui papa!" Mohon Elang yang sekali lagi pada Bintang yang hanya membisu.


"Jangan egois, Bintang!"


"Papa Frans adalah papa kandungmu!" Elang memperingatkan Bintang sekali lagi.


"Aku tidak peduli!" Jawab Bintang acuh seraya memalingkan wajahnya dari Elang.


"Kau benar-benar!" Elang menggeram penuh emosi, dan pria itu sudah mengangkat tinggi tangannya seolah siap melayangkan bogem mentah ke wajah Bintang.


Namun kemudian Elang kembali menurunkan tangannya dan tak jadi memukul Bintang.


"Semoga ini hanya kemarahan sesaat, dan kau akan berubah pikiran besok pagi!" Ucap Elang dengan suara bergetar, seperti sedang menahan emosi.


"Aku akan menunggumu di bandara besok pagi! Penerbangan pertama ke kota S jam sembilan pagi!"


"Aku tidak akan berubah pikiran!" Ucap Bintang lantang seraya berbalik dan meninggalkan Elang. Bintang dengan cepat naik ke teras rumah Vaia, lalu mendaratkan bokongnya di kursi teras dengan kasar. Pria itu mendengus berulang-ulang, bersamaan dengan Elang yang sudah berlalu pergi menaiki mobilnya.


****


"Pulanglah sebentar saja untuk menemui papa!"


"Jangan egois, Bintang!"


"Papa Frans adalah papa kandungmu!"


Vaia membuang nafas dengan kasar, lalu hendak keluar, saat tiba-tiba tangannya sudah dicekal oleh Bunda Vale.


"Mau kemana?" Tanya Bunda Vale penuh selidik.


"Vaia harus bicara padanya!" Jawab Vaia seraya mengendikkan dagunya ke arah Bintang yang masih tertunduk di teras.


"Kau masih mencintainya?" Tebak Bunda Vale yang langsung membuat raut wajah Vaia berubah.


"Dia tetap ayah dari calon bayi Vaia, Bund," ucap Vaia lirih seraya mengusap perutnya yang perlahan mulai membulat. Sesekali, Vaia juga sudah bisa merasakan gerakan dari sang calon bayi.


"Bunda akan menyiapkan makan malam," ujar Bunda Vale akhirnya seraya melepaskan tangan Vaia. Wanita paruh baya itu lalu langsung menghilang ke arah dapur.


Vaia menghela nafas, lalu keluar dan menghampiri Bintang yang masih menundukkan kepalanya.


Bintang yang seolah menyadari kehadiran Vaia, mengangkat kepalanya perlahan dan tatapannya seketika bertemu dengan tatapan Vaia kepadanya.


"Vaia," gumam Bintang yang langsung cepat-cepat bangkit berdiri. Kedua mata pria itu bahkan sudah berbinar sekarang, seolah Vaia sudah memberikan maaf untuknya.


"Pulanglah!" Ucap Vaia singkat namun tegas. Bintang sontak mengernyit, menandakan kalau ia tak paham dengan perintah Vaia barusan.


"Papamu sakit, Bintang! Jadi pulanglah dan jangan egois!" Vaia memperjelas kalimatnya.


"Aku akan pulang jika kau sudah memaafkanku-"

__ADS_1


"Jangan mencari-cari kesempatan!" Sergah Vaia memotong kalimat Bintang.


"Rumahku ada disini, jadi aku tak akan pulang kemanapun," ucap Bintang lagi tetap keras kepala.


"Ini bahkan bukan rumahmu!" Sinis Vaia pada Bintang.


"Bukan rumah ini, tapi kau!" Jelas Bintang yang langsung membuat Vaia terdiam.


"Kau adalah rumahku, Vaia! Jadi tolong....."


"Maafkan aku!" Ucap Bintang memohon. Tatapan pria itu juga begitu memelas sekarang.


Vaia memejamkan matanya dan merasatam tahan lagi dengan tatapan memelas Bintang. Wanita itu kemudian berbalik dan mendongakkan kepala, hanya demi menahan airmatanya agar tidak jatuh di depan Bintang.


"Vaia!" Bintang meraih tangan Vaia yang hendak pergi.


"Vaia, aku tahu perasaanmu padaku belum berubah-"


"Sudah berubah!" Sentak Vaia cepat dengan intonasi yang sudah meninggi.


"Perasaanku sudah lama berubah sejak...." Vaia berbalik dan akhirnya airmata wanita itu tak lagi terbendung.


"Sejak kau menipuku!" Cicit Vaia melanjutkan kalimatnya.


"Mustahil!" Ujar Bintang menyangkal.


"Kau masih mencintaiku! Kita masih saling mencintai!" Bintang kembali meraih jedua tangan Vaia.


"Tolong...."


"Tolong berikan aku satu kesempatan, Vaia!" Mohon Bintang sekali lagi.


"Demi calon anak kita!" Lanjut Bintang tetap dengan raut memohon. Pria itu bahkan sudah bersimpuh di atas kedua lututnya, tepat di hadapan Vaia.


"Please!" Mohon Bintang lagi seraya menggenggam erat tangan Vaia.


"Please, Vaia!"


Vaia menggeleng samar, lalu melepaskan tangan Bintang perlahan, meskipun Bintang sedikit menolaknya.


"Aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Vaia lirih seraya berbalik dan hendak meninggalkan Bintang.


"Sementara itu, kau bisa pulang dan merawat papamu, Bintang!"


"Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari," pungkas Vaia lirih seraya berlalu dari hadapan Bintang. Wanita itu lalu masuk ke rumah dan meninggalkan Bintang yang masih bersimpuh di teras rumah.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2