Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
KERAS KEPALA


__ADS_3

"Berapa usia kandunganmu?" Tanya Ayah Arga membuka obrolan. Ayah dan putrinya itu sudah tiba di pantai yang memang letaknya tak jauh dari rumah.


"Dua puluh minggu, Ayah," jawab Vaia seraya mengusap perutnya yang mulai menunjukkan bentuknya. Menandakan kalau calon anak Vaia tumbuh sehat di dalam sana.


Ya, calon bayi Vaia memang sehat dan ukurannya sesuai dengan usia kandungan. Kemarin Vaia baru saja melihatnya melalui USG.


"Sudah kelihatan jenis kelaminnya?" Tanya Ayah Arga lagi dan Vaia langsung menggeleng.


"Belum, Ayah!"


"Kata Dokter masih ngumpet jenis kelaminnya," jawab Vaia seraya tertawa kecil. Namun meskipun Vaia tertawa, raut sendu masih nampak jelas di wajah wanita tersebut. Ayah Arga yang oeka langsung merangkul sang putri dan mengusap lembut pundak Vaia.


"Kau bisa cerita apapun pada Ayah, Va! Jangan ada yang dipendam," ucao ayah Arga lembut yang hanya membuat Vaia mengangguk. Wanita itu lalu berlinang airmata dan cepat-cepat menyusupkan wajahnya ke pelukan sang ayah.


"Vaia hanya ingin melupakan dia, Ayah!"


"Tapi Vaia tidak bisa!" Cicit Vaia di dalam pelukan ayah Arga.


"Semua butuh waktu, Va!"


"Vaia membencinya di satu sisi, tapi di sisi lain Vaia juga merindukannya-" suara Vaia tercekat dan wanita itu sudah sesenggukan sekarang.


"Kau bisa mengambil keputusan setelah nanti Vaia kecil lahir," saran Ayah Arga seraya mengusap lembut punggung Vaia.


"Ayah tak akan menghakimi, misalnya saat ini perasaanmu masih bimbang."


"Kau sedang mengandung anak Bintang dan sedikit banyak pasti ada ikatan emosional." Ayah Arga menangkup wajah Vaia, lalu mengusap airmata yang bercucuran di kedua pipi Vaia.


"Kau yang akan menjalani semuanya ke depan nanti. Jadi ayah yakin kalau kau akan mengambil keputusan yang terbaik setelah suasana hatimu membaik nanti."


"Saat ini yang terpenting, kau fokus saja dulu pada kehamilanmu." Ayah Arga mengusap perut Vaia.


"Ada Ayah, Bunda, Ezra, dan Gavin yang menjagamu disini dan sial mendengarkan apapun kelih kesahmu!"


"Kau tidak sendirian menghadapi semua ini, Vaia!" Ucap Ayah Arga lagi yang langsung membuat Vaia mengangguk. Wanita itu segera menghambur ke pelukan sang ayah dan kini hatinya sudah sedikit merasa lega.

__ADS_1


****


Bintang membuka mata, saat pria itu merasakan kepalanya yang masih berdebum sakit. Tangan kanan Bintang juga terasa nyeri, seperti tertusuk sesuatu....


Bintang mengangkat tangan kanannya, dan langsung terlihat jarum serta selang infus yang tertancap di tangannya tersebut.


"Ck!" Bintang berdecak dan mendadak merasa kesal pada dirinya sendiri. Pria itu lalu berusaha untuk melepaskan jarum infus dari tangannya saat tiba-tiba pintu kamar perawatan dibuka dari luar


"Bintang! Kau sedang apa?" Papa Frans langsung menghampiri Bintang dan mencegah tindakan konyol putranya tersebut.


"Bintang sudah sehat, Pa!"


"Dan Bintang akan kembali menemui Vaia-"


"Tidak usah lagi memikirkan wanita itu!" Sela Papa Frans murka.


"Wanita itu yang sudah membuat pernikahanmu bersama Syiela menjadi hancur!" Ucap Papa Frans lagi penuh emosi.


"Vaia tidak tahu apa-apa!" Sergah Bintang cepat membela Vaia.


"Dan asal Papa tahu! Bintang dan Vaia sudah menjalin hubungan, jauh sebelum Bintang bertemu Papa, bertemu Syiela ataupun menikah dengan Syiela!"


"Papa yang keterlaluan karena sudah menjodohkan Bintang dan Syiela saat Bintang hilang ingatan!"


"Papa egois!" Ucap Bintang yang ganti menatap sengit pada Papa Frans.


"Papa bukan egois!" Sanggah Papa Frans cepat.


"Kau adalah putra Papa, Bintang! Jadi Papa punya hak penuh untuk memperbaiki dan mengatur hidupmu!" Ucap Papa Frans lagi berapi-api.


"Kau adalah pewaris tunggal semua harta dan kekayaan Papa, Bintang! Jadi sudah seharusnya kau menikah dengan wanita yang sepadan!" Ujar Papa Frans lagi penuh ambisi.


"Pewaris tunggal?" Bintang berdecih mendengar kata-kata sang papa.


"Pewaris tunggal yang sejak kecil papa telantarkan dan tak pernah mendapatkan kehidupan yang layak?" Bintang menyindir sang papi yang langsung terhenyak.

__ADS_1


"Papa bahkan tak pernah menampakkan diri saat Ibu berjuang melawan sakitnya sambil tetap bekerja hanya agar Bintang bisa makan!" Ujar Bintang lagi panjang lebar seolah sedang menceritakan bagaimana kerasnya hidup BintangĀ  dulu.


"Papa memang egois sejak dulu!"


"Yang papa pikirkan hanya kepentingan papa!" Teriak Bintang lagi, sembari pria itu menarik jarum infus dari tangannya. Darah segar langsung mengalir dari tangan Bintang.


"Bintang, kau berdarah," raut wajah Papa Frans sudah berubah khawatir sekarang.


Namun Bintang malah berekspresi seolah tak peduli. Pria itu menyibak selimut, lalu turun dari atas tempat tidur dan sedikit terhuyung.


"Bintang-"


"Awas!" Bintang menyentak kasar tangan Papa Frans yang hendak menahannya.


"Bintang akan terus memperjuangkan pernikahan Bintang dan Vaia!" Ucap Bintang dengan suara lantang, sebelum kemudian pria itu membuka pintu kamar perawatan. Beberapa pengawal papa Frans langsung menahan dan mencegat Bintang di depan pintu.


"Lepaskan aku!" Sentak Bintang galak dan penuh emosi.


"Lepaskan aku!"


"Minggir kalian semua!" Bintang terus meronta, saat pengawal papa Frans menahan serta mencekal tangannya.


"Bintang, tanganmu harus diobati agar tidak infeksi!" Ucap Papa Frans yang sudah keluar dari kamar perawatan.


"Bintang tidak mau!"


"Aaarrrgggh! Lepas!" Bintang terus meronta-ronta dengan sekuat tenaga.


"Lepaskan dia!" Perintah papa Frans akhirnya pada para pengawalnya.


Bintang yang kini sudah bebas, sontak mendelik pada sang papa, sebelum kemudian pria itu berlalu pergi meninggalkanmu Ppaa Frans dan para pengawalnya.


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2