Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
MASIH KERAS KEPALA


__ADS_3

"Dasar tidak becus!" Maki Papa Frans setelah menerima laporan dari anak buahnya, yang mengatakan kalau mereka tak tahu tentang keberadaan Bintang di kota Z. Papa Frans akhirnya mengusir anak buahnya agar keluar dari ruang kerjanya. Pria paruh baya itu lalu duduk di kursi kerjanya, dan memikirkan cara untuk mengetahui keberadaan Bintang, saat tiba-tiba ada pemberitahuan di ponselnya yang membuatnya terhenyak.


Ada informasi mengenai penarikan sejumlah uang dari kartu debet yang dipegang oleh Bintang.


Berarti Bintang masih berteansaksi dengan karti debet yang diberikan oleh Papa Frans!


Sebuah ide kemudian melintas di benak Papa Frans, dan pria paruh baya itu langsung bangkit dari kursinya, lalu keluar dari ruang kerja untuk selanjutnya mencari Elang.


****


Bintang meneguk air mineral di botolnya hingga tak ada yang tersisa. Pria itu masih terus menatap ke rumah keluarga Diba yang selama hampir satu bulan ini terus saja ia datangi. Bintang akan datang pagi-pagi, sebelum Ayah Arga membuka toko, lalu pergi saat hampir tengah malam, setelah Ayah Arga mematikan semua lampu di rumah.


Bintang masih menunggu Vaia memaafkannya, lalu mengizinkan Bintang untuk sekedar mengusap perutnya. Bintang bahkan seolah tak peduli lagi pada hidupnya, pada pekerjaannya, dan juga pada Syiela!


Syiela mungkin sudah mengurus surat perceraiannya bersama Bintang sekarang. Sia-sia saja Bintang membujuk dan memohon pada Syiela. Wanita itu keras kepala dan Syiela juga sudah sangat marah pada Bintang.


Jadi mungkin sekarang saatnya untuk Bintang memilih di antara Syiela dan Vaia. Dan Bintang memilih Vaia yang jelas-jelas sedang mengandung anaknya sekarang.


"Sedang menghitung apa?" Tanya Bintang pada Syiela yang sedang memelototi kalender duduk di tangannya.


"Jadwal datang bulan." Jawab Syiela yang hanya terdengar seperti sebuah gumaman.


"Kau terlambat? Mungkin hamil," seloroh Bintang yang langsung berhadiah delikan tajam dari Syiela.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Bintang tak mengerti. Syiela sudah kembali fokus pada kalender duduk di tangannya.


"Jadi, sudah terlambat berapa hari, Istriku?" Tanya Bintang seraya merangkul Syiela dengan sedikit genit.


"Lima hari," jawab Syiela ketus.


"Bagaimana kalau aku belikan testpack?" Tawar Bintang usil.


"Tidak usah!" Sergah Syiela yang langsung menyalak pada Bintang.


"Pasti efek dari aku yang terlalu lelah."


Beep beep!


Suara klakson motor Gavin membuyarkan lamunan Bintang tentang obrolannya bersama Syiela, di malam sebelum akhirnya Syiela dan Vaia bertemu di acara pernikahan sahabat Syiela.


Ya, malam itu Syiela mengatakan kalau ia terlambat datang bulan lima hari!


Jangan sampai Syiela juga sedang mengandung anak Bintang sekarang!

__ADS_1


Beep beep!


"Mau sampai kapan disini, Bang? Mengganggu pemandangan saja!" Omel Gavin pada Bintang yang hanya membisu.


"Baiklah! Kau adalah patung!" Gavin menuding ke arah Bintang.


"Dan aku tidak peduli!" Lanjut Gavin lagi dengan nada lebay. Adik bungsu Vaia itu sudah selesai memarkirkan motornya, dan lanjut naik ke teras,bersamaan dengan Vaia yang keluar dari rumah seraya menggamit lengan Bunda Vale.


Kedua mata Bintang langsung berbinar, dan pria itu cepat-cepat mendekat ke arah Vaia.


"Stop!" Gavin yang tadi sudah naik ke teras, kembali turun untuk mencegah Bintang mendekati sang kakak.


"Aku hanya ingin bicara pada Vaia, Gavin!" Ucap Bintang berusaha menerobos cegatan Gavin.


"Kak Vaia tidak mau bicara dengan Abang Bintang! Jadi pulang saja sana dan tak usah lagi sok-sokan menunggu untuk bisa bicara pada Kak Vaia!" Gertak Gavin dengan nada galak pada Bintang.


"Vaia, aku minta maaf!" Ucap Bintang yang masih berusaha untuk menerobos cegatan Gavin.


"Vaia!" Panggil Bintang lagi namun Vaia hanya acuh dan langsung masuk ke mobil bersama Bunda Vale.


"Gavin, Vaia mau kemana?" Tanya Bintang pada Gavin yang terus saja mencegahnya untuk bisa bertemu dengan Vaia.


"Kepo!" Cibir Gavin yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Bintang.


"Vaia!" Bintang mengetuk kaca jendela mobil ayah Arga.


"Vaia, aku minta maaf!" Mohon Bintang sambil terus eus menatap pada wajah Vaia yang tak sedikitpun membalas tatapannya.


"Vaia-"


"Pergi, Bang!" Gavin yang akhirnya menyeret Bintang agar menjauh dari mobil Ayah Arga. Tak berselang lama, mobil sidah melaju pergi meninggalkan kediaman Diba.


"Aaakkh!" Bintang menyentak tangan Gavin, dan pria itu segera menuju ke mobilnya, lalu dengan cepat menyusul mobil Ayah Arga yang tadi dikemudikan oleh Bunda Vale.


Vaia mau kemana?


****


Vai mer*mas kedua tangannya dan berulang kali menengok ke belakang, seolah sedang mencari sesuatu. Atau mencari Bintang lebih tepatnya, yang sekarang masih membuntuti mobil yang kini dikemudikan Bunda Vale tersebut.


"Kau yakin tidak mau bicara pada Bintang, Vaia?" Tanya Bunda Vale memecah keheningan di dalam mobil.


"Tidak!" Jawab Vaia tegas.

__ADS_1


"Ini hanya sebuah perasaan, bawaan dari kandungan Vaia!"


"Semuanya akan menguap pergi serelah Vaia melahirkan, Bund!"


"Semuanya akan menguap pergi!" Ucap Vaia berulang-ulang seolah wanita itu sedang berusaha meyakinkan dan mensugesti dirinya sendiri.


"Vaia sudah tidak mencintai Bintang!"


"Vaia sudah tidak-" Kalimat Vaia terhenti, saat tiba-tiba wanita itu terlihat meringis sembari memegangi perutnya.


"Vaia!" Bunda Vale bergegas menepikan mobil untuk memastikan keadaan Vaia.


"Vaia tidak mencintai Bintang-" Vaia mengulangi kalimatnya tadi dan wanita itu kembali meringis masih sambil memegangi perutnya.


"Vaia, kendalikan emosimu." Bunda Vale mengusap lembut punggung Vaia.


"Tarik nafas panjang perlahan," ucap Bunda Valr selanjutnya membimbing Vaia yang langsung menarik nafas panjang.


"Baiklah! Mama tidak benci pada papamu!" Ucap Vaia akhirnya seraya mengusap perutnya dengan frustasi. Dan rasa nyeri di perut Vaia pun berangsur hilang.


"Masih sakit?" Tanya Bunda Vale khawatir. Vaia langsung menggeleng.


"Kita lanjutkan perjalanan, ya!" Ajak Bunda Vale selanjutnya, yang tangannya suda mengusal perut Vaia.


"Jangan nakal, Sayang! Sehat-sehat di dalam," ucap Bunda Vale pada kandungan Vaia yang malah langsung membuat Vaia berurai airmata. Namun Vaia cepat-cepat menyeka airmatanya.


Seharusnya bukan Bunda Vale yang mengantar Vaia periksa!


Seharusnya bukan Bunda Vale yang mengusap perut Vaia sekarang.


Seharusnya...


"Vaia," tepukan lembut Bunda Vale langsung membuat Vaia menggeleng dan menyeka lagi sisa-sisa airmata di wajahnya.


"Ayo bergegas, Bunda. Nanti kliniknya keburu antri," ajak Vaia lirih yang langsung diiyakan oleh Bunda Vale. Mobil sudah kembali melaju menuju ke klinik kandungan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2