Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
KEGALAUAN VAIA


__ADS_3

Hari masih pagi, dan Vaia baru membuka pintu depan, saat sudah terlihat Bintang yang kini berdiri di undakan teras rumah.


Apa pria itu tidak pulang semalaman dan tidur di teras?


"Vaia!" Panggil Bintang yang hanya diabaikan oleh Vaia. Wanita itu segera berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Bintang yang hanya mampu membuang nafas dengan kasar.


Bintang bisa saja ikut masuk ke dalam rumab Ayah Arga, lalu langsung ke kamar Vaia, tapi bisa dipastikan kalau Bintang melakukan itu Ayah Arga malah akan mengusir Bintang dan tak akan lagi mengizinkan Bintang datang ke rumah ini.


Tak berselang lama, suara deru motor terdengar memasuki halaman rumah Ayah Arga. Bintang tentu dangat hafal dengan suara itu.


Ezra!


"Sedang apa disini pagi-pagi? Mengganggu pemandangan saja!" Omel Ezra seraya membuka helmmya. Tatapan adik Vaia itu langsung berubah tak senang saat melihat ke arah Bintang yang tetap berada di tempatnya semula.


"Pergi sana!" Usir Ezra selanjutnya pada Bintang yang tetap bergeming.


"Aku mau bicara pada Vaia-"


"Ezra! Kau membawakan pesananku?" Suara Vaia dari ambang pintu memotong kalimat Bintang yang belum selesai. Bintang lalu memperhatikan bungkusan yang dibawa oleh Ezra.


Sepertinya berisi makanan.


"Ya! Ezra beli di tempat yang agak jauh tadi, Kak! Yang biasanya tidak jualan," lapor Ezra seraya menaiki undakan teras, lalu langsung menghampir Vaia yang wajahnya sudah terlihat sumringah.


Sementara Bintang hanya bisa memperhatikan, saat Vaia dan Ezra akhirnya masuk ke dalam rumah dan mengabaikan Bintang begitu saja.


Tidak! Bukan itu yang membuat hati Bintang merasa tersentil. Namun keinginan Vaia yang bahkan tidak bisa Bintang penuhi. Posisi Bintang seolah sudah tergantikan oleh Ezra dan Gavin. Suami macam apa Bintang ini?


Bintang masih hanyut dalam lamunannya sendiri, saat deheman dari Bunda Vale membuat lamunan Bintang buyar.


"Pulanglah!" Bunda Vale menyodorkan bungkusan kertas pada Bintang yang langsung menatap memohon pada wanita paruh baya tersebut.


"Vaia tidak mau bicara padamu, Bintang! Jadi jangan keras kepala dan pergilah dari sini!" Usir Bunda Vale lagi lebih tegas seraya menatap tajam ke arah Bintang.


Sepanjang mengenal Bunda Vale, baru hari ini Bintang melihat Bunda sambung Vaia ini bicara dengan nada meninggi. Biasanya Bunda Vale selalu bersikap kalem dan lemah lembut.


Tapi itu dulu...


Saat Bintang belum berubah menjadi pria brengsek dan serakah!


Mungkin sekarang Bunda Vale juga sudah jengah pada Bintang, sama seperti halnya Ayah Arga, Ezra, Gavin, dan juga Vaia.


"Vaia yang meminta Bunda untuk memberikan sandwich ini padamu, lalu menyuruh kau pergi juga!"


"Jadi silahkan pergi!" Usir Bunda Vale sekali lagi.

__ADS_1


"Apa tidak ada kesempatan lagi untuk Bintang, Bunda?" Tanya Bintang berharap.


"Kesempatan?" Bunda Vale kini sudah ganti bersedekap.


"Wanita mana yang rela cintanya diduakan-"


"Bintang sudah berpisah dari Syiela, Bunda!" Sergah Bintang menyela.


"Lalu kamu pikir, setelah kamu berpisah dari Syiela, Vaia akan memaafkanmu, begitu?"


"Tidak semudah itu, Bintang!" Bunda Vale berucap pada Bintang dengan emosi.


"Apa kau pernah memikirkan sehancur apa hati Vaia!"


"Apa kau pernah memikirkannya?" Bentak Bunda Vale lagi semakin emosi.


"Valeria!" Panggil Ayah Arga dari dalam rumah yang langsung membuat Bunda Vale menarik nafas panjang.


"Pergilah dari sini!" Usir Bunda Vale untuk terakhir kalinya, sebelum wanita paruh baya itu berbalik dan masuk ke dalam rumah. Bintang hanya mbusu di teras sembari menatap pada bungkusan sandwich yang tadi diberikan oleh Bunda Vale.


"Maaf, Vaia!" Gumam Bintang lirih.


****


"Kok berhenti, Kak? Buburnya nggak enak, ya?" Tanya Ezra yang langsung membuat Vaia menggeleng.


"Enak, kok!"


"Tapi sudah kenyang," jawab Vaia seraya bangkit dari kursinya.


Ezra mengambil satu sendok baru, lalu mencicipi bubur ayam Vaia dan pemuda itu langsung manggut-manggut.


"Enak!" Komentar Ezra seraya menyuapkan bubur ayam lagi ke mulutnya.


"Kamu habiskan saja, Ezra! Aku sudah kenyang!" Ucap Vaia seraya berlalu dan masuk ke kamar. Bunda Vale yang baru kembali dari teras bersama Ayah Arga, sedikit mengernyit saat mendapati raut muram Vaia yang langsung masuk ke kamar.


"Buburnya Vaia sudah ha-" Bunda Vale belum menyelesaikan pertanya, saat wanita paruh baya itu melihat Ezra yang sedang asyik melahap bubur Vaia.


"Kenapa malah kamu makan buburnya Vaia, Ezra?" Tanya Ayah Arga seraya mendelik pada sang putra.


"Kak Vaia sudah kenyang katanya, Yah!" Jawab Ezra beralasan.


"Tapi buburnya masih banyak begitu," komentar Bunda Vale yang kembali ingat pada raut muram Vaia tadi. Wanita paruh baya itu cepat-cepat menyusul Vaia ke kamar.


Bunda Vale membuka perlahan pintu kamar Vaia, dan langsung mendapati Vaia yang sedang duduk seraya menghadap ke jendela kamar. Sementara Bintanasih duduk di undakan teras seraya memakan sandwich yang tadi diberikan oleh Bunda Vale.

__ADS_1


Vaia sepertinya sedang memandangi Bintang sekarang. Tapi kenapa Vaia melakukan hal tersebut?


Tak berselang lama, Vaia sudah bangkit berdiri dan mendekat ke jendela kamar, bersamaan dengan Bintang yang juga sudah bangkit berdiri dari undakan teras. Pria itu menatap sebentar ke arah pintu rumah, sebelum kemudian turun ke halaman dan akhirnya pergi dari rumah keluarga Diba.


Vaia terlihat menatap ke arah Bintang pergi dan menghilang, dan rait wajah wanita itu terlihat sedih. Vaia lalu mengusap perutnya sendiri, dan berbalik....


"Bunda?" Vaia terlonjak kaget, saat mendapati Bunda Vale yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Langit sedang cerah! Mau berjalan-jalan atau mungkin mencari makanan?" Tanya Bunda Vale tanpa sedikitpun membahas tentang sikap Vaia yang tak berhenti memandangi Bintang sebelum pria itu pergi tadi.


Vaia menggeleng.


"Vaia sedang tidak ingin makan apapun," jawab Vaia sembari memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya.


"Tidak lapar? Kau tadi hanya makan bubur sedikit, Vai!" Tanya Bunda Vale lagi khawatir.


"Tidak, Bunda! Vaua Mendadak kehilangan selera makan," ujar Vaia beralasan.


"Mungkin bawaan hamil," lanjut Vaia lagi seraya duduk di tepi ranjang.


"Baiklah kalau begitu!" Bunda Vale mengusap lembut kepala Vaia.


"Bunda dan Ayah akan ke toko. Nanti kalau kau butuh sesuatu-"


"Vaia jan menyusul ke toko dan mengatakannya pada Bunda," Potong Vaia melanjutkan kalimat Bunda Vale.


"Iya, begitu!" Bund Vale tertawa kecil, sebelum kemudia wanita paruh baya tersebut keluar dari kamar dan menutup pintu.


Vaia langsung menghampiri nakas di samping tempat tidur, lalu membuka almari kecil di bawah nakas tersebut. Wanita hamil itu mengeluarkan satu scrapbook dari dalam almari, lalu membukanya perlahan


Foto Vaia bersama Bintang di hari pernikahan mereka, menjadi gambar pembuka di halaman paling depan.


Vaia mengusap foto Bintang, lalu airmata wanita itu menetes begitu saja.


"Kenapa kamu melakukannya, Bintang?"


"Kenapa?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2