
Bintang yang sudah selesai meeting pagi, segera masuk ke ruangannya, lalu memeriksa ponsel. Pria itu baru ingat kalau pagi tadi Vaia meneleponnya, dan Bintang belum sempat menelepon balik istrinya tersebut. Segera Bintang menyamankan diri di kursi, sebelum ia mulai menelepon Vaia.
Telepon Bintang sudah langsung diangkat oleh Vaia di dering pertama.
"Halo, Sayang!" Sambut Vaia di ujung telepon.
"Halo, Sayang! Kau sudah bersiap-siap?" Tanya Bintang seraya membenarkan letak foto pernikahannya bersama Syiela di atas meja.
Ironis sekali!
Bintang sedang menelepon Vaia saat ini,namun pria itu malah memandangi fotonya bersama Syiela!
"Kau sudah dapat tiketnya?"
"Iya, Sayang! Aku sudah dapat tiketnya." Jawab Bintang cepat,bersamaan dengan pintu ruangannya yang dibuka dari luar. Bintang sedikit terlonjak saat Elang tiba masuk ke dalam ruangan Bintang.
"Elang!" Tegur Bintang sedikit tak senang.
"Maaf, Bintang! Seharusnya aku mengetuk dulu!" Ringis Elang yang akhirnya kembali keluar dari ruangan Bintang.
Ck!
Semoga Elang tak mendengar kalimat Bintang tadi!
"Sayang!"
"Iya, Sayang!" Jawab Bintang cepat setelah Elang sudah kembali keluar. Bintang bangkit dari duduknya dan ganti menatal pada jendela besar di ruangannya.
"Kau sedang bucara dengan seseorang?"
"Hanya rekan kerjaku!" Jawab Bintang menjelaskan.
"Oh!"
"Kau nanti ikut pulang bersamaku ke kota Z?"
"Aku tidak bisa ikut pulang bersamamu sementara ini. Tapi bulan depan aku janji kalau aku akan datang ke sana menemuimu, ya!" Jawab Bintang seraya berjanji pada Vaia.
Ya, bulan depan Bintang mungkin akan mencari alasan dulu untuk ke kota Z tanpa Syiela. Mungkin meninjau proyek lagi atau alasan lain!
"Begitu, ya! Berarti kita LDR lagi setelah ini?"
"Aku akan sering meneleponmu, Sayang!!" Janji Bintang sekali lagi.
"Lagipula, bukankah kemarin kita sudah sama-sama sepakat?" Imbuh Bintang lagi mencoba memberikan pengertian pada Vaia.
"Iya. Tapi mendadak aku jadi berat berpisah denganmu."
"Aku sebenarnya juga begitu, Sayang! Tapi aku belum punya tempat tinggal yang layak untukmu disini." Bintang kembali beralasan.
"Iya aku paham!"
"Pesawatku jam berapa? Kau akan menjemputku ke hotel? Atau aku harus ke airport sendiri?"
"Pesawatmu jam sebelas, Sayang! Kita bertemu di airport jam sepuluh!"
"Kau tidak menjemputku ke hotel? Pekerjaanmu banyak, ya? Baiklah! Kita bertemu di airport!"
"Bye!"
"Bye, Sayang!"
"I love you!"
__ADS_1
"I love you too! Bye!" Ucap Bintang sekali lagi sebelum telepon terputus.
Bintang berpikir sejenak tentang cecaran pertanyaan Syiela yang terakhir. Rasanya tidak benar jika Bintang membiarkan Vaia berangkat sendiri dari hotel menujubke airport.
"Aku akan menjemput Vaia ke hotel," gumam Bintang seraya menyambar buku agendanya, dimana terdapat tiket untuk Vaia di sana. Pria itu lalu berjalan ke arah pintu ruangannya yang ternyata tak sepenuhnya tertutup.
Bintang mengernyit, kemudian menarik gagang pintu tersebut dan langsung terlihat Elang yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan ruang kerja Bintang.
Apa Elang sedang menguping obrolan Bintang dan Vaia di telepon tadi?
"Elang!" Tegur Bintang yang langsung membuat Elang menunjukkan raut terkejut di wajahnya.
"Maaf, mengganggu! Aku hanya ingin minta tanda tanganmu di beberapa berkas," ujar Elang seraya menunjukkan map di tangannya pada Bintang.
Bintang mengangguk, dan masih berpikir apa Elang yadi mendengar obrolannya bersama Syiela atau tidak.
"Kau taruh saja dulu di meja! Aku harus ke toilet," ujar Bintang akhirnya karena mendadak Bintang merasakan kamdung kemihnya penuh cairan. Bintang harus segera ke toilet sekarang!
"Bukankah ada toilet di ruanganmu, Bintang?" Ujar Elang yang sontak membuat Bintang menepuk keningnya sendiri.
"Benarkah? Astaga! Bagaimana aku bisa lupa!" Bintang terkekeh lalu kembali masuk ke ruangannya. Pria itu meletakkan buku agendanya dengan serampangan ke atas meja, sebelum kemudian berlari menuju ke toilet di sudut ruangan.
Selang lima menit, Bintang yang sydah selesai menunaikan panggilan alamnya, keluar lagi dari toilet dan pria itu kembali dibuat mengernyit, saat mebdapati Elang yang masih betada di dalam ruangannya.
Bukankah tadi Bintang sudah menyuruh Elang meletakkan berkas yang harus ditandatangani di atas meja? Lalu kenaoa Elang tak langsung pergi dan masih berada di dalam ruang kerja Bintang?
"Elang, kau masih di sini?" Tegur Bintang yang sepertinya membuat Elang sedikit tersentak
"Berkasnya harus segera digunakan. Jadi bisakah kau menandatanganinya sekarang?" Ujar Elang seraya menunjuk ke berkas yang sudah ia letakkan di atas meja Bintang. Buku agenda Bintang masih berada di tempat semula, tepat di depan Elang, dan Bintang buru-buru mengambilnya. Ada tiket Vaia di dalam buku!
"Aku harus membacanya dulu, Elang!" Tukas Bintang yang langsung membuat Elang menagngguk.
"Aku akan menunggu!" Jawab Elang yang terlihat santai.
"Sudah selesai!" Bintang merapikan berkas ke dalam map, lalu menyodorkannya pada Elang yang masih menunggu sejak tadi.
"Terima kasih," ucap Elang kemudian.
"Aku ada agenda meeting jam sepuluh nanti?" Tanya Bintang selanjutnya pada Elang.
"Tidak ada! Pertemuan dengan klien masih nanti setelah makan siang," jawab Elang mengingatkan Bintang.
Bintang mengangguk paham.
"Aku akan pergi sebentar nanti jam sepuluh," ujar Bintang memberitahu Elang.
"Silahkan! Aku akan stand by di kantor nanti, agar jika sewaktu-waktu Papa datang, beliau tidak kan marah," tukas Elang seolahbsedqng berkelakar.
Tapi memang benar perkataan Elang. Kalau Papa Frans ke kantor dan Elang maupun Bintang tak ada di tempat, pria paruh baya itu pasti akan mengomel.
"Kau memang partner kerja yang terbaik, Elang!" Puji Bintang seraya menepuk punggung Elang. Bintang sudah kembali duduk di kursi kerjanya, saat Elang akhirnya pamit keluar seraya membawa berkas yang sudah ditandatangani oleh Bintang tadi.
Namun tepat saat Elang sampai di ambang pintu, Bintang kembali memanggil saudara angkatnya tersebut.
"Elang!"
"Ya!" Jawab Elang yang langsung menghentikan langkahnya.
"Kau tahu kapan Syiela akan pulang?" Tanya Bintang pada Elang.
Semalam setelah Bintang dan Syiela video call, lalu berakhir dengan ucapan yang sama-sama ketis, istri Bintang itu belum menghubungi apalagi mengirim pesan lagi pada Bintang.
Elang menjawab pertanyaan Bintang dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bertanya langsung saja pada Syiela?" Ujar Elang lagi memberikan saran.
"Sudah! Tapi Syiela tak mau mengatakannya dan katanya dia mau memberiku kejutan," Bintang tertawa kecil.
"Aku pikir mungkin kau lebih tahu, mrngingat kalian adalah sahabat dekat," ujar Bintang lagi. Bintang jadi ingat pada ucapan Syiela semalam tentang Syiela yang kerap bertukar pesan bersama Elang saat ponsel Bintang tak aktif.
Hhhh!
Jangan-jangan Elang dan Syiela sudah punya hubungan spesial?
"Syiela tak mengatakan apa-apa kepadaku," jawab Elang sekali lagi yang raut wajahnya terlihat bersungguh-sunggu..
"Baiklah, kalau begitu!"
"Aku hanya penasaran dengan kejutan dari Syiela," ujar Bintang lagi sambil terkekeh.
"Pastinya itu kejutan yang romantis, Bintang!" Timpal Elang menanggapi.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menyusul Syiela saja ke luar negeri? Tanya Elang selanjutnya, yang mirip dengan permintaan Syiela semalam.
"Ada banyak pekerjaan yang harus aku tangani disini dan aku merasa tak enak jika terus-terusan melimpahkan pekerjaanku kepadamu," jawab Bintang memaparkan alasannya sama seperti yang semalam ia kemukakan pada Syiela.
"Aku juga sudah merepotkanmu beberapa pekan lalu," sambung Bintang lagi.
"Sebenarnya bukan masalah dan aku juga tak terlalu keberatan. Tapi semua kembali pada keputusanmu sebagai tuan direktur," ucap Elang seraya tertawa. Meskipun tawa Elang terdengar sedikit aneh.
"Aku yang hanya bawahan menurut saja," lanjut Elang lagi merendah.
"Oh, ayolah, Elang! Aku belajar banyak darimu dan terima kasih atas kesabaranku untuk terus mengajariku!" ucap Bintang menatap bersungguh-sungguh pada Elang.
"Sudah jadi kewajibanku," jawab Elang diplomatis. Bintang langsung mengangguk mengerti.
"Oh, ya, Elang! Kau tahu toko oleh-oleh yang lengkap di kota ini?" Tanya Bintang selanjutnya pada Elang sebelum Elang benar-benar keluar dari ruangan Bintang.
"Ada di dalam bandara. Nanti aku kirimkan letak tokonya ke ponselmu. Mau membelikan oleh-oleh untuk siapa?" Tanya Elang lagi
"Untuk temanku," jawab Bintang berdusta.
Tidak mungkin juga Bintang mengatakan kalau ia mau membeli oleh-oleh untuk Vaia.
"Teman? Ingatanmu sudah kembali?" Tanya Elang yang langsung membuat Bintang sedikit tersentak. Namun Bintang langsung bisa dengan cepat menguasai diru.
"Belum!" Jawab Bintang meskipun sedikit tergagap.
"Teman yang aku maksud adalah salah satu klien dari Mahardika's Company," ujar Bintang menjelaskan.
"Oh!"
"Belikan saja yang ada di dalam bandara!" Saran Elang sebelum kemudian pria itu berlalu dan benar-benar keluar dari ruang kerja Bintang.
Pintu ruangan Bintang sudah ditutup dari luar, dan Bintang segera melihat arlojinya.
"Sebaiknya aku ke hotel sekarang!" Gumam Bintang seraya bangkit berdiri, lalu mengambil tiket untuk Vaia. Pria itu lalu keluar dari ruang kerjanya, dan tak lupa, Bintang juga berpamitan pada Elang sebelum pergi.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1