Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
SULIT DIHUBUNGI?


__ADS_3

"Harus Syiela yang pergi? Kenapa tidak menyuruh asisten Papi saja?"


"Ini urusan penting, Syiela! Dan kau putri papi. Kau yang akan mewarisi seluruh perusahaan milik keluarga kita!"


"Baiklah!" Ucap Syiela akhirnya merasa pasrah dengan perintah sang papi. Berdebqt dengan Papi Dana tidak akan ada habisnya dan Syiela juga sedang malas.


"Hanya tiga hari. Dan bukankah Bintang juga masih di luar kota?"


"Ya!" Jawab Syiela singkat.


"Kapan rencananya Bintang akan pulang?" Tanya Papi Dana lagi.


"Syiela belum tahu, Pi! Bintang sedikit sulit dihubungi beberapa hari ini," ujar Syiela seraya melihat layar ponselnya. Masih tidak ada pesan yang masuk dari Bintang.


Papi Dana tak bertanya lagi dan pria paruh baya itu sudah berlalu dari hadapan Syiela yang kembali mendes*h kecewa karena tak ada pesan apapun dari Bintang. Semalam, Bintang juga tak menghubungi Syiela lagi sesuai janjinya. Dan hingga pagi ini pun Bintang masih belum dihubungi.


Sudahlah!


****


"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan-"


Ck!


Syiela berdecak kesal saat ia lagi-lagi tak bisa menghubungi nomor Bintang. Kemana sebenarnya suami Syiela itu? Tersesat ke dalam hutan?


Atau terdampar di pulau kosong?


"Sarapan dulu, Syiela!" Ucap Mami Wenny pada Syiela yang amsih terlihat kesal.


"Syiela sedang tidak selera makan, Mi!" Tolak Syiela yang masih sibuk mengetikkan pesan untuk Bintang.


"Tidak selera makan?" Mami Wenny mengernyit.


"Apa sudah ada kabar baik?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.


"Kabar baik?" Syiela bergumam dan balik bertanya bingung, saat akhirnya waniat itu paham.


"Ouh, Syiela kebetulan sedang ada tamu bulanan, Mi!"


"Syiela hanya sedang tak selera untuk sarapan. Nanti saja Syiela akan membeli kudapan kalau lapar," ujar Syiela panjang lebar seraya membenarkan letak tasnya di pundak.


"Tapi kau dan Bintang tidak menunda, kan?" Tanya Mami Wenny penuh selidik.


"Tidak," jawab Syiela cepat.


Syiela lanjut menyapa Papi Dana, lalu sedikit berbasa-basi pada Papi kandungnya tersebut.


"Kau sudah memeriksa tiketmu?" Tanya Papi Dana memastikan.


"Sudah, Pi! Syiela berangkat nanti jam dua," jawab Syiela cepat. Papi Dana hanya mengangguk dan Syiela lanjut berpamitan.


Syiela akan ke butik dulu untuk menyelesaikan beberapa hal sebelum ia pergi siang ini.


****


Bintang baru saja menyalakan ponsel, saat deretan pesan dari Syiela sudah langsung menenuhi notifikasi ponselnya. Bintang hanya mengabaikan pesan dari Syiela dan pria itu lanjut menghampiri Vaia yang sedang memeriksa stok bahan-bahan craft serta stok berbagai jenis cat untuk melukis di dalam workshop mini miliknya.


"Sudah belum?" Tanya Bintang seraya memeluk pinggang Vaia dari arah belakang.


"Belum! Lepaskan!" Titah Vaia pada Bintang.


"Aku harus menemui bos sejam lagi," Bintang menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Vaia.


Bintang memang ada janji dengan beberapa orang siang ini. Tapi ia masih ingin memeluk dan mencumbu Vaia karena semalam mereka tak melakukannya.


Vaia sudah langsung pulas, setelah mereka tiba dari bandara semalam dan Bintang tak sampai hati untuk membangunkan istrinya ini. Namun siang ini sepertinya hasrat Bintang sudah kembali bergelora.


Entahlah, bercinta bersama Vaia seolah sudah menjadi candu baru untuk Bintang saat ini. Bintang seolah tak bosan untuk terus mencumbu dan menyusuri lekuk tubuh Vaia.

__ADS_1


"Pergilah kalau begitu, karena aku juga masih banyak kesibukan setelah ini-"


"Bintang!" Pekik Vaia saat Bintang tiba-tiba sudah mengangkat tubuhnya. Bintang lalu membawa Vaia ke sudut ruangan dan mengunci tubuh Vaia ke tembok.


"Kita belum pernah bercinta di dalam studiomu ini. Bagaimana kalau kita coba sekarang?" Tawar Bintang seraya mengerling nakal pada Vaia.


"Kau akan menjatuhkan rak cat lukisku. Lalu menginjak semua kuasku-" Cerocosan Vaia dengan cepat dibungkam oleh bibir Bintang.


Vaia ingin berontak, tapi sama sekali tak ada celah, wanita itu akhirnya hanya pasrah saat Bintang berhasil menyentak masuk ke dalam miliknya dengan posisi yang tak lagi bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Ya ampun! Ini gila!


Vaia saat ini sedang berbaring di lantai studionya, dan Bintang terlihat bersemangat sekali mendorong miliknya keluar dan masuk.


"Kau gila!" Ucap Vaia pada Bintang yang malah menampilkan ekspresi tanpa dosa.


"Kau yang sudah membuatku tergila-gila!" Bintang membalikkan ucapan Vaia.


"Ponselmu bergetar!! Vaia mengendikkan dagunya ke saku celana Bintang yang hanya setengah turun.


Ya, Vaia dan Bintang memang tidak full naked. Baju keduanya sama-sama masih menemoel di tubuh masing-masing, kecuali celana Bintang yang setengah turun, serta dress Vaia yang tersibak ke atas.


"Nanti saja!" Bintang mempercepat gerakannya.


"Mungkin bosmu ingin bicara hal penting!" Vaia masih terus memberitahu Bintang tentang ponselnya yang terus saja bergetar dan mungkin sedang ada telepon masuk.


"Sedikit-" Bintang menghujam semakin dalam.


"Lagi!" Bintang akhirnya mencapai pelepasannya dan nafas pria itu terdengar terengah-engah.


"Ya ampun!" Decak Vaia seraya tertawa kecil karena merasa tak percaya kalau ia dan Bintang baru saja bercinta di studio mininya.


"Telepon!'" Vaia kembali mengingatkan Bintang tentang ponselnya yang masih tak berhenti bergetar.


"Ya!" Jawab Bintang yang masih berusaha mengatur nafasnya.


Bintang segera bangkit dari atas Vaia, lalu sedikit menjauh dari istrinya tersebut untuk mengangkat telepon yang ternyata dari Elang.


"Elang!" Tegur Bintang lagi karena Elang tak kunjung menjawab sapaannya. Elang kenapa? Menelepon tapi malah melamun!


"Eh, iya! Aku boleh menyalakan video call, Bintang?"


"Ada Syiela yang katanya kangen padamu."


"Kau sedang dimana memangnya?" Bintang sedikit berbisik pada Elang, seraya ekor matanya memperhatikan Vaia yang sydah berjalan ke arah pintu studio. Sepertinya Vaia hendak pergi ke kamar mandi.


"Di kantor!"


"Kantor Mahardika's Company? Atau kantor Papi?" Tanya Bintang lebih mendetail setelah Vaia benar-benar keluar dari studio.


"Mahardika's Company! Syiela kesini untuk bertanya kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi beberapa hari yang lalu."


"Kau sedang dimana, Bintang?" Suara Elang sudah berganti menjadi suara Syiela sekarang.


"Aku sedang istirahat!" Jawab Bintang yang tetap awas melihat ke arah pintu studio. Berjaga-jaga kalau Vaia mendadak kembali.


"Sebentar! Aku cari tempat untuk video call!" Ucap Bintang lagi yang akhirnya keluar dari studio craft milik Vaia yang letaknya memang berada di lantai dua ruko Ayah Arga dan bersebelahan dengan gudang toko.


Bintang memutuskan untuk masuk ke dalam gudang yang terdapat banyak kardus. Setidaknya itu bisa menjadi peredam suara agar obrolan Bintang dan Syiela tak di dengar siapapun. Tak lupa, Bintang jyga mengunci pintu gudang dari dalam.


"Syiela, kau masih di sana?" Tanya Bintang yang sudah menyalakan kamera video call. Tak berselang lama, terlihat wajah Syiela di layar ponsel.


"Elang, aku butuh earphone!" Ucap Syiela pada Elang yang juga bisa didengar oleh Bintang.


"Ini!" Elang yang tak terlihat wajahnya, memberikan sebuah earphone pada Syiela.


Bintang menunggu hingga Syiela selesai memakai earphone.


"Kau sedang dimana, Bintang? Kenapa banyak tumpukan kardus di belakangmu?" Tanya Syiela penuh selidik.

__ADS_1


"Aku sedang di gudang logistik!" Jawab Bintang tergagap.


"Untuk?" Syiela mengernyit bingung.


"Memeriksa logistik untuk para karyawan!"


"Di luar juga berisik karena banyak alat berat yang dinyalakan. Jadi aku disini saja yang lumayan sunyi," tukas Bintang beralasan panjang lebar.


"Oh," Syiela akhirnya tak bertanya lagi.


"Ngomong-ngomong, kapan kau pulang?" Tanya Syiela seraya membuka satu kancing blazernya bagian atas.


"Apa kau sedang menggodaku?" Tebak Bintang yang malah membuat Syiela tertawa keras. Wanita itu lanjut membuka kancing blazernya yang nomor dua dan nomor tiga.


"Disini sedikit gerah!" Syiela menngipaskan telapak tangannya, lalu menyibak rambutnya ke belakang.


"AC-nya mati?" Tanya Bintang seraya menahan tawa.


"Aku rasa!"


"Jadi, kau tidak rindu padaku?" Tanya Syiela lagi seraya memamerkan belahan dadanya pada Bintang.


Ya! Dibanding dengan milik Vaia, dada Syiela memang lebih besar dan berisi. Dan itu tentu saja adalah daya tarik tersendiri bagi kaum pria seperti Bintang.


"Aku pulang lusa!" Jawab Bintang akhirnya.


"Sayang sekali! Kenapa tak pulang sekarang saja sebelum aku pergi lama?" Tanya Syiela tetap dengan nada menggoda.


"Kau mau kemana memangnya?" Bintang balik menanyai istrinya tersebut.


"Ke luar negeri! Atau kau mau menyusulku setelah pulang dari sana? Ah, tapi waktunya terlalu mepet!"


"Sudahlah! Kita bertemu saat aku pulang saja!" Cerocos Syiela panjang lebar.


"Kapan kau pergj memangnya?" Tanya Bintang lagi.


"Hari ini jam tiga! Kenapa maj mengantarku? Pasti tidak bisa!" Cibir Syiela pada Bintang yang hanya terkekeh.


"Bukankah ada supir?" Bintang memberikan solusi lain.


"Ya! Elang juga ada! Aku akan minta dia mengantarku!"


"Elang bukan pria sibuk sepertimu!" Cerocosan Syiela lagi yang sedikit memantik api cemburu di hati Bintang.


"Kancingkan blazermu sebelum menemui Elang!"


"Kau juga masih memakai ponsel Elang-" kalimat Bintang belum selesai, saat video call-nya pada Syiela tiba-tiba terputus.


Sepertinya baterei ponsel Elang habis.


"Bintang!" Panggilan Vaia sudah terfedari luar gudang. Bintang akhirnya hanya mengirim pesan ke ponsel Syiela dan mengatakan kalau ia harus kembali bekerja.


[Baiklah! Jaga kesehatan dan Aku mencintaimu!] -Syiela-


Balasan pesan dari Syiela masuk dengan cepat ke ponsel Bintang. Segera Bintang menuliskan pesan balasan lagi pada Syiela.


[Aku juga mencintaimu] -Bintang-


.


.


.


Sudut pandang Elang ada di "Selingkuhan Nona Muda" bab 10


Babnya nyambung-nyambung sama judul yang itu.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2