Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
MAAF


__ADS_3

"Jenis kelaminnya laki-laki!" Ucap dokter yang malah membuat kedua mata Vaia berkaca-kaca sekarang.


"Laki-laki, Va!" Bisik Bunda Vale antusias setelah tahu jenis kelamin sang calon cucu.


"Kondisi janinnya sehat, kan, Dok?" Tanya Bunda Vale memastikan. Karena belakangan ini, kondisi psikis Vaia yang bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja, tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri untuk Bunda Vale.


"Ya, janinnya berkembang dengan baik, dan semuanya sesuai dengan usia kandungan."


"Hanya saja, sedikit peer karena berat badan ibu tidak naik dan justru malah turun bulan ini," Dokter memeriksa data pasien di hadapannya.


"Apa sedang ada masalah, Bu? Kenapa berat badannya tidak naik bulan ini dan justru malah turun?" Tanya Dokter selanjutnya seraya menatap serius pada Vaia.


"Tidak ada, Dok!" Jawab Vaia cepat seraya mengusap airmatanya yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi.


Ya ampun!


Vaia kenapa sebenarnya.


"Maaf, tapi suaminya kemana, Bu? Apa bekerja di luar kota?" Dokter ganti bertanya pada Bunda Vale.


"I-iya, Dok!" Jawab Bunda Vale sedikit ragu.


"Oh, pantas saja. Ibunya pasti rindu pada suami, ya, Bu!" Dokter sedikit berseloroh demi mencairkan suasana. Dan Vaia hanya mengangguk samar, lalu memaksa untuk tersenyum.


"Jangan lupa untuk terus memperhatikan asupan nutrisinya, ya, Bu!"


"Dan vitaminnya juga di minum teratur. Jangan stres!" Pesan dokter panjang lebar yang langsung diiyakan oleh Vaia. Setelah berbasa-basi dengan dokter kandungan tersebut, Vaia dan Bunda Vale langsung undur diri.


Namun baru saja Vaia keluar dari ruang periksa, sebuah pemandangan di depannya lagi-lagi membuat hati Vaia mencelos.


"Awas hati-hati, Sayang!" Ucap seorang pria yang sedang membimbing istrinya yang hamil tua untuk duduk perlahan. Vaia langsung menelan ganjalan pahit di tenggorokannta, saat menyaksikan hal tadi di depan matanya.


"Vaia," tegur Bunda Vale yang sudah menggenggam erat tangan Vaia.


"Vaia baik-baik saja, Bund!"


"Ayo pulang!" Ajak Vaia selanjutnya seraya berjalan cepat keluar dari klinik, lalu menuju ke tempat parkir. Vaia masuk ke mobil, lalu mengusap perutnya sendiri yang kini mulai terlihat membulat.


Ya, usia kandungan Vaia memang sudah masuk lima bulan sekarang.


"Jangan jadi pria brengsek seperti ayahmu jika kelak kau lahir," gumam Vaia sambil masih mengusap perutnya.


Bunda Vale sudah menyusul masuk ke dalam mobil, lalu wanita paruh baya itu mengusap lembut punggung Vaia.


"Kita nanti akan membesarkannya bersama-sama Vaia!"


"Banyak yang menyayanginya kelak," ucap Bunda Vale yang hanya membiag Vaia mengangguk-angguk.


Setelah Vaia sedikit tenang, Bunda Vale segera melajukan mobil dan membawa Vaa pulang ke rumah.

__ADS_1


****


Mobil baru tiba di halaman kediaman Diba, saat Bintang ternyata sudah duduk di ayunan di bawah pohon. Pria itu tampak tertunduk, namun wajah lebamnya terlihat begitu jelas, dan Vaia tak berhentilah menatapnya dari dalam mobil.


"Sudah sampai!" Ucap Bunda Vale seraya melepaskan sabuk pengaman.


"Bunda turun duluan saja," tukas Vaia yang masoh menatap Bintang dari dalam mobil. Bintang langsung bangkit dari ayunan dengan cepat, saat Bunda Vale turun. Pria itu lalu menatap ke arah mobil seolah sedang menunggu Vaia keluar.


Tentu saja Vaia tak langsung keluar, dan wanita hamil itu memilih untuk diam dulu beberapa saat di dalam mobil sembari memperhatikan wajah Bintang yang lebam-lebam.


Bintang kenapa lagi?


Apa dia dipukuli oleh orang tua Syiela?


Atau oleh papa kandungnya yang kaya itu?


Vaia tadinya sudah merasa iba, tapi setelah mengingat serangkaian pengkhianatan serta kebohongan Bintang beberapa bulan ke belakang, cepat-cepat Vaia menepis rasa ibanya. Wanita itu membuang muka dan tak menatap lagi pada Bintang yang kini sedang menyapa Bunda Vale.


Namun seperti sebelum-sebelumnya, Bunda Vale juga hanya acuh pada Bintang yang raut wajahnya terlihat kecewa. Bintang lalu menatap ke mobil ayah Arga, dimana Vaia masih duduk diam di dalam. Dan sepertinya Bintang juga menuadari keberadaan Vaia di dalam mobil, hingga pria itu tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari mobil Ayah Arga.


"Bund! Kak Vaia mana?" Tanya Ezra pada Bunda Vaia yang sudah masuk ke teras.


"Masih di mobil dan tadi menolak turun," jelas Bunda Vale ya g langsung membuat Ezra bereaksi. Ezra melempar tatapan tajam pada Bintang yang masih belum mengalihkan tatapannya ke mobil Ayah Arga. Ezra tak membuang waktu dan bergegas menghampiri Bintang.


"Pergi dari sini!" Usir Ezra pada Bintang yang tetap bergeming.


"Ezra bilang, pergi dari sini, Bang!"


"Aku hanya ingin menyapa calon anakku, Ezra-".


"Abang Bintang tak punya hak apa-apa lagi!" Sergah Ezra cepat.


"Apa belum cukup Abang Bintang menyakiti hati Kak Vaia dengan semua kebohongan yang Abang Bintang lakukan?"


"Aku menyesal sudah melakukan hal bodoh itu!" Sergah Bintang dengan nada frustasi.


"Aku menyesal karena sudah menyakiti Vaia, dan sekarang aku sudah berpisah dari Syiela!"


"Aku hanya mencintaimu, Vaia!" Teriak Bintang pada mobil Ayah Arga.


"Aku hanya mencintai-" Teriakan Bintang terjeda, saat pintu mobil tiba-tiba dibuka dari dalam. Tak berselang lama, Vaia keliat dari mobil, dan Bintang bergerak secepat kilat untuk menghampiri Vaia.


"Vaia," suara Bintang tercekat di tenggorokan, saat tatapan tajam Vaia langsung tertuju pada Bintang.


"Apa kau baru pulang dari dokter untuk memeriksakan kandungan?" Tanya Bintang menatap melas pada Vaia.


"Vaia, aku minta maaf," ucao Bintang lagi penuh sesal.


"Aku minta maaf karena sudah menyakitimu."

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Vaia!"


"Aku mencintai-"


"Bohong!" Potong Vaia seraya melempar tatapan tajam pada Bintang yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak bohong!"


"Aku benar-benar mencintaimu, Vaia!"


"Buang saja rasa cintamu itu karena aku sudah tak lagi mencintaimu, Bintang!" Teriak Vaia murka yang langsung menbuat hati Bintang serasa diiris sembilu.


"Aku tak mencintaimu lagi dan aku aka secepatnya mengurus perceraian kita-"


"Vaia!" Bintang tiba-tiba sudah bersujud di kaki Vaia.


"Tolong!"


"Tolong jangan pergi, Vaia!"


"Aku mencintaimu dan aku tidak mau berpisah darimu!"


"Aku sudah berpisah dari Syiela! Aku sudah tak ada hubungan apa-apa dengan Syiela!"


"Aku hanya mencintaimu, Vaia!"


"Aku hanya mencintaimu!" Bintang memohon-mohon pada Vaia yqng teeus menyentak dan berusaha menjauhi Bintang.


"Vaia, tolong jangan pisahkqn aku dan calon anak kita!" Mohon Bintang lagi yang kali ini sedikit membuat hati Vaia menjadi perih. Namun kemudian Vaia memalingkan wajahnya dan meninggalkan Bintang yang masih berlutut di kakinya.


"Vaia!"


"Vaia, aku minta maaf!"


"Aku akan berlutut di sini sampai kau memaafkanku!" Teriak Bintang bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Langit yang sejak tadi sudah mendung, kini menjadi semakin gelap dan titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi.


Bintang masih bergeming di tempatnya, berlutut di halaman rumah keluarga Diba, sembari menatap ke arah pintu dimana qvqiq tadi menghilang.


Bahkan hingga hujan deras mengguyur bumi, Bintang tak sedikitpun nerpindah dari posisinya. Meskipun seluruh tubuh Bintang sudah basah kuyup, namun Bintang yang keras kepala tetap bergeming dan sama sekali tak pergi.


Dari balik jendela kamarnya, Vaia hanya membuang nafas dengan kasar saat menyaksikan Bintang yang keras kepala dan sama sekali tak pergi walaupun kini pria itu basah kuyup.


"Apa kau sudah gila, Bintang? Bagaimana kalau kau sakit nanti?"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2