Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
BATAL


__ADS_3

"Tidak ada yang patah. Tapi kaki Bintang terkilir dan butuh beberapa hari istirahat untuk pemulihan."


Syiela mendengus frustasi setelah mendengar penjelasan dokter tentang kondisi kaki Bintang.


Yang benar saja!


Saat besok seharusnya Bintang dan Syiela berangkat ke kota Z, malam ini kaki Bintang harus terkilir karena pria itu terpeleset di kamar mandi!


Dan sekarang rencana liburan Syiela dan Bintang ke kota Z seolah menguap begitu saja!


Menyebalkan!


"Sayang!" Panggil Bintang pada Syukurlah yang wajahnya masih menunjukkan raut frustasi.


"Aku benar-benar minta maaf karena besok kita batal berangkat," Raut wajah Bintang sudah terlihat bersalah sekarang.


"Atau kalau kau memang sangat ingin pergi, kau bisa pergi sendiri ke pulau Z," ujar Bintang selanjutnya mencetuskan sebuah ide.


"Elang katanya sudah pulang besok pagi-pagi. Jadi untuk apa aku ke kota Z jika tak ada kau ataupun Elang?" Jawab Syiela dengan nada bicara yang ketus seolah Bintang adalah musuhnya. Sepertinya wanita itu benar-benar kesal dengan insiden yang menimpa Bintang yang sebenarnya memanglah sebuah kesengajaan


"Aku benar-benar minta maaf, Sayang!" Ucap Bintang sekali lagi berpura-pura menyesal.


"Ya! Semua sudah terlanjur." Syiela menghela nafas


"Semoga nanti kita punya kesenpatan lagi untuk pergi ke kota Z," ujar Syiela lagi dengan sorot mata yang masih mengguratkan kekecewaan.


"Tidurlah!" Ucap Syiela selanjutnya seraya merapatkan selimut Bintang.


"Ponselku tidak kau bawa tadi?" Tanya Bintang yang langsung membuat Syiela berdecak.


"Tadi aku buru-buru membawamu ke rumah sakit! Jadi mana sempat aku memikirkan ponselmu dimana, ketinggalan atau tidak!" Jawab Syiela dengan nada kesal.


"Aku hanya bertanya! Kenapa jawabanmu ketus begitu?" Sergah Bintang yang sekali lagi, kembali membuat Syiela berdecak. Wanita itu terlihat menarik nafas panjang dan berusaha mengendalikan emosinya.


"Sekarang sudah hampir tengah malam dan aku juga lelah! Jadi sebaiknya kita istirahat. Besok pagi aku akan mengambilkan ponselmu!"


"Ponselku juga tertinggal di rumah," tukas Syiela yang kembali merapikan selimut Bintang. Syiela lalu pergi ke sofa yang berada di sisi lain ruangan untuk berbaring dan tidur.


Bintang tak lagi berkomentar apa-apa dan pria itu hanya menatap pada Syiela yang wajahnya masih terlihat kesal.


Ya, Syiela pasti masih kecewa karena mereka batal pergi ke kota Z.


****


"Belum tidur, Kak?" Tegur Gavin saat melihat Vaia yang masih berkutat dengan beberapa bahan kerajinan di depannya.


"Mendadak insomnia," jawab Vaia beralasan. Sesekali Vaia akan melihat ke layar ponselnya seolah wanita itu sedang menunggu telepon dari seseorang.


"Pasti nungguin telepon dari Abang Bintang!" Tebak Gavin sok tahu.


"Enggak! Lagi nunggu chat dari customer aja," kilah Vaia beralasan. Padahal sebenarnya tebakan Gavin tadi memang ada benarnya.


"Mau makan apa gitu, Kak? Apa namanya kalau orang hamil pengen sesuatu malam-malam?" Gavin terlihat mengingat-ingat.


"Ngidam!" Ujar Vaia cepat.


"Nah itu! Kapan hari kata Abang Ezra Kak Vaia ngidam es kelapa muda tengah malam."


"Iya waktu itu untung ada Ezra jadi langsung di cariin ke pantai." Cerita Vaia sedikit terkekeh.


"Sekarang ngidam kelapa muda lagi, nggak? Biar Gavin cariin mumpung Gavin di rumah. Besok pagi Gavin sudah pergi lagi," tawar Gavin perhatian.


"Tadi sore kan udah pas kita ke pantai," tukas Vaia mengingatkan.


Vaia dan Gavin memang pergi ke pantai sore tadi. Gavin beralasan ingin menjajal ombak dan Vaia hanya melihat adiknya yang mahir bermain papan selancar tersebut. Keduanya bearda di pantai hingga matahari terbenam. Lalu Gavin menawari Vaia untuk malan ikan bakar dan minum es kelapa. Dan karena Vaia sedang lapar, jadi Vaia tidak menolak.


"Eh, iya lupa!" Gavin terkikik.


"Kamu nggak tidalur, Vin? Katanya besok harus ke pulau pagi-pagi?" Tanya Vaia selanjutnya mengingatkan Gavin.


"Belum ngantuk-"


"Hoaaayyyam goreng!" Gavin menguap lebar dan Vaia langsung terkekeh.


"Ayam gorengnya sudah habis, Vin! Bisa nggak sih kalau menguap itu biasa saja?" Komentar Vaia yang masih saja terkekeh dengan tingkah Gavin yang lebih sering mengundang gelak tawa tersebut.


"Udah bawaan bayi, Kak!" Tukas Gavin beralasan.

__ADS_1


"Mau tidur, ah! Kali aja besok ketemu bidadari di pulau!" Seloroh Gavin selanjutnya seraya berjalan menuju ke kamarnya.


"Kau bidadari jatuh dati surga di hadapanku, ea!"


Vaia masih sempat mendengar lagu yang dinyanyikan Gavin dengan suara sumbangnya, sebelum adik bungsu Vaia itu menghilang dan masuk ke dalam kamar.


Vaia memeriksa ponselnya sekali lagi dan mencoba menghubungi ponsel Bintang kembali. Namun masih tak diangkat dan tak ada balasan pesan juga dari Bintang.


Apa Bintang memang sibuk sekali dari sore, atau pria itu sudah tidur sejak sore? Tidak biasanya!


****


Syiela memutuskan untuk pulang ke rumah pagi-pagi untuk mengambil ponselnya dan ponsel Bintang yang semalam tertinggal di rumah. Bintang masih tidur saat Syiela pergi tadi. Namun Syiela tak khawatir karena ada Papa Frans yang juga sudah tiba di rumah sakit dan menggantikan Syiela untuk menjaga Bintang.


Hhh!


Sejujurnya Syiela masih kecewa dengan batalnya rencana liburan dirinya dan Bintang ke kota Z!


Setelah berjibaku menembus kemacetan, karena pulang di saat jam berangkat ke sekolah dan ke kantor, Syiela akhirnya tiba di rumah Papa Frans. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati seorang pria yang sedang berbincang dengan maid.


"Elang, kau sudah pulang?" Sapa Syiela pada Elang yang terlihat kaget. Prianitu langsung menoleh pada Syiela dan sekarang giliran Syiela yang kaget melihat penampilan Elang.


"Astaga! Kenapa rambutmu gondrong dan jambangmu lebat begini?" Komentar Syiela seraya mengacak rambut Elang yang memang sudah gondrong seolah pria ini tak ada yang mengurus.


Tapi bukankah kenyataannya Elang memang tak ada yang mengurus, atau lebih tepatnya belum ada yang mengurus.


Ck!


Kapan pria ini punya pacar atau istri?


"Bintang kenapa? Kata maid dia habis jatuh di kamar mandi?" Pertanyaan Elang menyentak lamunan Syiela tentang penampilan serta status Elang yang masih jomblo akut.


"Iya, kau tanya apa tadi?" Tanya Syiela tergagap yangbtak fokus dengan pertanyaan Elang barusan.


"Bintang kenapa? Kata maud ia jatuh semalam?" Elang mengulangi pertanyaannya.


"Iya, Bintang tadi malam terpeleset di kamar mandi entah bagaimana ceritanya! Padahal seharusnya kamu pergi ke kota Z hari ini," jawab Syiela sedikit curhat. Rasa kesal dan kecewa kembali menyelimuti hari Syiela yang batal pergi ke kota Z.


"Kalian bisa pergi lain kali." Tukas Elang yang sepertinya sedang berusaha untuk menghibur Syiela. Pria itu juga mengacak rambut Syiela yang masih merengut.


"Kaki Bintang patah?" Tanya Elang selanjutnya pada Syiela.


"Hanya terkilir. Tapi entahlah, Bintang terus saja rewel dan mengeluh!" Cerita Syiela sedikit kesal. Namun kenyataannya memang begitu, karena semalaman Bintang terus saja mengerangvseolah kakinya terluka sangat parah. Padahal kan hanya terkilir!


"Aku mau mengambil ponselku dan ponsel Bintang. Tadi malam kami buru-buru ke rumah sakit sampai aku tak membawa ponsel," ucap Syiela selanjutnya yang baru ingat dengan tujuannya pulang tadi.


Syiela segera masuk ke kamarnya di lantai bawah dan mengambil ponselnya yang berada di atas tempat tidur, serta ponsel Bintang yang dari semalam di charger dj atas nakas. Ada belasan panggilan tak terjawab dari kontak bernama Diba.


Sepertinya Diba hobi sekali menghubungi Bintang. Siapa sebenarnya Diba ini? Syiela jadi penasaran!


Setelah mengambil ponsel dan beberapa barang keperluannya, Syiela kembali keluar dari kamar. Elang terlihat sudah menaiki tangga dan sepertinya hendak ke kamarnya di lantai dua.


"Elang!" Panggil Syiela pada saudara angkat Bintang tersebut.


"Ya, ada apa?" Elang turun lagi ke bawah dan menghampiri Syiela.


"Ada panggilan tak terjawab darimu," Syiela menunjukkan beberapa riwayat panggilan tak terjawab dari Elang di ponselnya.


"Kau tadi meneleponku? Ada apa?" Cecar Syiela pada Elang yang langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Elang jarang menelepon jika tidak ada hal penting, jadi jika ini ada beberapa panggilan tak terjawab, pastilah ada hal penting yang hendak Elang sampaikan.


"Aku tadi hanya ingin memastikan apa kau dan Bintang jadi berangkat hari ini. Tadinya aku mau sekalian membookingkan hotel untuk kalian berdua," jawab Elang menjelaskan dan Syiela benar-benar tak menyangka kalau Elang sebaik dan seperhatian itu pada Bintang dan Syiela.


"Kau baik sekali, Elang!"


"Sudah memesankan tiket pesawat, masih mau mengurus masalh penginapan juga," lanjut Syiela lagi memuji Elang.


"Bintang saudaraku, jadi sudah seharusnya aku melakukan ini semua," jawab Elang yang langsung membuat Syiela mengangguk. Sayang sekali Syiela dan Bintang tak jadi pergi ke kota Z.


"Jadi Bintang masih harus dirawat?" Tanya Elang selanjutnya pada Syiela.


"Mungkin besok sudah pulang. Kata dokter, sudah bisa rawat jalan," jelas Syiela seraya menghela nafas.


"Aku yakin Bintang akan segera sembuh jika kau yang merawat," seloroh Elang yang hanya membuat Syiela tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong, kau tidak menjenguk Bintang ke rumah sakit?" Tanya Syiela pada Elang.


"Iya, tentu saja aku akan menjenguknya." Jawab Elang cepat.

__ADS_1


"Ayo bareng aku sekalian kalau begitu!" Paksa Syiela seraya menarik tangan Elang dan mengajaknya keluar dari kediaman Mahardika.


Tak berselang lama, mobil Syiela sudah meluncur meninggalkan kediaman Mahardika.


****


Elang dan Syiela tiba di rumah sakit sekitar pukul sepuluh karena tadi mereka mampir membeli makanan. Keduanya langsung menuju ke kamar perawatan Bintang, dan rupanya Papi Dana serta Mami Wenny sudah tuba di rumah sakit.


"Papi, Mami!" Sapa Syiela pada kedua orang tuanya tersebut.


"Kau darimana, Syiela? Kenapa tidak menjaga Bintang dan malah kelayapan bersama pria lain?" Tanya Papi Dana dengan nada tak senang.


"Tadi Syiela pulang untuk mengambil ponsel, Pi! Lalu Syiela bertemu Elang di rumah Papa. Elang baru pulang dari luar kota dan tak tahu kalau Bintang dirawat di rumah sakit. Jadi Syiela mengajaknya kemari," beber Syiela panjang lebar menjelaskan pada sang papi.


Sementara Elang hanya menyapa Papi Dana dan Mami Wenny sekilas, sebelum kemudian pria itu menghampiri bed perawatan Bintang.


Bintang langsung menatap tak senang padacsaudara angkatnya tersebut. Pertama karena Elang yang kemarin salah mengirimkan tiket ke pobsel Syiela, hingba Bintang terpaksa harus menjatuhkan diri di kamar mandi dan membuat kakinya sendiri terkilir.


Konyol!


Dan yang kedua karena Elang yang datang bersama Syiela pagi ini setelah tadi Syiela pulang diam-diam tanpa pamit pada Bintang. Menyebalkan!


"Kau mengirimkan tiket ke ponsel Syiela kemarin," tegur Bintang pada Elang dengan tatapan sengit. Bintang masih kesal pada saudara angkatnya tersebut.


"Aku tak sengaja!" Kilah Elang beralasan.


"Aku turut prihatin karena kau dan Syiela tak jadi honeymoon lagi," ucap Elang selanjutnya yang entah benar-benar prihatin atau pria itu hanya sedang mengejek Bintang?


"Ya! Kakiku masih sakit dan aku tak mungkin pergi ke kota Z sore ini," jawab Bintang seraya menatap pada kaki kanannya yang kini diperban.


Padahal sebenarnya yang membuat kaki Bintang jadi seperti itu ya dirinya sendiri.


Konyol!


"Kau mau makan?" Tawar Elang yang langsung ditolak oleh Bintang.


"Ini ponselmu, Sayang! Ada telepon masuk dari Diba!" Ucap Syiela yang sudah menghampiri Bintang dan Elang, lalu menyodorkan ponsel Bintang pada sang empunya karena Diba kembali menelepon.


Bintang cepat-cepat me-reject telepon dari Diba yang sebenarnya adalah Vaia tersebut. Bintang tidak mau ambil resiko ketahuan jika ia mengangkat telepon dari Vaia sekarang.


"Telepon Diba tidak kamu angkat?" Tanya Syiela seraya mengernyit.


Syiela padahal sudah sangat penasaran dengan kontak bernama Diba tadi. Semalaman Diba menelepon Bintang berulang kali, dan sekarang masih pagi Diba sudah menelepon lagi.


Ada keperluan apa sebenarnya Diba Diba ini pada Bintang?


Syiela sudah duduk di samping bed perawatan Bintang dan bersiap menyuapi suaminya tersebut, saat akhirnya Bintang menjawab pertanyaan Syiela tentang Bintang yang tak mau mengangkat telepon dari Diba.


"Aku sedang malas bicara dengan Diba."


"Karena biasanya Diba menelepon hanya untuk bicara hal tak penting," cerita Bintang sebelum pria itu membuka mulut untuk menyambut makanan yang disuapkan oleh Syiela.


Syiela tak bertanya atau berkomentar lagi dan wanita itu sudah fokus menyuapi Bintang.


"Bintang, aku langsung pulang, ya!" Sela Elang yang sepertinya terlihat tak nyaman berada di kamar perawatan Bintang. Baru datang, tapi sudah langsung pamit pulang!


Jangan-jangan Elang memang cemburu melihat Syiela yang sedang menyuapi Bintang.


"Kenapa buru-buru, Elang?" Tanya Syiela berbasa-basi.


"Aku harus ke kantor untuk menggantikan Bintang," Elang mengendikkan dagunya ke kali Bintang.


"Terima kasih atas pengertianmu, Elang! Maaf jika aku selalu merepotkanmu," tukas Bintang ikut berbasa-basi pada Elang.


"Tidak masalah!" Jawab Elang yang terlihat santai.


"Aku pulang dulu!" Pamit Elang selanjutnya sebelum akhirnya pria itu benar-benar pergi dan keluar dari kamar perawatan Bintang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2