Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
PERGI!


__ADS_3

Bintang membuka kamar perawatan Vaia, lalu segera masuk ke dalam untuk menghampiri Vaia yang tengah disuapi oleh Tante Ayunda. Tadi saat Bintang baru tiba di rumah, setelah ia mencari Vaia ke panti asuhan, Bintang dikabari kalau Vaia sudah ditemukan. Vaia ditemukan pingsan di bandara kota dan akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh pihak keamanan bandara.


"Lihat, siapa yang datang, Vaia!" Ujar Tante Ayunda bersamaan dengan Vaia yang langsung menoleh ke arah Bintang. Tatapan mata Vaia seketika berubah menjadi tatapan penuh kebencian.


"Vaia-"


"Pergi kau dari sini!" Usir Vaia seraya menuding pada Bintang.


Tante Ayunda yang tadi sedang menyuapi Vaia tentu saja merasa bingung dengan sikap sang keponakan. Pun dengan Om Ben dan Opa Theo yang baru saja akan masuk ke kamar perawatan Vaia.


"Vaia, ada apa ini?" Tanya Om Ben yang langsung menatap penuh selidik pada Vaia dan juga Bintang.


"Suruh pria itu pergi, Om! Vaia tidak mau lagi melihatnya!" Vaia sudah menggeleng-gelengkan jepalanya seraya berurai airmata.


"Pergi kau dari sini!"


"Pergi!" Teriak Vaia lagi pada Bintang.


"Vaia, aku bisa menjelaskan."


"Katakan apa yang sudah kau lakukan pada Vaia," Om Ben sudah langsung mencengkeram kerah baju Bintang sekaligus menatap sengit pada pria itu.


"Ben!" Teriak Tante Ayunda dan Opa Theo berbarengan.


"Jangan pakai emosi, Ben!" Opa Theo mengingatkan sang putra.


"Tapi Bintang pasti sudah melakukan sesuatu yang menyakiti Vaia, Pa!"


"Katakan kau melakukan apa pada Vaia?" Cecar Om Ben lagi yang masih mencengkeram kerah baju Bintang.


"Bintang..." Bintang menatap penuh bersalah pada Vaia yang tak mau lagi menatapnya.


"Vaia, aku minta maaf-"


"Pergi dari sini!" Usir Vaia sekali lagi pada Bintang.


"Aku tak mau lagi melihatmu!"


"Vaia, pernikahanku dan Syiela-"


Bugh!


Bogem mentah dari Om Ben langsung mendarat di wajah Bintang sesaat setelah Bintang membuat pengakuan mengejutkan.


"Kau berselingkuh di belakang Vaia, hah? Dasar keparat!"


Bugh!


Om Ben kembali menghadiahi Bintang sebuah bogem mentah.


"Om Ben!" Vaia berteriak pada Ben yang hendak menghadiahi Bintang bogem mentah lagi. Tadinya Vaia juga hendak turun dari bed perawatan, namun Tante Ayunda sigap mencegah karena Vaia yang tangannya juga masih diinfus.


"Pria brengsek ini pantas mendapatkannya, Vaia!" Sergah Om Ben dengan wajah penuh amarah.


"Biarkan dia pergi!" Ucap Vaia yang kembali memalingkan wajahnya dan tak mau menatap pada Bintang yang wajahnya sudah membiru akibat bogem mentah Om Ben.


"Bangun kau pria keparat!" Ben menarik tubuh Bintang agar bangkit berdiri. Namun Bintang malah langsung dengan cepat menghampiri bed perawatan Vaia.


"Vaia, aku minta maaf-" Bintang hendak meraih tanag Vaia namun Vaia sudah dengan cepat menyentaknya.


"Pergi kau dari hadapanku!" usir Vaia yang sudah bersimbah airmata


"Aku tak menyangka kalau kau tega membohongi aku selama ini-'


"Pernikahan itu bukan keinginanku!" Sergah Bintang berusaha menjelaskan pada Vaia.

__ADS_1


"Aku akan menceraikan Syiela-"


"Pergi kau, Pria keparat!" Om Ben kembali menyeret Bintang dan membawanya keluar dari kamar perawatan Vaia. Sementara Vaia yang sudah menangis tergugu segera dipeluk oleh Tante Ayunda.


"Dasar keparat!" Om Ben hendak memberikan bogem mentah lagi untuk Bintang saat Opa Theo sudah dengan cepat berteriak.


"Ben, sudah!"


Om Ben akhirnya hanya mendorong Bintang hingga pria itu terjengkang ke atas lantai.


"Jangan coba-coba lagi untuk menemui Vaia!" Om Ben menuding pada Bintang yang wajahnya sudah babak belur.


"Awas kamu!" Pungkas Om Ben sebelum peia paruh baya itu kembali masuk ke kamar perawatan bersama Opa Theo.


Sementara Bintang segera berusaha untuk bangkit berdiri, dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Pria itu kembali mengintip ke dalam kamar perawatan Vaia dan melihat Vaia yang masih menangis di pelukan Tante Ayunda. Rasa bersalah langsung merasuki relung hati Bintang.


****


"Namanya Syiela. Dia adalah sahabat dari klien Vaia yang kemarin menikah itu." Vaia menyeka airmatanya yang tak berhenti berlinang saat wanita itu menceritakan tentang kebusukan Bintang pada keluarga besar Rainer.


Bunda Vale dan Ayah Arga sendiri belum tahu tentang kondisi Vaia saat ini. Opa Theo memang belum memberitahu kedua orang tua Vaia tersebut atas apa yang terjadi pada Vaia.


"Syiela menyebut Bintang sebagai suaminya dan wanita itu juga memanggil Bintang dengan panggilan sayang-" suara Vaia kembali tercekat di tenggorokan dan Tante Ayunda langsung mengeratkan rangkulannya pada Vaia seolah sedang menyalurkan kekuatan.


"Dasar keparat!" Umpat Om Ben seraya mengepalkan tangannya dan menahan geram.


"Jadi alasan Bintang bekerja di kota S itu hanya palsu semata?" Gumam Opa Theo menerka-nerka.


"Pria itu bekerja di kota S dan memiliki istri lain! Pantas saja dia tak mau Vaia ikut dengannya ke kota S! Dia tidak mau ketahuan kalau dia punya istri lain disana!"


"Keparat baj*ngan!" Om Ben kembali berapi-api


"Tapi bukankah Vaia pernah ke kota S beberapa minggu setelah ia menikah dengan Bintang?" Tanya Tante Ayunda yang rupanya masih ingat. Saat itu Tante Ayunda juga tahunya dari cerita Bunda Vale.


"Perusahaan apa?" Cecar Om Ben pada Vaia.


"Vaia tidak tahu, Om! Hanya saja, Bintang mengatakan kalau dia bekerja di perusahaan yang menggarap pembangunan hotel baru di dekat danau," jawab Vaia yang sudah sedikit tenang. Meskipun wanita itu masih terlihat sesenggukan.


"Mahardika's Company." Gumam Opa Theo yang ternyata malah tahu.


"Papa tahu?" Ben mengernyit pada Opa Theo.


"Ya, Arga yang cerita."


"Lalu papa tahu tentang perusahaan itu?" Tanya Ben lagi menyelidik. Namun Opa Theo hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Papa tahunya itu adalah perusahaan kontraktor yang kantor utamanya ada di kota S!" Jelas Opa Theo.


"Pemiliknya Frans Mahardika kalau tidak salah," imbuh Opa Theo lagi.


"Mahardika's Company! Ben akan ke kota S dan menyelidikinya, Pa!" Cerus Om Ben tiba-tiba.


"Om tidak usah!" Sergah Vaia yang langsung menentang ide Om Ben.


"Kita harus menyelidikinya, Vaia! Kita harus mencari tahu kenapa Bintang bisa sampai menipumu dan menipu kita semua! Om punya feeling, kalau Bintang menyembunyikan sebuah rahasia besar!" Tukas Om Ben berapi-api.


"Tapi-" Vaia tak melanjutkan kalimatnya dan wanita itu meringis sembari memegangi perutnya.


"Ben cepat panggil dokter!" Perkenalkan Opa Theo pada Om Ben yang langsung menekan tombol panggil.


"Sakit, Tan!" Keluh Vaia yang masih memegangi perutnya bagian bawah.


"Tadi dokter sudah memeriksa kandungan Vaia, Ay?" Tanya Opa Theo pada sang menantu.


"Sudah, Pa! Sudah di USG juga dan kata dokter semuanya baik-baik saja!"

__ADS_1


Tak berselang lama dokter dan beberapa perawat sudah tiba di ruang perawatan Vaia. Mereka segera memeriksa Vaia dan juga kandungan wanita itu.


"Tarik nafas!" Dokter memberikan aba-aba pada Vaia yang masih sedikit sesenggukan.


"Hembuskan perlahan!"


Vaia mengikuti instruksi dokter dengan patuh.


"Apa dia baru saja menangis?" Tanya dokter menyelidik ke arah Om Ben, Tante Ayunda, dan Opa Theo.


"Ada sedikit masalah yang mengganggunya, Dok!" Tante Ayunda yang akhirnya memberikan jawaban.


"Itu dia!"


"Suaminya yang ma-"


"Suaminya tidak ada, Dok! Bicara saja pada saya!" Sergah Om Ben cepat yang sepertinya masih emosi.


"Dokter bisa bicara pada saya," ujar tante Ayunda akhirnya dengan nada suara yang lebih kembut ketimbang Om Ben tadi yang berapi-api.


Dokter mengajak Ayunda bicara sedikit jauh dari Vaia.


"Kandungannya mengalami kontraksi ringan karena batin Vaia tertekan. Sebenarnya ini kurang baik, karena kandungan Vaia masih trimester pertama. Jadi sebisa mungkin jangan membuatnya stress dan banyak pikiran."


"Peran keluarga terutama suami sangat dibutuhkan disini!" Terang dikter panjang lebar yang langsung membuat Tante Ayunda mengangguk. Opa Theo yang ikut mendengarkan penjelasan Dokter ikut mengangguk-angguk.


"Tadi sudah diperiksa dan tidak ada flek. Hasil USG juga menunjukkan semuanya dalam kondisi baik. Tapi kondisi psikis Vaia tetap harus dijaga dan tolong jangan membuat Vaia stress atau ia akan kembali mengalami kontraksi atau flek. Itu berbahaya sekali!" Terang dokter sekali lagi.


"Kami mengerti, Dok! Nanti kami akan menjaga psikis Vaia agar tak lagi stress dan banyak pikiran," ujar Tante Ayunda cepat.


Selesai memberikan nasehat dan masukakn, dokter akhirnya undur diri dan pamit dari kamar perawatan Vaia.


Tante Ayunda kembali menghampiri Vaia yang hanya menatap kosong ke arah jendela kamar perawatan.


"Vaia," Tante Ayunda mengusap lembut punggung Vaia yang kembali berurai airmata.


"Sayang!" Tante Ayunda langsung memeluk sang keponakan dan berusaha menenangkannya.


"Tante tahu ini semua pasti berat untukmu. Tapi ada dia yang harus kamu jaga dan kamu pertahankan, Vaia," Tante Ayunda mengusap lembut perut Vaia yang membuat Vaia kembali tergugu.


"Vaia akan merawatnya, Tante!" tekad Vaia sesenggukan.


"Kami semua pasti mendukungmu, Vaia!" Opa Theo ikut mengusap punggung Vaia yang meskipun bukan cucu kandungnya, tapi Opa Theo menyayangi Vaia sama seperti ia menyayangi Ezra, Gavin, Sava, maupun Bastian.


"Vaia mau pulang, Opa!" Cicit Vaia akhirnya menyampaikan keinginannya.


"Vaia ingin pulang ke rumah Ayah." Ulang Vaia lagi dan Opa Theo langsung mengangguk.


"Nanti kami akan mengantarmu setelah kondisimu stabil!" Janji Opa Theo pada Vaia.


.


.


.


Iya kalau dirunut Vaia ini sebenarnya bukan bagian dari keluarga Rainer, ya!


Vaia kan anak Arga sama.istri pertamanya yang udah meninggal 😌


Tapi Opa Theo sama Om Ben sayang banget sama Vaia..


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2