
[Kami sudah membawa pulang Tuan Bintang ke rumah, Tuan Frans]
Papa Frans sedikit bernafas lega setelah membaca pesan dari anak buahnya yang ia utus ke kota Z untuk menjemput paksa Bintang.
Ya, setelah menelusuri transaksi Bintang via kartu debetnya, Papa Frans akhirnya bisa menemukan lokasi Bintang di kota Z. Tak lupa Papa kandung Bintang itu juga memblokir semua kartu debet yang dibawa Bintang, agar Bintang semakin punya alasan untuk pulang.
Bisa apa memangnya Bintang, jika ia tak punya uang di kota Z?
Mau jadi gelandangan?
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu, membuyarkan lamunan Papa Frans.
"Masuk!" Ucao Papa Frans, dan langsung terlihat Elang yang masuk seraya membawa beberapa berkas.
"Siang, Pa!" Sapa Elang berbasa-basi, sebelum pria itu meletakkan berkas-berkas yang tadi dibawanya ke atas meja Papa Frans.
"Ada beberapa berkas yang harus Papa tanda-" Elang belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba pintu ruangan Papa Frans sudah menjeblak terbuka.
"Frans!" Teriak Papi Dana yang sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja Papa Frans. Papi kandung Syiela itu juga melemparkan tatapan membunuh pada Papa Frans.
"Dana-" Papa Frans masih kaget dengan kedatangan Papi Dana, saat tiba-tiba Papi Dana sudah menghampiri Papa Frans dan menggebrak meja.
"Katakan padaku dimana putra sialanmu itu berada!"
"Putra sialan apa maksudmu?" Tanya Papa Frans tak paham.
"Putra sialanmu Bintang!" Papi Dana tiba-tiba sudah menarik kerah kemeja Papa Frans dan raut wajah pria paruh baya itu terlihat penuh amarah.
"Dimana dia?" Gertak Papi Dana lagi.
"Uncle, lepaskan Papa-" Elang berusaha untuk melerai cengkeraman Papi Dana pada Papa Frans, saat ria itu malah mebdaoat gertakan tajam dan tatapan membunuh dari Papi Dana yang sepertinya sedang kesetanan.
"Diam kau, Anak pungut!"
"Jangan ikut campur!" Gertak Papi Dana lagi pada Elang.
"Tapi tolong jangan menyakiti Papa! Bintang tidak ada disini!" Sergah Elang berani.
Papi Dana langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Papa Frans, lalu sedikit mendorong Papa Frans lagi hingga pria paruh baya itu terhuyung. Beruntung Elang sigap menahan tubuh Papa Frans agar tak tersungkur.
"Kau lihat ini!" Papi Dana melemparkan sebuah kertas yang ia keluarkan dari saku jasnya ke atas meja Papa Frans. Kertas dengan logo pengadilan tempat Syiela mengajukan gugatan cerai.
Papa Frans sigap membuka amplop tadi dan mata pria paruh baya tersebut langsung terlihat membelalak.
"Kenapa Syiela menggugat cerai Bintang?" Tanya Papa Frans tak mengerti.
"Karena putra sialanmu itu sudah mengkhianati Syiela! Dia sudah diam-diam menikah dengan wanita lain di belakang Syiela! Di kota Z!" Jawab Papi Dana dengan emosi yang meluap-luap.
"Sekarang katakan kau menyembunyikan putra baj*nganmu itu dimana karena aku akan memberikannya pelajaran-" Papi Dana belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba sudah terdengar suara Bintang dari ambang pintu ruangan.
"Pa!"
Wajah Bintang masih terlihat lebam dan kebiruan.
Apa anak buah Papa Frans main kasar tadi pada Bintang?
Atau lebam di wajah Bintang disebabkan oleh hal lain?
"Bintang." Gumam Papa Frans yang hebdak menghampiri Bintang, namun Papi Dana malah sudah dengan cepat mendahului Papa kandung Bintang tersebut.
"Bagus sekali!" Papi Dana langsung menarik Bintang dan membawanya masuk ke ruangan papa Frans lalu menghadiahinya sebuah bogem mentah.
Bugh!
Bintang langsung jatuh tersungkur ke lantai dan terlihat darah yang keluar dari sudut bibir pria itu.
"Dana, hentikan!" Tergopoh-gopoh Papa Frans mencegah Papi Dana yang hendak kembali memukul Bintang.
__ADS_1
"Tidak perlu lagi membela putra baj*nganmu ini, Frans!" Gertak Papi Dana galak.
"Atau jangan-jangan kau juga sudah tahu tentang rahasia pernikahan Bintang dengan wanita lain di kota Z, dan kau mendukung kelakuan sialan anakmu, hah?" Tuduh Papi Dana seraya menunjuk-nunjuk pada Papa Frans.
"Aku tidak tahu-menahu!" Sanggah Papa Frans cepat.
"Bintang minta maaf soal itu, Pi!" Ucap Bintang yang sudah berhasil bangkit berdiri.
"Jangan pernah memanggilku papi lagi!" Gertak Papi Dana yang langsung menuding dan mendelik pada Bintang.
"Aku bukan papimu dan sekarang kau bukan lagi menahtuku! Kau bukan lagi suami dari Syiela-" Papi Dana sudah bersiap untuk memukul Bintang lagi, saat Papa Frans dengan cepat mencegah.
"Dana hentikan!"
"Apa kau tak melihat wajahnya yang sudah babak belur?" Papa Frans memohon pada Papi Dana.
"Itu tak sebanding dengan luka yang sudah anakmu ini torehkan di hati Syiela!" Sergah Papi Dana dengan nada geram.
"Aku akan memutuskan semua hubungan bisnis di antara Mahardika's Company dan perusahaan Goentara!"
"Keparat kalian berdua!" Umpat Papi Dana sebelum pria paruh baya itu keluar dari ruangan Papa Frans masih dengan emosi yang meluap-luap. Tak lupa, Papi Dana juga melemparkan tatapan membunuh pada Elang yang sejak Bintang datang tadi hanya diam di dekat pintu.
Tapi pria itu juga bagian dari keluarga Mahardika meskipun statusnya hanya anak pungut!
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Bintang?" Marah Papa Frans setelah pria paruh baya itu membantu Bintang untuk bangun dan berdiri. Sedangkan Elang sudah keluar dari ruangan Papa Frans dan srolah sedang memberikan ruang pada Papa Frans dan Bintang untuk saling bicara.
"Kenapa kau bisa menikah dengan gadis lain di belakang Syiela?"
"Apa yang kah pikirkan, hah?" Cecar Papa Frans lagi penuh emosi.
"Karena Bintang mencintai Vaia, Pa!" Jawab Bintang tegas.
"Siapa itu Vaia?" Gertak Papa Frans galak.
"Gadis murahan? Pelakor? Wanita penggoda?"
"Vaia kekasih Bintang sebelum Bintang amnesia, dan Papa memanipulasi isi pikiran Bintang." Sergah Bintang yang sudah balik mendelik pada Papa Frans.
"Ya!"
"Bintang sudah ingat semuanya!"
"Bintang juga sudah ingat pada seorang pria brengsek yang dulu meninggalkan Mama dan membiarkan Mama hidup menderita serta terlunta-lunta!"
"Papa itu pria brengsek!" Maki Bintang berapi-api pada Papa Frans yang kini mematung.
"Papa tidak pernah meninggalkan mama kamu!"
"Mama kamu yang pergi meninggalkan Papa tanpa memberitahu kalau ia sedang mengandung!" Sergah Papa Frans mencari pembelaan.
"Bertahun-tahun Papa mencari kau dan mamamu, Bintang! Papa kehilangan jejak kalian," ucap Papa Frans menjelaskan.
"Kau putra papa." Papa Frans hendak merengkuh tubuh Bintang, saat kemudian Bintang sudah menghindar dengan cepat.
"Papa sudah banyak membohongi Bintang!"
"Papa sudah menjebak Bintang saat Bintang amnesia. Papa memanfaatkan ingatan Bintang yang hilang demi ambisi papa di perusahaan!"
"Bintang bukan putra Papa!" Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan!" Tegas Bintang sekali lagi seraya keluar dari ruangan Papa Frans dan membanting pintu.
Bintang lalu melangkah dengan sedikit sempoyongan ke ruangan Elang dan membuka pintu dengan kasar hingga membuat Elang terlonjak.
Elang hanya bergeming di tempatnya dan sepertinya tak ada niatan untuk membantu Bintang atau mungkin membimbing pria itu untuk duduk. Bintang akhirnya duduk sendiri di sofa yang ada di dalam ruangan Elang.
"Syiela sudah mengirimkan surat cerai padaku!" Ucap Bintang lirih pada Elang.
"Dan sebentar lagi, Vaia juga mungkin akan minta berpisah dariku," lanjut Bintang lagi dengan nada putus asa. Sesekali Bintang harus metingis menahan perih di wajahnya akibat bogem mentah dari Papi Dana tadi.
__ADS_1
"Vaia bahkan tak mau menemuiku," gumam Bintang lagi yang malah curhat pada Elang.
"Itu karena kau terlalu serakah!" Ucap Elang seraya bersedekap pada Bintang yang langsung melemparkan tatapan tajam pada Elang.
"Vaia sudah menjadi kekasihku belasan tahun lalu dan aku sudah berjanji untuk menikahinya-"
"Tapi seharusnya kau mengatakan dengan jujur pada Syiela kalau memang kau sudah terikat janji pada Vaia."
"Lalu aku akan menyakiti Syiela..."
"Aku juga sudah terlanjur mencintai Syiela-" Bintang belum menyelesaikan kalimatnya saat Elang sudah memotong dengan cepat dan menghakimi Bintang.
"Itu namanya serakah, Bintang! Kau tidak bisa mencintai dua wanita sekaligus! Tak ada satupun wanita di dunia ini yang mau cintanya diduakan!"
"Apa memangnya yang kau pikirkan?" Cecar Elang berapi-api pada Bintang.
"Bagus jika sekarang kau tidak mendapatkan Syiela maupun Vaia! Kau terlalu serakah dan sekarang kedua istrimu tak sudi lagi bersamamu!" Cibir Elang selanjutnya pada Bintang yang masih menatap tajam pada Elang. Sedetik kemudian, terdengar tawa dari Bintang yang terang saja langsung membuat Elang bingung.
"Kau pasti juga merasa senang dengan perceraianku bersama Syiela, kan?"
"Kau pasti sudah menunggu-nunggu hari ini, kan?" Cecar Bintang yang sebenarnya sejak awal sudah menebak kalau Elang menyimpan satu perasaan pada Syiela.
"Apa maksudmu?" Tanya Elang yang raut wajahnya terlihat tak paham.
"Tidak usah munafik, Elang! Bukankah sudah sejak lama kau menaruh hati pada Syiela? Tapi karena Syiela memilih untuk menikah denganku, kau akhirnya patah hati!" Tebak Bintang blak-blakan yang langsung membuat Elang terdiam.
"Aku benar kan?" Bintang kembali menertawakan Elang.
Bintang sendiri tidak tahu kenapa ia malah bisa menertawakan Elang sekarang, disaat dirinya sendiri sedang kacau dan terpuruk karena hubungannya bersama Syiela yang sudah berakhir. Ditambah hubungan Bintang dengan Vaia yang mungkin juga akan segera berakhir...
Tidak!
Bintang harus memperjuangkan hubungannya dengan Vaia kali ini!
Vaia sedang mengandung anak Bintang dan Bintang tak akan pernah melepaskan Vaia.
"Kau tahu Syiela dimana Elang-"
"Kau mau apa lagi mencari Syiela, hah?"
"Kau itu tidak pantas untuk Syiela!" Sergah Elang merasa geram.
"Aku hanya ingin minta maaf pada Syiela dan menanyakan satu hal-"
"Simpan saja permintaan maafmu itu, Pengecut!"
"Syiela tak mau lagi menemui pria pengecut sepertimu!" Maki Elang semakin geram.pada Bintang.
"Lalu, apa menurutmu kau itu bukan pengecut?" Sergah Bintang membalikkan kata-kata Elang.
"Menurutmu kau lebih baik dariku dan lebih pantas untuk Syiela? Kau bahkan tak pernah berani mengungkapkan perasaanmu pada Syiela! Jadi sekarang siapa diantara kita yang pengecut?"
Bugh!
Elang sepertinya tak bisa lagi membendung emosinya. Pria itu kembali menghadiahi Bintang bogem mentah, hingga membuat Bintang tersungkur ke lantai.
"Aku bukan pengecut playboy sepertimu!" Elang berdecih.
"Setidaknya, aku hanya mencintai satu wanita seumur hidupku dan tidak sepertimu yang serakah dan mencintai banyak wanita!" Pungkas Elang sebelum kemudian pria itu keluar dari ruanfan, meninggalkan Bintang yang sedang berusaha untuk bangun lalu duduk. Bintang menyeka darah di sudut bibirnya yang sudah mengering.
Bintang harus kembali ke kota Z dan menyelamatkan hubungannya dengan Vaia!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.