
Vaia menghela nafas panjang, sembari duduk di tepi tempat tidur. Semalaman Vaia tak bisa tidur dengan nyenyak karena satu hal yang Vaia sendiri juga tak tahu apa.
"Ada apa denganmu?" Vaia mengusap-usap perutnya sendiri yang sejak semalam terasa bergejolak. Janin Vaia seolah sedang bergerak dengan gelisah di dalam sana.
"Kau lapar?" Vaia kembali berbicara pada calon bayinya.
"Atua kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Vaia lagi seraya menatap ke arah jendela kamar.
Nya disini tentu saja merujuk pada satu pria yang mungkin pagi ini sedang tidur meringkuk di kursi teras seperti pagi-pagi sebelumnya.
Bintang!
Vaia bangkit perlahan, lalu menghampiri jendela kamarnya dan menyibak tirai warna putih yang menutupi jendela tersebut. Tatapan mata Vaia langsung menyapu ke setiap sudut teras, mencari-cari keberadaan seseorang yang biasanya selalu ada di sana setiap pagi.
Namun pagi ini ia tak ada!
Bintang tak ada di teras sekarang!
Apa itu artinya Bintang sudah benar-benar pulang untuk menemui dan merawat papa kandungnya?
Vaia menghela nafas dan menutup lagi tirai kamarnya. Dalam hati Vaia merasa bersyukur, karena Bintang ternyata mau mendengarkan perkataannya kemarin dan menekan egonya.
Namun kenapa di satu sisi Vaia juga merasa sedih dan kehilangan?
Ya ampun!
Perasaan apa ini?
Bukankah Vaia sudah benci pada Bintang dan berusaha menepis semua perasaan cintanya pada pria itu?
"Tidak! Ini pasti hanya pengaruh dari kehamilanku," Vaia bergumam sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku akan jalan-jalan pagi saja!" Putus Vaia akhirnya seraya berjalan ke arah kamar mandi. Vaia akan cuci muka sebentar sebelum pergi jalan-jalan pagi untuk menghirup udara segar.
****
Wusss!!
Bintang memejamkan kedua matanya, saat iring-iringan mobil mewah berwarna serba hitam, melaju dengan kecepatannya tinggi di jalan dekat pelabuhan. Mobil tadi hampir menyambar tubuh Bintang, andai pria itu lengah sedikit saja.
Bintang memperhatikan mobil terakhir dari iring-iringan tersebut yang melewatinya. Pandangan Bintang langsung tertumbuk ke arah plat mobil yang tergolong unik dan mudah terbaca.
L 3 Y
Ley!
Kedengarannya seperti tak asing!
Tapi entahlah, Bintang tak mau memikirkannya.
Bintang melanjutkan langkahnya ke rumah Vaia, karena ia sudah tak sabar untuk melihat istrinya itu lagi. Tadi pagi-pagi Bintang terpaksa pergi ke pelabuhan karena ada pekerjaan yang harus segera ia lakukan.
"Pulanglah, Bintang!"
"Papamu sakit dan kau harus merawatnya!"
Kata-kata Vaia kembali terngiang di bebak Bintang.
"Aku butuh waktu untuk berpikir. Sementara itu, kau bisa pulang dan merawat papamu, Bintang!"
"Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari!"
Bintang menghentikan langkahnya sejenak, lalu memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bintang ganti menatap ke langit yang sudah berubah hitam. Hari memang sudah beranjak malam, dan Bintang yang terlampau keras kepala sama sekali tak menuruti kata-kata Vaia dan Elang untuk pulang menemui Papa Frans.
Bintang ingin tetap berada disini, bersama Vaia!
Bintang tidak mau lagi menjadi anak Papa Frans yang hanya digunakan sebagai alat untuk melancarkan ambisi pria paruh baya tersebut.
Toh sudah ada Elang, si anak emas Papa Frans yang selalu menuruti kata-kata Papa Frans!
Bintang meneruskan langkahnya menuju ke rumah Ayah Arga, dan tepat di belokan terakhir menuju ke rumah Ayah Arga, Bintang mendadak dibuat terkejut dengan kehadiran satu mobil polisi di depan rumah Ayah Arga.
Apa yang sudah terjadi?
Bintang mempercepat langkahnya untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi di rumah Vaia.
__ADS_1
"Akan secepatnya kami kabari jika sudah ada titik terang."
Bintang samar-samar bisa mendengar ucapan seorang anggota polisi pada Ayah Arga.
"Ayah, apa yang sudah terjadi?" Tanya Bintang tak sabar seraya menghampiri Ayah Arga yang kini malah mendelik pada Bintang.
Sementara para polisi sudah pamit dan undur diri.
"Ayah-"
"Pergi, kau!" Ayah Arga mendorong tubuh Bintang dengan kasar, tanpa menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Tapi apa yang terjadi, Ayah? Jenapa ada polisi-" kalimat Bintang belum sekesai saat tatapan mata pria itu tertumbuk ke arah Bunda Vale yang wajahnya sembab. Sepertinya wanita paruh baya itu baru saja menangis dengan lama.
"Bunda!" Bintang bergegas menghampiri Binda Vale yang sedang dibimbing oleh Ezra untuk masuk ke rumah.
"Ezra, apa yang sudah terjadi?" Bintang bertanya dengan tak sabar pada Ezra yang malah langsung menyentaknya dengan kasar.
"Ezra! Vaia dimana?" Bintang mengganti pertanyaannya karena ia tidak melihat Vaia diantara keluarganya.
Dan juga Gavin!
Tapi si bungsu Gavin memang jarang di rumah karena ia bekerja di pulau seberang setahu Bintang.
"Ezra-"
Tangis Bunda Vale mendadak pecah, saat Bintang bertanya mengenai Vaia.
"Vaia! Kamu dimana, Nak!" Raung Bunda Vale yang kini sudah menangis tergugu. Ezra cepat-cepat memeluk serta nenenangkan bunda kandungnya tersebut.
Dan raungan Bunda Vale tersebut sulses membuat Bintang paham dengan apa yang terjadi.
Vaia.....
Vaia hilang!
****
Vaia membuka matanya, saat kegelapan langsung mengungkung pandangannya. Vaia tak bisa melihat apa-apa sekarang karena seseirang menutupi wajah Vaia dengan sebuah kain hitam.
Tapi siapa yang melakukan semua ini pada Vaia?
Tadi Vaia hanya jalan-jalan di dekat pantai, saat mendadak ada beberapa irang yang membungkamnya dengan sapu tangan, lalu sekarang Vaia entah berada dimana.
"Sudah, Tuan Vin! Kami sudah membawanya ke dekat dermaga!"
Samar-samar Vaia bisa mendengar suara seorang pria yang berbicara di dekatnya pada seseorang bernama Tuan Vin.
Siapa Tuan Vin?
Satu-satunya Vin yang Vaia tahu hanyalah Gavin!
Mustahil juga adik Vaia itu melakukan keusilan seperti ini padanya.
Konyol!
"Mmmbbpphh!" Vaia berusaha meronta, saat wanita itu lagi-lagi menyadari kalau kedua tangan serta kakinya tengah diikat sekarang.
Gila!
"Mmmbbpphh!"
"Mmmbbpphh!" Vaia meronta dan menggeliat serta berusaha melepaskan diri.
Siapa sebenarnya orang konyol yang sudah melakukan ini pada Vaia?
Dan kenapa mereka harus menculik Vaia?
"Diam!" Bentak seorang pria yang Vaia juga tak tahu rupanya seperti apa.
"Lepaskan aku!" Vaia berusaha untuk berbicara meskipun suaranya terdebgar tak jelas karena sumpalan kain sialan di mulutnya.
"Aku lapar!" Vaia mengganti ucapannya, karena kini perutnya benar-benar terasa lapar dan melilit. Vaia belum makan sejak pagi.
Lalu bagaimana kondisi calon bayi Vaia?
__ADS_1
"Aku lapar!" Vaia berusaha berteriak lagi agar para penjahat ini sedikit berbelas kasih kepadanya.
"Bayiku kelaparan!" Gumam Vaia lagi tak terlalu jelas.
"Buka kain penyumpalnya!" Vaia mendengar salah seorang penjahat memberikan perintah pada penjahat lain. Dan tak berselang lama, kain yangbtadi menyumpal mulut Vaia akhirnya disingkirkan.
"Berikan aku makan! Aku sedang hamil dan bayiku kelaparan!" Mohon Vaia seraya memutar kepala ke kanan lalu ke kiri. Vaia tidak bisa melihat para penjahat berada di sebelah mana. Kedua mata Vaia masih ditutup kain hitam.
"Ambilkan air dan roti!" Salah seorang penjahat akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat Vaia sedikit lega. Ditambah ikatan di tangan Vaia yang terasa dibuka, membuat Vaia semakin bernafas lega.
Namun saat penutup wajah Vaia dibuka, wanita itu mendadak harus menahan nafas, karena melihat pistol yang diarahkan tepat di tengah-tengah kepalanya.
"Makan cepat dan jangan coba-coba untuk berontak!"
"Ini bukan pistol mainan dan jika pelurunya menembus kepalamu...." penjahat tadi mengancam dengan tegas yang sontak membuat Vaia susah payah menelan ludahnya.
Vaia tak menjawab sepatah katapun, dan segera mengambil air serta roti yang disodorkan oleh penjahat. Wanita itu lalj memakan roti ditangannya dalam diam, tanpa membuat pergerakan yang mungkin akan memancing penjahat gila ini untuk menarik pelatuk dan menembak kepala Vaia.
Siapa sebenarnya orang-orang gila ini?
"Selamat malam, Tuan Vincent! Dia sedang kami beri makan!"
Vaia yang masih menimmati roti ketiganya, mendengar seorang penjahat melapor pada seseorang bernama Vincent.
Apa itu orang yang sama dengan Tuan Vin tadi?
Tak berselang lama, seorang pria yang mengenakan kemeja hitam serta kacamata hitam terlihat menatap Vaia dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Vaia benar-benar tak kenal dengan Tuan Vincent ini!
Lalu kenapa ia menculik Vaia?
Dia punya dendam pribadi dengan seseorang?
Tapi siapa?
Mustahil Ayah Arga atau Bunda Vale, kan? Secara kedua orangtua Vaia itu tak pernah terlibat masalah apapun dengan orang-orang sejenis Vincent ini!
"Sudah selesai yang makan?" Pria bernama Vincent itu mendekat ke arah Vaia dan bertanya dengan nada sinis.
"Kau siapa? Kenapa menculikku? Aku bahkan tak mengenalmu!" Cecar Vaia bertubi-tubi dan sedikit berani. Tak ada lagi ujung pistol yang menempel di kepala Vaia, jadi ia sudah berani buka suara.
"Hhhh! Suami atau papa mertuamu tak pernah memberitahumu mengenai musuh bebuyutan mereka? Sayang sekali!" Peia bernama Vincent itu kembali mencemooh Vaia.
Suami?
Papa mertua?
Apa maksudnya, orang yang menculik Vaia ini adalah musuh dari Papa Frans?
Lalu kenapa mereka menculik Vaia?
"Kau istri simpanan dari anak Frans Mahardika, benar?"
"Tutup mulutmu! Aku bukan istri simpanan!" Bentak Vaia yang merasa tak terima disebut sebagai istri simpanan.
"Oh, bukan istri simpanan, ya? Tapi istri yang dirahasiakan!" Vincent tertawa mengejek ke arah Vaia.
"Tapi aku lihat anak Frans Mahardika itu begitu tergila-gila padamu dan dia juga sedikit bodoh!"
"Jadi kita akan lihat, apa suami bodohmu itu akan mau berkorban demi menyelamatkan istri simpanannya!" Vincent sudah ganti tersenyum licik ke arah Vaia yang kini wajahnya dipenuhi amarah.
"Sumpal lagi mulutnya dan tutup matanya!"
"Tuan Ley akan tiba sebentar lagi, lalu kita akan berangkat!"
"Lepas-" teriakn Vaia langsung teredam oleh kain yang disumpalkan ke mulutnya. Jedua tangan Vaia juga sudah kembali diikat dengan kuat, lalu penutup hitam tadi kembali menghalangi pandangan Vaia.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1