Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
EMOSI


__ADS_3

"Bintang Mahardika!"


"Bintang ternyata putra dari Frans Mahardika yang sudah belasan tahun menghilang dan berusaha dicari oleh Frans."


"Lalu keduanya tak sengaja dipertemukan sebelum kemudian sebuah kecelakaan menimpa Bintang dan membuatnya kehilangan ingatan."


"Bintang lalu menikah dengan Arsyiela Goentara yang merupakan putri dari sahabat baik Frans Goentara."


"Jadi Bintang menikah dengan Arsyiela Goentara dalam kondisi amnesia?" Ayah Arga menyela penjabaran Om Ben mengenai jati diri Bintang yang baru saja terkuak dan diketahui oleh keluarga besar Rainer.


"Aku juga tidak tahu!" Jawab Om Ben ketus.


"Sekalipun Bintang sedang amnesia, mustahil pria itu tak ingat sama sekali pada Vaia! Belasan tahun ia dan Vaia menjalin hubungan! Masa iya tak ada sedikitpun memori yang melekat di kepalanya?" Sergah Om Ben lagi penuh emosi.


"Memang dasarnya Bintang itu pria brengsek, baj*ngan!" Umpat Om Ben pagi penuh emosi.


Praang!


Suara sebuah benda yang terjatuh, segera membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.


"Vaia!" Gumam Bunda Vale yang sudah langsung berdiri untuk memeriksa dan memastikan. Tadi Vaia memang masih tidur saat Om Ben dan Ezra tiba membawa semua informasi tentang Bintang.


Tapi bukan tak mungkin Vaia sudah bangun dan bisa saja putri sulung di keluarga Diba tersebut mendengar semua yang dikatakan oleh Om Ben.


"Vaia!" Panggil Bunda Vale pada Vaia yang sudah keluar dari rumah melalui pintu samping. Wanita itu bahkan tak mnoleh sama sekali dan langsung masuk ke dalam mobil Ayah Arga.


"Vaia, tunggu!" Bunda Vale berusaha mengejar Vaia yang sudah dengan cepat tancap gas dan meninggalkan kediaman Diba.


"Bund-"


"Vaia pergi membawa mobil ayahmu, Ezra! Cepat kau susul!" Sergah Bunda Vale yang raut wajahnya sudah panik. Wanita paruh baya itu bahkan sidah mendorong-dorong Ezra agar bergegas menyusul Vaia yang entah mau pergi kemana.


Ezra pun segera berlari ke halaman untuk mengambil motor. Tak berselang lama, motor Ezra sudah melaju pergi menyusul mobil Vaia yang melaju ke arah pantai.


****


"Aku mengalami kecelakaan."


"Aku tinggal di rumah pria tua yang hampir tertabrak mobil itu. Dia yang sudah membiayai pengobatanku, lalu menampung aku yang amnesia di rumahnya. Namanya Pak Frans."


"Kau bekerja di kantor Pak Frans?"


"Ya! Di bagian pemeliharaan gedung dan kadang jadi supir dadakan."


"Bintang ternyata putra dari Frans Mahardika yang sudah belasan tahun menghilang dan berusaha dicari oleh Frans."


"Lalu keduanya tak sengaja dipertemukan sebelum kemudian sebuah kecelakaan menimpa Bintang dan membuatnya kehilangan ingatan."


Vaia menatap kosong ke arah ombak yang datang bergulung dari kejauhan, lalu semakin mendekat ke arahnya dan mengenai kakinya yang bertelanjang di atas pasir pantai berwarna putih. Sesekali tangan Vaia akan menyeka airmata yang terus saja jatih di kedua pipinya.

__ADS_1


"Bintang ingin menikahi Vaia malam ini, Ayah!"


"Kenapa mendadak?"


"Bukan mendadak. Tapi Bintang memang sudah berjanji pada Vaia dan seharusnya Bintang melakukan hal ini sejak beberapa bulan yang lalu."


Vaia kembali menangis tergugu, lalu wanita itu membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Tubuh Vaia berguncang, menahan sesak dan perih yang kini menenuhi hatinya.


Ezra yang sejak tadi hanya melihat Vaia dari kejauhan, akhirnya tak tahan lagi untuk menghampiri sang kakak dan langsung merengkuh tubuh Vaia ke dalam pelukannya.


"Kenapa kau menipuku begini, Bintang?" Isak Vaia seraya memukul-mukul dada Ezra yang kini memeluknya dengan erat.


"Kak, sudah!"


"Kenapa kau membohongiku? Kenapa kau tak berkata jujur kalau memang kau sudah menikah dengan wanita lain?"


"Kenapa kau menjadikan aku orang ketiga di dalam rumah tanggamu bersama Syiela?" Vaia terus mengungkapkan semua uneg-uneg yang menggunung di hatinya.


"Kenapa?"


Vaia semakin menangis tergugu di pelukan Ezra yang hanya mampu mendekap Vaia dengan erat.


"Ayo pulang, Kak!" Bujuk Ezra setelah Vaia sedikit tenang. Tak ada jawaban dari kakak satu ayah Ezra tersebut.


"Aku tak mau lagi bertemu pria brengsek itu, Zra!" Ungkap Vaia seraya menyeka airmata yang terus saja menganak sungai di kedua pipinya.


"Iya. Ezra paham, Kak!"


"Kami semua akan menjaga Kak Vaia," janji Ezra yang langsung membuat Vaia kbali menyusupkan kepalanya di pelukan sang adik.


Matahari sudah mulai bergulir ke barat, pertanda sore sudah mulai menjelang. Vaia akhir mau kembali pulang, setelah Ezra membujuknya berulang-ulang.


****


"Kita perlu menyusul Vaia?" Tanya Ayah Arga meminta pendapat sang istri.


"Tidak usah!" Bunda Vale menggeleng.


"Vaia sedang butuh waktu untuk menenangkan diri. Jadi biarkan saja dia meluapkan semua kesedihannya di tempat favoritnya itu."


"Sudah ada Ezra yang akan menjaga Vaia dan pasti Ezra juga akan membujuk Vaia untuk pulang nanti," tutur Bunda Vale yang sepertinya percaya sekali pada Ezra.


Sementara Opa Theo, Om Ben, dan Tante Ayunda sudah langsung pamit untuk kembali ke kota N siang tadi, setelah mereka semua mengetahui tentang jati diri Bintang yang sebenarnya.


"Bund! Belum masak, ya?" Tanya Gavin yang baru keluar dari rumah seraya membawa piring kosong di tangannya.


"Belum, Gavin! Kau membuat mie sa-" Bunda Vale belum menyelesaikan kalimatnya pada Gavin, saat tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di halaman rumah.


Bunda Vale, Gavin, serta Ayah Arga menatap pada seseorang yang keluar dari mobil berwarna silver tadi. Dan emosi ketiganya seketika memhuncah saat tahu kalau yang datang barusan adalah...

__ADS_1


Bintang!


"Laki-laki brengsek!" Gavin langsung berteriak penuh emosi dan menghampiri Bintang yang amsoh berdiri di dekat mobil. Tanpa basa-basi lagi, Gavin langsung menghadiahi wajah Bintang yang masoh lebam dengan bogeman mentah.


"Gavin!" Teriak Bunda Vale dari teras.


Sedangkan Ayah Arga bergegas mencegah Gavin yang hendak kembali memukuli Bintang yang sudah jatuh tersungkur.


"Pria keparat! Pembohong! Penipu!"


"Tak usah mencari Kak Vaia lagi! Kak Vaia sudah tidak sudi melihat wajahmu lagi!" Maki Gavin berapi-api pada Bintang yangasoh terduduk di halaman rumah keluarga Diba.


"Sudah cukup!" Gertak Ayah Arga pada Gavin yang begitu emosi.


"Lepaskan Gavin, Ayah! Gavin mau memberi pelajaran pada pria baj*ngan ini!"


"Sudah cukup, Gavin!" Gertak Ayah Arga lebih tegas.


"Tak semua masalah haris diselesaikan dengan otot dan emosi!"


"Masuk sana ke dalam!" Usir Ayah Arga selanjutnya pada Gavin yang masih terlihat marah.


Bunda Vale segera membimbing Gavin agar masuk ke dalam rumah, meskipun emosi pemuda itu masih terlihat berkobar.


"Dasar pria baj*ngan!" Teriak Gavin sekali lagi pada Bintang sebelum Bunda Vale memaksanya masuk ke rumah, lalu menutup pintu.


"Sementara Ayah Arga sudah mendekatkan Bintang sembari menatap penuh amarah pada Bintang yang wajahnya terlihat melas.


"Ayah, Bintang minta maaf," ucap Bintang penuh penyesalan.


"Bangun!" Titah Ayah Arga seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Bintang berdiri.


Meskipun awalnya Bintang merasa ragu, namun Bintang tetap menyambut tangan ayah Arga. Dan tepat saat Bintang baru saja bangkit berdiri, Ayah Arga sudah melayangkan bogem mentah lagi ke wajah Bintang hingga membuat pria itu kembali tersungkur ke tanah.


"Baj*ngan keparat!"


Bugh!


Bugh!


"Ayah!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2