Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
PERGI!!


__ADS_3

Bugh!


Bintang baru saja bangkit berdiri, saat tubuhnya kembali terasa terhuyung karena bogem mentah dari Ayah Arga. Keraguan Bintang seolah menemukan jawaban. Sikap Ayah Arga yang tadi mengulurkan tangan untuk membantu Buntang berdiri rupanya hanya gimmick semata. Ayah kandung Vaia itu tetap saja memberikan hadiah bogem mentah di wajah Bintang, melengkapi bogem mentah sebelumnya dari Elang, Om Ben, dan juga Gavin.


"Ayah!" Samar-samar Bintang mendengar suara Vaia serta derap langkah.


Apa Vaia akhirnya memaafkan Bintang dan wanita itu akan membantu Bintang berdiri sekarang?


"Vaia!" Bunda Vale sigap mencegah Vaia yang hendak membantu Bintang yang masih tersungkur di tanah.


"Ayah jangan memukulnya lagi!" Mohon Vaia pada Ayah Arga seraya berlonang airmata.


"Vaia!" Bintang tiba-tiba sudah merangkak ke kaki Vaia yang masih ditahan oleh Bunda Vale. Bintang bersujud di kaki istrinya itu hingga membuat Vaia sedikit melangkah mundur.


"Vaia, aku minta maaf!" Ucap Bintang dengan raut wajah melas yang tak teelalu kentara sebenarnya,karena wajah suami Vaia itu kini sudah kembali lebam dan membiru di beberapa bagian.


"Maafkan aku!" Ucap Bintang nyaris tanpa suara, yang hanya membuat Vaia menatal datar ke arah pria itu, lalu mundur beberapa langkah


"Vaia," Bintang kembali merangkak dan mengejar Vaia.


"Pergi dari sini!" Usir Vaia menahan amarah dalam dirinya. Namun bukannya pergi, Bintang malah menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memeluk kaki Vaia dengan erat.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memaafkanku!"


"Aku akan menceraikan Syiela, tapi aku mohon maafkan aku dan jangan suruh aku pergi, Vaia!"


"Aku mencintaimu!" Tutur Bintang yang masih memeluk kaku Vaia.


"Lepaskan kaki Kak Vaia, Bang!" Ezra yang sysah jengah akhirnya berusaha untuk melepaskan pelukan Bintang yang begitu erat di kaki Vaia. Sementara Bunda Vale menahan Vaia yang kini sudah menangis sesenggukan sembari menatap pada Bintang yang masih memohon kepadanya


"Aku tidak akan pergi! Aku tidak mau pergi!" Ucap Bintang keras kepala.


"Aku tahu, kau sedang mengandung anakku sekarang, Vaia! Jadi aku mohon-"


"Kau tidak ada hak apapun atas anak yang dikandung oleh Vaia!" Ayah Arga akhirnya kembali turun tangan untuk melepaskan serta menyeret Bintang agar menjauh dari Vaia.


"Ayah, jangan memukulnya lagi!" Pinta Vaia saat Ayah Arga kembali membanting tubuh Bintang hingga membentur pohon di halaman rumah.


"Pergi kau dari sini!" Usir Ayah Arga selanjutnya pada Bintang yang sedang berusaha untuk bangkit berdiri.


"Pergi dan jangan pernah mengganggu hidup Vaia lagi!" Bentak Ayah Arga yang hanya membuat Bintang bergeming di tempatnya. Bintang menatap pada Vaia yang kini tengah menangis sesenggukan. Bintang ingin merengkuh tibuh ostrinya itu dan menenangkannya, tapi Vaia pasti tidak akan mau.


Vaia pasti tidak akan sudi Bintang peluk lagi setelah semua pengkhianatan dan kecoh yang Bintang lakukan.


"Vaia," panggil Bintang yang kini sudah ikut berurai air mata.


"Vaia, aku mencintaimu-


"Tak perlu lagi kau bicara soal cinta pada putriku, Pria Baj*ngan!" Potong Ayah Arga pemuh emosi. Namun Bintang seolah tak gentar dan pria iti tetap menatap pada Vaia yang semakin sesenggukan.


"Vaia, aku tahu kesalahanku teelalu besar dan kau mungkin tak akan pernah memaafkanku."

__ADS_1


"Tapi...."


"Izinkan aku menyapa calon anakku!" Bintang tiba-tiba sudah melesat dan menghampiri Vaia dengan cepat, lalu memeluk pinggang wanita itu.


"Dia juga anakku, Vaia!"


"Pergi, kau!" Vaia refleks menyentak tubuh Bintang hingga pria itu kembali tersungkur.


"Aku tidak mencintaimu! Pergi kau dari hidupku!" Teriak Vaia lantang sebelum kemudian wanita itu berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan cepat.


"Vaia!" Bintang sudah bangkit berdiri dengan cepat dan hendak menyusul Vaia. Namun Ayah Arga dan Ezra sigap menghentikan pria itu.


"Pergi kau dari sini! Vaia sudah tudak mau melihatmu!" Usir Ayah Arga lantang pada Bintang yang sepertinya keras kepala sekali.


"Bintang ingin bicara pada Vaia, Ayah!"


"Bintang mencintai Vaia!"


"Pergi dari sini!" Tegas Ayah Arga sekali lagi seraya mendorong tubuh Bintang. Ayah Arga lalu mengajak Ezra dan Bunda Vale untuk masuk ke rumah, dan mengunci pintu.


"Vaia!"


"Vaia, aku mencintaimu!" Teriak Bintang yang kini mulai frustasi.


****


"Bintang dan Syiela tidak ikut sarapan? Apa mereka sudah pergi?" Tanya Papa Frans pada maid yang menyiapkan sarapannya. Sudah sejak kemarin pria paruh baya itu belum melihat Bintang maupun Syiela di rumah.


"Dan Nona Syiela juga sudah tiga hari ini belum pulang." Sambung Maid lagi yang semakin membuat Papa Frans bertanya-tanya


Papa Frans mengakhiri sarapannya, dan langsung menuju ke kantor Mahardika's Company. Tak lupa pria paruh baya itu mencoba untuk menghubungi Bintang. Namun ponsel putranya itu malah tak aktif. Nomor Syiela juga tidak aktif.


Kenapa anak dan menantunya itu kompak sekali?


Jangan-jangan mereka sedang honeymoon lagi.


Tapi kenapa tak pamit pada Papa Frans?


Nanti saja Papa Frans akan mencari tahu.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua puluh menit, Papa Frans akhirnya sampai di kantor Mahardika's Company. Pria paruh baya itu langsung menuju ke lantai dimana ruangan Bintang berada.


"Bintang!" Papa Frans membuka pintu ruangan Bintang dan hanya mendapati ruangan yang kosong.


Tak ada tanda-tanda keberadaan Bintang.


Papa Frans ganti ke ruang kerja Elang yang masoh satu lantai dengan ruang kerja Bintang. Dan ternyata setali tiga uang! Ruangan Elang juga kosong!


Kemana anak-anak Papa Frans itu?


Papa Frans segera menghubungi nomor Elang. Cukup lama hingga akhirnya telepon Papa Frans dijawab oleh Elang.

__ADS_1


"Halo, Pa!"


"Elang, kau tidak ke kantor hari ini? Bintang mendadak pergi tanpa pamit dan ponselnya tak bisa dihubungi!" Tanya Papa Frans to the point sambil kembali ke ruang kerja Bintang.


"Kau tahu Bintang kemana?" Tanya Papa Frans lagi.


"Mungkin ke kota Z, Pa!"


Jawaban Elang langsung membuat Papa Frans mengernyit.


Ke kota Z?


Mau apa Bintang ke kota Z lagi?


Sudah ada pengawas proyek untuk proyek hotel di kota Z dan seharusnya Bintang tak perlu bolak-balik lagi ke kota itu kecuali ada masalah.


Padahal misalnya ada masalah juga Papa Frans akan meminta Elang saja yang pergi. Papa Frans maunya Bintang selalu stay di kantor dan tidak kelayapan begini, kecuali memang ada pertemuan bisnis penting yang tidak bisa diwakilkan.


Kenapa Bintang tidak pernah mau memahami tentang tugasnya sebagai pewaris tunggal di Mahardika's Company?


Dan kenapa Bintang juga cenderung menyepelekan semua tanggung jawab yang Papa Frans berikan padanya?


Ini tak bisa dibiarkan!


Papa Frans harus menegur putra kandungnya itu!


"Ke kota Z? Dia mengatakan padamu akan pergi ke sana?" Tanya Papa Frans lagi pada Elang untuk memastikan.


"Sebenarnya tidak juga, Pa! Hanya saja beberapa waktu lalu Bintang cerita kalau dia hendak menemui seseorang yang penting di kota Z dan belum ada waktu."


Papa Frans kembali harus mengernyit mendengar jawaban Elang.


Bintang menemui siapa di kota Z?


"Baiklah, nanti Papa akan minta orang untuk mencari Bintang di kota Z." Tukas Papa Frans akhirnya.


"Kau segeralah ke kantor, Elang!" Titah Papa Frans selanjutnya.


"Iya, Pa!"


Papa Frans langsung menutup telepon begitu saja, sebelum kemudian pria paruh baya itu lanjut menghubungi anak buahnya dan menyuruh mereka mencari Bintang ke kota Z.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2