
Bintang mengernyit saat membaca tulisan di layar mesin ATM, tempat ia akan menarik uang.
Kartu diblokir!
Apa?
Bintang mencoba sekali lagi, namun sama saja. Pria itu lalu berdecak frustasi dan menendang mesin ATM di depannya tersebut.
"Brengsek!" Umpat Bintang kesal.
Bintang akhirnya keluar dari dalam gerai anjungan tunai mandiri tersebut dengan tangan kosong. Pria itu membuka dompetnya dan memandangi lembaran uang di sana yang hanya tinggal beberapa lembar.
Papa Frans pasti yang sudah memblokir kartu debet miliknya!
Bintang menyugar kasar rambutnya lalu hendak masuk ke dalam mobil, saat tiba-tiba dua orang bertubuh kekar sudah menghampirinya.
"Mau apa kalian?" Bintang menatap awas pada dua pria tadi.
"Tuan Frans meminta kami untuk mengajak anda pulang secara baik-baik, Tuan Bintang-"
"Aku tidak mau pulang!" Jawab Bintang tegas, saat tiba-tiba salah satu dari pria tadi sudah membekapkan sesuatu ke mulut Bintang dan langsung membuat Bintang kehilangan kesadaran.
Tak butuh waktu lama, Bintang sudah dibawa pergi naik mobil oleh dua pria bertubuh kekar suruhan Papa Frans tadi.
****
"Selamat pagi, Tuan Dana!" Sapa karyawan Syiela pada Papi Dana yang siang ini berkunjung ke butik milik Syiela.
"Pagi!"
"Syiela ada di atas?" Tanya Papi Dana menunjuk ke ruangan di lantai dua yang merupakan ruang kerja Syiela.
"Nona Syiela sedang bertemu klien di luar, Tuan Dana," jelas karyawan Syiela.
"Sudah lama?" Tanya Papi Dana lagi.
"Sudah sejak dua jam yang lalu. Mungkin akan kembali sebentar lagi, Tuan!" Jawab karyawan Syiela yang hanya membuat Papi Dana mengangguk.
"Aku akan menunggu di ruangan Syiela," putus Papi Dana seraya berlalu, dan naik tangga menuju ke ruangan Syiela di pantai dua.
Papi Dana membuka pintu kaca didepannya, lalu langsung masuk ke ruang kerja Syiela. Sudah beberapa hari ini Syiela tidak pulang ke rumah Papi Dana dan kemungkinan Syiela menginap di rumah Bintang, karena sejak putrinya itu menikah dengan Bintang, Papi Dana memang tak mengekang atau mengatur Syiela harus tinggal dimana. Papi Dana selalu memberikan kebebasan untuk Syiela dan Bintang.
Papi Dana sudah duduk di kursi kerja yang biasa diduduki oleh Syiela. Kedua netra pria paruh baya tersebut langsung tertuju ke map berwarna krem di atas meja kerja Syiela. Tadinya Papi Frans berpikir, mungkin saja isi dari map tersebut hanyalah gambar desain, namun alangkah terkejutnya Papi Dana, saat ia membuka map tersebut dan mendapati surat gugatan cerai di dalamnya.
Dan yang lebih membuat Papi Dana tercengang, nama sari penggugat di surat tersebut adalah Syiela. Sedangkan tergugatnya adalah Bintang Mahardika.
Bintang Mahardika!
__ADS_1
Kenapa mendadak Syiela menggugat cerai Bintang?
Papi Dana baru saja bangkit berdiri, saat tiba-tiba pintu ruangan Syiela sudah menjeblak terbuka. Ada Syiela yang kini berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Papi!," gumam Syiela yang nampak terkejut dengan kertas yang kini dipegang oleh Papi Dana.
Bodoh!
Syiela tadi lupa menyimpan surat gugatan cerainya pada Bintang.
"Syiela!"
"Apa ini maksudnya?" Tanya Papi Dana seraya mendelik pada sang putri, seolah menuntut penjelasan Syiela mengenai surat cerai tersebut.
"Syiela menggugat cerai Bintang," jawab Syiela tegas sekaligus jengah sebenarnya.
"Kenapa?" Tanya Papi Dana lagi lebih tegas.
"Karena Bintang sudah mengkhianati Syiela!" Sergah Syiela akhirnya to the point mengungkapkan pengkhianatan serta kebusukan yang sudah Bintang lakukan di belakang Syiela.
"Vaia adalah kekasih Bintang sebelum Bintang mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya."
"Bintang dan Vaia sudah berpacaran sejak mereka masih remaja, dan mungkin Bintang juga sudah berjanji untuk menikahi Vaia sebelum pria itu kehilangan ingatannya. Makanya saat ingatan Bintang akhirnya kembali dan Vaia ada di depan matanya, Bintang langsung menikahi wanita itu tanpa pikir panjang."
Penjelasan Elang tentang status Vaia yang sudah terlebih dahulu hadir di hidup dan hati Bintang sebelum Syiela,mendadak kembali berkelebat di benak Syiela. Wanita itu mendongakkan kepalanya demi menahan airmatanya agar tak jatuh!
Ya, Syiela tak mau menangisi hubungan brengseknya bersama Bintang!
"Mengkhianati? Apa yang sudah dilakukan oleh Bintang, Syiela?" Papi Dana menatap penuh rasa geram pada Syiela.
"Ingatan Bintang sudah kembali. Dan ternyata Bintang sudah punya kekasih di kota Z." Air mata Syiela akhirnya turun dan menganak sungai di kedua pipinya. Sekuat apapun Syiela menahan,ia tetap saja tak mampu membendung rasa sakit hati yang kini ia alami.
"Bintang menikahi kekasihnya di kota Z diam-diam! Di belakang Syiela!" Lanjut Syiela lagi yang kini sudah sesenggukan.
"Dan sekarang, istri Bintang..." Syiela mengusap kasar airmata di wajahnya.
"Namanya Vaia." Lanjut Syiela lagi setelah berhasil menguasai dirinya.
"Vaia sekarang sedang mengandung anak Bintang," pungkas Syiela nyaris tanpa suara yang langsung membuat Papi Dana naik pitam.
"Keparat!" Umpat Papi Dana seraya menggebrak meja di hadapannya.
Papi Dana menyambar surat gugatan cerai Syiela, lalu secepat kilat keluar dari ruang kerja Syiela. Papi Dana akan langsung membuat perhitungan pada Bintang dan Frans Mahardika!
****
"Lepas!"
__ADS_1
"Dasar brengsek!" maki Bintang pada dua pria yang akhirnya membawa Bintang pulang ke kediaman Mahardika.
Bintang tak sadarkan diri selama perjalanan pulang. Dan barulah saat tiba di rumah Papa Frans, Bintang terbangun dari pengaruh obat sialan yang tadi diberikan oleh orang suruhan Papa Frans ini.
Sialan!
"Papa!" Teriak Bintang seraya masuk ke kediaman Mahardika.
Bintang benar-benar marah pada sang papa sekarang karena semua kekacauan yangvterjadi di dalam hidup Bintang ini disebabkan oleh keegoisan sang papa!
Seharusnya Papa Frans mengulik dulu tentang kehidupan Bintang sebelum Bintang kecelakaan dan amnesia serta tak buru-buru mengenalkan lalu menjodohkan Bintang dengan Syiela!
Sekarang Bintang benar-benar sudah jadi seorang pria brengsek yang menyakiti hati Vaia, Syiela, dan hati semua orang.
Vaia mungkin tak akan pernah memaafkan Bintang ataupun mengizinkan Bintang menemui anaknya kelak.
"Tidak!"
"Tidak!" Bintang menyugar kasar rambutnya lalu membanting pintu depan dan memanggil sang papa lagi dengan penuh emosi.
"Papa!"
"Papa! Kenapa Papa memaksa Bintang untuk pulang?" Teriak Bintang lagi frustasi.
"Bintang baru saja membuka pintu kamar Papa Frans, saat seorang maid sudah menghampiri Bintang dengan takut-takut.
"Maaf, Pak Bintang! Tapi Tuan Frans sedang tidak di rumah." Ucap maid pada Bintang yang langsung menatapnya dengan tajam.
"Lalu Papa dimana?" Tanya Bintang dengan nada membentak.
"K-ke kantor tadi pagi," jawab Maid tergagap.
"Aaarrrggh!" Bintang menggebrak pintu kamar Papa Frans demi meluapkan emosinya, lalu pria itu segera keluar lagi dari rumah, saat dua orang suruhan papa Frans tadi kembali mencegatnya.
"Awas!" Bintang mendorong kasar dua pria bertubuh kekar tadi.
"Tuan Bintang, anda mau kemana lagi-"
"Bukan urusan kalian!" Bentak Bintang kasar, sebelum pria itu melesat menuju ke mobilnya,lalu dengan cepat tancap gas menuju ke Mahardika's Company. Sedangkan dua anak buah Papa Frans tadi juga tak tinggal diam dan segera mengikuti Bintang.
.
.
.
Tadi malam mau ngetik naskah ini malah muntaber 🤢
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.