Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
MENCARI


__ADS_3

"Macet!" Des*h Vaia saat melihat antrian panjang kendaraan di depan mobil Ayah Arga.


"Seharusnya kita tadi naik pesawat saja biar tidak macet begini!" Celetuk Ezra yang duduk di sebelah Vaia.


"Harusnya kalian juga pengertian dengan ayah yang tak bisa naik pesawat," timpal Bunda Vale dari jok depan seraya mencubit perut ayah Arga yang langsung terlonjak.


"Ck! Itu juga bukan keinginanku, Val!" Sergah ayah Arga mencari pembenaran.


Vaia memperhatikan dari belakang, sikap Bunda Vale dan Ayah Arga yang selalu romantis dan manis. Dimanapun mereka berada, sikap saling perhatian keduanya selalu membuat iri.


"Ayah dan Gavin, mereka berdua sama! Sama-sama tidak bisa naik pesawat," celetuk Ezra lagi seraya memainkan ponsel di tangannya.


"Sedang chat bersama siapa?" Tanya Vaia kepo seraya melongok ke layar ponsel Ezra.


"Apa? Sedang main game cacing!" Jawab Ezra menunjukkan layar ponselnya dengan lebih jelas pada Vaia.


"Astaga! Aku kira chat bersama pacarmu!" Decak Vaia seraya geleng-geleng kepala.


"Ezra tak punya pacar, Kak!" Sergah Ezra tanpa menoleh pada Vaia.


"Nanti Bunda carikan pacar, ya! Biar kamu nggak jomblo lagi!" Celetuk Bunda Vale dari jok depan.


"Pacarnya yang seperti Bunda?" Sahut Ezra.


"Mana ada! Yang seperti Bunda ya cuma Bunda! Dan itu sudah jadi milik ayah!" Ujar Ayah Arga yang tangannya sudah terulur untuk merapikan rambut Bunda Vale.


Ck! Sok sweet sekali!


"Yang seperti Bunda, Oma Airin mungkin," celetuk Vaia yang langsung membuat semuanya tergelak.


"Bisa langsung digampar Opa Theo kamu nanti kalau godain Oma Airin!" Sahut Ayah Arga yang masih tergelak.


Mobil akhirnya mulai berjalan meskipun hanya dengan kecepatan sepuluh kilometer perjam.


Ya ampun!


Kapan mau sampai kalau mobilnya selelet ini?


Bisa-bisa besok pagi mereka baru akan tiba di kota Z!


"Anaknya Kyle dan Audrey perempuan semua, mungkin salah satu bisa kita kenalkan ke Ezra!"


Vaia sekilas bisa mendengar Bunda Vale yang berbisik-bisik pada Ayah Arga.


"Iya, benar! Siapa namanya?" Ayah Arga tampak mengingat-ingat.


"Alicia dan Olivia." Jawab Bunda Vale yang sepertinya begitu hafal.


"Nanti aku akan menelepon Audrey," ujar Bunda Vale lagi mengungkapkan rencananya.


"Aunty Audrey itu yang dulu suka ngasih gaun ke Vaia, ya, Bund? Waktu Vaia masih kecil." Tanya Vaia dari jok belakang.


"Iya! Kau masih ingat!"


"Iya, tapi sekarang udah jarang ketemu." Ujar Vaia seraya tertawa kecil.


"Apa sekarang masih mengelola Wedding Organizer juga?" Tanya Vaia lagi.


"Masih setahu Bunda. Tapi sudah dibantu anaknya juga. Alice sepertinya yang membantu mengurus WO. Kalau Via lebih ke Arthur Company. Mungkin karena Via sulung di keluarga Arthur," Jelas Bunda Vale panjamg lebar.


"Kak Vaia bisa pakai WO Aunty Audrey pas nikah nanti!" Celetuk Ezra yang langsung membuat raut wajah Vaia sedikit berubah.


"Ya!" Jawab Vaia singkat seraya meraih sketch book ukuran A5 yang selalu ia bawa kemana-mana. Vaia memalingkan wajahnya ke jendela mobil dan tangannya sudah sibuk menggireskan pensil ke atas sketchbook-nya.


"Eh, maaf, Kak!" Ezra yang lagi-lagi salah bicara segera mengusap pundak Vaia.


"It's okay!" Jawab Vaia lirih.

__ADS_1


"Bintang pasti akan secepatnya pulang, Va!" Bunda Vale ikut mengusap tangan Vaia yang masih memalingkan wajah ke arah jendela mobil.


"Iya, Bund!" Jawab Vaia lirih, bersamaan dengan mobil yang akhirnya kembali melaju, meskipun hanya pelan-pelan.


****


"Jalurnya yang mana?"


"Lurus, Ayah!"


"Bukankah lautnya di sebelah sana?"


"Iya, tapi rumahku di jalan yang lurus!"


Bintang menghentikan mobilnya sejenak di persimpangan yang terdapat empat jalur.


"Arah airport," Bintang menunjuk ke jalur di sebelah kanan jalurnya.


"Arah pantai dan dermaga," Tangan Bintang ganti menunjuk ke jalur di depan kaca mobilnya.


"Arah rumah gadis kecil berponi," gumam Bintang lagi sedikit ragu saat menunjuk ke arah jalur di sebelah kiri mobilnya.


"Vaia?"


"Kenapa namanya tak asing?"


Bintang bergumam dalam hati, sevekun pria itu membelokkan mobilnya ke sebelah kiri menuju ke rumah si gadis berponi.


Pemandangan tak asing langsung menyambut Bintang. Ada jejeran penginapan di kiri dan kanan jalan. Bintang merasa kalau ia pernah ke tempat ini!


Bintang terus mengemudikan mobilnya ke depan saat ia mulai menemukan rumah penduduk dengan jarak yang masih jarang. Namun kemudian laju mobil Bintang harus terhenti saat ada kerumunan warga di depannya. Sepertinya baru saja terjadi kecelakaan!


Bintang turun dari mobil untuk memastikan, saat seorang warga menghampirinya dan meminta bantuan Bintang untuk membawa korban kecelakaan ke klinik. Bintang segera mengiyakan dan mengabtar korban kecelakaan yang merupakan pasangan suami istri ke klinik terdekat.


Dan anehnya, Bintang sudah tahu jalan menuju ke klinik tanpa ia bertanya pada warga.


****


[Sudah sampai?] -Syiela-


Bintang baru saja keluar dari klinik untuk mengantar korban kecelakaan saat pesan dari Syiela masuk ke ponselnya.


[Ya! Kau sibuk?] -Bintang-


[Aku baru selesai menemui beberapa klien di butik. Ya ampun! Kepalaku rasanya ingin meledak!] -Syiela-


Bintang mencoba menghubungi Syiela via video call tapi tak diangkat oleh Syiela.


[Sayang!] -Bintang-


Tak berselang lama, telepon dari Syiela masuk ke ponsel Bintang.


"Halo, Sayang!" Sapa Bintang cepat.


"Aku pikir tidak ada sinyal disana!"


"Ada! Kita juga bisa video call. Sinyalnya full," jawab Bintang seraya masuk ke dalam mobil di area parkir klinik.


Ada klinik bersalin juga di samping klinik tempat Bintang mengantar korban kecelakaan tadi.


"Benarkah? Tunjukkan pantainya padaku kalau begitu!"


"Aku belum ke pantai. Aku masih di klinik-"


"Kau sakit?"


"Tidak! Aku hanya mengantar korban kecelakaan tadi," jelas Bintang menenangkan Syiela.

__ADS_1


"Kondisi Elang bagaimana?" Tanya Bintang selanjutnya pada Syiela.


"Aku juga tidak tahu! Aku baru mau ke rumah untuk menengoknya. Tadi aku di butik seharian."


"Baiklah. Nanti kabari aku kalau kau sudah pulang!" Pesan Bintang pada Syiela.


"Siap!"


"Kau nanti menginap di rumah Papa lagi?" Tanya Bintang sedikit merasa cemburu. Hanya ada Elang di rumah Papa Frans dan para maid memang.


Tapi memang aneh saja kalau Syiela tidur di rumah Papa Frans padahal Bintang tak ada di sana.


"Aku rasa tidak! Aku akan pulang ke rumah Mami saja."


Bintang langsung bernafas lega dengan jawaban Syiela.


"Aku harus mengemudi, Sayang! Nanti aku telepon lagi!"


"Oke! Hati-hati!" Pungkas Bintang bersamaan dengan telepon yang terputus.


Setelah menyimpan ponselnya, Bintang membaca petunjuk arah yang berada tepat di depannya. Jarak ke pantai lebih dekat ketimbang ke rumah gadis berponi yang tadi hendak Bintang kunjungi. Jadi Bintang mungkin akan ke pantai dulu karena ia sudah sangat penasaran dengan pantai yang kata Syiela begitu indah.


Bintang tak menunggu lagi dan pria itu segera melajukan mobilnya ke jalur yang menuju ke pantai.


****


Tepat pukul lima sore, Syiela sudah tiba di kediaman Mahardika. Wanita itu segera turun dari mobil dan masuk ke rumah untuk melihat kondisi Elang. Tadi siang saat Syiela meninggalkan Elang, pria itu masih tidur karena efek dari obat yang diberikan oleh dokter.


"Selamat sore, Nona Syiela!" sapa maid pada Syiela yang langsung mengulas senyum.


"Sore!"


"Elang sudah bangun, Mbak?" Tanya Syiela selanjutnya.


"Belum, Nona!"


"Belum?" Syiela langsung kaget.


"Masih demam?" Tanya Syiela lagi


"Sudah turun demamnya, Nona. Tadi saya cek yang terakhir suhunya tiga puluh tujuh derajat," jelas maid.


Syiela langsung bernafas lega mendengar jawaban maid. Mungkin Elang hanya kelelahan, makanya pria itu belum bangun.


"Buatkan saya teh ya, Mbak!" Titah Syiela selanjutnya pada maid.


"Baik, Nona!"


Syiela lalu pergu ke ruang tengah, dimana Elang masih terbatung di sofa di ruangan tersebut. Kedua mata pria itu masih terpejam, dan Elang memang terlihat tenang dalam tidurnya.


Syiela meletakkan punggung tangannya sejenak di dahi Elang dan benar saja, Elang memang sudah tidak demam.


Syiela lanjut meletakkan tasnya di sofa lain, lalu wanita itu dufukdan membuka ponselnya. Ada pesan masuk dari Bintang.


[Aku sudah di pantai, Sayang!] -Bintang-


Deretan foto ikut dikirimkan oleh Bintang ke ponsel Syiela dan langsung membuat Syiela berdecak kagum.


Syiela tak menunggu lagi, dan wanita itu langsung menghubungi Bintang via video call.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2