Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
SEPERTI TIDAK ASING


__ADS_3

Syiela mengeluarkan koper Bintang dari dalam lemari, lalu merebahkannya di lantai. Mereka bahkan baru kembali dari honeymoon kemarin, dan sekarang Bintang sudah mau pergi lagi.


Tapi keputusan Bintang untuk menggantikan Elang memang sudah bijak. Kasihan juga kalau Elang yang masih sakit harus pergi ke luar kota demi menunaikan kewajibannya. Sedangkan Bintang saja jika ada sesuatu di kantor yang tidak bisa ia tangani, maka Elang akan sigap turun tangan untuk membantu Bintang.


Jadi biarlah sekarang dua saudara angkat itu bergantian saling membantu.


"Nanti di sana berapa hari, Sayang?" Tanya Syiela pada Bintang seraya mengeluarkan beberapa kaus, celana, serta kemeja Bintang darj dalam lemari.


"Aku belum tahu! Kata Elang juga belum bisa dipastikan," jawab Bintang yang sudah membantu Syiela mengemasi pakaiannya.


"Kau mau ikut?" Tawar Bintang seraya mengusao wajah Syiela.


"Aku banyak pekerjaan disini!"


"Lagipula, kita baru pulang honeymoon juga kemarin dan jadwalku bertemu klien butik sudah sangat menumpuk! Banyak yang ingin berkonsultasi!" Terang Syiela membeberkan sejumlah alasan.


Pekerjaan Syiela sebagai pemilik beverapa butik sekaligus calon CEO di perusahaan milik keluarga Goentara sudah cukup membuat Syiela sibuk sepanjang hari. Hanya saat memlersiapkan pernikahan dan honeymoon bersama Bintang kenarin Syiela tidak sibuk karena wanita itu memang mengambil cuti.


Tapi mulai hari ini, sepertinya Bintang harus membiasakan diri dengan kesibukan Syiela.


"Baiklah, aku mengerti! Kita bisa video call nanti dan kau bisa menyusulku jugavjika kangen-"


"Sudah kubilang aku sibuk! Kenaoa kau masih saja berharap!" Sela Syiela menggerutu yang malah membuat Bintang tergelak.


"Sudah selesai!" Syiela menutup koper Bintang, lalu Bintang menegakkan koper tersebut dan hendak mendorongnya keluar dari kamar.


"Kau mandi dan siap-siap saja! Biar aku yang menbawa kopermu!" Cegah Syiela pada Bintang yang hebdak mendorong kopernya keluar dari kamar.


"Berat!" Bintang memperingatkan sang istri.


"Ck! Kan ada rodanya dan tinggal didorong!" Tukas Syiela seraya mendorong Bintang ke arah kamar mandi.


"Mau mandi bersama?" Bintang mengerling nakal pada Syiela.


"Malas!" Jawab Syiela seraya keluar dari kamar sembari mendorong kopet Bintang ke arah ruang tengah. Syiela akan duduk di ruang tengah seraya membalas beberapa chat dari customernya. Sekalian menunggu Bintang bersiap-siap.


****


Selang dua puluh menit, Bintang sudah keluar dari kamar dan berpakaian rapi.


"Sayang! Kau lihat jaketku?" Tanya Bintang pada Syiela yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Ada di rumah Mami!" Jawab Syiela tqnoa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Lalu aku tak memakai jaket?" Tanya Bintang yang langsung menbuat Syiela berdecak.


"Kan ada jaket lain di lemarimu, Bintang!" Sergah Syiela sedikit gemas.


"Carikan!" Titah Bintang manja.


Meskipun sedikit menggerutu, Syiela akhirnya tetap mengangkat bokongnya dan masuk ke kamar untuk mengambil jaket Bintang.


Tepat saat Syiela selesai memakaikan jalet tadi pada Bintang, Elang terlihat turun dari lantai dua.


Astaga!


Kenapa pria itu memaksa untuk turun?


Apa dia sudah sehat?


"Elang! Kenapa kau memaksa turun?" Tegur Syiela yang langsung buru-buru menghampiri Elang, lalu memapah pria itu agar duduk di sofa.


Sementara Bintang yang melihat semua adegan itu hanya berekspresi datar dan sebisa mungkin menahan rasa cemburu yang meronta di hatinya.


Mereka hanya sahabat, Bintang!


Mereka hanya sahabat!


Bintang tak berhenti merapalkan dalam hari sembari meyakinkan dirinya sendiri.


"Aku hanya ingin memastikan apa Bintang jadi berangkat-" Elang tak jadi melanjutkan kalimatnya saat pria itu terlihat mebqtap pada koper Bintang yang memang sudah siap dibawa.


Kebiasaan Elang sekali kalau bicara suka terputus di tengah-tengah!


"Jadi ternyata." Elang ternyata melanjutkan kalimatnya yang terputus tadi dan pria itu terlihat manggut-manggut.


"Iya, jadi! Memangnya kau pikir aku bercanda?" Sahut Bintang seraya berdecak.


"Aku belum memberitahu Papa kalau kau yang akan pergi," Tukas Elang yang sudah membuka ponselnya dan seperti hendak menelepon Papa Frans.


Hhhh!


Sudah sakit tapi masih saja memikirkan masalah pekerjaan.

__ADS_1


Elang! Elang!


"Nanti biar aku sendiri yang bicara pada Papa!" Cegah Bintang cepat seraya menahan Elang agar tak usah menelepon papa Frans. Bintang juga bisa menelepon dan memberitahu papa Frans sendiri!


"Kau yakin akan benar-benar pergi, Bintang?" Tanya Elang yang masih saja meragukan keseriusan Bintang untuk menggantikannya.


Memangnya Elang pikir niat Bintang ini hanya sebuah kelakaran?


"Ya! Aku yakin!" Jawab Bintang tegas dengan tatapan mata yang tegas juga. Lama-lama jengah juga, jika Elang terus saja meragukan keseriusan Bintang.


"Baiklah!" Gumam Elang lirih sambil kembali mengutak-atik ponselnya.


"Tiketnya sudah aku pesankan dan aku kirimkan ke ponselmu," ujar Elang lagi seraya memegangi kepalanya.


Nah, kan!


Sudah tahu sakit tapi masih saja mengutak-atik ponsel sejak tadi!


"Pusing lagi?" Tanya Syiela yang langsung sigap menyusun bantal, lalu membimbing Elang agar berbaring di sofa.


"Berbaringlah, Elang!"


"Seharusnya kau tadi tetap di kamar dan tak perlu keluar!" Omel Syiela seraya memanggil seorang maid untuk mengambilkan selimut untuk Elang.


Benar-benar Syiela yang perhatian!


"Aku baik-baik saja, Syiela!" Ucap Elang yang masih saja keras kepala. Sudah wajah pucat dan kepala sakit tapi masih bilang baik-baik saja!


Dasar Elang!


"Coba cek suhunya!" Titah Bintang pada Syiela yang langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Elang. Bintang sudah bisa menebak kalau Elang pasti demam lagi!


"Sedikit demam! Mungkin sebaiknya aku memanggil dokter lagi," ujar Syiela yang sudah membuka ponselnya dengan kilat, lalu wanita itu bicara pada dokter keluarga.


"Syiela, tidak usah!" Protes Elang saat mendengar Syiela yang membuat janji bersama dokter yang akan datang memeriksa Elang.


"Jangan keras kepala!" Tuding Syiela pada Elang dengan nada galak.


Bintang hampir tergelak melihat ekspresi wajah Elang saat dibentak oleh Syiela.


Makanya jangan keras kepala, Elang!


Syiela sudah bangkit berdiri dan menghampiri Bintang yang hendak berangkat. Wanita itu langsung bergelayut pada Bintang.


"Kau mau mengantarku ke bandara?" Tanya Bintang sebelum pria itu memagut sekilas bibir Syiela.


"Ya!" Jawab Bintang balik tersenyum menggoda pada Syiela.


"Maaf, aku harus merawat pria jomblo yang disana itu!" Bisuk Syiela serqyq mengendikkan dagunya pada Elang yang berbaring membelakangi Bintang dan Syiela.


"Aku cemburu," ucap Bintang blak-blakan.


"Jangan konyol! Aku dan Elang hanya bersahabat!" Syiela memukul dada Bintang yang malah terkekeh.


"Hanya bercanda!" Tukas Bintang yang langsung membuat Syiela memutar bola matanya.


"Elang, tiketku?" Tanya Bintang berseru pada Elang yang langsung berbalik ganti berbaring telentang. Elang menoleh ke arah Bintang ssbelum mebjawab pertanyaan pria itu,


"Sudah aku kirim ke ponselmu!"


Bintang segera membuka ponselnya untuk memeriksa e-ticket yang dikirimkan oleh Elang. Syiela ikut membaca tiket elektronik milik Bintang, sebelum kemudian wanita itu bersiul.


"Kota Z!"


Bintang masih diam dan terlihat berpikir setelah ia membaca nama kota tujuannya.


Kota Z!


Namanya seperti tidak asing di telinga Bintang?


"Apa kota itu ada di pesisir?" Tanya Bintang pada Syiela.


Eh, tapi Elang kan memang pagi tadi sudah mengatakan kalau proyek ini ada di dekat pesisir. Jadi ini pastilah memang kota pesisir!


"Tepat! Kau sudah pernah ke sana? Aku dengar ada kepulauan yang menawan dekat kota itu!"


"Aku jadi ingin ikut bersamamu, Sayang!" Ujar Syiela yang rupanya sudah bergelayut di leher Bintang.


"Namanya seperti tak asing," gumam Bintang menanggapi pertanyaan Syiela tadi. Meskipun sepertinya Syiela tqk mendengar karena wanitq itu masih sibuk bergelayut pada Bintang.


"Elang, apa aku pernah ke kota Z sebelummya?" Tanya Bintang akhirnyq pada Elang yang terlihat mengarahkan pandangannya ke punggung sofa.


Aneh!

__ADS_1


Elang kenapa?


"Belum aku rasa." Jawab Elang terdengar ragu-ragu. Sepertinya Elang memang ragu pada jawabannya.


"Ada apa? Kau merasa tak asing dengan nama kotanya?" Tanya Elang menerka-nerka.


"Sedikit-" Bintang menjawab dengan ragu. Tapi nama kota Z memang terdebgar tak asing dibtelinga Bintang.


Hanya saja, Bintang tak ingat tentang memori dirinya di kota Z.


Aaaakkh!


Bintang benar-benar tak bisa mengingatnya!


"Mungkin kau memang pernah ke sana sebelum kau amnesia, Sayang!" Celetuk Syiela yang masih bergelayut manja pada Bintang.


"Tapi kata Elang aku belum pernah ke sana." Tukas Bintang yang masih tak ingat apa-apa tentang kota Z.


"Mungkin aku yang lupa, Bintang!" Sahut Elang masih sambil berseru pada Bintang.


"Dengar! Elang yang lupa!" Syiela mengecup mesra pipi Bintang.


"Aku tak akan jadi berangkat jika kau terus saja bergelayut begini, Syiela!" Ujar Bintang seraya mengusap-usap lengan Syiela, lalu menciumi jemari istrinya tersebut.


"Pesawatmu jam berapa?" Syiela mengambil ponsel Bintang dan memeriksa e-ticket Bintang tadi.


"Yah! Tidak bisa!" Syiela mendes*h kecewa dan wanita itu akhirnya hanya menyusupkan kepalanya di pelukan Bintang, untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Kau bisa menyusul ke sana nanti. Lalu kita bisa honeymoon kedua ke kepulauan yang kau maksud tadi," tawar Bintang sekali lagi pada Syiela.


"Aku tidak janji karena aku juga banyak pekerjaan di sini," tutur Syiela mengingatkan Bintang.


"Ya, aku lupa!" Gumam Bintang seraya mengusap kepala Syiela.


"Cepatlah pulang saja, atau biar Elang yang menggantikanmu di sana jika pria itu sudah sehat nanti," ujar Syiela memberikan solusi untuk Bintang yang sepertinya juga masih berat untuk pergi dan berjauhan dari Syiela.


"Kau tidak keberatan, kan, Elang?" Seru Syiela bertanya pada Elang.


"Keberatan apa?" Elang balik bertanya karena sepertinya pria itu tidak mendebgar solusi Syiela tadi untuk Bintang.


"Menggantikan Bintang di kota Z," jawab Syiela.


"Ya! Nanti aku susul!" Janji Elang pada Bintang dan Syiela.


"Lihat! Elang selalu jadi dewa penyelamat," seloroh Syiela yang langsung dipeluk erat oleh Bintang yang hampir berangkat.


"Sudah! Cepat berangkat sana atau kau akan tertingal pesawat!" Ucao Syiela yang masih dipeluk erat oleh Bintang.


"Ya!" Bintang mengecup puncak kepala Syiela sebelum melepaskan pelukannya. Namun Bintang masih lanjut menciumi wajah Syiela berulang kali sebelum akhirnya pria itu benar-benar berpamitan dan berangkat.


Syiela mengantar Bintang sampai ke teras rumah, dan sesaat setelah mobil yang mengantar Bintang melaju pergi, dokter yang tadi ditelepon oleh Syiela rupanya sudah tiba.


"Pagi, Dokter!" Sapa Syiela pada dokter keluarga tersebut.


"Pagi! Elang masih demam?" Tanya dokter sedikit berbasa-basi pada Syiela.


"Ya, mari silahkan masuk!" Syiela segera mempersilahkan dokter untuk masuk, dan mereka langsung menuju ke ruang tengah, dimana Elang masih berbaring di sofq sembari menurup wajahnya dengan selimut.


"Dokter sudah datang, Elang!" Ucap Syiela seraya menyibak selimut Elang.


Elang langsung berusaha untuk bangun dan duduk. Syiela juga sigap membantu pria itu dan dokter segera memeriksa kondisi Elang.


"Bagaimana keadaan Elang, Dokter? Apa perlu dirawat?" Tanya Syiela setelah dokter selesai memeriksa.


"Aku dirumah saja, Syiela!" Seru Elang yang rupanya mendengar pertanyaan Syiela pada dokter. Syiela terkekeh mendengar penolakan Elang yang mirip anak kecil yang takut pada dokter dan rumah sakit. Elang memang tak berubah sejak dulu!


"Elang tak perlu dirawat, Syiela!", ujar Dokter yang akhirnya menjawab pertanyaan serta kekhawatiran Syiela.


"Lihat! Aku baik-baik saja!" Decak Elang pada Syiela yang hanya memutar bola matanya.


Syiela lalu bangkit berdiri dan mengikuti dokter yang hendak bicara tentang kondisi Elang.


"Tekanan darah Elang rendah sekali. Mungkin itu yang membuatnya sakit kepala terus," terang dokter pada Syiela yang langsung mengangguk.


"Ini resep obat untuk Elang, dan pola makannya juga harus dijaga!" Pesan dokter sebelum pamit pada Syiela.


"Baik, Dok! Nanti akan saya atur pola makan Elang."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2