Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
KANGEN


__ADS_3

Bintang menarik selimut, untuk membalut tubuh Vaia yang kini sudah terkelap di dalam dekapannya. Pria itu mengecup kening Vaia, sebelum kemudian membenarkan posisi sang istri agar nyaman berbaring.


Bintang lalu meraih ponselnya di atas nakas yang sejak ia bertemu Vaia pagi ini, sengaja ia matikan. Ada puluhan pesan yang masuk dan beberapa panggilan tak terjawab.


"Astaga!" Bintang menepuk keningnya sendiri saat ia ingay tentang janjinya pagi tadi untuk bertemu beberinvestor yang ingin mengunjungi proyek.


Bagaimana Bintang bisa lupa?


Bintang membuka satu persatau pesan yang masuk ke ponselnya. Sebagian dari Elang dan Papa Frans.


[Investor batal datang hari ini karena ada kepentingan mendadak. Kenapa kau tak mengangkat teleponku?] -Elang-


Lalu ada beberapa pesan juga dari Syiela yang masuk ke ponsel Bintang.


[Sayang! Kau sibuk?] -Syiela-


[Aku merindukanmu. Telepon aku jika kau luang] -Syiela-


Bintang meraih celanamya sebelum beranjak dari atas tempat tidur. Pria otu memastikan sekali lagi kalau Vaia sudah benar-benar terlelap sekarang, karena Bintang harus menelepon Elang dan juga Syiela. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Semoga Elang belum tidur.


Bintang mengambil earphone sebelum pria itu sedikit menjauh dari Vaia untuk menelepon Elang.


"Bintang, kau kemana saja?"


"Ponselku tiba-tiba mati siang tadi dan tak bisa menyala lagi. Jadi aku harus mencari konter untuk membeli ponsel baru," tukas Bintang beralasan. Semoga Elang percaya!


"Kau jadi ke resort siang tadi? Para investor membatalkan kunjungan mereka secara mendadak."


"Ya! Tadi aku menunggu sampai siang. Lalu aku pikir mungkin mereka membatalkan kunjungan, jadi aku pulang setelah makan siang," terang Bunda yang lagi-lagi harus berdusta pada Elang.


Siang tadi Bintang memang ke resort atau lebih tepatnya ke pantai dekat resort untuk berduaan dengan Vaia.


"Jadi, kapan para investor akan datang ke sini?" Tanya Bintang lagi memastikan karena besok ia harus ke kota N bersama keluarga Vaia untuk menggelar syukuran pernikahannya dengan Vaia di Rainer's Resto.


"Masih belum bisa dipastikan. Nantu aku akan menghubungimu jika sudah ada kepastian."


"Baiklah!"


"Kau sudah menghubungi Syiela? Tadi dia menghubungiku dan bertanya kenapa nomormu tak aktif."


"Aku baru saja akn meneleponnya," ujar Bintang cepat.


"Baiklah, sebaiknya kau cepat meneleponnya sebelum dia berpikir yang tidak-tidak lalu menyusulmu ke sana."


Bintang tertawa kecil dengan kelakaran Elang. Namun Bintang sangat yakin kalau Syiela tak akan menyusul kemari. Wanita itu sibuk sekali setelah honeymoon kemarin dan pasti tak ada waktu untuk menyusul Bintang.


"Bukankah bagus juka Syiela menyusul kemari?" Celetuk Bintang yang langsung diiyqkan oleh Elang, meskipun suara saudara angkat Bintang itu terdengar tergagap.


Lagi!


Kenapa sebenarnya dengan Elang?


Sikapnya kadang aneh begitu!


"Aku tutup dulu teleponnya, Bintang! Aku sudah mengantuk."


"Ya! Selamat beristirahat!" pungkas Bintang seraya menutup telepon. Bintang lalu lanjut menelepon Syiela.


Cukup lama hingga telepon akhirnya diangkat oleh Syiela. Apa mungkin istri Bintang itu sudah tidur?


"Halo!" Suara Syiela terdengar serak. Berarti benar, Syiela tadi sudah tidur.


"Sayang!" Panggil Bintang mesra yang langsung membuat Syiela memekik dan suaranya begitu berdenging di telinga Bintang.


Ya ampun!

__ADS_1


"Bintang! Aku mencemaskanmu sejak tadi!"


Tak berselang lama, ada permintaan video call dari Syiela. Bintang memastikan dulu posisinya sebelum menyalakan kamera.


Baiklah, sudah aman!


"Sayang! Mmmmmmuah!" Bintang baru saja menyalakan kamera, saat ciuman jarak jauh dari Syiela sudah memenuhi layar ponselnya.


"Mmmuah!" Bintang membalas ciuman Syiela seraya menatap ke arah ranjang untuk memastikan kalai Vaia tidak terbangun.


Vaia masih terlelap. Sepertinya kelelahan, setelah percintaan panasnya bersama Bintang tadi.


"Kau kemana seharian tadi?" Tanya Syiela dengan nada interogasi.


"Ponselku mendadak rusak," jawab Bintang beralasan, sama seperti alasannya pada Elang. Bukankah Bintang harus konsisten?


"Kasihan!" Ledek Syiela pada Bintang.


"Dan kau tidak pakai baju!" Syiela mengerling nakal pada Bintang lalu membuka kancing piyamanya bagian atas.


"Memangnya kapan aku tidur memakai baju?" Kekeh Bintang yang membuat Syiela ikut tertawa juga.


"Mau lihat?" Syiela mulai membuka kancing piyamanya yang ketiga.


"Aku tak memakai bra!" Bisik Syiela lagi yang langsung membuat Bintang mengernyit.


"Kau memainkannya sendiri?" Tebak Bintang seraya terkekeh. Namun kemudian Bintang dengan cepat menghentikan kekehannya saat melihat Vaia yang menggeliat.


Sial!


Jangan sampai Vaia bangun!


Bintang masih menatap awas pada Vaia yang rupanya hanya berganti posisi dan sama sekali tidak bangun.


"Kau tidak disini!" Decak Vaia yang sudah membuka piyamanya dan memamerkan kedua gundukan kenyalnya pada Bintang.


"Hentikan, Syiela!" Desis Bintang yang malah membuat Syiela tergelak.


"Kenapa? Mau menyentuhnya?"


"Pulang sini!" Goda Syiela lagi yang kini malah sudah menunjukkan kedua gunung kembarnya pada Bintang sekarang.


"Ck! Kau sudah mengunci pintu?" Tanya Bintang mengingatkan Syiela


"Sudah!" Jawab Syiela.


"Kau dikamar sekarang?" Tanya Syiela selanjutnya.


"Ya! Kenapa?" Bintang balik bertanya pada Syiela.


"Tidak ada! Hanya seeang mencari tombol teleportasi di ponsel ini, siapa tahu aku bisa langsung pindah ke sana," terang Syiela yang sontak membuat Bintang menipiskan bibirnya.


"Oh, astaga! Ini tidak membantu dan aku butuh milikmu, Sayang!" Keluh Syiela seraya menghentikan tangannya sendiri yang sejak tadi sibuk memainkan ujung dari gunung kembarnya.


"Aku belum tahu kapan akan pulang-"


"Kenapa tidak menyuruh Elang yang menggantikanmu saja, Bintang? Kau benar-benar membuat aku tersiksa setiap malam," Gerutu Syiela pada Bintang.


"Aku bisa stress jika Elang disini dan aku di kantor mengurusi berkas dan grafik sendirian!" Ujar Bintang beralasan.


"Baru kau, tuan direktur yang pusing dengan grafik dan berkas!" Kekeh Syiela sedikit meledek Bintang.


"Kau mau membantuku di kantor jika aku pulang? Kau dulu kuliah bisnis juga sama seperti Elang, kan?"


"Jika, kau mau membantu, aku pulang malam ini!" Ujar Bintang mengajukan syarat dan permintaan.

__ADS_1


"Ck! Kau pikir aku pengangguran? Aku akan menua di kantor jika harus mengurus kantor Papi dan masih membantumu juga!" Gerutu Syiela pada Bintang.


"Kau sibuk juga berarti?" Tanya Bintang memastikan.


"Hanya dari pagi sampai sore! Kalau malam aku menganggur karena kau tidak di rumah," jawab Syiela kembali dengan nada nakal menggoda.


"Tapi tadi kau sudah tidur saat aku menelepon." Ujar Bintang yang langsung membuat Syiela tergelak.


"Aku harus tidur cukup agar tak cepat keriput, Bintang!"


"Memangnya kau mau punya istri keriput?" Cerocos Syiela lagi yangvhanay membuat Bintang tertawa datar.


"Oh, ya! Tunjukkan kamar tempatmu tinggal sementara! Kau tinggal di hotel?" Tanya Syiela selanjutnya.


"Salah!"


"Hotelnya baru dibangun!" Jawab Bintang cepat dan terkekeh.


"Lalu kau dimana?" Tanya Syiela lagi.


"Di dalam area proyek," jawab Bintang berdusta.


"Mana? Coba lihat!"


Mati kau, Bintang!


"Mmmmmm, ini!" Bintang membalik kameranya dan mengarahkan ponselnya ke jendela kamar Vaia.


"Jendela? Apa ada pemandangan lain?" Tanya Syiela penasaran.


"Tidak ada!" Jawab Bintang cepat. Bintang juga sudah mengarahkan kembali kamera ponsel ke wajahnya.


"Tapi kau bisa menginap di resort jika memang ingin menyusul ke sini," ujar Bintang lagi.


"Mmmm, aku akan melihat jadwalku dulu!" Jawab Syiela beralasan.


"Sok sibuk!" Cibir Bintang pada Syiela.


"Memangnya kau juga tidak? Dasar!" Gerutu Syiela menyalak pada Bintang.


"Hoaaaaam!" Syiela menguap lebar.


"Tidur sana!" Titah Bintang selanjutnya pada sang istri.


"Ya, semoga aku bisa bercinta denganmu di mimpi nanti!" Kekeh Syiela yang sudah terlihat berbaring di atas ranjangnya.


"Nyanyikan satu lagu sampai aku tidur!" Pinta Syiela selanjutnya. Wanita itu sudah memeluk gulingnya.


"Kau mau lagu apa?" Tanya Bintang.


"Apa saja! Cepat!"


Bintang mulai melantunkan sebuah lagu untuk Syiela yang perlahan mulai memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, karena sepertinya Syiela sudah sangat mengantuk.


Bintang mengulas senyum tipis dan melanjutkan nyanyiannya, saat tiba-tiba teguran dari Vaia mengagetkan Bintang.


"Bintang! Kau sedang menelepon seseorang?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2