Istri Rahasia Bintang

Istri Rahasia Bintang
PULANG


__ADS_3

"Bintang!" Panggil Vaia pada Bintang yang tiba-tiba tidak ada di studio miliknya.


Kemana perginya pria itu?


Kenapa tidak mandi atau bebersih dulu dan malah langsung kabur.


"Apa!" Jawab Bintang yang tiba-tiba sudah memeluk Vaia dari belakang, saat istrinya itu masih kebingungan mencari dirinya.


"Ya ampun!"


"Kau darimana?" Tanya Vaia seraya mencubit perut Bintang.


"Dari hatimu!" Jawab Bintang berkelakar yang langsung membuat Vaia berdecak.


"Mandi sana! Katanya kau harus kembali ke tempat kerja!" Ujar Vaia mengingatkan Bintang.


"Oh, iya! Sampai lupa!" Kekeh Bintang yang baru saja akan meninggalkan Vaia, saat kemudian pria itu ingat pada acara workshop Vaia.


"Sayang," Bintang kembali menghentikan langkahnya dan memanggil Vaia.


"Ya!"


"Kau jadi ikut workshop di kota S?" Tanya Bintang memastikan.


"Entahlah aku bingung," jawab Vaia ragu-ragu.


"Kenapa?"


"Karena ternyata pembukaan workshop-nya itu besok siang!"


"Jadi paling enggak aku harus ke kota S sore atau malam ini. Mendadak sekali!" Cerita Vaia yang sepertinya memang ingin sekali ikut workshop tersebut. Bintang juga ingat bagaimana antusiasnya Vaia saat bercerita tentang workshop tersebut karena pematerinya adalah crafter idola Vaia.


"Nanti aku izin ke bis aku, ya! Kali aja aku boleh kembali duluan ke kota S sore atau malam ini," ucap Bintang akhirnya seraya merangkul Vaia.


"Memang bisa?" Tanya Vaia ragu.


"Mmmmmm, bisa mungkin! Aku kan karyawan kesayangan bos!" Jawab Bintang mengira-ngira.


Padahal bos yang dimaksud Bintang disini ya Bintang sendiri.


Bintang akan memesan tiket untuk dirinya dan Vaia sore ini. Bintang tak mau membuat Vaia sedih karena tak bisa datang ke workshop. Sore ini juga,Bintang akan terbang ke kota S bersama Vaia.


"Kamu kemasi barang-barang kamu dulu, ya! Nanti aku telepon-"


"Memang sudah yakin kalau bos kamu bakal kasih ijin, Sayang?" Tanya Vaia merasa curiga pada Bintang.


"Yakin ajalah pokoknya! Bos aku orangnya baik, kok!" Jawab Bintang seyakin mungkin.


"Kamu berkemas dulu, ya!" Ujar Bintang sekali lagi pada Vaia yang akhirnya mengangguk dan tak protes lagi.


Bintang lalu lanjut pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Bintang dan Vaia akhirnya tiba di bandara kota S setelah menempuh perjalanan selama dua jam naik pesawat.


"Hotelnya jauh dari sini, Sayang?" Tanya Vaia seraya menggamit lengan Bintang.


"Tidak terlalu! Hanya lima belas menit naik taksi," jawab Bintang.


"Kalau tempat kamu kerja?" Tanya Vaia lagi.


"Sedikit jauh." Jawab Bintang seraya meringis.


Tepat di pintu keluar utama,ponsel Bintang tiba-tiba berdering dan ada nama Papa Frans di layar.


Sial!


Apa Papa Frans tahu kalau Bintang pulang sore ini?


"Sayang, aku ke toilet sebentar, ya!" Bintang membimbing Vaia ke kursi tunggu, lalu meminta istrinya itu untuk duduk di sana.


"Kau jangan kemana-mana dan jangan bicara pada siapa-siapa!" Pesan Bintang sekali lagi pada Vaia yang malah terkekeh.


"Aku bukan bocah lima tahun,Bintang! Aku tahu yang harus aku lakukan!" Jawab Vaia menenangkan Bintang.


"Baiklah! Aku segera kembali!" Pamit Bintang seraya berlalu ke arah toilet pria. Namun Bintang tak benar-benar masuk ke dalam toilet dan pria itu hanya berduru di dekat pintu masuk, lalu mengangkat telepon Papa Frans.


"Halo!"


"Bintang! Kata mandor kau pulang hari ini?"


"I-iya, Pa! Bintang masih di bandara menunggu pesawat!" Jawab Bintang berdusta.


"Baiklah! Nanti langsung pulang, karena banyak hal yang harus kita bicarakan."


"Syiela juga sedang pergi ke luar negeri. Apa dia sudah menghubungimu?"


"Sudah, Pa! Syiela menelepon Bintang siang tadi sebelum berangkat." Jawab Bintang cepat.


"Baiklah! Safe flight dan papa tunggu di rumah!"

__ADS_1


"Oke, Pa!" Pungkas Bintang seraya menyimpan kembali ponselnya. Bintang kembali keluar untuk menghampiri Vaia yang masih duduk di kursi tunggu.


"Sudah?" Tanya Vaia pada Bintang yang sudah kembali menghampirinya.


"Ya!"


"Ada sedikit masalah di gedung kantor yang harus segera diperbaiki," uajr Bintang seraya meraih koper Vaia, lalu menyeretnya.


"Jadi, kau akan ke kantor?" Tanya Vaia memastikan.


"Aku akan mengantarmu ke hotel dulu! Aku sudah memesankan satu kamar di hotel tempat workshop besok. Jadi nanti kau tak perlu bolak-balik," tukas Bintang yang langsung membuat Vaia tersenyum senang.


Bintang dan Vaia sudah keluar dari bandara kota, dan keduanya segera naik taksi menuju ke hotel, dimana Vaia akan menginap dua hari ke depan.


****


"Jadi, pembangunan sudah berjalan sesuai target dan investor juga merasa puas." Papa Frans manggut-manggut setelqh menerima laporan Bintang tentang progress pembangunan hotel di kota Z.


"Bintang boleh menjadi peninjau lapangan saja ke depannya, Pa?" Tanya Bintang mengajukan negosiasi pada Papa Frans.


"Kau seorang direktur, Bintang!"


"Tapi Bintang merasq kurang cocok di pekerjaan itu!" Sergah Bintang cepat.


"Bintang sering membuat masalah dan mengacaukan banyak hal!" Sambung Bintang lagi.


"Lagipula, ada Elang yang lebih cerdas dan lebih paham semua hal tentangbmenjadi direktorat ketimbang Bintang yang tak tahu apa-apa!"


"Bisakah papa tidak egois dan menyerahkan saja semuanya pada Elang yang lebih ahli!"


"Elang akan mengajarimu ke depannya, Bintang! Jadi kamu pasti juga akan sepandai Elang nantinya!" Tukas Papa Frans tetap keras kepala.


"Bintang tidak yakin, Pa!" Sergah Bintang cepat.


"Bintang saja tidak pernah sekolah bisnis dan hanya lulusan SMA!" Ujar Bintang lagi seraya tersenyum kecut.


"Papa sudah mengatur agar kau bisa lanjut kuliah-"


"Maaf, tapi Bintang benar-benar tak tertarik, Pa!" Sela Bintang ceoat menolak usulan Papa Bintang.


"Bintang mau posisi di lapangan saja dan Bintang tidak mau duduk di kursi direktur!" Ucap Bintang keras kepala.


"Tidak bisa begitu, Bintang! Kau itu pewaris tunggal!" Tegas papa Frans yang seperti memaksakan kehendaknya pada Bintang.


"Jangan membantah perkataan papa lagi, dan lakukan yang seharusnya kau lakukan!" Tegas papa Frans sekali lagi.


"Tapi Bintang tetap boleh datang ke lokasi proyek, kan, Pa?" Tanya Bintang memastikan.


"Silahkan saja kalau kau mau kesana!" Jawab Papa Frans yang langsung membiat Bintang mengulas senyum. Setidqkmya Bintang masih bisa menemui Vaia, hingga ia menyiapkan rumah atau apartemen di kota ini untuk Vaia tinggal nantinya. Tapi tentu saja Bintang haris melakukannya diam-diam agar Papa Frans, Syiela, maupun Elang tidak tahu!


"Elang, baru pulang?" Sapa Bintang seraya tersenyum hangat pada Elang.


"Ya!" Jawab Elang yang malah terlihat melamun setelahnya.


Aneh!


"Elang!" Teguran Papa Frans pada Elang yang masih melamun.


Elang memikirkan apa memangnya?


Baru pulang sudah melamun?


Dasar Elang!


"Duduk dan ayo makan malam bersama!", titah papa Frans selanjutnya pada sang anak angkat.


"Iya, Pa! Tapi sebaiknya Elang mandi dulu-" Elang beralasan dan Papa Frans langsung menatap tak senang pada penolakan Elang.


Yeah!


Sikap Papa Frans juga sedikit aneh pada Elang.


Kenapa papa kandung Bintang itu seperti menyimpan rasa kesal atau mungkin amarah pada Elang?


Apa Elang membuat masalah di kantor Mahardika's Company?


"Baiklah! Elang juga sudah lapar. Elang akan makan malam dulu," ringis Elang yang akhirnya duduk bersama Bintang dan Papa Frans. Elang duduk tepat di depan Bintang, dan kini keduanya saling berhadapan.


"Kapan tiba?" Tanya Elang berbasa-basi pada Bintang.


"Baru sekitar satu jam yang lalu," jawab Bintang santai. Bintang juga sudah kemabli melanjutkan makan malamnya.


"Tapi kata Syiela, kau baru akan pulang lusa."


Bintang terdiam sejenak mendengar kalimat Elang, sebelum kemudian pria itu terkekeh.


"Aku salah membaca tiket saat memberitahu Syiela tadi." Ujar Bintang beralasan.


"Dan tadinya aku juga mau sekalian memberikan kejutan pada Syiela, tapi aku lupa kalau Syiela sudah berangkat ke luar negeri hari ini," lanjut Bintang yang kembali terkekeh.


"Syiela berangkat siang tadi," ujar Elang memberitahu Bintang.

__ADS_1


"Syiela menghubungimu sebelum dia berangkat, Elang?" Tanya Papa Frans yang terlihat menatap penuh selidik. Pada Elang. Seperti ada nada kecurigaan di sana.


Apa yang sebenarnya terjadi?


"I....ya!" Jawab Elang tergagap.


"Syiela ke kantor untuk menemui Elang siang tadi, Pa," sahut Bintang membantu meluruskan tentang kronologi Syiela menemui Elang sebelum istri Bintang itu berangkat ke airport.


"Sebenarnya Syiela hanya minta bantuan pada Elang untuk menghubungi Bintang karena telepon Syiela pada Bintang tak kunjung tersambung, Pa!" Timpal Elang menjelaskan. Kenapa sekarang Elang malah seperti menyalahkan Bintang yang ponselnya sulit dihubungi?


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu!," ujar Bintang akhirnya seraya berekspresi bingung. Meskipun sebenarnya Bintang tak benar-benar bingung karena kemarin-kemarin Bintang menang mengabaikan ponselnya dan jarang membalas pesan Syiela. Bintang sedang sibuk bersama Vaia!


"Mungkin hanya pengaruh jaringan saja," pendapat Elang menerka-nerka bersamaan dengan ponsel Bintang yang berdering nyaring.


Apalagi sekarang?


Bintang segera membuka ponselnya dan nama Vaia terpampang jelas di layar ponsel.


Oh, ya ampun!


Jam berapa ini?


Vaia pasti mengkhawatirkan Bintang!


"Bintang angkat telepon dulu, Pa!" Pamit Bintang seraya meninggalkan ruang makan dan menuju ke halaman belakang.


"Sayang!" Sapa Bintang setelah toba di halaman belakang.


"Pekerjaanmu belum selesai? Kau tidur di mess atau pulang ke sini?"


"Sudah hampir selesai, Sayang! Nanti aku akan kesana. Jangan tidur lagi, oke!" Jawab Bintang berpesan pada Vaia.


"Oke!"


"Kau sudah makan?" Tanya Bintang lagi.


"Aku kurang suka makanan yang diberikan pihak hotel tadi."


"Kau mau makan apa? Nanti biar aku bawakan sekalian."


"Apa, ya? Yang segar malam-malam apa, ya?"


Terdengar tawa Vaia dari ujung telepon.


"Yang segar-segar?" Bintang sontak mengernyit dengan permintaan aneh Vaia.


"Nanti aku bawak buah saja bagaimana?" Tawar Bintang akhirnya pada Vaia.


"Aku mau!"


"Oke! Aku selesaikan sebentar pekerjaanku. Bye!" Pungkas Bintang akhirnya.


"Bye, Sayang!"


Bintang tersenyum sendiri setelah telepon Vaia terputus. Pria itu lalu Kembali masuk untuk menghampiri Papa Frans dan Elang yang sepertinya sedang bicara serius. Wajah keduanya terlihat tegang.


"Sedang membahas apa?" Tanya Bintang akhirnya pada dua pria tersebut demi menepis rasa penasarannya.


"Membahas pacar untuk Elang!" Jawab Papa Frans seraya menunjuk pada Elang.


"Masih belum punya pacar? Mungkin papa perlu turun tangan," saran Bintang menatap pada Papa Frans. Namun Eoang sudah dengan cepat melayangkan protes.


"Tidak usah!"


"Lalu kau akan menjomblo sampai kapan, Elang? Syiela saja sampai menjulukimu jomblo akut," cecar Bintang yang malah membuat Elang tertawa kecil.


Dasar Elang!


"Syiela memang suka meledekku sejak dulu dan aku memilih untuk mengabaikan apapun julukannya padaku," jawab Elang dengan nada tegas.


"Bukankah jodoh akan bertemu di waktu yang tepat?" Lanjut Elang lagi.


"Benar sekali!" Sahut Papa Frans seraya mengacungkan jempolnya pada Elang.


"Semoga kau segera bertemu jodohmu kalau begitu!" Ujar Bintang yang sudah kembali bangkit dari duduknya.


"Kau mau kemana, Bintang?" Tanya Papa Frans cepat.


"Ada urusan penting yang harus Bintang selesaikan, Pa!" Jawab Bintang berdusta.


Tak sepenuhnya berdusta.


Urusan ranjang bersama Vaia memanglah hal penting!


"Bintang pergi dulu, Pa!" Pamit Bintang selanjutnya seraya meninggalkan Papa Frans dan Elang yang masih melanjutkan makan malam mereka. Bintang langsung mengambil mobilnya dan melaju ke hotel dimana Vaia menginap malam ini!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2