
"Kenapa kita pulang ke rumah Mami dan Papi?" Tanya Syiela saat Bintang membelokkan mobil kd arah kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tua Syiela.
"Kan kita sudah lama tak menginap di rumah Mami dan Papi! Jadi tidak masalah kita kesini, kan?" Jawab Bintang beralasan.
Padahal alasan Bintang yang sebenarnya adalah Bintang ingin mencegah Syiela bertemu Elang. Jika Bintang mengajak Syiela pulang ke rumah Papa Frans, bisa dipastikan kalau Syiela akan kembali bertemu Elang, lalu mereka berdua akan mengobrol akrab.
Hhhh!
Bintang tidak mau!
Status Syiela masih istri sah Bintang saat ini. Jadi seharusnya Elang bisa lebih menjaga sikap dan tak mudah berakrab-akraban dengan Syiela. Dasar saudara angkat tak tahu diri!
"Iya, sih!" Jawab Syiela yang akhirnya tak protes lagi. Mobil sudah sampai di halaman rumah Papi Dana dan Mami Wenny. Segera Bintang dan Syiela turun lalu masuk ke rumah orang tua Syiela tersebut.
"Tuan dan Nyonya sedang ada acara di luar kota, Nona!" Ujar maid yang menyambut kedatangan Syiela dan Bintang.
"Sampai kapan?" Tanya Syiela seraya memeriksa ponselnya. Kedua orang tua Syiela itu selalu saja sibuk sejak dulu Syiela masih kecil hingga kini Syiela sudah dewasa dan berumah tangga.
"Kurang tahu, Nona! Tuan dan Nyonya tidak mengatakannya," tukas maid yang hanya membuat Syiela mengangguk.
Maid sudah undur diri dan Syiela segera menyusul Bintang yang sudah terlebih dahulu naik ke kamarnya di lantai dua. Sepertinya suami Syiela itu sudah mengantuk tadi.
****
"Dapat mangga mudanya?"
Syiela yang baru bangun dan turun, samar-samar mendengar Bintang yang sepertinya tengah berbicara pada maid dan menanyakan tentang mangga muda.
Yang benar saja!
Kenapa Bintang minta mangga muda pagi-pagi?
"Dapat, Pak! Tapi hanya ada dua." Maud menunjukkan dua buah mangga mengkal pada Bintang.
"Ya sudah! Kau buatkan bumbu rujaknya!" Titah Bintang selanjutnya pada maid.
"Sekarang, Pak?"
"Iya, sekarang!" Jawab Bintang tegas. Maid tak bertanya lagi dan segera pergi ke dapur untuk membuat bumbu rujak untuk Bintang.
"Pagi-pagi mau makan rujak?" Tanya Syiela yang langsung membuat Bintang terkejut.
"Mendadak pengen rujak," jawab Bintang seraya menghampiri Syiela dan mengecup bibir istrinya tersebut.
"Seperti orang ngidam saja!"
"Tengah malam tadi cari kelapa muda, lalu sekarang masih pagi pengen rujak!" Cibir Syiela yang langsung membuat Bintang terkekeh.
"Kau ada acara hari ini?" Tanya Bintang mengalihkan pembicaraan.
"Acara tidak ada tapi pekerjaan banyak yang menungguku di butik dan di kantor," jawab Syiela seraya menuang air minum dan meneguknya.
"Pekerjaanku juga banyak," tukas Bintang yang balik melapor pada Syiela.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong ponselmu tadi berbunyi dan ada nama Diba yang meneleponmu."
"Diba siapa?" Tanya Syiela penasaran.
"Rekan kerjaku." Jawab Bintang berdusta. Diba adalah nama kontak yang Bintang berikan untuk nomor Vaia.
"Oh." Syiela hanya membulatkan bibirnya lalu wanita itu pergi ke halaman belakang untuk berolah raga ringan sejenak sebelum lanjut sarapan dan beraktivitas.
****
__ADS_1
"Sudah," ucap Bunda Vale setelah Vaia menyuapi bunda sambungnya itu beberapa sendok bubur. Bunda Vale memang mengeluh tak enak badan pagi ini, jadi Vaia merawatnya.
"Minum dulu, Bund!" Vaia ganti menyodorkan segelas air hangat untuk Bunda Vale.
"Terima kasih, Vaia! Kau masih mual?" Tanya Bunda Vale seraya mengusap lengan Vaia.
"Masih datang dan pergi, Bund!" Jawab Vaia seraya mengulas senyum. Namun sebenarnya raut wajah Vaia sedang terlihat sendu sekarang.
"Ada apa? Kenapa sedih?" Tanya Bunda Vale yang rupanya langsung tanggap dengan raut sendu Vaia.
"Hanya rindu saja pada Bintang," jawab Vaia lirih.
"Sudah meneleponnya? Kau sudah memberitahunya juga kalau kau hamil?" Cecar Bunda Vale dan Vaia langsung menggeleng. Disaat bersamaan, ponsel Vaia yang selalu ia bawa kemanapun karena menunggu telepon dari Bintang berdering.
Senyuman langsung terulas di bibir Vaia, saat mendapati nama Bintang di layar ponselnya.
"Bintang menelepon, Bund!" Ujar Vaia seraya pamit keluar dari kamar Bunda Vale untuk mengangkat telepon Bintang.
"Halo, Sayang!" Sambut Vaia seraya menyamankan dirinya di sofa.
"Hai!"
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik! Dan sedikit merindukanmu," jawab Vaia yang sudah ganti memainkan tali di gaunnya.
"Aku juga merindukanmu, Sayang!"
"Tadi aku menelepon tapi tidak kau angkat," ujar Vaia selanjutnya memberitahu Bintang.
"Iya, tadi aku sedang mandi."
"Oh. Lalu sekarang? Sudah ke tempat kerja?" Tanya Vaia lagi.
"Iya, baru saja sampai dan aku sempatkan meneleponmu dulu karena mungkin nanti aku akan sibuk."
"Lalu kapan kira-kira kita bisa bertemu lagi, Sayang? Misalnya kau tak bisa cuti kesini, aku tak keberatan menyusulmu kesana," ujar Vaia yang masih berharap kalau ia bisa ikut Bintang tinggal di kota S. Takasalah meskipun harus tinggal di kontrakan sempit, asalkan Vaia bisa dekat dengan suaminya itu.
"Aku masih belum tahu, Sayang!"
"Aku juga masih belum mencari rumah-"
"Kita bisa mengontrak rumah sederhana dulu, Bintang! Nanti aku akan mencari pekerjaan sampingan di sana atau membuka les gambar untuk anak-anak." Sergah Vaia cepat memberikan solusi.
"Kau tertekan dengan hubungan LDR ini?"
"Maaf, jika aku terlalu memaksa, Bintang! Tapi aku hanya ingin berdekatan denganmu saat ini," tutur Vaia mengungkapkan keinginannya.
"Aku paham, Sayang! Tapi beri aku waktu."
"Waktu sampai kapan?" Tanya Vaia mendesak.
"Satu atau dua bulan. Nanti aku jemput ke sana."
"Janji?" Tanya Vaia memastikan.
"Iya, aku janji!"
"Baiklah!" Ucap Vaia akhirnya seraya menghela nafas
"Aku harus kembali bekerja,"
"Ya!" Jawab Vaia seraya kembali mengulas senyum. Membayangkan Bintang yang akan datang dua bulan lagi untuk menjemput dirinya.
__ADS_1
"I love you!" Ucap Vaia lagi pada Bintang.
"I love you too."
Telepon terputus dan Vaia masih tersenyum bahagia. Wanita itu lalu bangkit berdiri saat terlihat Gavin yang sebaru bangun.
Loh, sejak kapan Gavin ada di rumah?
"Hoaaayam goreng!" Gavin menguap seraya garuk-garuk kepala.
"Kalau menguap ditutup mulutnya, Vin!" Omel Vaia pada sang adik bungsu.
"Iya, Kak! Nanti."
"Bunda kemana? Kok belum ada sarapan?" Tanya Gavin selanjutnya saat pemida itu membuka tudung saji dan isinya kosong.
Vaia memang belum memasak tadi dan hanya membuatkan bubur untuk Bunda Vale saja. Vaia sedikit mual kalau mencium aroma masakan.
"Bunda sakit!" Ujar Vaia memberitahu Gavin.
"Sakit apa?" Tanya Gavin yang wajahnya langsung berubah khawatir.
"Demam."
"Sekarang baru istirahat, Gavin!" Seru Vaia saat Gavin hendak masuk ke kamar Bunda Vale.
Gavin akhirnya hanya mengintip sebentar sebelum kemudian pemuda itu kembali ke dapur.
"Sarapan apa, ya?" Gavin kembali garuk-garuk kepala, lalu membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang sekiranya bisa ia olah.
"Omelet enak, Vin!" Jawab Vaia.
"Kak Vaia mau? Ngidam, ya?" Tebak Gavin sok tahu.
"Enggak! Ngasih kamu ide aja!" Sanggah Vaia cepat.
"Hmmm, yaudah! Gavin masak omelet untuk Gavin aja!" .
"Ayah mau!" Celetuk Ayah Arga yang tiba-tiba juga sudah ada di dapur.
"Ayah mau omelet juga? Oke! Gavin bikinin!" Jawab Gavin yang langsung mengambil telur dan bahan lain dari kulkas.
"Ezra mana, ya? Kok nggak kelihatan?" Tanya Vaia yang sejak tadi belum melohat adiknya yang paling rajin itu.
"Sudah ke kafe tadi pagi-pagi." Jawab Ayah Arga.
"Bunda bagaimana, Vaia?" Gantian ayah Arga yang bertanya pada Vaia.
"Sedang istirahat, Yah! Tadi sudah makan dan minum obat," lapor Vaia.
"Kak Vaia beneran nggak mau omeletnya?" Tanya Gavin sekali lagi seraya pemuda itu memecahkan telur.
"Enggak! Aku makan buah saja, dan aku mau menyelesaikan lukisanku!" Jawab Vaia seraya berjalan ke arah pintu rumah.
"Tolong sekalian jaga toko, Vaia!" Seru ayah Arga pada sang putri.
"Siap, Ayah!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.