
Suasana sejenak menjadi hening, setelah Opa Theo dan Om Ben menceritakan tentang apa yang sudah terjadi pada Vaia di kota N. Ayah Arga terlihat memijit pelipisnya sendiri, dan mungkin sekarang ayah kandung dari Vaia itu sedang merasa pening.
"Jadi Bintang sudah menikah dan punya istri di kota S?" Ucapan Ayah Arga memecah kebisuan di antara anggota keluarga besar Rainer tersebut.
"Menurut cerita Vaia begitu, karena saat di acara pernikahan, wanita bernama Syiela itu memang mengenalkan Bintang sebagai suaminya pada Vaia," jawab Opa Theo.
"Dari awal Ben kan sudah bilang, Pa! Agar tak usah membawa anak kurang ajar itu masuk ke keluarga kita!"
"Bintang itu pembuat masalah! Tidak dulu tidak sekarang, kelakuannya sama saja!" Sergah Om Ben yang emosinya sudah kembali meluap.
"Dulu, saat masih bocah, dia sudah menipu semua orang dengan mengaku-ngaku sebagai anak Ben!" Lanjut Om Ben lagi penuh emosi.
"Dan sekarang, saat dia sudah jadi pria dewasa, dia malah menipu Vaia! Menikah diam-diam di belakang Vaia!"
"Seharusnya sudah sejak dua puluh tahun lalu, kita lempar bocah tak tahu diri itu ke jalan!" Sungut Om Ben lagi yang sepertinya benar-benar murka pada Bintang.
"Tapi yang masih sedikit mengganjal, siapa wanita yang lebih dulu dinikahi Bintang? Syiela atau Vaia?" Bunda Vale menyela emosi dari Om Ben yang meledak-ledak, lalu melemparkan pertanyaan yang langsung membuat semua keluarga Rainer tampak berpikir.
"Jangan sampai-"
"Permisi." Sela Tante Ayunda memotong kalimat Bunda Vale.
"Maaf, aku menyela, Kak!"
"Iya, ada apa, Ay? Vaia sudah tidur?" Tanya Bunda Vale pada Tante Ayunda yang sejak tadi memang menemani Vaia di kamar bersama Oma Airin juga.
"Vaia mengeluh lapar dan dia ingin makan ikan bakar-"
"Sambal dabu-dabu!" Sahut Gavin yang sepertinya sudah hafal.
"Kau bisa membelikannya dulu, Gavin!" Titah Bunda Vale pada sang anak bungsu.
"Ya! Tapi nanti beritahu Gavin hasil rapat hari ini, ya!" Pesan Gavin sebelum pemuda itu ngacir pergi untuk membelikan ikan bakar untuk Vaia.
"Jangan sampai Bintang sudah terlebih dahulu menikahi Syiela sebelun dia menikahi Vaia," Bunda Vale melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat disela oleh Tante Ayunda.
"Kalau memang seperti itu, berarti jatuhnya Kak Vaia yang jadi orang ketiga?" Tanya Ezra menatap pada semua anggota keluarganya.
"Tidak adil rasanya jika Vaia disebut sebagai orang ketiga, misalnya ternyata Bintang sudah menikah duluan dengan Syiela sebelum Vaia!"
"Bintang yang tak jujur dan berterus terang disini!" Sergah Opa Theo emosi.
"Keparat memang pria bernama Bintang itu!" Geram Om Ben seraya mengepalkan tangannya penuh amarah.
"Ben akan pergi ke kota S dan mencari tahu yang sebenarnya tentang Bintang Bintang sialan itu!" Tekad Om Ben selanjutnya yang masih terlihat geram.
"Ezra ikut, Om!" Sergah Ezra cepat.
"Tidak-"
"Pergilah bersama Ezra, Ben!" Perintah Opa Theo seraya menatap tegas pada sang putra.
Om Ben tak membantah lagi. Siang itu juga, Om Ben dan Ezra terbang ke kota S untuk mencari informasi mengenai Bintang.
****
Bintang masih duduk termenung seraya menatap ke jendela besar di dalam ruangannya. Tadi Bintang sudah ke butik dan Syiela tidak berada di butiknya. Bahkan kata karyawan Syiela, wanita itu juga belum ke butik lagi sejak ia pergi bersama Bintang beberapa hari yang lalu.
Lalu Syiela dimana?
Tok tok tok!
Terdengar suara ketukan di pintu, namun Bintang tetap bergeming di tempatnya dan seolah tak ada niat untuk membukakan pintu ruangannya, ataubsekedar mempersilahkan siapapun yang mengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam.
Tok tok tok!
Pintu kembali diketuk dari luar, dan akhirnya Bintang mempersilahkan orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk ke dalam. Rupanya Elang yang sedang membawa setumpuk map di tangannya. Bintang sedang malas memeriksa berkas padahal!
"Ada beberapa berkas yang butuh tanda tanganmu," ucap Elang seraya meletakkan beberapa map berisi berkas ke atas meja kerja Bintang.
Bintang tak menjawab sepatah katapun dan langsung membubuhkan tanda tangan di atas namanya, tanpa membaca isi dari berkas yang dibawa oleh Elang. Bintang sedang malas dan pikiran Bintang sedang kalut sekarang!
"Apa Syiela menghubungimu, Elang?" Tanya Bintang setelah ia selesai menandatangani semua berkas yang tadi dibawa Elang.
Syiela dan Elang punya hubungan yangbsulit dimengerti. Dan Syiela juga kerap curhat banyak hal pada Elang, jadi Bintang menduga kalau Elang pastilah tahu tentang keberadaan Syiela saat ini.
"Aku tidak tahu!" Jawab Elang tegas seraya kembali merapikan map-map di atas meja Bintang. Elang lalu langsung pamit dan undur diri dari ruangan Bintang.
Namun Bintang tetap merasa curiga pada saudara angkatnya tersebut, terlebih sebelum Elang keluar tadi, ponsel pria itu sempat berbunyi seakan ada pesan masuk.
Bintang bangkit dari kursinya dan mengintip dari pintu ruangannya untuk memeriksa keadaan.
Benar saja!
__ADS_1
Elang sudah keluar lagi dari ruangannya dan wajah pria itu terlihat khawatir. Langkahnya juga terkesan buru-buru.
Bintang tak berpikir lagi dan segera mengikuti Elang yang entah akan pergi ke mana.
****
Bintang masih membuntuti Elang yang kini sedang mampir ke sebuah apotek. Namun Elang tak lama, dan pria itu sudah kembali meninggalkan apotek, lalu lanjut mengendarai mobilnya menuju ke sebuah gedung apartemen.
Apa ini merupakan gedung apartemen Elang?
Atau pria itu sedang mengunjungi seseorang?
Elang memarkirkan mobilnya di basement dan sepertinya masih tak sadar kalau saat ini Bintang tengah membuntutinya.
Elang sudah masuk ke dalam lift saat Bintang baru keluar dari mobil. Namun Bintang masih sempat membaca lantai tujuan Elang di monitor lift, sebelum lift tersebut bergerak naik.
Lantai dua puluh!
Baiklah, Bintang akan mencari tahu, ada apa di lantai dua puluh!
****
Syiela memegangi kepalanya yang terasa seperti ingin pecah sejak Syiela bangun tidur tadi. Apartemen Elang sudah sepi saat Syiela bangun karena Elang memang sudah pergi ke kantor pagi-pagi.
Semalaman Syiela menangis di apartemen Elang, setelah ia curhat mengenai Bintang dan istri simpanan Bintang yaitu Vaia. Elang rupanya malah sudah tahu banyak tentang Vaia atau Valeria Adiba itu yang merupakan kekasih Bintang saat Bintang belum kehilangan ingatannya.
Jadi Vaia memang sudah terlebih dahulu hadir di hidup Bintang, jauh sebelum Bintang mengenal Syiela dan menikah dengan Syiela.
Sekalipun saat ini posisi Syiela adalah sebagai istri pertama Bintang, namun tetap saja, Vaia adalah cinta pertama Bintang yang mungkin lebih segala-galanya dibanding Syiela yang baru datang di kehidupan Bintang saat pria itu amnesia.
"Bodoh!" Syiela merutuki dirinya sendiri karena langsung qsal jatuh cinta pada Bintang, saat pertama kali Papi Dana mengenalkan Bintang padanya. Syiela bahkan sama sekali tak menyelidiki seluk beluk masalalu Bintang dan langsung setuju saat pernikahannya dengan Bintang direncanakan oleh orang tua mereka.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Syiela kembali merutuki kebodohannya bersamaan dengan kepalanya yang terasa sakit sekali. Syiela akhirnya merebahkan tubuhnya ke atas sofa ruamg tengah sembari menunggu Elang yang katanya akan pulang untuk membawakannya obat.
Syiela merasa kalau ia baru menejamkan matanya beberapa menit, saat sebuah tangan terasa menyentuh keningnya.
"Elang," gumam Syiela seraya berusaha membuka kedua matanya. Syiela sangat yakin kalau yang barusan menyentuh keningnya adalah Elang.
"Kau sudah bangun?"
Benar saja! Itu suara Elang.
"Badanmu panas, makanya kau merasa pusing," ujar Elang lagi seraya membantu Syiela untuk bangun dan duduk. Dunia Syiela langsung terasa berputar. Syiela menghela nafas dalam-dalam dan segera meneguk air yang disodorkan oleh Elang.
"Ya! Tapi kau harus makan dulu!" Ujar Elang seraya bangkit berdiri dan sepertinya hendak ke dapur untuk menyiapkan makanan Syiela.
Dan disaat bersamaan, tiba-tiba pintu depan apartemen Elang sudah menjeblak terbuka. Syiela dan Elang refleks menoleh ke arah seorang pria yang dudah merangsek masuk dan menatap sengit pada Elang.
"Ternyata kau sudah membohongiku, Elang!" Sergah Bintang yang langsung menghampiri Elang, lalu menarik kerah baju pria itu.
"Kau bilang Syiela tidak menghubungimu! Lalu ini apa? Kau mau menyembunyikan istriku, hah?" Teriak Bintang penuh emosi pada Elang.
"Aku bukan lagi istrimu!" Syiela sudah bangkit berdiri dan wanita itu langsung mendorong Bintang agar melepaskan Elang.
"Pergi kau, Pria baj*ngan!" Maki Syiela selanjutnya pada Bintang seraya menangis tergugu.
"Syiela, aku bisa menjelaskan soal Vaia-"
"Tak ada yang perlu kau jelaskan lagi!" Gertak Syiela penuh emosi.
"Seharusnya kau itu jujur kalau memang ingatanmu sudah kembali!"
"Seharusnya kau mengatakan semuanya padaku, agar aku juga bisa mengakhiri hubungan kita dengan baik-baik dan bukannya malah memanfaatkan keadaan dengan menjadi pria serakah seperti ini!" Syiela berteriak di depan wajah Bintang.
"Aku mencintaimu, Syi-"
"Aku tidak butuh cinta palsumu itu!" Teriak Syiela lagi penuh emosi.
"Kau-" Syiela menuding pada Bintang.
"Kau pria paling baj*ngan yang pernah aku temui!"
"Enyah kau dari hadapanku dan jangan pernah menemuiku lagi!" Teriak Syiela sekali lagi sebelum wanita itu masuk ke kamar Elang dan membanting pintu.
"Syiela-" Bintang baru saja akan mengejar Syiela, saat Elang sudah mencegahnya dengan cepat.
"Pergi kau dari apartemenku!" Usir Elang tegas pada Bintang yang langsung menghadiahinya sebuah delikan tajam.
"Apa hakmu mengusirku dari sini? Aku mau menemui istriku-"
"Apa perkataan Syiela masih kurang jelas? Syiela sudah tak mau menjadi istri dari seorang pria baj*ngan dan serakah sepertimu!" Elang menuding dengan berani ke dada Bintang. Namun Bintang langsung dengan cepat menyentak tangan Elang.
"Aku masih suami sah Syiela!" Teriak Bintang menyombongkan diri.
__ADS_1
"Dan kau juga suami dah Vaia!" Sergah Elang seolah sedang mengingatkan Bintang yang sedang memamerkan kepongahannya.
"Jadi siapa sebenarnya yang kau cintai, Bintang? Syiela atau Vaia? Berhentilah jadi pria serakah yang menikahi mereka berdua dan mengumbar cinta pada mereka berdua!"
"Apa kau sadar, kalau perbuatan serakahmu itu sudah menyakiti Syiela, Vaia, dan bayi yang ada di dalam kandungan Vaia!" Teriak Elang yang langsung membuat Bintang membelalakkan kedua matanya.
"Bayi?"
"Di dalam kandungan Vaia?" Bintang terlihat menatap linglung pada Elang.
"Vaia hamil, kau pasti tidak tahu, kan?" Cibir Elang seraya tersenyum mengejek pada Bintang.
"Kau memang suami baj*nga yang hanya mementingkan dirimu sendiri! Mementingkan kesenanganmu sendiri! Mengumbar cinta pada dua wanita tanpa pernah berpikir, bagaimana perasaan kedua istrimu ke depannya!"
"Pria serakah!"
"Apa kau pikir kau adalah pria hebat karena sudah berhasil menikahi dua wanita dan merahasiakan hubungan pernikahan dari kedua istrimu, hah?"
"Kau pikir kau itu hebat?" Maki lang yang hanya terdengar samar di telinga Bintang, karena pikiran Bintang yang kini sibuk memikirkan tentang Vaia dan bayi dalam kandungan Vaia.
Vaia hamil?
Lalu kenapa tak ada yang memberitahu Bintang saat kemarin Bintang menemui keluarga Rainer?
"Kau itu tidak hebat, Bintang! Kau itu pengecut! Baj*ngan!"
"Pergi kau dari apartemenku!" Usir Elang selanjutnya pada Bintang yang masih bergeming di dalam apartemen Elang.
"Syiela masih berstatus sebagai istriku dan kau tidak punya hak untuk menyembunyikannya di apartemenmu!" Bintang yang seolah sudah bisa menguasai dirinya, kembali menuding ke arah Elang.
"Aku akan melaporkanmu pada polisi dan pada kedua orang tua Syiela-"
"Silahkan!" Potong Elang berani.
"Lalu aku akan menceritakan semua kebusukanmu itu pada Uncle Dana dan Aunty Wenny!" Elang balik mengancam Bintang.
Sialan!
"Kau pikir mereka akan percaya padamu?" Olok Bintang akhirnya meremehkan Elang.
"Mereka memang tak akan percaya padaku, tapi mereka tentu saja tak akan meragukan cerita dari putri kesayangannya-"
"Keparat kau Elang!" Bintang yang tersulut emosinya langsung menerjang Elang dan membuat saudara angkatnya itu terjengkang ke belakang.
"Kau itu yang keparat!" Elang balik memaki Bintang lalu mendorong tubuh Bintang yang hampir menindihnya. Elang sudah ganti menerjang Bintang sekarang.
Bugh!
Elang kembali mendaratkan satu bogem mentah di wajah Bintang.
Wajah Bintang yang baru saja sembuh dari lebam-lebam akibat bogem mentah Om Ben kemarin lusa, kini sudah babak belur lagi
"Anggap ini hadiah dari Syiela atas kebohongan dan pengkhianatan yang kau lakukan!"
Bugh!
Elang kembali memberikan bogem mentahnya untuk Bintang.
"Dan ini hadiah dariku karena kau sudah menyakiti hati Syiela!"
Bintang tak lagi berkutik dan hanyabrasa nyeri yang oria itu tqdakan dinsekujur wajahnya. Bintang bahkan tak.kuqsa melawan, saat Elang menarik tubuhnya dan memaksa Bintang untuk bangun. Elang juga menyeret Bintang dan membawanya keluar dari apartemen.
"Sekarang pulang dan renungi kesalahanmu, Baj*ngan pengecut!"
Masih bisa Bintang dengar kalimat makian dari Elang, sebelum akhirnya pria itu menutup dan mengunci pintu apartemennya. Meninggalkan Bintang yang wajahnya kini memar tak karuan.
Bintang meringis dan mengusap darah di sudut bibirnya.
"Vaia hamil, kau pasti tidak tahu, kan?"
Kalimat Elang kembali terngiang di benak Bintang.
"Vaia hamil?" Gumam Bintang yang kembali meringis. Bintang lalu bangkit berdiri dengan susah payah, jemudian pria itu berjalan meninggalkan apartemen Elang dengan langkah sempoyongan.
Bintang harus kembali ke kota N untuk menemui Vaia!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.