
Vaia sedang mengemasi barang-barangnya, saat ponselnya tiba-tiba berdering.
Bintang menelepon lagi?
Apa pria itu sudah sampai di airport?
"Halo, Sayang!" Sambut Vaia seraya mengangkat telepon.
"Buka pintunya! Aku di depan kamar."
Vaia membelalak dan segera membuka pintu kamarnya. Dan benar saja! Bintang memang sudah berdiri di depan pintu kamar Vaia.
Segera Vaia menghambur ke pelukan suaminya tersebut.
"Kaget?" Tanya Bintang seraya mencolek hidung Vaia.
"Iya! Aku pikir kita akan bertemu di bandara," jawab Vaia yang masih belum mau melepaskan dekapan Bintang.
"Tadi kebetulan aku dapat izin lebih cepat. Jadi aku memutuskan untuk kesini dan menjemputmu. Aku juga khawatir kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, jika kau pergi ke airport sendiri," tukas Bintang seraya mengusap kepala Vaia yang tetap bergelayut di dalam dekapannya.
"Terima kasih atas perhatianmu, Sayang!" Ucap Vaia seraya sedikit berjinjit, lalu wanita itu mengecup bibir Bintang sekilas.
"Sekilas saja?" Bintang mengernyit, lalu menangkup wajah Vaia dan mengulangi kecupan mereka tadi dengan cukup lama.
"Sudah! Aku akan terlambat ke airport!" Vaia memperingatkan Bintang yang sudah mulai merem*s bokongnya. Jika tak segera dihentikan, bisa-bisa Bintang kebablasan!
"Aku belum dapat jatah perpisahan semalam," keluh Bintang yang malah kembali mengecup bibir Vaia. Benar-benar candu untuk Bintang.
"Salah sendiri tidak datang!" Vaia memukul dada Bintang.
"Iya, sayang sekali!" Kekeh Bintang yang kemudian memeriksa lukisan hasil workshop yanga kan dibawa pulang oleh Vaia.
"Masih setengah jadi karena kemarin waktunya mepet," cerita Vaia pada Bintang seraya menatap pada lukisan hasil karyanya.
"Tapi sudah terlihat bagus," puji Bintang yang malah menatap bergantian antara lukisan dan juga wajah Vaia.
"Apa, sih? Kok aku yang dilihatin?" Vaia sedikit tersipu, lalu wanita itu pura-pura membereskan ranselnya.
"Sudah siap semua?" Tanya Bisa-bisanya seraya memeluk pinggang Vaia dari belakang.
"Sudah! Awas minggir!" Usir Vaia yang sudah mengenakan tas ranselnya ke punggung. Mau tak mau, Bintang terpaksa melepaskan dekapannya pada Vaia.
"Ayo ke airport!" Ajak Vaia selanjutnya seraya meraih lukisannya. Vaia akan menenteng benda itu saja.
Bintang mengangguk, dan pasangan suami istri itu keluar dari kamar hotel bersama.
Sampai di loby hotel, Bintang segera memesan saru taksi yang akan mengantar ia dan Vaia ke bandara.
Ya, meskipun tadi Bintang membawa mobil saat datang ke hotel, namun Bintang memang sengaja tak menunjukkannya pada Vaia, agar Vaia tetap percaya kalau Bintang hanyalah pekerja di bagian pemeliharaan gedung.
Nanti Bintang akan meminta supirnya untuk mengambil mobil Bintang sekalogus membawakan kemeja untuk Bintang juga ke kantor, karena tadi Bintang memang mengganti kemejanya dengan kaus biasa sebelum menemui Vaia.
Sekali lagi!
Image Bintang di depan Vaia hanyalah Bintang si pria miskin dan bukan tuan direktur!
Bintang mengeluarkan ponselnya saat taksi masih melaju membelah jalan raya. Pria itu hendak mengirimkan pesan pada supir pribadinya, saat ternyata ada telepon masuk dari Syiela.
Sial!
Bintang tentu saja tak mengangkat telepon Syiela dan pria itu memilih untuk kembali menyumpalkan ponselnya ke dalam saku. Untung saja ponsel Bintang silent sebelum ia bertemu Vaia.
"Kota ini begitu indah dan besar, Bintang!" Puji Vaia yang sejak tadi tak lepas memandangi gedung tinggi serta beberapa bangunan yang mereka lalui.
"Ya! Hampir semua fasilitas juga ada disini. Membuat betah tinggal disini," tukas Bintang menimpali pujian Vaia pada kota S.
"Kau akan mengajakku tinggak disini nantinya?" Tanya Vaia yang rupanya masih ingat pada janji Bintang.
"Ya!" Jawab Bintang seraya mengangguk.
"Doakan agar aku bisa secepatnya membelikan rumah untukmu disini," sambung Bintang lagi yang langsung diaminkan oleh Vaia.
Taksi yang ditumpangi Bintang dan Vaia sudah masuk ke kawasan bandara kota, dan langsung berhenti di depan terminal keberangkatan.
Bintang turun terlebih dahulu lalu membantu membawakan lukisan Vaia, sebelum mereka berdua masuk ke area terminal keberangkatan.
"Aku pulang dulu!" Pamit Vaia seraya mengusap wajah Bintang. Rasanya masih berat untuk Vaia berpisah dari Bintang.
__ADS_1
"Safe flight! Hati-hati!" Bintang balik menangkup wajah Vaia, lalu mencium kening istrinya tersebut.
"Nanti yang menjemput di bandara kota Z siapa?" Tanya Bintang memastikan.
"Ezra," Jawab Vaia cepat. Kedua adik Vaia memang selalu bisa diandalkan.
"Baiklah! Aku mungkin akan pulang bukan depan!" Ujar Bintang berjanji pada Vaia.
"Aku tunggu!" Vaia memeluk Bintang dengan erat seraya mengucapkan salam perpisahan sekali lagi.
"Jangan lupa untuk langsung menghubungiku, setelah sampai!" Pesan Bintang lagi.
"Iya!" Vaia mengambil lukisannya, lalu berjalan masuk ke dalam terminal keberangkatan. Wanita itu melambaikan tangannya pada Bintang sekali lagi, sebelum ia menghilang ke dalam terminal keberangkatan.
Bintang kembali membuka ponselnya, setelah Vaia tak terlihat lagi. Pria itu lalu menghubungi sang supir dan menyuruhnya untuk mengambil mobil Bintang di hotel, serta sekalian mengantarkan kemeja Bintang.
Sementara Bintang akan langsung pergi ke kantor naik taksi!
****
Bintang sudah tiba lagi di kantor. Pria itu sedikit celingukan saat tak mendapati Elang di ruangannya maupun di ruangan Bintang.
Elang pergi kemana?
Kenapa tadi tak bilang ke Bintang kalau pria itu mau pergi?
Bukankah tadi katanya dia mau stand by di kantor, agar jika Papa Frans mendadak datang tidak ada yang kena omel?
Ck!
Bintang hanya berdecak dan memutuskan untuk masuk ke ruangannya saja sembari menunggu Elang datang. Namun Bintang belum jadi masuk, saat ternyata Elang sudah keluar dari lift dengan rambut yang lumayan berantakan.
Darimana pria itu?
Mencurigakan sekali!
"Elang, kau darimana?" Tanya Bintang pada Elang yang terlihat bingung. Pria itu juga terlihat menyugar rambutnya berulang kali.
"Dari bertemu seseorang," jawab Elang masih tetap menyugar rambutnya yang begitu berantakan.
"Pakai sisir!" Bintang akhirnyq menyodorkan sebuah sisir pada Elang.
"Aku bertemu klien jam berapa?" Tanya Bintang selanjutnya pada Elang.
"Setelah makan siang!" Jawab Elang seraya melihat arlojinya.
Bintang mengangguk, bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Segera Bintang mengangkat telepon sembaru berjalan masuk ke dalam ruangannya
"Sudah kau ambil?" Tanya Bintang pada supirnya yang menelepon
"Sudah, Pak! Tapi kemeja anda terlihat kusut di dalam mobil. Jadi saya ambilkan kemeja yang baru di rumah."
"Lalu sekarang kau dimana?" Tanya Bintang lagi seraya melihat arlojinya.
"Saya sudah berangkat dari rumah menuju ke kantor, Pak!"
"Baiklah! Aku tunggu kemejanya karena aku ada meeting dengan klien sebentar lagi!" Pungkas Bintang seraya mengakhiri telepon. Bintang lanjut menyalakan laptopnya, saat kemudian pria itu ingat pada Syiela yang tadi meneleponnya sewaktu ia masih bersama Vaia.
Bintang akhirnya memutuskan untuk menelepon Syiela, sekalian Bintang mau minta maaf perihal semalam.
"Bintang! Aku masih dijalan. Nanti aku telepon lagi!"
Tuuut! Tuut!
Telepon langsung terputus sebelum Bintang sempat buka suara.
Sial!
Bintang akhirnya memilih untuk berkutat dengan laptopnya, sembari menunggu supir yang akan mengantar kemejanya.
****
"Hai!" Sapa Syiela yang terlihat sedang duduk di sebuah resto atau lounge bandara?
Entahlah, Bintang tidak yakin!
"Kau tadi meneleponku?" Tanya Bintang to the point sambil sedikit membenarkan arah kamera ponselnya.
__ADS_1
"Ya! Kau dimana tadi? Aku telepon dua kali dan sama sekali tak diangkat," tanya Syiela penuh selidik.
"Aku sedang ada keperluan di luar!" Jawab Bintang.
"Di luar? Tapi kata Elang kau di kantor tadi dan yang keluar adalah Elang! Jadi yang benar yang mana?" Tanya Syiela mulai curiga.
"Aku keluar tadi karena ada keperluan bersama klien dan aku sudah pamit pada Elang! Pasti Elang yang lupa!" Sergah Bintang penuh keyakinan.
"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu kalau Elang sedang keluar tadi? Kau menelepon Elang?" Cevar Bintang ganti curiga pada Syiela.
"Tentu saja!" Jawab Syiela jujur.
"Teleponku tak kamu angkat, jadi aku menelepon Elang!" Jelas Syiela lagi.
"Baiklah aku minta maaf!" Ucap Bintang cepat.
"Ngomong-ngomong, kau sedang dimana?" Tanya Bintang mengganti topik pembicaraan.
"Makan siang!" Jawab Syiela.
"Disitu masih siang juga? Aku oikir kalau disini siang disitu malam," Bintang terkekeh dan Syiela terlihat salah tingkah.
"Eh, iya! Disini malam!" Syiela mengoreksi jawabannya.
"Oh, lalu kapan kau akan pulang, Sayang?" Tanya Bintang lagi bersamaan dengan suara ketukan di pintu.
Tok tok tok!
"Masuk!" Ucap Bintang cepat, sebelum pria itu lanjut bicara pada Syiela.
"Jadi kapan kau akan pulang, Sayang?" Bintang mengulangi pertanyaannya pada Syiela dan mengabaikan Elang yang sudah masuk ke ruangannya seraya membawa paperbag di tangannya.
"Coba tebak aku pulang kapan?" Jawab Syiela yang semakin membuat Bintang penasaran.
"Aku mengantar ini, Bintang!" Ucap Elang menunjukkan kunci mobil dan paperbag berisi kemeja Bintang.
"Titipan Pak supir," lanjut Elang lagi.
"Terima kasih, Elang! Aku sedang video call bersama Syiela," ucap Bintang yang hendak pamer pada Elang, namun kalimatnya malah disela oleh Syiela.
"Elang ada disitu?"
"Ya!" Jawab Bintang seraya membalik ponselnya untuk menunjukkan wajah Elang pada Syiela.
"Hai, Elang!" Sapa Syiela pada Elang yang langsung membuat Bintang berdecak dalam hati.
"Hai, Syiela!" Elang hanya menjawab sapaan Syiela seperlunya, lalu pria itu langsung undur diri dari ruangan Bintang.
"Aku akan pergi makan siang dulu, Bintang! Jangan lupa pertemuanmu dengan klien setelah makan siang nanti," pamit Elang seraya mengingatkan Bintang sekali lagi pada jadwalnya.
"Aku ingat!" Jawab Bintang cepat, dan Elang sudah langsung keluar dari ruangan Bintang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Syiela!" Tanya Bintang sekali lagi pada sang istri.
"Kau tebak sendiri, kira-kira kapan aku pulang!" Jawab Syiela yang sepertinya tak mau memberitahu sama sekali.
"Kau masih mau membuat kejutan?" Tebak Bintang akhirnya.
"Ya! Bukankah kau selalu suka dengan kejutan?"
"Itu benar!" Bintang mengangguk-angguk.
"Makananku sudah datang! Aku akan makan dulu,"pamit Syiela selanjutnya pada Bintang.
"Ya! Aku juga mau makan siang. Ada pertemuan penting juga setelah makan siang," Bintang menjabarkan jadwalnya pada Syiela.
"Oke! Selamat makan siang, Sayang!"
"I love you!" Syiela memberikan kecupan jauh untuk Bintang.
"I love you too!" Balas Bintang seraya mengakhiri video callnya bersama Syiela.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.