
"Kenapa tak memberitahuku kalau kau pulang malam ini?" Tanya Bintang seraya merapikan rambut Syiela yang kini sudah terkulai di dalam dekapannya. Percintaan panas Bintang dan Syiela baru saja berakhir beberapa saat yang lalu.
"Bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu!" Jawab Syiela seraya tersenyum lebar.
"Aku merindukanmu," ucap Syiela lagi seraya mengusap wajah Bintang.
"Aku juga merindukanmu," jawab Bintang yang sudah balik menatap pada Syiela.
"Ngomong-ngomong, apa kau lapar?" Tanya Bintang selanjutnya pada Syiela yang sudah menyamankan dirinya di dalam dekapan Bintang.
"Tidak! Tadi aku sudah makan saat di pesawat."
"Tapi aku lapar," Bintang mengusap perutnya sendiri yang terasa berbunyi.
"Kau belum makan malam memang? Tadi kata Elang kau baru selesai makan malam, saat Elang akan berangkat menjemputku," tutur Syiela yang langsung membuat Bintang diam sesaat.
"Jadi, tadi yang menjemputmu ke bandara adalah Elang?" Tanya Bintang seraya menatap penuh selidik pada Syiela.
"Ya!"
"Dia juga yang membantuku merahasiakan kepulanganku hari ini karena Papi dan Mami juga tahunya aku baru pulang besok!" Syiela terkikik seolah apa yang dilakukannya adalah sebuah hal lucu.
Bintang berdecak dan langsung memalingkan wajahnya dari Syiela.
"Kamu kenapa, Bintang?" Tanya Syiela bingung sekaligus heran dengan sikap Bintang yang mendadak jadi seperti orang marah.
"Tidak apa-apa! Aku akan mandi, lalu keluar mencari makan!" Ujar Bintang yang sudah melepaskan pelukannya pada Syiela. Pria itu lalu menyibak selimut, dan turun dari atas ranjang, meninggalkan Syiela.
"Mau aku temani mandi, Bintang!" Seru Syiela menawarkan.
"Tidak usah! Aku sudah sangat kelaparan!" Jawab Bintang yang sudah mulai menyalakan air shower.
"Tapi aku boleh ikut keluar bersamamu mencari makan, kan?" Tanya Syiela yang tiba-tiba sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi, dan memeluk Bintang dari belakang.
"Ya! Ikut saja!" Jawab Bintang sedikit tergagap saat Syiela sudah dengan agresif mengusap-usap tubuh naked Bintang.
Bintang bahkan tak kuasa menolak, saat tangan Syiela sudah dengan lincah memandikan sembari mengusap-usap seluruh tubuhnya.
****
"Kita sebenarnya mau mencari apa, Bintang? Kenapa sejak tadi kau hanya berputar-putar dan tak kunjung berhenti di satu kedai makan?" Tanya Syiela yang mulai kesal dan emosi pada Bintang yang sejak tadi memang hanya berputar-putar di deretan pedagang kaki lima tanpa berniat untuk berhenti di salah satu warung atau kedai.
Padahal tadi saat dari rumah, pria ini sudah mengeluh kelaparan dan ingin segera makan.
Ck!
__ADS_1
Dasar aneh!
"Kau sebenarnya ingin makan apa?" Tanya Syiela sekali lagi yang sudah benar-benar kesal pada Bintang."
"Es kelapa muda," jawab Bintang yang masih celingukan.
Syiela sontak ternganga dengan permintaan aneh Bintang.
"Es kelapa muda? Yang benar saja, Bintang! Mana ada penjual es kelapa muda malam-malam begini?" Omel Syiela yang merasa tak paham dengan kemauan Bintang.
Sudah seperti orang ngidam saja!
"Tapi aku sangat ingin minum es kelapa muda, Syiela!" Rengek Bintang keras kepala.
"Ck! Keinginanmu itu aneh dan tidak masuk akal!" Ujar Syiela mencibir pada Bintang.
"Lagipula, bukankah tadi kau bilang kalau kau lapar? Lalu apa kau pikir, jika kau minum es kelapa muda kau akan jadi kenyang? Yang ada kau malah akan kembung!" Cerocos Syiela lagi panjang kali lebar.
"Ck! Bisakah kau itu diam saja jika memang tak bisa membantuku mencari es kelapa muda?" Bintang balik mengomel pada Syiela yang langsung bersedekap kesal.
"Aku mau turun disini!" Ucap Syiela akhirnya pada Bintang yang masih saja mengemudikan mobil tanpa tujuan dan mengajak Syiela berputar-putar tak jelas. Syiela akan makan dulu di salah satu kedai, sebelum nanti ia lanjut pulang naik taksi.
"Mau kemana memangnya? Ini sudah malam, Syiela!" Sergah Bintang memperingatkan sang istri.
"Aku lapar dan aku akan membeli makanan di salah satu kedai di sana!" Syiela menunjuk ke arah deretan penjual makanan kaki lima yang baru saja dilewati oleh Bintang.
"Naik taksi atau menelepon Elang agar menjemputmu kemari?" Cibir Bintang yang langsung membuat Syiela menatap tak percaya pada suaminya tersebut.
"Apa sebenarnya masalahmu? Kau selalu saja membesar-besarkan hubunganku dengan Elang!"
"Kami hanya bersahabat! Berapa kali aku harus mengatakanmya padamu?" Cecar Syiela yang mulai jengah dengan sikal Bintang yang akhir-akhir ini berubah menjadi menyebalkan.
Bintang tak menjawab dan akhirnya pria itu putar balik, lalu berhenti di dekat deretan pedagang kaki lima yang tadi ia lewati.
"Kau mau makan apa? Ayo aku temani!" Ujar Bintang seraya melepaskan sabuk pengamannya dan juga sabuk pengaman Syiela.
"Sate ayam!" Jawab Syiela dan pasangan suami istri itu turun bersama dari mobil, lalu pergi ke warung sate ayam yang ada di sana.
****
"Kenapa tidak diangkat?" Keluh Vaia setelah wanita itu berulang kali menelepon nomor Bintang.
"Apa Bintang lembur, ya? Tapi ini kan sudah malam," gumam Vaia lagi seraya melihat ke jam yang ada di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Vaia sebenarnya sudah sangat rindu pada Bintang, meskipun pagi tadi dirinya sudah bertemu dan ngobrol banyak pada Bintang. Tapi mungkin bawaan pengantin baru atau mungkin bawaan kehamilan Vaia juga yang membuatnya selalu rindu pada Bintang setiap saat dan setiap waktu.
__ADS_1
Vaia keluar dari kamar untuk mengambil air hangat karena perutnya sudah mulai mual lagi. Ada Ezra di dapur yang sepertinya sedang bermain game.
Vaia mendadak punya ide iseng untuk mengagetkan adik laki-lakinya tersebut.
"Dor!!!!"
"Hah!" Ezra refleks melempar ponselnya karena kaget dengan gertakan Vaia.
"Kak Vaia!" Geram Ezra yang buru-buru memungut ponselnya lagi yang tadi jatuh ke atas meja dapur.
"Yah! Mati jadinya!" Gerutu Ezra setelah memeriksa layar ponselnya. Seperti biasa, adik Vaia itu sedang bermain game cacing serakah yang suka memakan apapun di depannya.
"Kasihan, cacingnya mati!" Ledek Vaia pada Ezra. Vaia mengambil gelas di rak, lalu menuang air dari dispenser dan meneguknya. Namun baru satu tegukan, Vaia kembali merasa mual.
"Ck!" Vaia berdecak sebelum kemudia wanita itu bergegas ke kamar mandi.
Sementara Ezra hanya geleng-geleng kepala sekaligus mearsa iba pada sang kakak yang tak bisa makan dan minum dengan enak karena terus-terusan mual dan muntah.
"Ezra!" Panggil Vaia yang sudah keluar lagi dari kamar mandi.
"Iya, Kak!" Ezra bergegas berdiri, lalu membantu Vaia untuk duduk.
"Jam segini apa ada penjual kelapa muda, ya?" Tanya Vaia sedikit ragu pada Ezra.
"Di dekat pantai itu kadang ada yang buka dua puluh empat jam. Kenapa? Kakak mau kelapa muda?" Cecar Ezra yang sepertinya langsung paham.
"Tapi ini sudah malam. Kau berani pergi sendiri memang?" Tanya Vaia kembali ragu.
"Lah! Memangnya Ezra anak kecil, Kak? Ezra kan sudah besar!" Jawab Ezra santai seraya masuk ke dalam kamarnya. Tak berselang lama, Ezra sudah keluar lagi seraya memakai jaket.
"Ezra pergi dulu, Kak!" Pamit Ezra selanjutnya setelah meraih kunci motor.
"Hati-hati, Ezra!" Seru Vaia pada Ezra yang langsung menghilang di pintu depan.
Vaia hanya menghela nafas, dan masuk lagi ke kamarnya untuk coba menghubungi Bintang lagi.
Tetap tidak diangkat!
Mungkin Bintang sudah tidur.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.