
Delila melahap ketopraknya dengan bersemangat, kedua matanya berbinar saat merasakan pedas manis gurih meledak didalam mulutnya.
Sesekali dia bergumam membuat pria yang ada didekatnya melirik, pria itu sudah selesai menyantap ketoprak bagiannya beberapa saat yang lalu, kini dia tengah menyesap nikotinnya dengan santai tanpa peduli apa pun.
Sepasang suami istri yang masih merahasiakan hubungan halalnya, tidak! lebih tepatnya sang pria lah yang masih ingin merahasiakannya dan entah sampai kapan.
"Lo gak kuliah?" tanyanya tanpa menatap ke arah gadis yang masih menyantap makan siangnya.
Delila menoleh, mulutnya terlihat menggelembung karena dia masih mengunyah ketoprak yang sedikit lagi akan habis itu. Kedua matanya mengerjap pelan, pipi chubby nya terlihat begitu penuh dan itu semakin membuat Delila kian terlihat menggemaskan.
Menggemaskan? benarkah?
Baron menyesap nikotinnya kasar, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah diam diam melirik ke arah gadis yang masih terdiam tidak menyahuti ucapannya.
"Siang ini aku gak ada kelas, dosennya mencret gak bisa masuk," ujarnya santai.
Delila kembali menyuapkan ketoprak terakhirnya, dia tidak peduli dengan wajah Baron yang mendatar setelah mendengar ucapannya tadi. Memangnya ada yang salah dengan ucapannya?
"Lo pulang aja kalo gak kuliah, gak usah kelayapan!" Baron mematikan rokoknya dengan sekali injak.
Pria itu berdehem, meraih minuman isotonik yang dibelinya tadi sebelum mereka menyantap ketoprak di area taman ini. Baron terlihat diam, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sampai tidak menyadari kalau saat ini Delila tengah menatapnya lekat.
"Kalau aku ikut sama Mas Baron, boleh gak? aku bosen di kontrakan, palingan cuma tidur doang," rayunya.
Delila memasang wajah memohon, kedua matanya berkedip pelan, berusaha menampilkan keimutannya yang sering dia pergunakan untuk merayu Davyn- Papanya saat uang jajan di potong sang Mama.
__ADS_1
"Gak usah macem macem, entar yang lain pada tanya. Lo mau kalo mereka-,"
"Bilang aja kalo aku mau kerja di bengkel, mau jadi tukang bersih bersih, atau bilang aja Mas Baron ketemu aku dijalan. Gak perlu ngomong kalo Mas Baron jemput aku di kampus, itu aja udah cukup kok. Aku gak apa apa kalo emang Mas Baron gak mau ngakuin aku sebagai istri, aku tau diri kok." Delila memainkan jari jemarinya, dia memelankan ucapannya saat di kalimat terakhir.
Hatinya berdenyut nyeri saat menyadari kalau hubungan mereka berdua tidak seperti yang diinginkannya. Delila benar benar merasa seperti istri simpanan, sumpah gak bohong.
Delila masih tertunduk, dia mengayunkan kedua kakinya layaknya anak kecil yang tengah merajuk dan tidak mendapatkan apa yang dia mau. Keduanya terdiam, Baron bahkan sudah bangkit dari duduknya tanpa bersuara sedikit pun.
Pria itu berjalan menuju mobil derek usang yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka menyantap ketoprak tadi, tapi sebelum Baron benar benar sampai disana- pria itu terlihat menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Lo mau tetap diem disitu apa ikut sama-,"
"IKUT!" selanya cepat.
Delila terlihat begitu bersemangat, kedua matanya berbinar cerah dan segera berlari menyusul Baron. Tapi karena tidak berhati hati, salah satu kakinya tersandung oleh batu hingga membuatnya tersungkur.
"Aku gak apa apa!" seru Delila.
Gadis itu tersenyum kikuk ke arah Baron setelah bangkit, dia kembali menyusul suaminya yang hanya menggelengkan kepala sembari berlalu.
Tanpa Baron ketahui, Delila terlihat mengernyit sembari memejamkan kedua matanya. Dia merasakan denyutan di kepalanya tapi berusaha untuk kuat dan bertahan, Delila menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya pelan.
"LO MAU IKUT GAK?!" seruan Baron membuat Delila kembali membuka mata, gadis itu mengerjap pelan lalu berlari kecil menuju mobil derek pujaan hatinya dengan senyuman mengembang.
β
__ADS_1
π§
π©
"Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku, lelah hati ini meyakinkan muuuu cinta iniiii membunuhkuuuuuu huwoooo huhu wooo!"
Delila terus saja bernyanyi mengikuti lirik lagu yang di putar oleh salah satu stasiun radio di mobil derek milik Baron. Gadis itu tidak peduli dengan lirikan suaminya yang terus saja tertuju ke arahnya.
"Cinta iniiiiiiiiiiii, mem-bunuhkuuuuu!" lanjutnya lagi.
Nyanyiannya terhenti saat mobil usang yang mereka tumpangi akhirnya sampai di bengkel. Tanpa menunggu Delila, Baron turun terlebih dahulu- sedangkan gadis itu masih sibuk melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.
Delila berdecak, pria kaku bak batang kopi itu memang tidak akan pernah bersikap romantis sampai kapan pun. Jangankan membukakan pintu mobil untuknya, mengajaknya keluar dari mobil saja tidak.
Dengan hati dongkol Delila keluar dari dalam mobil, bibirnya sudah gatal ingin mengoceh- dia menarik napasnya dalam setelah keluar dan bersiap menyemburkan omelannya.
Tapi baru saja Delila hendak membuka mulut, kedua matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya berhenti berdetak, hatinya terburai seketika kala melihat Baron tengah berpelukan dengan seorang wanita di depan bengkel.
Bukan! wanita asing itu yang tengah mendekap Baron sembari menangis.
Kedua mata Delila mengerjap, tubuhnya mematung, kedua kakinya tidak dapat dia gerakan, hingga akhirnya suara nyanyian yang tadi dia ikuti kembali terngiang di telinganya.
Lelah hati ini meyakinkanmu, cinta ini membunuhku!
__ADS_1
CINTA INI MEMBUNUHKU