
"Puaskah kau curangi akuuuu! Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu yang datang beri harapan lalu pergi dan menghilanggggggg! Tak terpikirkan oleh mu hatiku hancur karenamu! Tanpa sedikit alasan pergi tanpa berpamitan, takan ku terima cinta sesaatmuuuu!"
Delila mende*sah pelan mendengar lirik lagu yang dinyanyikan oleh salah satu penyanyi wanita negara ini. Galau? Ya lagunya begitu galau dan kian membawanya jauh menerawang.
Sudah hampir 3 hari ini dia tidak bertemu dengan Baron, setelah pria itu mendatangi kediaman orang tuanya dan berdebat sengit dengan Papanya- Baron tidak lagi datang atau sekedar mengirim pesan padanya, padahal pria itu memiliki nomor ponselnya.
Delila tersenyum miris, dia kembali menatap ke arah balkon- pandangan terlihat sendu, dia bahkan malas untuk pergi kuliah hari ini. Entahlah, moodnya hancur- pikirannya masih bercabang kemana mana. Padahal rencananya dia ingin menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, ya sebenarnya sekalipun dirinya tidak kuliah semua yang dimiliki orang tuanya tidak akan kemana mana.
Hanya saja Delila tidak ingin menjadi satu satunya gadis keturunan Duren Sawit yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kedua orang tuanya.
Sepertinya setengah jam lagi Delila harus bersiap, ekor matanya melirik ke arah halaman rumah- disana para pelayan rumah ini sudah sibuk dengan tugas mereka masing masing. Dan sekarang giliran dirinya yang bersiap mengawali harinya tanpa Baron.
Disisi lain...
Baron terlihat termenung di hadapan sebuah mobil yang tengah dia otak atik, pria itu mendengar semua keluhannya calon pelanggannya, tapi pikirannya entah terbang kemana. Tatapannya terlihat lurus dan kosong, bahkan beberapa hari ini Baron terlihat tidak bersemangat, dia sering melewatkan makan siangnya.
Pria itu juga jarang sarapan, terlebih saat dirinya tidak mendapati gadis yang selama beberapa bulan ini menemaninya, menyiapkan semua yang dia butuhkan, bahkan rela mencuci tanpa mesin dan berjongkok tiap pagi di kamar mandi.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Jujur Baron belum melakukan apa yang di perintahkan Davyn padanya kemarin.
Menceraikan Delila
__ADS_1
"Gimana Bang? Bisa kan di perbaiki?"
Baron masih terdiam, dia menatap lurus ke arah mesin mobil tanpa mengatakan apa pun.
"Bang!"
Orang itu menepuk punggung Baron cukup keras, menatap heran pada pria bertubuh jangkung yang terlihat tidak seperti biasanya. Sepertinya pria itu tengah memiliki masalah.
"Iya Mas, nanti gue bongkar." sahut Baron saat dirinya kembali tersadar dari lamunan panjangnya.
Berutung orang itu terlihat mengerti, dia hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan Baron. Meninggalkan sangat montir yang terlihat menghela napas dalam lalu menghembuskannya kasar.
Baron menunduk, menopang kan kedua tangannya di body mobil, kedua matanya terpejam dan tidak lama kembali terbuka lalu mendongak seakan tengah menghilangkan sesuatu dari dalam kepalanya. Tidak jauh darinya, Maman hanya menatap prihatin- dia tahu apa yng terjadi dengan temannya itu tapi tidak bisa membantu apa pun.
Masalah rumah tangga
Delila keluar dari dalam mobil, hari ini dia kuliah diantar oleh sopir Papanya. Kedua kakinya melangkah lesu menuju gedung kampus, kedua matanya satu dan sama sekali tidak bersemangat.
Bahkan terlihat sesekali Delila menghentikan langkahnya, lalu menghembuskan napas kasar dan kembali berjalan, begitu seterusnya hingga dia akhirnya sampai di loby kampusnya.
Kedua kaki lemas nya semakin membawanya masuk dan berjalan menuju kelas yang akan diikutinya hari ini, tapi belum sempat dirinya sampai di ruangan yang dituju- seseorang memanggilnya cukup keras.
__ADS_1
Delila menghentikan langkahnya, menghela napas kasar dan dengan malas membalikan tubuhnya. Kedua mata satunya melihat seseorang tengah berlari mendekat ke arahnya, dadanya naik turun karena kelelahan. Dahi Delila mengernyit, dia menatap orang itu dengan malas.
Mau apa nih cowok?
"Sorry gue ganggu. Gue cuma mau tanya, apa udah ada kabar dari Liara?"
Pria itu terlihat kikuk, dia menggaruk tengkuknya saat melihat tatapan datar yang tengah di tunjukan gadis yang ada dihadapannya saat ini.
"Kak Gading nanyain Kak Ara terus, emangnya ada apa sih? Kakak punya utang ya sama Kak Ara?" kedua mata Delila menyipit, telunjuknya menukik tajam pada pria yang ada dihadapannya.
Tatapan Delila penuh selidik, bahkan itu berhasil membuat sangat ketua BEM semakin kikuk dibuatnya. Gadis bertubuh mungil namun berisi ini tidak ada jaim jaim nya sama sekali, dan entah mengapa malah membuat salah satu sudut bibirnya terangkat.
Menarik
"Enggak ada apa apa sih. Ya udah deh lain kali gue tanyain lagi, cepetan masuk gih! Dosen udah datang, Pak Bondan tuh- jangan bikin salah kalo tugas lo gak mau numpuk."
Gading menampilkan senyuman tipisnya sembari berlalu, bahkan pria itu sesekali menoleh kebelakang seakan tengah memastikan sesuatu, atau malah tengah memperhatikan Delila secara diam diam.
Delila pun tidak mau ambil pusing, dia segera masuk kedalam ruang kelasnya dan bersiap membakar otak serta otot bersama Dosen Botak yang galaknya naudzubillah himindalik.
__ADS_1
GIMANA MAS SAMSON GAK KEPIKIRAN, ORANG DEMPLON GINIπππππ€£π€£