Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Masih Membahas Timun


__ADS_3

"Saiki aku wes sadar, terlalu goblok mencintaimuuuuuuu hok yaaaaaa! Rungkad entek entek'an! "


Baron menghentikan aktifitasnya sejenak saat kedua telinganya mendengar nyanyian dari dalam kontrakannya. Pria itu menegakan tubuhnya, dia menoleh, dahinya mengernyit- tapi tubuhnya tetap di tempat tidak bergerak sama sekali.


"Mungkin, aku terlalu cinta, aku terlalu sayang nanti rak kroso di laraniiiiiii!"


"Saiki aku wes sadarrrrr terlalu goblok mencintaimuuuuuuu! Rungkadddd entek entek'an kelangan koe sing paling tak sayang!"


Baron menjilat bibirnya yang kering, jakunnya naik tirun- pria berkaos abu abu lusuh yang penuh dengan oli itu menghela napasnya. Tapi perlahan sudut bibirnya terangkat dan menggeleng kecil.


"Wah, adek nya Bang Baron kayaknya lagi ngadain konser ya?" salah seorang tetangga kontrakan Baron menyahut. Pria yang tengah memandikan burung kicaunya itu terkekeh mendengar suara cempreng dan alunan lagu koplo dari dalam kontrakan tetangganya.


"Beliin mik aja Bang, kalo enggak pinjem punya bibik saya noh di rumah." tambahnya lagi.


Pria yang usianya lebih tua dari Baron itu bahkan ikut menggoyangkan tubuhnya saat mendengar musik kian terdengar.


Sementara Baron, pria itu hanya terdiam- dia kembali menghela napasnya dan berlalu menjauh dari mobil yang tengah di perbaiki nya. Pria itu masuk kedalam kontrakannya, dahinya kian mengernyit kedua matanya menatap pada gadis yang tengah sibuk sendiri di dalam kamar mandi. Delila, gadis cantik yang berasal dari keluarga kaya itu tengah mencuci sambil berjongkok.


Delila terlihat tidak terganggu dan terbebani sama sekali hidup super sederhana bersama Baron disini. Bahkan saat dia mengerjakan semua pekerjaan yang biasa di kerjakan oleh pembatunya, Delila sama sekali tidak pernah mengeluh.

__ADS_1


Dari ambang pintu Baron hanya menatap, pria itu menyandarkan tubuhnya di dinding. Kedua tangannya terlihat di dada, kedua matanya tidak lepas dari gadis yang selama hampir dua bulan lebih itu menemaninya.


Walaupun hubungan mereka belum menunjukan eksistensi akan membaik, dan layaknya pasangan suami istri seperti yang lainnya- tapi Baron lumayan lebih peka dari pada sebelumnya.


Dia lebih sering makan pagi dan malam di rumah, bahkan saat mendapat jatah makan siang di bengkelnya dia sering menundanya, atau bahkan membawanya pulang. Alhasil dirinya sering tidak makan siang dan hanya meminum kopinya.


"Jangan lama lama nyucinya, lo mau air kita abis!"


Nyanyian Delila reflek terhenti, gadis itu menoleh- bibirnya mengercut, ekor matanya memicing tidak suka pada pria yang sudah menjadi suaminya beberapa bulan ini.


"SAIKI AKU WES SADAR, TERLALU GOBLOK MENCINTAIMUUUUUUU....RUNGKAAAAADDDD!"


"Jangan lama lama, entar lo masuk angin gue juga yang repot!" Baron kembali bersuara, pria itu mendekat ke arah meja makan. Satu tangannya membuka tudung saji, ekor mata Baron melirik ke arah Delila saat melihat menu yang gadis itu sajikan sore ini.


Telur dadar dan oseng kangkung, masih hangat. Baron menutup kembali tudung saji dan berjalan mendekat ke arah Delila. Pria itu tanpa izin mematikan musik yang terus saja terdengar di dekat kompor. Kedua kalinya bergerak ke arah kamar mandi, dan cekatan meraih pergelangan tangan istri rahasianya.


"Isi perut lo dulu, gue gak mau kalo sampe lo sakit terus bapak lo nyalahin gue gara gara-,"


"Oke! Apa sih yang enggak buat Mas Samson nya Delila!" gadis itu menyela cepat, bahkan tanpa izin mencolek dagu pria berwajah kaki yang saat ini tengah berdiri didepan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Delila terlihat bersemangat, gadis itu berjalan menuju lemari es untuk mengambil air dingin. Sore ini cukup panas, walaupun berada di dalam kamar mandi tetap saja hawanya bagai neraka bocor.


Kedua mata Delila menatap ke setiap rak lemari es yang terlihat cukup penuh, sepertinya Baron sudah berbelanja hari ini. Walaupun pria itu kaku, dan kadang menyebalkan tapi soal makanan Baron tidak ingin anak gadis orang kelaparan di rumahnya.


"Mas Baron gak beli timun buat aku?" tanya Delila dengan wajah kesal. Dia kesal karena pria yang sudah menghabiskan mentimun terakhirnya tadi pagi itu tidak menepati janjinya.


Siap siap saja kantung matanya menghitam besok.


"Gue lupa! Entar malem deh gue kasih timunnya. Sekarang lo makan, gue udah laper!"


Baron menanggapinya dengan santai, pria itu berjalan mendekat ke arah meja makan dan segera duduk di kursi untuk menikmati makanannya. Sementara Delila, gadis itu masih mematung di depan lemari es yang terbuka- melamun dengan tatapan kosong.


"Entar malem ngasih timunnya?" beonya lagi.


Seketika wajah Delila merona, bahkan sudut bibirnya berkedut dia mengigit bibir bawahnya- gadis itu berbalik dan menghadap lemari es agar mendapatkan udara dingin untuk menyegarkan tubuh dan wajahnya. Demi apa pun ucapan Baron tadi terdengar ambigu untuk otaknya saat ini.



LAMA LAMA GUE AMPLAS JUGA TUH OTAK BINIK

__ADS_1


__ADS_2