
Beberapa minggu berlalu...
Delila menatap bosan pada suaminya yang tengah sibuk mengotak atik mesin mobil tidak jauh darinya. Sudah hampir dua jam dia menunggu pria berkaos lusuh penuh oli itu, perutnya yang tadi kenyang kini perlahan kembali lapar.
Delila menghela napas pelan, kedua matanya mengedar menatap pada karyawan bengkel yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Bukan hanya Maman dan kedua rekan seperjuangan Baron, melainkan ada tiga orang siswa magang yang bekerja di bengkelnya.
Dimeja kasir Delila hanya terdiam, sesekali memainkan ponselnya, menyandarkan tubuhnya di kursi, bahkan sampai menelungkupkan wajahnya di meja dengan mata tertutup, saat pelanggan sudah menyelesaikan pembayaran.
Entah mengapa akhir akhir ini tubuhnya tidak seperti biasanya, dua minggu terakhir ini terasa ada yang beda, kepalanya sering kali berat, lemas dan sering merasa kelaparan, padahal dia makan dalam porsi yang banyak. Bahkan pinggangnya sering sakit, mungkin karena siklus haid nya sedikit tidak beres akhir akhir ini.
Wanita itu bangkit, dia berjalan menuju lemari es kecil yang sengaja di belinya untuk menyimpan minuman dingin, karena Delila sering melihat Maman dan karyawan lainnya bahkan Baron suaminya sendiri membeli minuman dingin diluar. Jadi menurutnya dari pada membeli dan dapatnya sedikit, lebih baik menyetok di bengkel. Bukan yang aneh aneh, hanya minuman isotonik, teh dalam botol, kopi siap minum bahkan susu UHT kesukaannya sudah tersedia hampir memenuhi lemari es itu.
Delila meraih sebotol kopi siap minum, entah mengapa tiba tiba dirinya ingin menikmati minuman itu dalam keadaan dingin. Tapi sayang belum sempat dia menikmatinya, ada seseorang dengan cepat meraih botol itu dari tangannya dan menegaknya hingga habis.
"Maag kamu bisa kambuh nanti!"
Pluk!
Orang itu melemparkan botol kosong tepat dan masuk kedalam kotak sampah dengan sempurna. Setelah mengatakan hal itu dia berlalu, melewati Delila yang tengah memasang wajah kesal.
"Minum susu aja, gak usah macem macem. Kemaren aja muntah muntah gara gara minum teh manis. Kopi instan juga sama ada cafeinnya jadi jangan diminu!" imbuhnya lagi.
Ekor matanya melirik pada Delila yang perlahan mendekat, gadis itu masih menekuk wajahnya, bahkan saat kembali mendudukkan dirinya di kursi kasir.
"Mas," panggilnya pelan.
Orang yang tengah mengobrak abrik barang itu hanya menoleh, dahinya mengerut melihat wajah sayu istrinya. Dia bangkit, menghirup napas dalam sembari berkacak pinggang sebelum mendekat pada Delila.
"Kenapa, hm?" satu tangannya yang lumayan tidak kotor menyentuh salah satu pipi chubby istrinya. Mengusapnya pelan, memberikan ketenangan agar Delila rileks dan mau menceritakan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Aku pingin buah plum," cicitnya.
Delila mendongak, kedua matanya menatap penuh harap pada pria yang tengah berdiri tegap di hadapannya sekarang. Elusan tangan pria itu sempat terhenti, namun kedua matanya terus saja tertuju pada wajah cantik sangat istri.
"Itu buah dari luar negri kan?"
Delila mengangguk, dia tanpa ragu mendekap tubuh suaminya. Memeluk pinggang Baron sembari menenggelamkan wajahnya di perut berkeringat milik pria itu.
"Pingin itu, tapi sekarang," gumamnya lagi.
Baron terdiam, dia membiarkan Delila menempel kepadanya. Saat ini otaknya tengah berpikir dan menerka, apakah mungkin buah itu ada di supermarket?
"Kalo gak ada gima-,"
"Ada, pasti ada! Cari dulu baru bilang gak ada!"
Emosi Delila tiba tiba berubah, dia melepaskan dekapannya dan menjauh dari Baron sembari menghentikan kedua kakinya. Delila berjalan menuju kamar mandi, sementara Baron terlihat menggaruk kepalanya melihat sikap Delila yang akhir akhir ini terasa lain.
"Nanti aku cariin!" serunya pelan dan kembali berbalik keluar menuju mobil yang belum selesai dia benahi.
Baron kembali sibuk mengotak atik dalaman mobil, kedua tangan dan matanya sigap terlihat tidak terganggu dengan apa pun. Tapi itu hanya sekejap, karena teriakan salah satu karyawan magangnya membuat Baron terhenyak dan segera berlari menuju kedalam bengkel.
"Mbak Lila pingsan di depan toilet, Bang!" remaja pria itu mengatakan apa yang dilihatnya saat Baron meraih tubuh lemah Delila dan segera membawanya keluar.
"MAN, LO DIEM DISINI!" serunya pada Makan saat dirinya sudah berada di dalam mobil derek yang dulu sering di gunakannya.
__ADS_1
Entah mengapa Baron enggan mengganti atau bahkan membuangnya, dia merasa mobil usang ini penuh kenangan didalamnya. Sepanjang perjalanan menuju klinik Baron terlihat gelisah, satu tangannya terulur mengusap lebam yang ada di dahi istrinya. Dia yakin saat pingsan tadi Delila terbentur lantai atau sesuatu yang keras hingga pelipisnya lebam.
Tidak lama Baron membelokan mobilnya di sebuah klinik, dia segera menggendong Delila dan membawa wanitanya masuk. Penampilannya yang jauh dari kata rapih membuat atensi orang orang tertuju ke arahnya, banyak yang menatap aneh bahkan risih.
"Mari saya bantu, Mas." seorang perawat segera datang menolong, mereka membawa Delila menuju ruang perawatan sementara Baron tertahan karena harus menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.
"Tolong selesaikan administrasinya dulu ya, Mas. Silahkan diisi formulirnya agar pasien dapat segera kita tangani, nanti Mas nya bisa melakukan pembayaran awal di kasir."
Baron tidak menyahut, dia hanya mengangguk kecil dan menulis apa saja yang dibutuhkan. Dia terlihat tergesa-gesa dan panik, Baron tidak sabar ingin segera menemui istrinya.
Dan disaat Baron dilanda perasaan campur aduk, di sebuah rumah besar seorang pria paruh baya tengah menungging di closet. Berulang kali dia mengeluarkan isi perutnya, bahkan sudah dua hari ini dia tidak bekerja karena selalu muntah setelah makan atau pun mengemil dan minum kopi.
Dia merasa kalau ada yang salah dengan tubuhnya, karena selama ini dirinya tidak pernah mengalami hal yang tidak mengenakan seperti ini.
"Papa kena Maag kayaknya. Kita periksa kedokter ya, Nama gak mau nanti malah tambah parah." sang istri terus saja membujuk. Dari kemarin wanita itu membujuk, tapi sangat suami tidak mau diajak kompromi sama sekali. Tapi sepertinya kali ini pria itu mulai menyerah dan menganggukkan kepalanya lemah.
"Pokoknya Papa enggak mau di suntik!" pintanya.
Sang istri mengangguk malas dia sangat tahu kalau suaminya memang sangat takut dengan yang namanya jarum suntik, padahalkan pria tua itu sering nyuntik dirinya anehkan. Dia segera memapah suaminya keluar dan secepatnya membawa pria paruh baya manja itu kedokter.
Diklinik, Baron terlihat berjalan cepat mencari ruang rawat istrinya setelah menyelesaikan semua administrasi. Tapi sejak tadi mencari kamar yang di tunjukan oleh perawat tidak kunjung menemukannya.
Malah dia tersesat keluar dari klinik lewat pintu samping dan melihat mobil yang familiar baru memasuki klinik.
"Kayak mobil Papa?"
Dia lupa dengan tujuannya, Baron mendekat pada kedua orang yang baru saja keluar dari mobil.
"Ma, Pa!" panggilnya.
Kedua orang itu menoleh, dahulu mereka mengeryit melihat Baron ada di klinik ini. Sedang apa menantu mereka di sini? Siapa yang sakit?
Semoga bukan hal buruk.
"Delila pingsan Ma, jadi aku bawa dia ke-,"
"Dimana sekarang?!"
Bukan Kirana yang menyela, tapi itu Davyn yang terlihat membulatkan kedua matanya menuntut penjelasan dari Baron.
"Tadi dia di bawa sama perawat, aku masih nya-,"
"Mohon maaf Mas, istrinya yang tadi pingsan mencari Mas nya. Pasien ada di ruang Kenanga." seorang perawat mengagetkan ketiganya. Tapi setelah Baron mengetahui keadaan Delila saat ini dan dimana letak ruang rawatnya dia segera bergegas. Diikuti oleh Kirana dan Davyn yang tiba tiba saja merasa sehat dan bugar.
Ketiganya berjalan cepat, langkah Baron kian tidak sabaran saat melihat plang kamar rawat yang disebutkan oleh sang perawat. Baron masuk tanpa permisi, gerakan tidak sabaran nya terhenti saat melihat Delila sudah duduk sembari menyandar sementara di dekat tempat tidurnya ada seorang dokter yang terlihat tengah menjelaskan sesuatu.
"Istri saya sakit apa, Dok?" tanyanya tidak sabaran.
Dokter pria itu tersenyum, dia meraih sesuatu dari atas makasih lalu membukanya.
"Istri Bapak dalam keadaan baik baik saja. Hanya saja, kehamilan mudanya membuat istri Bapak sedikit lemah. Harus banyak istirahat karena Ibu Delila sedang mengandung bayi kembar empat."
Baron terdiam, pria itu tidak bergerak dari tempatnya otaknya blank seakan tidak ada apa pun didalamnya. Sementara di belakang tubuhnya Davyn tengah tersenyum bahkan sudah tertawa lebar sembari menyerbu putri kesayangannya dan memeluknya erat.
"Akhirnya Papa punya cucu banyak!" serunya dengan antusias.
__ADS_1
"Empat, bayangin sekali empat. Padahal Papa gak pernah kepikiran punya cucu kembar sekali empat, menantu Papa emang tok cer!"
Delila memijit dahinya, kepalanya masih berdenyut sakit. Walaupun begitu dia tetap membalas pelukan Sang Papa dan Kirana Mamanya.
"Nama nangis?" Delila terkejut melihat Kirana menyeka air matanya.
"Mama enggak apa apa, Mama seneng bakalan punya cucu. Empat lagi, gak kebayang gimana cucu cucu mama pas lahir nanti. Pokoknya kamu jangan capek capek, besok pindah ke rumah Mama aja biar ada temennya!" Kirana kembali memeluk Delila, dia masih tidak menyangka kalau akan memiliki cucu kembar sekali 4.
"Aku gimana Mas Baron aja, Mas gimana menurut kamu? Apa aku boleh tinggal di rumah, MAS!"
Delila berteriak saat melihat Baron jatuh tidak sadarkan diri menghantam lantai. Pria yang sedari tadi terdiam mematung akhirnya tumbang karena shock.
π
π
π
"Ini beneran ada empat?" tanyanya sembari menekan pelan permukaan perut rata istrinya.
Setelah tidak sadarkan diri selama beberapa puluh menit dan Davyn berinisiatif membawa Baron dan Delila pulang kerumahnya, kini si calon Ayah dari janin kembar 4 itu sudah sadarkan diri.
Saat sadar dia masih linglung, otaknya masih blank dan tidak lama kembali mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya pingsan.
"Hu'um, mereka ada empat. Mas Baron kerenkan, bisa bikin dede bayi sekali empat. Papa aja kalah." Delila mengusap lembut permukaan perutnya yang tengah di elus oleh Baron. Dia terkirim geli, tapi bercampur dengan rasa bahagia yang tidak terhingga.
Delila juga masih tidak menyangka kalau akan di berikan bayi kembar, empat lagi. Sungguh sesuatu yang tidak pernah ada di dalam benaknya.
"Pokoknya kamu jangan capek capek. Diem di rumah, aku bakalan setuju kita tinggal sama Mama dan Papa selama kamu hamil sampai ngelahirin nanti."
Delila tersenyum, dia memeluk tubuh Baron erat dan memberikan kecupan di rahang suaminya singkat membuat Baron membalas dekapannya tak kalah erat.
"Aku cinta sama Mas Baron."
"Aku cinta sama kamu, Del."
Ucap keduanya bersamaan. Delila mendongak, Baron menunduk hingga netra keduanya bertemu, saling mengikat, bahkan Delila tertawa kecil dengan mata yang berembun. Dia masih meyakinkan diri kalau kedua telinganya tidak salah mendengar.
"Aku mencintai kamu, Delila Prayoga." ucapnya lagi.
Air mata Delila tidak dapat di bendung, calon Mama muda itu menangis dan mendekap erat tubuh Baron. Menumpahkan segala rasa yang ada di dalam dirinya, yang selama ini tersimpan dan ingin sekali dia ungkapkan.
"Makasih," lirihnya.
Delila terisak, dekapannya mengerat saat Baron memberikan banyak kecupan di pucuk kepalanya.
"Aku yang harusnya terimakasih. Terimakasih udah sudi nerima cowok miskin, kamu, banyak kekuurangan kayak aku, sudi mencintainya tanpa mengeluh walaupun aku suka jahat sama kamu. Maaf, maaf, maaf, maafin aku Sayang."
Keduanya larut dalam suasana haru, suasana yang kian membuat hubungan keduanya lebih erat dan dekat lagi, terlebih saat ini sudah hadir 4 buah cinta yang akan semakin meramaikan dunia kecil mereka berdua.
Kalau di dalam dongeng lama ada Samson dan Delila, seorang pria tangguh yang memperjuangkan Delila, gadis konglomerat yang mencintainya namun tak setara dengannya dan di tentang oleh keluarga sangat gadis, di dunia nyata ada Delila yang memperjuangkan Baron Mas Samsonnya, hingga mereka akhirnya bisa bersama dan tidak akan pernah terpisah kecuali oleh maut.
SEKIAN
__ADS_1
***EMAK EMAK ANAK 4 πππ€£π€£π€£
INSYA ALLAH BAKAL ADA BONCAP, TUNGGUIN AJA YA, SAMPAI JUMPA DI CERITA OTHOR YANG LAINNYA, MAKASIH BUAT KALIAN SEMUA KESAYANGAN MAS SAMSON DELILAπππππ***