Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Ceraikan Putriku!


__ADS_3

Delila menatap lurus ke arah balkon kamarnya, beberapa menit yang lalu dia baru sampai di kediaman orang tuanya.


Dia terlihat tidak banyak bicara saat sampai disini, hanya memeluk kedua orang tuanya untuk melepaskan rindu lalu bergegas pergi ke kamarnya. Koper kecil yang tadi Delila bahkan tidak dia bawa, mungkin Sang sopir yang menjemputnya tadi yang membawanya masuk ke rumah.


Helaan napas kasarnya terdengar, cukup lama Delila sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia merasa tindakannya saat ini sudah tepat, Delila menyerah, dia lelah dan bukan orang yang memiliki banyak rasa sabar.


Waktu dua bulan lebih delapan hari enam jam lebih lima belas menit itu, sudah cukup baginya. Dan ternyata keinginannya untuk mendapatkan hati pria yang dia sukai dan dipaksa menikahinya, akhirnya tidak tercapai.


Delila lelah berjuang sendiri, dan sayangnya dia bukan gadis yang memiliki rasa sabar berlipat lipat. Mungkin kalau dirinya memang memiliki kesabaran ekstra, dia tidak akan meminta Davyn Sang Papa untuk menikahkan dirinya dengan pria kaku, tak berperasaan, tidak peka dan juga tidak bisa move on dari masa lalunya.


Menyesal?


Tidak, Delila tidak menyesal sama sekali. Mungkin kalau pun Baron menceraikannya nanti dia akan siap, status janda muda perawan yang tersembunyi akan segera disandangnya.


Kalau saat ini Delila sudah duduk nyaman di kediaman orang tuanya. Justru di tempat lain Baron terlihat kebingungan mencari Delila yang sudah tidak ada di rumah kontrakannya.


Pria itu menatap tidak percaya saat melihat salah satu pintu lemari terbuka dan isinya sudah berkurang banyak.


Tidak ada lagi pakaian wanita disana!


"Jadi lo udah nyerah?" gumamnya.

__ADS_1


Pria itu mendudukkan dirinya diatas tempat tidur, tangannya mengusap kasar wajah hingga kepalanya. Kedua mata Baron menelisik setiap sudut ruangan, bola mata itu tertuju pada sepasang sepatu kets putih yang ada di belakang pintu kamar.


Pria itu bangkit, kedua kaki Baron melangkah keluar dari kamar dan juga rumah kostnya. Wajah pria itu terlihat semakin tidak sedap di pandang oleh mata, datar, dingin, masam semua hal yang tidak enak ada di wajah Baron.


"Tadi adeknya Bang Baron di jemput sama mobil mewah, memangnya mau kemana sih? Bawa koper lagi, kayaknya mau pergi jauh ya?"


Baru saja Baron hendak masuk kedalam mobil derek uangnya, seorang tetangga sudah menanyakan hal yang dilihatnya tadi. Baron tidak menjawab, pria itu hanya mengangguk pelan lalu segera menyalakan mesin mobilnya.


πŸ¦‹


πŸ¦‹


πŸ¦‹


Baru beberapa belas menit dia tertidur, hingga pada akhirnya suara samar samar dari orang orang yang ada dibalik pintu kamarnya terdengar.


Bukan! Itu bukan suara yang berasal dari balik pintu kamarnya, melainkan dari arah balkon.


"Putriku sudah mengakhiri main rumah rumahannya, lalu aku bisa apa anak muda?"


Suara itu kian jelas, perlahan kedua kelopak mata Delila berkedut- kedua telinganya bisa mendengar tapi matanya terasa berat untuk terbuka.

__ADS_1


"Anda tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan, Pak Davyn. Aku dan putrimu memang menikah secara paksa, tapi itu atas kehendak anda sendiri. Dan sekarang anda malah mendukung apa yang dia ambil, apa menurut anda hal itu adalah sebuah permainan?!"


Netra Delila terbuka, gadis itu mengerjap pelan saat kedua telinganya bisa mendengar suara suara yang menurutnya tidak asing lagi.


Dibawah sana, Davyn tengah bersedekah dada menatap santai pada pria yang menerobos masuk kedalam kawasan rumahnya. Pria yang beberapa bulan ini menjadi menantunya, suami dari anak semata wayangnya.


"Apa kamu menganggap kalau pernikahan paksa yang kalian berdua lakukan ini tidak main main? Benarkah? Tapi kenapa kamu malah memperlakukan putri saya tidak selayaknya menjadi seorang istri? Kamu mengenalkan pada orang orang kalau Delila adalah adikmu. Bahkan di tempat kerjamu itu kamu sama sekali tidak menganggapnya bagian dari hidupmu. Lalu bagian mana yang membuat pernikahan paksa itu dikatakan tidak main main?"


"Tidak ada, Baron. Kamu sendiri yang menganggap pernikahan kalian main main. Kalau memang putriku menganggap pernikahannya dengan mu main main, dia tidak akan suka rela kamu bawa, kamu jadikan babu, kamu sakiti hatinya, kamu tidak anggap dia ada, dia tidak akan sudi mendapatkan itu semua." imbuhnya lagi.


Davyn begitu menggebu, kedua tangannya masih terlipat di dada terlihat santai, ujung bibirnya terangkat saat melihat pria muda yang ada dihadapannya saat ini menunduk dalam dan tidak berucap satu kata pun.


"Ceraikan putriku!"


Baron terjengkit, dia mendongak menatap Davyn yang baru saja mengucapkan kata yang tidak pernah terlintas di pikirannya selama ini.


"Ceraikan putriku, kalau kamu memang tidak menginginkannya. Harus kamu tau Baron, kalau saja bukan Delila yang meminta untuk menikahkan mu dengannya, aku tidak akan sudi melakukan hal itu pada putri kesayanganku!" ucap Davyn dingin, bahkan kedua mata pria itu sudah menampilkan aura permusuhan pada Baron.


Sedangkan diatas balkon sana, Delila hanya menatap tidak melakukan apa pun, dia melihat semuanya dan samar samar mendengar kata 'ceraikan putriku' yang dilontarkan oleh Papanya.


__ADS_1


PAPA DAVYN MODE SERIUS πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2