
Delila tertawa kecil saat berhasil keluar dari rumah Baron, deru napasnya terdengar berat karena berlari. Sesekali Delila menoleh kebelakang untuk memastikan kalau suaminya tidak mengikuti dan menyeretnya pulang.
Gadis itu menghela napas kasar, kedua matanya mengedar- menatap takjub ke arah perbukitan yang terlihat biru cerah di hadapannya. Suasana perkampungan cukup sepi, dengan pemandangan asri memanjakan mata. Delila yang lahir dan besar di kota besar, tidak pernah merasakan hawa sejuk seperti sekarang.
Di tambah dengan suasana alamnya yang memanjakan mata, rasanya Delila ingin berlama lama atau bahkan menetap di kampung ini.
"View mahal kayak gini bisa bisanya Mas Samson ngelarang gue keluar." gerutunya.
Delila terus saja melangkah santai, kedua matanya tidak henti mengedar liar- mengagumi setiap jengkal ciptaan Tuhan. Hingga tanpa dia sadari, setiap pergerakan serta gerak geriknya sedang di perhatikan oleh beberapa warga, termasuk ketiga orang pria yang tadi mendatangi rumah suaminya.
"Kayaknya dia bukan orang sini?" salah satu dari mereka terlihat begitu penasaran. Matanya tidak berhenti memperhatikan langkah sang gadis yang berada tidak jauh darinya.
"Dia cewek yang di bawa Baron dari kota. Katanya sih istrinya, tapi kenapa saya enggak percaya ya? Yakin deh kalo mereka itu gak mungkin suami istri, jangan jangan cuma pasangan kumpul kebo?!" mereka mulai memberikan spekulasi buruk pada Delila dan Baron tanpa mencari tahu yang sebenarnya terlebih dahulu.
Bahkan bodohnya lagi beberapa orang yang mendengar ucapannya terlihat mengangguk, seakan mengiyakan apa yang di kata orang tersebut.
"Wah bangor juga ya si Baron. Enggak nyangka saya cowok pendiam kayak dia bisa liar kayak gitu." cetus salah satu mereka lagi.
Tatapan orang orang yang terarah pada Delila kian terlihat merendahkan, terlebih para wanita yang ikut serta mendengarkan tanpa mencari tahu terlebih dahulu, yang bisa berujung fitnah.
"Kita lapor Pak Lurah aja! Biar beliau yang ngedatengin rumah si Baron. Kita tinggal ngekor aja nanti, gimana setuju kan?"
"Setuju, ayo!"
__ADS_1
Mereka semua mulai bergerak, berbalik arah memunggungi Delila yang semakin melangkah jauh. Gadis itu tengah sibuk mengagumi lukisan indah yang Tuhan berikan, tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya dan Baron nanti.
Sementara dikediamannya, Baron juga terlihat belum menyadari kalau istri bebal dan tengilnya sudah melarikan diri. Pria itu masih sibuk membuka beberapa kardus dan kotak kayu yang tadinya tersimpan rapih di gudang serta kamar kakek dan neneknya.
Kotak yang berisikan banyak barang usang, ada tiga kardus besar dan 2 kotak kayu dengan ukuran bergambar bunga yang Baron temukan di sana. Dia berharap didalam sana akan ada banyak bukti yang ditemukannya, agar pencarian serta rasa penasarannya tentang Bima dan masa lalunya cepat terkuak.
"Del!" panggilnya.
Baron memanggil sang gadis tanpa mengalihkan pandangannya, kedua mata pria itu terus saja tertuju pada lembaran kertas dan beberapa foto usang yang dia temukan didalam kotak kayu.
"Del, ambilin gue minum!"
Panggilan kedua yang Baron serukan tidak sementara merta membuat gadis yang di panggilnya segera datang. Dan lagi pria itu terlihat lebih tertarik membolak balikan barang barang yang ada di hadapannya dari pada menunggu kedatangan Delila.
Saat ini Baron mengira kalau gadis itu sedang berada di belakang atau di dalam kamar, dia tidak berpikiran kalau Delila akan melarikan diri.
Dia menghela napas kasar, lalu bangkit dan berjalan cepat menuju kedalam rumah. Rasa hausnya sudah tidak dapat di tanggulangi lagi, dia juga penasaran kenapa Delila tidak kunjung membawakannya air- apa gadis nakal itu ketiduran?
"Del!" panggilnya.
Baron sampai di area dapur dan belakang rumah, tapi dia tidak dapat menemukan keberadaan Delila. Jangankan raganya, baunya saja Baron tidak dapat menciumnya.
"Delila!"
__ADS_1
Pria itu berbalik arah, kali ini tujuannya adalah kamar. Tempat dimana sang gadis tidur semalam, sementara dirinya memilih tidur di kursi kayu jati yang ada di ruang keluarga.
Langkah Baron kian melebar, tanpa mengetuk dan permisi dia membuka pintu kamar. Namun lagi lagi dirinya tidak menemukan keberadaan sang gadis, kamar itu kosong dan masih terlihat rapih.
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri.
Baron berdecak kecil, kedua matanya mengedar- pria itu terlihat tengah menerka sesuatu hingga akhirnya dia menyadari kalau gadis tengil dan nakalnya sudah tidak berada di rumah ini.
"Delila, lo bener bener cewek bangor, bebal, gak nurut kata suami! Awas aja kalo sampe ketemu, gue kurung lo di kamar sampe kita pulang ke kota!" geramnya.
Baron berbalik, dia keluar dari dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang. Pria itu terlihat berjalan keluar dari rumahnya, Baron berencana untuk mencari Delila dan mengurung gadis itu saat dia menemukannya nanti.
Sedangkan gadis yang sedang dicarinya saat ini terlihat tengah duduk di salah satu warung kopi yang ada di tepi jalan. Kedua kakinya yang terasa pegal membuat Delila harus berhenti dan mengistiratkan diri disana sembari memesan teh manis dan beberapa potong pisang goreng.
Banyak mata yang menatap ke arahnya, mereka begitu terlihat penasaran pada gadis bertubuh mungil yang saat ini tengah menikmati makanannya di sebuah bale bale sendirian.
Gadis itu tidak henti hentinya memotret pemandangan indah yang ada di hadapannya, sesekali tersenyum tipis bahkan berdecak saat melihat hasil jepretannya yang begitu memuaskan.
"Besok gue ajak Mas Samson keliling kampung ah, bodo amat kalo dia gak mau- gue bakalan paksa bila perlu nangis aja sampe kupingnya pengang!" gumamnya pelan dengan mata terus saja terarah pada layar ponselnya.
Hati Delila terlihat senang hari ini, saking senangnya dia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti saat dirinya kembali ke rumah, atau bahkan saat Baron menemukannya terlebih dahulu nantinya. Karena saat ini pria itu mulai bergerak cepat menyusuri jalanan yang Delila lewati tadi, mengarah ke warung sederhana yang tengah Delila kunjungi.
Run Delila run!
__ADS_1
HAYOLOH ALAMAT DI KURUNG DI KAMAR DEL๐คฃ๐คฃ๐๐