Istri Tengil Mas Baron

Istri Tengil Mas Baron
Cucu Untuk Papa


__ADS_3

Di kediaman anak Barata Prayoga terlihat begitu ramai. Anak cucu serta cicit mendiang Eyang Damar baru saja menyelesaikan acara doa untuk mendoakan kepergiannya, namun sayang selepas acara doa tidak semua orang menetap di sana. Beberapa anggota keluarga memilih untuk pulang, termasuk Delila dan Baron. Keduanya kembali kerumah Davyn setelah mendapatkan izin dari sang Papa. Sedangkan Davyn dan Kirana tetap berada disana, selain menenangkan Gentala yang masih shock, mereka juga harus ikut membereskan rumah Barata setelah acara selesai untuk di gunakan lagi besok malam.


Sementara Delila, dia akan kembali lagi besok bersama Baron pastinya. Karena pasti akan ada banyak barang yang mereka bawa kesana, bukan hanya pakai ganti.


"Mas Baron laper gak?" tanya Delila saat mereka sampai di kediaman Davyn.


Kedua mata sembab Delila menatap lekat pada pria yang ada di dekatnya saat ini. Netra keduanya saling terikat saat Baron mengalihkan pandangannya, dia membalas tatapan Delila dengan ekspresi yang tidak dapat di artikan.


"Kita udah makan tadi di rumah Opa Bara," cetus Baron menyadarkan istrinya.


Pria itu buru buru melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya, namun saat Baron hendak membuka membuka pintu mobil, gerakan tangannya terhenti kala melihat Delila terdiam dan melamun. Baron menghela napasnya, jujur dia sangat terganggu dengan perubahan sikap yang Delila tunjukan setelah kepergian Eyang Damar.


Gadisnya lebih murung dan tidak seceria biasanya. Karena biasanya Delila bersikap gila dan cerawakan, membuat telinga dan jantungnya jauh dari kata aman.


"Kenapa lagi hm?" akhirnya mulut Baron yang sedari gatal kini berani untuk bertanya. Padahal tadinya dia akan diam, membiarkan gadisnya bersikap pasif, karena mungkin masih sangat berduka.


Delila menoleh, wajah sendunya masih terlihat jelas dikedua mata Baron, "Gimana kalo Papa pergi kayak Eyang sebelum aku ngasih dia cucu. Padahal aku anak satu satunya, siap lagi yang bisa ngasih cucu buat Papa sama Mama kalo bukan aku. Tapi jangankan cucu, di cium aja belum per-, MAS BARON MAU KEMANA?!" Delila berseru kencang saat melihat Baron keluar begitu saja tanpa berkata apa pun.


Gadis itu memajukan bibirnya beberapa mili, menampilkan wajah cemberut nya yang begitu tidak enak dipandang. Dia menggigit gemas jaket jeans milik Baron yang dipakainya.


"Ngapain masih disitu?"


Delila memalingkan wajahnya ke arah lain, suasana hatinya sedang tidak baik sekarang. Dia kesal, sangat sangat kesal karena Baron mengabaikannya, padahal mereka kan sudah menjadi suami istri secara sah dimata agama dan negara. Kenapa baru membahas soal anak saja Baron sudah menghindar darinya, apa memang pria itu tidak mau memiliki-


"Kalo lo masih merajuk, kita batalin pembuatan cucunya!"


Delila yang tadinya sudah hampir ingin mengganti suami kini terlihat membulatkan kedua matanya. Raut wajahnya terlihat kian panik saat melihat Baron kembali menjauh, dia terburu buru keluar dari dalam mobil, bahkan hampir saja tersungkur karena salah satu kakinya tidak sengaja menginjak kerikil.


"Aku udah enggak merajuk, pokoknya ayo bikin cucu buat Papa!" serunya kencang.


Bahkan mungkin penghuni rumah itu dapat mendengarnya dengan jelas, tapi sepertinya Delila tidak peduli, dia malah terlihat berjingkrak riang mengejar Baron yang sudah jauh di depannya. Sepertinya gadis bertubuh demplon itu sudah tidak sabar untuk membuat cucu untuk Davyn dan Kirana, tapi apakah Delila paham cara membuatnya?

__ADS_1


Paham pasti paham, yakin saja pada isting.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Tok


Tok


Tok


Baron terus saja mengetuk pintu kamar mandi saat Delila tidak kunjung keluar dari sana. Pria yang hanya memakai boxer itu mengusap wajahnya kasar, dia bingung harus berbuat apa untuk membujuk Delila agar segera keluar.


"Del, keluar ya. Nanti gu- nanti aku bikinin kamu nasi goreng." bujuknya.


Hening, tidak ada jawaban dari dalam membuat Baron semakin gusar. Dia menunduk, menatap ke arah jari jemari kakinya sendiri, hingga tidak lama da tidak sadar ada sepasang kaki yang lebih kecil dari kakinya sudah berada tepat di hadapannya.


"Kenapa hm?" Baron memberanikan diri untuk mengusap salah satu pipi Delila.


Plak!


Namun dengan kasar Delila menepis tangan besar suaminya yang tengah membelai lembut pipi chubby miliknya. Dia memilih untuk menjauh dari Baron dan bergerak cepat menuju tempat tidur yang sudah terlihat tidak karuan.


"Del, gu- aku salah a-,"


"Kenapa enggak bilang kalo rasanya gak enak, itu sakit tau! Siapa bilang kalo anuan itu enak? Itu aku sakit gara gara Mas Baron, huaaaaa!"


Tangisan Delila pecah, dia menenggelamkan wajahnya di bantal yang sudah tidak memiliki pembungkus. Mengigit gemas saat merasakan perih di area bawah tubuhnya yang beberapa saat lalu sudah tidak lagi perawan karena ulah Suaminya.

__ADS_1


Ya, mereka melakukan itu malam ini. Entah malaikat mana yang mampu membuat hati Baron bergerak dan segera bertindak. Yang jelas setelah mendengar ucapan Delila yang mengkhawatirkan sang Papa karena belum memiliki seorang cucu, dan takut sang Papa tidak memiliki umur panjang, Baron segera mengambil tindakan.


Mungkin kesannya terburu buru dan sangat durhaka karena sudah berpikiran buruk pada Ayah mertuanya. Tapi demi kelangsungan hidup keturunan Gunadi dia harus melakukannya, walaupun pada akhirnya orang yang tadi merengek manja meminta benih unggulnya kini tengah menangis setelah mereka berhasil melakukan penanaman benih.


"Ck," Baron berdecak kecil. Dia mendekat pada Delila dan menarik pundak istrinya, lalu mendekapnya erat. Delila pun tidak menolak, namun dengan gemas dia mengigit dada bidang Baron hingga membuat pria itu meringis namun membiarkannya.


"Besok juga sembuh, gak bakalan sakit lagi." ucapnya menenangkan.


Bahkan dengan penuh kelembutan Baron memberikan kecupan di pelipis dan pucuk kepala Delila. Dia kian mengeratkan dekapannya saat Delila masih sesegukan dan terdengar meringis kala dia mengangkat tubunya ke atas pangkuan.


Baron dengan sabar mengusap kedua pipi Delila yang basah karena air mata, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. Pria itu menaikan sudut bibirnya saat melihat pipi chubby itu memerah dan semakin terlihat menggemaskan.


'Ternyata gini rasanya nikah sama bocah,' Kekehnya dalam hati. Ya Baron hanya berani mengutarakan nya di dalam hati karena kalau sampai keluar dari hati bisa jadi besok dan seterusnya dia tidak akan lagi mendapatkan jatah dari Delila.


"Sakit, Mas Baron gak tau rasanya. Rasanya kayak mau mati tau, kayak ditusuk pedang!" ocehnya dramatis.


Baron hanya terdiam, dia mengulum senyumannya mendengar ocehan Delila yang terdengar lucu.


Kayak tertusuk pedang katanya? Bukannya memang dia menusukan pedang padanya tadi, tidak ada yang salah sih. Tapi pedangnya bukan samurai melainkan-


"Pokonya aku gak mau lagi! Rasanya gak enak sakit!"


Baron tersentak, matanya membulat sempurna mendengar ucapan Delila yang pastinya akan sangat merugikan dirinya besok dan seterusnya.


"Loh gak bisa gitu dong. Kan aku udah bilang gak bakalan sakit lagi kalau-,"


"Pokoknya gak mau! Udah aku mau bobo, besok kita ke rumah Eyang lagi!"


Baron tidak dapat mengatakan apa pun lagi, dia membiarkan Delila turun dari pangkuannya dan tidur di sisinya sembari memeluk salah satu lengannya.


"Dasar," cibir Baron saat melihat Delila masih bermanja padanya padahal tadi mengatakan hal ketus dan nada kesal padanya.

__ADS_1



entar juga nagih lagi🀣🀣🀣


__ADS_2