
Baron mengusap wajahnya kasar, sudah hampir dua jam lamanya dia menunggu didepan gerbang rumah mewah milik mertuanya. Berkali kali dirinya menghubungi Delila tapi gadis itu tidak kunjung membalas chat atau pun mengangkat telepon nya.
Pihak keamanan rumah itu mengatakan kalau tuan rumah sedang keluar beberapa puluh menit sebelum dirinya tiba.
Tapi kenapa Delila pergi? Bukankah gadis itu tahu kalau dirinya akan datang malam ini untuk menemui Papanya.
Ya walaupun dirinya juga sedikit terlambat karena insiden yang menimpanya secara tiba tiba tadi, setelah motor milik Maman dibawa orang tidak dikenal, Baron harus menaiki angkutan kota. Tapi sayang cukup lama dirinya menunggu kendaraan umum tidak juga kunjung ada, bahkan sekelas taksi saja Baron harus menunggu hingga tiga puluh menit.
Dan sekarang setelah dirinya tiba di kediaman Delila, gadis itu justru sedang tidak ada ditempat. Delila ikut bersama kedua orang tuanya, tapi kenapa harus ikut? Bukannya mereka sudah mengadakan janji tadi pagi.
Apa mungkin ini trik yang dilakukan Davyn karena tidak mau lagi menerimanya sebagai menantu? Kalau iya berarti dirinya harus berjuang kali ini dan sepertinya tidak akan mudah. Benar apa yang Maman katakan, seharusnya dia bersyukur karena mudah mendapatkan restu dari orang tua Delila, tapi kenapa dengan bodohnya dirinya menyia nyiakan kesempatan yang ada.
Baron mengumpati dirinya didalam hati. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal di beri suaranya ayam, kecap asin, kecap manis, daun bawang, sambal dan kacang tanah goreng, jadilah bubur ayam yang setiap hari dia nikmati selama Delila tidak ada.
Pria itu terduduk didekat gerbang, kedua tangannya memegang kepala- Baron menunduk dalam terlihat cukup frustasi. Hingga sorot lampu dari sebuah mobil membuat pria itu mengangkat wajahnya,, Baron bangkit saat melihat mobil mewah itu mendekat kearahnya.
Pria itu kian dilanda penasaran saat melihat mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat didepan gerbang, jakun Baron naik turun- dia terlihat tidak tenang kali ini.
"Mas Baron!"
Baron menghela napas pelan saat melihat Delila keluar dari dalam mobil, pria itu mendekat- wajahnya berusaha setenang mungkin dan tidak banyak bertanya pada gadis itu. Tapi wajah tenangnya seketika berubah datar saat dia melihat seorang pria ikut keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Siapa, Del?" tanya pria itu.
Delila menoleh, wajahnya terlihat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih saat melihat raut wajah penasaran pria yang datang bersamanya, dan juga ekspresi tak terbaca yang Baron tunjukan saat ini.
"Makasih Kak Gading udah nganterin gue pulang. Padahal gue bisa nunggu Mama sama Papa di pesta, hati hati gue masuk dulu!"
Delila tidak memberikan jawaban yang diinginkan oleh pria yang mengantarnya, gadis itu lebih memilih menghindar dan membuka pintu gerbang dengan sensor wajah serta kornea mata. Setelah gerbang terbuka, Delila segera menarik lengan Baron tanpa banyak bicara.
Keduanya meninggalkan pria yang bernama Gading itu tanpa ingin melihat kebelakang. Sementara Gading, dia terlihat berdecak dan kesal lalu kembali masuk kedalam mobilnya.
"Dari mana lo?"
Baron akhirnya bersuara saat mereka sudah berada di halaman luas kediaman Davyn Prayoga. Tapi sayangnya Delila sama sekali tidak mau menghentikan langkahnya, gadis itu malah terlihat membawa Baron menuju halaman samping.
"Papa mau ngejodohin aku!"
Bibir Baron terkatup rapat, kedua mata pria menatap tidak percaya dan terlihat menggeleng pelan.
"Maksud lo?"
Dengan gemas Delila berbalik, gadis itu mendekat pada pria yang nota bene masih menjadi suami sahnya didepan Tuhan. Kedua matanya menatap lekat, bahkan dengan berani Delila merangkul leher Baron.
__ADS_1
"Papa mau jodohin aku sama cowok tadi. Aku udah bilang sama Papa kalau Mas Baron mau datang malam ini dan bicara sama Papa. Tapi Papa malah maksa aku buat ikut ke pesta, dan ternyata disana-,"
"Dimana Bapak lo sekarang?!"
Baron menyela cepat, suaranya terdengar berat- dadanya naik turun menahan sesuatu yang hampir meledak. Rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal erat bahkan pria itu memejamkan kedua matanya saat Delila dengan berani menyandarkan kepala dadanya.
"Papa masih disana. Aku dipaksa pulang, terus cowok itu yang harus ngantar aku. Aku gak tau kalo Papa bakalan-,"
"Kita temuin Bapak lo! Dia gak bisa seenaknya jodohin lo kayak gini. Lo itu binik gue, dia yang nikahin kita jadi jangan seenaknya!" emosi Baron mulai tersulut. Ini tidak bisa dibiarkan, Davyn Prayoga tidak bisa berbuat seperti ini.
Delila adalah istrinya!
"Tapi Papa masih disana. Aku gak mau kalo Mas Baron sama Papa nanti beran-,"
"Enggak! Gue bakalan bicara baik baik sana Bapak lo. Tapi kalo Bapak lo bebal, jangan salahin gue kalo bakalan ribut!"
Delila tidak menyahut, bola matanya bergulir menatap Baron dari arah bawah. Posisi yang dia ambil cukup menguntungkan, Delila dapat melihat jakun Baron naik turun, dada bidangnya juga begitu, bahkan hembusan napas Baron dapat Delila rasakan dengan jelas di dahinya walaupun cukup ada jarak.
Tanpa Baron ketahui, salah satu sudut bibir Delila terangkat. Kedua tangannya kian mengerat memeluk leher Baron, dan sepertinya pria itu tidak sadar atau bahkan sengaja membiarkan Delila melakukannya karena terlalu dikuasi emosi.
__ADS_1
ESMOSI MAS? MASUK KULKAS SONOππππ